Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 81


__ADS_3

Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Semakin hari, kehidupan Reza semakin bahagia. Satu persatu impiannya perlahan mulai terwujud. Seperti hari-hari sebelumnya, sepulangnya dari kerja, tanpa diduga ia langsung disambut oleh dua bidadari dalam hidupnya. Reza tak pernah meminta Lira untuk menyambutnya di depan pintu setiap ia pulang dari kerja. Namun, Lira melakukannya atas inisiatifnya sendiri dengan tujuan menyenangkan hati suaminya.


Usai memandikan dan memakaikan baju pada Inas, Lira segera menuju teras rumah untuk menunggu kepulangan suaminya sambil bermain dengan Inas, balita yang semakin menggemaskan dengan tingkah celotehannya yang belum jelas.


Saat mendengar suara klakson mobil, Lira langsung berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya dengan senyum terbaiknya. Lira membiarkan Inas duduk main sendiri dengan tumpukan bermacam-macam permainan. Tak mau kalah dengan sang ibu, Inas juga melakukan hal yang sama tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang kecil dan lucu saat melihat mobil milik ayahnya sudah terparkir sempurna di halaman rumah.


Reza turun dari mobilnya dengan senyum mengembang di wajah tampannya. Reza langsung menghampiri istrinya.


"Assalamu'alaykum, sayang." Reza mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


Lira menyium punggung tangan suaminya penuh hormat. "Wa'alaykumussalam." Jawab Lira.


Reza sengaja mengacuhkan putrinya yang sudah sejak tadi merentangkan tangannya, meminta untuk digendong. Inas berusaha menghampiri ayahnya dengan berjalan tertatih-tatih. Reza dan Lira merasa bahagia saat menyaksikan putri kecil mereka yang sudah bisa berjalan meski masih tertatih-tatih.


Usia Inas sudah memasuki 16 bulan, jadi balita itu sudah mulai belajar berjalan. Hari ini merupakan kali pertama bagi Inas belajar berjalan langsung di depan kedua orang tuanya.


"Pa-pa-pa-pa." Celoteh Inas sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Reza.


"Iya, sayang. Ayo sini, ke papa." Reza menepuk tangannya sambil berjalan mundur.


Inas terus berusaha berjalan agar bisa meraih tangan ayahnya yang sudah direntangkan tak jauh darinya.


"Pa-pa-pa-pa."


Lira tak mau kalah dari suaminya, akhirnya ia berdiri di sebelah suaminya lalu ikut menepuk tangan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ayo sayang, jalan ke bunda. Ayo, sini." Lira terus menepuk tangannya untuk mengecoh putrinya agar mendekat padanya.


"Sayang, kok gak mau kalah sih." Reza kesal karena Inas menjadi bingung harus berjalan ke arah ayah atau ibunya.


Suasana teras menjadi riuh dengan suara kedua orang tua yang begitu semangat mengajari anaknya berjalan. Saat Inas memilih berjalan mendekat ke arah ayahnya, Lira kembali mengecohnya. Namun, kali ini usahanya sia-sia. Inas tak menghiraukan teriakan ibunya dan lebih memilih terus berjalan tertatih-tatih ke arah ayahnya hingga ia bisa masuk ke dalam pelukan ayahnya dengan tawa bahagia.

__ADS_1


Reza berteriak girang sambil menggendong Inas di udara saat memenangkan kompetensi dadakan merebut pelukan putrinya saat pertama kali bisa berjalan. Inas ikut tertawa girang bersama ayahnya. Reza langsung menyium pipi Inas dengan gemas secara berulang-ulang.


"Yeeee....Wohoho." Tawa Reza langsung menggelegar. Reza tersenyum mengejek ke arah Lira yang sudah memasang wajah cemberut.


"Lira yang lahirin, tapi dedek malah deketnya sama mas." Ucap Lira sambil mengerucutkan bibirnya.


Bukannya tersinggung, Reza justru tertawa terbahak-bahak. "Berarti, itu membuktikan kalo gen mas lebih dominan, sayang." Reza tersenyum bangga.


Kemudian muncul Indah, Irma dan Martin dari dalam rumah. Mereka terkejut saat mendengar suara tawa Reza yang terdengar menggelegar hingga ke dalam rumah. Namun saat mereke keluar rumah, mereka dibuat heran dengan wajah Lira yang cemberut.


"Za, ini ada apa sih? Kok muka Lira jadi cemberut gitu?" Tanya Irma penasaran.


"Itu loh ma, ada yang kalah dalam pertandingan dadakan." Jawab Reza sambil menahan tawa.


Merasa belum paham dengan penjelasan Reza yang menggantung, kali ini Martin ikut bertanya.


"Kalah bertanding? Memangnya siapa yang bertanding?" Tanya Martin dengan wajah bingung.


