Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 44


__ADS_3

Mohon maaaf jika banyak typo bertebaran.


Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Doni kembali membantu Amel dengan menenteng kantung yang cukup besar berisi makanan yang telah dibelinya di warung makan kecil tadi. Saat Doni hendak menuju mobilnya untuk menaruh makanannya, Amel cepat langsung memanggilnya.


"Mas, mau kemana?"


"Ya naik mobil, mas kan mau nganterin Amel pulang." Jawabnya dan langsung mendapat balasan senyum dari Amel.


"Maaf mas, Amel lupa bilang kalo kita udah nyampe di dekat panti tempat Amel."


Loh, kapan? Terus pantinya mana, kok gak keliatan?" Tanya Doni bingung sambil mencari-cari keberadaan Panti Asuhan yang Amel maksudkan.


"ya iyalah mas gak keliatan, orang pantinya ada di dalem sana." Amel menunjuk ke arah gang kecil yang berada tepat di samping warung makan tempat mereka membeli makanan. Gang itu sangat minim penerangan dan hanya mengandalkan cahaya dari lampu jalan. Ukuran gangnya juga sangat kecil, hanya bisa di lalui satu buah motor saja. Ketika ada motor yang datang dari arah berlawanan, terpaksa salah satu pengendara motor harus mengalah memundurkan motornya, untuk memberi jalan kepada motor lain agar bisa lewat.


Doni menoleh ke arah tangan Amel. "Jadi kita masuk ke dalam gang itu, Mel?" Tanya Doni merasa tak percaya.


"Iya, mas. Kan Pantinya di dalem sana, jadi kita harus berjalan kaki buat masuk ke dalam sana. Tapi kalo mas gak mau juga gak papa, biar Amel aja yang bawa makanannya."


"Jangan-jangan, biar mas aja yang bawa. Sekalian sama gerobaknya." Dengan cepat Doni menikah ucapan Amel yang ingin membawa kantong berisi makanannya.


Doni langsung menuju gerobak untuk membuka tali yang digunakan untuk mengikat gerobak Amel yang sengaja diikat pada mobilnya. Amel sempat menawarkan diri untuk membantu, namun lagi-lagi Doni menolaknya dengan berbagai alasan yang tak dapat ditolan oleh Amel.


Usai membuka ikatan tali gerobak pada mobilnya, Doni langsung meletakan kantung berisi nasi bungkus ke dalam gerobak itu lalu mendorongnya masuk ke dalam gang menuju panti asuhan tempat.di mana Amel tinggal.


Amel berjalan mengikuti Doni dari belakang. Ia melihat Doni kesulitan saat mendorong gerobaknya. Ia kembali menawarkan bantuan dan lagi-lagi ditolak mentah-mentah oleh Doni.

__ADS_1


"Mas, masih sanggup dorong gerobaknya?" Tanya Amel saat melihat Doni menghentikan dorongannya.


"Insya Allah, mas masih sanggup kok Mel." Jawab Doni sambil mengusap keringat yang sudah membasahi dahinya.


"Tapi Amel gak tega liat nya, mas. Amel bantu ya?"


"Gak usah Mel. Lagian kalo Amel bantu, mau dorong di mana? Gangnya kan sempit, jadi mana muat kalo berdua."


"Oh iya, Amel lupa." Balas Amel sambil tersenyum malu, membenarkan ucapan Doni.


🌸🌸🌸🌸


Setelah cukup lama mendorong gerobak yang penuh drama, akhirnya mereka tiba di depan tempat tinggal Amel, Panti Asuhan Kasih Ibu. Panti itu terlihat remang, hanya cahaya lampu dari rumah tetangga panti lah yang membuat halaman kecil panti menjadi terlihat sedikit terang.


"Mel, pantinya kok gelap? Orang-orang pada kemana?" Tanya Doni saat mereka tiba di halaman panti.


"Kalo malam, memang gelap mas. Kami menyambung aliran listrik dari tetangga, tapi karena listriknya belum dibayar ke yang punya rumah, jadi untuk sementara kami gelap-gelapan dulu." Jawab Amel jujur.


"Kak Amel, akhirnya kakak pulang juga. Kami dari tadi nungguin kakak. Kami udah laper banget kak. Sampe-sampe, ada yang udah ketiduran karena nungguin kakaka pulang." Ucap bocah laki-laki salah satu adik Amel yang kira-kira berusia sekitar delapan tahun.


"Maaf ya, kakak pulangnya lama. Tapi kalian tenang aja, malam ini kakak bawa makanan untuk kalian semua." Balas Amel dan langsung mendapat sorakan gembira dari adik-adiknya yang memang sudah sangat kelaparan menunggunya.


Doni melihat pemandangan di depannya langsung merasa sedih. Hatinya terasa sakit melihat anak-anak kecil itu bersorak gembira mendengar ucapan Amel yang membawa makanan. Jika jualan Amel tak laku, berarti mereka tak dapat makan malam ini dan akan tidur dengan perut yang kelaparan. Doni langsung merasa miris tak sanggup membayangkannya.


