Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 143


__ADS_3

maaf baru up, otor sibuk πŸ™πŸ˜Š


Lanjut........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Ternyata berita masuknya Lira ke rumah sakit, tak hanya sampai ke telinga Bela saja, tapi juga sampai ke telinga Amel. Doni selaku suami Amel mendengar berita itu langsung dari Reza sendiri saat Doni menghubunginya untuk mengajak bertemu. Amel dan Doni pun langsung menuju ke rumah sakit untuk datang membesuk Lira sekaligus untuk melepas rindu karena mereka juga sudah jarang bertemu.


Saat masuk ke dalam ruangan Lira, Amel langsung mengambil posisi tepat di sebelah kanan Lira, sedangkan Doni duduk di sofa bersama Reza agar memberi ruang bagi para istri untuk mengobrol santai.


"Gimana kondisi kamu sekarang?" Tanya Amel lembut.


Setiap bertemu Lira, Amel akan memposisikan dirinya sebagai seorang kakak. Selain karena Amel dan Lira adalah anak tunggal dan Amel juga sudah terbiasa hidup bersama adik-adik yang senasib dengannya di panti asuhan, ia juga memang memiliki sikap yang keibuan. Itu sebabnya Amel sudah menganggap Lira dan Bela sebagai adiknya sendiri.


"Alhamdulillah, udah mendingan mbak. Tapi masih belum boleh pulang sama dokter. Katanya harus nunggu dua atau tiga hari lagi."


"Gak papa. Yang penting kamu sama dedek bayinya sehat-sehat."


"Aamiin. Eh, mbak hamilnya udah berapa bulan? Kok, Lira gak tahu sih?"


Ya, sekarang Amel juga sedang hamil anak kedua. Cukup lama untuk Amel bisa kembali hamil karena mengingat usia putrinya sudah cukup besar. Sebelumnya, Doni tak ingin Amel kembali hamil saat Riri masih berusia dua tahun karena ia tak ingin putrinya yang masih kecil harus kekurangan kasih sayang.


Padahal Amel tak berfikiran seperti yang suaminya takutkan. Amel merasa jika Doni terlalu ketakutan karena terlalu menyayangi putri kecil merek hingga untuk sementara tak ingin membaginya dengan yang lain.


"Alhmdulillah, udah mau jalan empat bulan."


"Empat bulan, kok udah segede ini sih mbak?"


"Iya Ra, dedek bayinya kembar." Senyum Amel mengembang sempurna saat menjawab pertanyaan Lira.


"Masya Allah. Selamat ya mbak. Lira seneng banget dengernya. Jadi gak sabar deh liat merek lahir terus liar mereka pake baju yang samaan tiap hari."


Tak hanya Lira saja yang merasa senang, Reza pun ikut merasakan hal yang sama saat mendengar Amel mengandung anak kembar. Reza langsung memeluk sahabat baiknya sembari mengucapkan selamat yang tulus dari hati. Sebagai seorang sahabat yang sudah lama saling mengenal, tentu Reza tahu apa saja keinginan Doni. Selain ingin memiliki istri yang solehah, Doni juga menginginkan anak kembar dan hal itu terwujud sekarang. Doni memang pernah memiliki saudara kembar, hanya saja kembaran Doni sudah meninggal sejak usia mereka yang baru menginjak dua hari. Hal itu tentu menjadi pukulan berat bagi orang tua Doni.


Namun, sejak mengetahui Amel mengandung anak kembar, orang tua Doni menjadi lebih siaga dalam menjaga cucu kembar mereka agar selalu sehat dan aman tentunya. Amel dan Doni pun tentu merasa senang atas perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tua mereka.


"Gue gak nyangka, lo tokcer juga." Ucap Reza pelan dengan seringai mengejek dan langsung mendapat pukulan kecil di bahunya oleh Doni.


"Sialan. Ya jelas lah, gue tokcer. Emang cuma lo doang."


Mereka pun tertawa bersama hingga membuat kedua wanita berkerudung itu langsung dengan wajah malu karena merasa paham. Jika Reza dan Doni sudah bertemu, pembahasan keduanya tak lepas dari saling mengunggulkan diri masing-masing dalam hal keturunan. Terkadang hal itu membuat Lira dan Amel menggelengkan kepala tak percaya. Di umur yang sudah sangat matang, suami mereka masih saja bertingkah layaknya remaja.


"Pasti bini kita malu, kita bahasnya bibit. Liat aja muka mereka, udah merah merona gitu bro." Ucap Doni lantang dan langsung mendapat tatapan sinis dari kedua wanita itu.