"Lira, pah. Lira kalah tanding lawan Reza saat merebut perhatian si dedek." Jawab Reza.


"Astaga, mama kira apa." Timpal Irma sambil menggelengkan kepala.


"Oh ya? Wah, udah makin besar aja cucu eyang."


Irma menghampiri Reza sambil merentangkan tangannya, ingin mengambil alih Inas dari gendongan Reza. Namun, dengan cepat Inas menggelengkan kepala menolak tangan eyangnya. Irma semakin dibuat gemas dengan tingkah lucu Inas.


Karena hari semakin sore, mereka semua masuk ke dalam rumah, menunggu waktu Maghrib tiba.


🌸🌸🌸🌸


Malam hari, saat mereka semua sedang makan malam bersama, Indah meminta izin untuk berbicara penting di ruang keluarga. Hal itu tentu menimbulkan tanda tanya di benak Lira.


Usai makan, mereka semua langsung menuju ruang keluarga. Mereka duduk menunggu Indah membuka suara. Merasa tak tahan melihat Indah yang masih belum bersuara, Irma langsung bertanya.


"Sebenarnya ada apa besan nyuruh kita semua ngumpul di sini?" Tanya Irma.

__ADS_1


Irma merasa heran melihat kegelisahan di wajah besannya itu. Indah diam, padahal ia sendiri yang meminta mereka untuk berkumpul. Ya, Indah merasa bingung harus memulai semuanya dari mana.


"Hmmmm, mohon maaf sebelumnya mbak, mas. Sebenarnya, saya mau minta izin buat pulang kampung."


Lira merasa terkejut mendengar keinginan ibunya untuk pulang kampung. Jujur, Lira juga merasa rindu dengan kampung halamannya. Lira juga belum rela jika harus berpisah jauh dari ibunya. Apalagi saat di kampung, ibunya akan kembali tinggal seorang diri, tanpanya. Namun, Lira juga tak bisa menahan ibunya untuk lebih lama tinggal di rumah mertuanya. Kecuali Lira sudah memiliki rumah sendiri, barulah ia berani mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya sesuka hati.


"Kenapa mendadak gini, besan? Apa besan udah gak betah tinggal di sini? Atau besan merasa gak nyaman di rumah ini?" Irma memberondong Indah dengan banyak pertanyaan.


"Bukan begitu, mbak. Saya sudah rindu dengan kampung halaman. Saya juga rindu ingin berziarah ke makam suami saya." Jawab Indah dengan wajah sendu.


Martin dan Irma tak bisa berbuat apa-apa. Menahan agar Indah tetap tinggal juga tak mungkin. Mereka paham, bagaimana pun juga Indah masih punya tanggung jawab terhadap rumah peninggalan suaminya serta makan suaminya yang harus selalu dibersihkan agar tak kotor dan ditumbuhi rumput liar.


"Ya sudah. Kalo memang seperti itu, kami hanya bisa mendukung keputusan besan. Asalkan, besan masih mau datang ke rumah kami untuk menginap. Rumah kami selalu terbuka untuk besan." Ucap Irma bijak.


"Terus, rencananya kapan ibu pulang?" Tanya Lira dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Reza mencoba menguatkan istrinya agar tak menangis. Reza paham bagaimana perasaan istrinya saat ini.


"Insya Allah besok pagi ibu berangkat, neng. Jangan sedih atuh." Jawab Indah sambil tersenyum, mencoba menenangkan anaknya.


Momen hari ini sama persis dengan kejadian yang lalu, saat Lira pertama kali menyandang status sebagai istri Reza. Saat itu, Indah juga berpamitan seperti yang ia lakukan sekarang. Bedanya, jika dulu Reza masih membenci Lira dan merasa tak peduli dengan hidup Lira. Kini Reza sangat mencintai dan menyayangi Lira dengan sepenuh hati. Bahkan, tanpa sepengetahuan mertuanya dan Lira, diam-diam Reza telah menyiapkan hadiah istimewa untuk mertuanya saat telah tiba di kampung nanti.


"Mas, Lira boleh anterin ibu balik kampung gak? Tanya Lira pada Reza dengan raut wajah memohon.


"Boleh, sayang. Besok pagi kita anter ibu." Jawab Reza lembut.


"Serius mas, boleh?" Tanya Lira girang, sedikit tak percaya.


"Iya sayang, boleh."


Reza ingin menebus kesalahannya yang dulu dengan cara membahagiakan istrinya, seperti pulang kampung ini lah salah satunya.


"Terima kasih, mas. Dek, besok kita pulang kampung."


Lira mengecup kedua pipi Inas yang berada di pangkuan Reza secara bergantian dengan gemas. Inas tak terusik, balita itu memilih sibuk dengan boneka kelinci barunya yang dibelikan oleh ayahnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung...........😊


__ADS_2