Amel langsung mengenalkan Doni pada adik-adiknya yang masih setia memeluknya.


"Oh iya, adik-adiknya kak Amel yang tersayang, perkenalkan ini Om Doni. Beliau yang udah memborong semua jualan kakak dan juga membantu kakak mendorong gerobak. Selain itu juga, Om Doni yang udah beliin kita makanan. Ayo ucapkan terima kasih sama Om Doni tapi pelan-pelan aja ya, soalnya udah malem." Ucap Amel lembut pada adik-adiknya.


"Terima kasih, Om Doni." Ucap adik-adik Amel serempak dengan suara pelan, takut membangunkan tetangga.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kalian tunggu kakak di dalam ya. Nanti kakak nyusul." Tanpa protes mereka masuk ke dalam panti menunggu untuk Amel membagikan makanan pada mereka. "Mmm...Maaf ya mas, Amel gak bisa nawarin mas masuk ke dalam. Udah malem banget, gak enak sama tetangga."


"Gak papa, mas ngerti kok. Tapi kalo misalnya besok mas datang lagi ke sini, boleh gak?"


Amel langsung menoleh pada ibunya meminta jawaban.


"Boleh kok, mas. Dengan senang hati kami menyambut kedatangan mas nya ke sini." Kali ini Rini selaku pemilik Panti Asuhan yang angkat bicara.


"Baiklah, kalo begitu saya pamit pulang dulu. Insya Allah besok saya ke sini lagi." Pamit Doni pada Amel dan Rini sambil menangkupkan tangannya ke dada.


"Iya silakan, mas. Sekali lagi terima kasih ya mas, udah nolongin Amel." Ucap Amel tulus.


"Iya, sama-sama. Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Amel dan Rini bersamaan.


Setelah Doni pergi, Amel dan Rini masuk ke dalam panti menyusul anak-anak yang sudah lebih dahulu masuk. Saat tiba di dalam, Amel langsung membagikan makanan kepada ibunya serta adik-adiknya yang sudah duduk manis di lantai dengan beralaskan tikar plastik. Mereka semua makan dengan sangat lahap. Wajar saja, mereka baru bisa makan malam setelah Amel pulang dari berjualan.


🌸🌸🌸🌸


Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena malam ini suasana jalanan sudah terlihat cukup lengang. Sepanjang jalan, Doni terus saja memikirkan nasib Amel dan Adik-adiknya yang masih kecil-kecil, tetapi sudah harus menjalani kerasnya hidup. Doni bertekad untuk membantu membiayai hidup mereka dengan cara menjadi donatur tetap Panti Asuhan Kasih Ibu. Ia juga berencana akan merenovasi Panti Asuhan itu. Meski hanya sekilas ia melihat kondisi dari Panti Asuhan Kasih Ibu, tetapi ia dapat sedikit melihat kondisi panti yang sudah lapuk di beberapa bagian. Ia juga akan memasangkan listrik agar anak-anak panti tak lagi kegelapan di malam hari.


"Pokoknya besok gue harus balik lagi ke panti. Gak tega banget liat anak-anak itu kalo malam harus gelap-gelapan. Belum lagi mereka harus tahan lapar karena menunggu Amel pulang. Ya Allah, seandainya hamba tak berjumpa dengan Amel malam ini, apakah mereka akan tidur dalam keadaan lapar karena perut kosong? Bahkan Amel di usianya yang masih muda, tapi dia harus memikul beban hidup seberat ini dengan menjadi tulang punggung untuk ibu dan adik-adiknya." Doni bermonolog sambil sesekali melihat ke arah jalanan.


Doni menghentikan laju mobil di depan minimarket untuk membeli beberapa jenis roti, buah serta cemilan yang sangat banyak. Tak lupa juga ia membeli mainan dan alat tulis dengan jumlah yang banyak agar adik-adik Amel dapat bermain dengan sepuasnya. Merasa cukup berbelanja, Doni langsung menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Ia menyerahkan black card nya pada kasir, setelah itu ia membawa semua belanjaanya menggunakan troli menuju mobilnya yang berada di parkiran tepat di depan minimarket.


Besok pagi Doni akan lanjut berbelanja sembako dan pakaian untuk Rini, Amel, dan adik-adiknya. Saat tiba di parkiran apartemennya, Doni sengaja meninggalkan semua belanjaannya di dalam mobil, karena besok pagi Doni akan menyewa beberapa mobil pick up untuk menaruh barang-barang belanjaanya.


Doni masuk ke dalam apartemennya Dengan langkah gontai. Ia merasa lelah, namun itu tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa lelah yang Amel rasakan ketika mendorong gerobak yang cukup berat sambil berkeliling kota menjajakan jualannya. Untung dari jualannya pun tak seberapa, hanya cukup untuk membeli makanan. Sedangkan kebutuhan yang lain, sudah pasti Amel akan berusaha mencarinya dengan pekerjaan yang lain di luar dari berjualan kacang rebus, dan lain-lain.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.........


__ADS_2