"Sinis aja udah cantik banget, apalagi kalo senyum. Aduh, meleleh hati Abang." Timpal Reza sambil memegang dadanya dengan penuh dramatis hingga membuat mulut Lira menganga lebar tak percaya.

__ADS_1


Sontak membuat Doni tertawa terbahak-bahak. Ia merasa bahagia karena sahabatnya telah kembali bersikap konyol seperti dulu, jauh sebelum mengenal Anita.


"Pi, ketawanya gede banget sih. Ingat pi, ini rumah sakit. Gak enak didenger sama pasien lain." Tegur Amel dengan wajah kesal.


Doni langsung menghentikan tawanya yang menggelegar menjadi cekikikan. Ia tak bisa menahan tawanya usai melihat kekonyolan sahabatnya.


"Maaf mi, papi gak bisa tahan buat ketawa. Mami liat sendiri kan, Reza alay banget," sahut Doni membela diri.


"Iya, tapi tahu tempat juga dong. Ini rumah sakit bukan pasar."


"Iya, maaf deh."


"Dasar, suami takut istri," cibir Reza.


"Mas ngomong apa?" Tanya Lira dengan melotot.


"Eh, gak sayang. Mas gak ngomong apa-apa. Tadi mas cuma bilang, suami sayang istri, iya itu," Jawab Reza gelagapan.


Doni dan Amel langsung tertawa bersama. Doni mengira, jika Reza juga takut pada istrinya. Padahal bukannya Reza takut pada Lira, ia hanya terlalu sayang pada wanita yang telah sabar menghadapi segala sikap buruknya dan telah melahirkan anak-anak yang lucu untuknya.


🌸🌸🌸🌸


Di kediaman Martin, telah terjadi drama di antara Inas dan Haidar. Kedua bocah menggemaskan itu merengek pada kedua eyang dan neneknya ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Mereka juga mengunci diri di kamar Inas sambil mengancam tak mau mengaji jika keinginan mereka tak jua dipenuhi.


"Kakak, adek, buka pintunya sayang. Eyang punya boneka kelinci gede sama iron man baru lho untuk kalian."


Irma mengetuk pintu sambil memegang boneka kelinci baru yang berukuran cukup besar di tangan kanannya, dan mainan robot iron man di tangan kirinya yang ia beli untuk membujuk kedua cucu kesayangannya.


"Dek, jangan mau dibujuk eyang ya. Kita halus tetep ngambek, sampe kita ketemu sama bunda," ucap Inas setengah berbisik di telinga adiknya. Haidar pun hanya mengangguk polos.


"Dek, ayo buka pintunya. Adek mau coklat gak, sayang." Bujuk Irma lagi.


"Kata papa, gak boleh makan coklat banyak-banyak, nanti gigi kakak sama adek bisa sakit," jawab Inas dengan suara yang cukup kencang.


Irma merasa heran mendengar jawaban Inas, karena kedua bocah itu biasanya pasti langsung luluh jika sudah dibujuk dengan benda yang bernama cokelat. Tanpa sepengetahuan Irma, ternyata di dalam kamar Inas dan Haidar sedang menikmati cokelat yang sudah mereka sembunyikan lebih dulu di dalam laci. Inas mendapat cokelat itu dari Bela saat menitipkan kedua anaknya. Bela membawakan cokelat dalam jumlah yang cukup banyak untuk Inas dan Haidar. Sebelumnya memang Bela telah meminta izin pada Reza, membeli cokelat untuk Inas dan Haidar dengan syarat harus tetap dalam jumlah yang wajar dan tak berlebihan.


Saat semua orang lengah, Inas langsung mengambil kantung plastik berisi cokelat pemberian Bela dan membawanya ke dalam kamar. Entah dari mana Imas bisa mendapat ide itu.


Tumben pada gak mau sama coklat? Batin Irma.


"Ya udah deh, kalo kakak sama adek gak mau coklat. Eyang kasih ke Abang Iqbal aja ya."


Iqbal adalah anak bungsu Nur yang masih tinggal di kediaman Martin bersama saudaranya yang lain. Iqbal juga dikenal dekat dengan Inas dan Haidar. Tak jarang juga Iqbal ikut bermain bersama Inas dan Haidar atau ikut liburan bersama keluarga Martin.


"Iya eyang. Kasih aja, gak papa."

