Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 79


__ADS_3

Selamat membaca......๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tepat tujuh hari Amel pulang dari rumah sakit dan hari ini mereka sedang melakukan aqiqahan di Panti Asuhan tempat Amel dibesarkan.


Aqiqah merupakan proses pemotongan hewan sembelihan pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Hewan yang digunakan untuk aqiqah biasanya hewan ternak seperti kambing.


Keluarga besar Doni ikut hadir dalam acara itu. Termasuk juga keluarga besar Reza, karena Reza dan Lira juga ikut mengadakan aqiqahan bersama untuk Inas. Ketika bayi, Inas belum sempat diaqiqah, jadi mereka langsung mengadakannya bersama-sama.


Hukum aqiqah akan gugur apabila keadaan orang tuanya tidak memiliki kemampuan ketika pensyariatan aqiqah. Sedangkan jika orang tuanya mampu ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi. Berhubung Reza mampu secara materi, jadi mereka bisa mengadakan aqiqah untuk Inas.


Aqiqah asalnya menjadi beban ayah selaku pemberi nafkah. Aqiqah ditunaikan dari harta ayah, bukan dari harta anak. Orang lain tidak boleh melaksanakan aqiqah selain melalui izin ayah. (Lihatย Shahih Fiqih Sunnah, 2/382)


Akikah merupakan salah satu hal yang disyariatkan dalam agama Islam.


"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama." (HR. Tirmidzi no. 2735, Abu Dawud no. 2527, Ibnu Majah no. 3165. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab al-Irwa' no. 1165)"


Karena anak Reza dan Doni adalah perempaun, jadi masing-masing dari mereka menyiapkan satu ekor kambing untuk putri mereka yang nantinya akan disembelih dan dimasak untuk kemudian dibagikan kepada para fakir miskin.


Sebelumnya, Reza telah menghubungi Doni untuk bisa mengadakan aqiqahan bersama di Panti Asuhan yang telah dipilih oleh Amel, istri Doni dan hal itu disambut baik oleh Doni dan keluarganya. Amel sengaja memilih Panti Asuhan tempat di mana ia dibesarkan karena Amel ingin membagi kebahagiaanya bersama ibu serta adik-adiknya di panti. Hidup sebagai anak yatim piatu, membuat anak-anak panti tidak pernah mengalami atau merasakan seperti apa prosesi aqiqah itu dilakukan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tenda dengan ukuran besar terpasang di halaman panti yang berukuran minimalis yang sengaja disiapkan untuk para tetangga yang tinggal didekat sekitaran panti juga diundang dalam acara sederhana itu. Langit cerah pagi itu pun seakan ikut mendoakan kedua anak yang sedang diaqiqah. Acara aqiqahan berlangsung khusuk yang diiringi doa dari beberapa ustadz kondang ibu kota yang sengaja diundang untuk mendoakan putri kecil mereka.


Adik-adik Amel sangat bahagia karena tempat mereka menjadi ramai. Kehadiran anggota baru di keluarga Sigit membuat mereka ikut merasakan kebahagian yang sama seperti Amel dan Doni rasakan.

__ADS_1


Keluarga Doni memakai seragam muslim dengan warna ungu lavender. Riri, si bayi mungil juga memakai gamis lucu yang dirancang khusus untuk bayi dengan warna senada seperti yang dikenakan orang tua serta kakek, neneknya. Hanya saja bedanya, bayi mungil itu sengaja ditambakan bando pita ungu di kepalanya yang membuat bayi itu terlihat semakin imut dan menggemaskan.


Sementara, keluarga Reza memilih mengenakan seragam muslim dengan warna pink soft. Lira memakaikan putrinya jilbab berwarna pink cerah khusus balita yang dirancang dengan kain yang lembut dan nyaman untuk kulitnya, hingga membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan.


Seluruh rangkaian aqiqahan telah selesai. Kini keluarga Reza dan Doni sedang menikmati hidangan yang tersedia. Amel meletakan putri kecilnya yang sudah terlelap ke dalam box bayi berukuran sedang dan berwarna putih yang berada di dekatnya.


Lira melihat Amel yang terus tersenyum menatap bayi mungilnya. Lira pernah merasakan berada di posisi Amel seperti saat ini. Bedanya, saat itu Lira melahirkan tanpa didampingi suami dan harus berjuang sendiri untuk menghidupi putri kecilnya juga ibunya yang sering terganggu kesehatannya.


Mata Lira langsung berkaca-kaca jika mengingat betapa berat hidupnya dan menderitanya ia dulu. Reza menyadari raut wajah sedih istrinya saat melihat kebahagiaan Amel sontak langsung menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Reza paham apa yang sedang istrinya rasakan. Reza tak mampu mengembalikan waktu yang sudah lewat, tapi ia akan terus berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berusaha membahagiakan istri dan anaknya. Reza akan terus berusaha mewujudkan agar setiap impian sederhana istrinya seperti menjadi seorang guru dapat tercapai sesuai harapan.


"Sayang mau makan apa? Nanti mas ambilin." Tanya Reza mengalihkan perhatian istrinya.


"Kalo Mas sendiri, udah makan?" Lira balik bertanya.


"Belum, mau makan bareng sama sayang."


"Sayang tunggu di sini, ya. Mas mau ambil makanan dulu."


Lira hanya berdehem tanpa mengalihkan perhatiannya dari anaknya yang sedang merengek. Reza langsung pergi mengambil makanan untuk istrinya. Tak lama Reza datang membawa sepiring nasi yang berisi berbagai macam lauk-pauk lezat untuk ia makan bersama istrinya.


Melihat istrinya masih sibuk menenangkan putri mereka yang terus merengek, Reza pun berinisiatif untuk menyuapi istrinya.


"Sayang buka mulutnya, aaaaa." Pinta Reza dengan menyodorkan sendok di depan mulut istrinya.


Lira merasa malu karena beberapa orang dari keluarga suaminya juga keluarga Doni menyaksikan mereka sambil tersenyum menggoda.


"Mas, malu diliatin orang." Ucap Lira berbisik dengan wajah yang sudah merah merona karena malu.

__ADS_1


"Ngapain malu sih, sayang. Kita kan udah halal, jadi gak usah malu." Jawab Reza santai.


"Iya Ra, ngapain malu? Orang udah halal kok, pake acara malu-malu segala." Timpal wanita cantik yang tak lain adalah sepupu Reza yang kira-kira berusia sekitar 30 tahunan.


Terpaksa Lira membuka mulutnya untuk menerima suapan dari tangan suaminya dengan perasaan malu.


"Nah, gitu dong. Kan jadi tambah sayang." Ucap Reza sambil mengusap lembut kepala istrinya.


Lira hanya diam, tak menanggapi ocehan gombal suaminya yang memalukan menurutnya. Lira dan Reza melanjutkan makan mereka sepiring berdua dengan romantis. Sedangkan Inas yang tadinya merengek mengantuk, kini telah tertidur pulas dipangkuan ibunya tanpa merasa terganggu dengan gombalan receh dari ayahnya untuk ibunya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung........๐Ÿ˜Š


maaf ya,.baru up..Author sibuk


jangan lupa dukungannya ya


LIKE, KOMEN, VOTE


JANGAN LUPA JUGA UNTUK MEMBACA KARYA SAYA YANG LAIN DENGAN JUDUL


"CAHAYA DAN BARA"


"PELANGI UNTUK SENJA"


TERIMA KASIH๐Ÿ˜Šโ™ฅ๏ธ

__ADS_1


__ADS_2