__ADS_1


Merasa ada yang tak beres dengan kedua cucunya, Irma langsung memanggil suaminya untuk mencari tahu apa yang membuat kedua cucunya begitu tenang di dalam kamar. Irma menuju ruang tengah tempat di mana suaminya sedang duduk santai menikmati secangkir teh berserta sepiring bolu gulung di depan televisi. Irma pun duduk di sebelah Martin lalu menepuk pelan paha lelaki yang telah setia menemaninya itu.


"Pa, cucu-cucu kita kok pada anteng ya di kamar? Padahal ya, tadi mama udah rayu pake coklat tapi mereka pada gak mau. Mama juga udah ancem bakal ngasih coklatnya ke Iqbal kalo mereka gak mau, tapi si kakak malah bilang kasih aja gak papa, gitu pa?" Ucap Irma.


"Mungkin emang mereka lagi pada gak mau makan coklat kali, ma. Lagian kan, mereka juga lagi ngambek sama kita," sahut Martin santai sambil menyomot sepotong bolu gulung di tangannya.


"Tapi aneh aja gitu pa. Perasaan mama jadi gak enak deh. Mana Indah lagi ke rumah sakit, jadi gak ada yang bisa bujukin si kakak."


"Tenang aja, ma. Papa yakin, cucu-cucu kita gak akan buat masalah."


"Tetap aja mama gak tenang pa. Bantuin mama bujuk mereka, yuk."


Martin menghela nafasnya kasar. Bukannya ia tak peduli pada kedua cucunya, hanya saja ia sangat mengenal bagaimana sikap Inas dan Haidar yang tak mungkin melakukan hal-hal yang membuat orang tuanya menjadi kesal atau marah.


Tanpa menjawab, Martin langsung berdiri lalu menuju laci tempat penyimpanan kunci cadangan. Setelah itu, Martin menuju kamar Inas yang berada tepat di sebelah kamar Reza dan Lira. Melihat apa yang dilakukan suaminya, Irma pun mengikutinya tanpa banyak bertanya.


Tiba di depan kamar Inas, Martin berhasil membuka pintu kamar Inas menggunakan kunci cadangan. Inas dan Haidar yang tengah begitu asik menikmati cokelat di tangan mereka pun gak menyadari kehadiran eyang mereka di kamar.


Sementara Martin dan Irma langsung terkejut dengan pemandangan yang ada di depan mata mereka, di mana mulut dan tangan kedua cucu mereka telah dipenuhi cokelat.


"Ya ampun, kakak sama adek ngapain?" Tanya Irma panik karena telah kecolongan hingga kedua cucunya bebas memakan cokelat dalam jumlah yang sudah ditentukan.


"Matan cotlat eyang. Nih, matih banat. Eyang mau duga?" Sahut Haidar polos sambil menunjukkan tumpukan cokelat batangan yang masih terbungkus rapi di atas tempat tidur.


"Kalian dapet dari mana coklatnya, sayang? Aduh, kalo kakak sama adek sakit gigi, gimana? Terus, kalo papa tahu nanti papa bakal marah. Kakak sama adek mau papa marah?"


"Gak mau."


"Nda mau. Ade atut papa mayah, eyang." Sahut keduanya bersamaan.


"Jangan bilang ke papa ya eyang. Kakak janji gak nakal lagi, gak makan coklat banyak-banyak lagi dan gak akan ngajarin adek yang gak baik lagi," Pinta Inas dengan wajah polos dan menggemaskan hingga membuat orang yang melihatnya akan merasa gemas dan tak tega.


"Kalo gak mau papa marah, makan coklatnya udahan ya. Nanti bisa sakit gigi sama sakit perut. Eyang janji gak akan bilang ke papa. Tapi, sekarang kakak sama adek, mandi dulu terus gosok gigi biar giginya gak sakit."


"Telima kasih, eyang. Kakak sayang eyang."


"Ade duga tayang eyang."


Kedua bocah menggemaskan itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena kebetulan hari telah menjelang sore dan sudah waktunya bagi mereka untuk mandi. Irma dengan cekatan membantu keduanya untuk membersihkan diri. Sedangkan Martin bertugas menyiapkan handuk. Irma berfikir untuk tak mengadukan hal ini pada Reza karena ia tak mau membuat Reza menjadi semakin stres.


Setelah bersih, kedua bocah menggemaskan itu langsung didandani dengan pakaian dengan warna kesukaan masing-masing. Wajah keduanya terlihat begitu menggemaskan hingga membuat Martin dan Irma tak tahan untuk menyium kedua cucu mereka.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung....😊

__ADS_1


__ADS_2