Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 101


__ADS_3

Sebelum lanjut, saya ingin meluruskan dan mengingatkan kembali bahwa novel ini memang terinspirasi dari kisah nyata, tapi ceritanya tidak mesti sama. Untuk karakter tokoh memang ada kemiripan, begitu juga dengan sebagian alurnya. Jadi saya tegaskan sekali lagi bahwa novel ini terinspirasi dari kisah nyata yang dikemas ke dalam versi penulis.


Maaf jika kalian merasa kecewa, tapi tolong jangan hujat author yang sudah payah mencari inspirasi untuk bisa menghasilkan sebuah cerita yang cukup menarik untuk dibaca.


terima kasih😊


Lanjut....


Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸🌸


Menjelang pukul 5 sore, Reza mengajak istri dan anaknya untuk pulang ke rumah. Keluar dari ruangannya, tangan kiri Reza menggandeng mesra tangan Lira. Sementara tangan kanannya menggendong Inas yang menggelayut manja di lehernya. Saat keluar dari lift, mereka kembali menjadi pusat perhatian karyawan yang kebetulan berpapasan di depan pintu lift.


Lira kembali menundukkan kepalanya saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata sinis dari para wanita yang mengaku sebagai fans club Reza. Sebagian dari karyawan itu ada yang setuju dengan hubungan Reza dan Lira. Meski mereka belum mengenal Lira seperti apa, tapi mereka percaya jika Lira adalah wanita yang baik serta tepat sebagai pendamping hidup Reza. Dan sebagian lagi menatap tak suka pada Lira.


"Gila tuh cewek, gak cocok banget sama bos ganteng kita. Cantik sih, tapi mending juga gue kemana-mana." Ucap wanita yang mengenakan pakaian sedikit ketat dan dikenal centil oleh karyawan lain.


"Iya, bos ganteng kita kok bisa milih dia sih? Udah pendek, penampilannya juga gak cocok banget sama bos kita." Timpal wanita cantik satunya yang berambut pendek sebahu.


Sementara yang lainnya hanya mengangguk setuju. Terbiasa berpenampilan cukup mahal, mereka jadi membandingkan gaya berpenampilan mereka dengan Lira yang begitu sederhana.


Langkah Reza terhenti saat mendengar obrolan para karyawannya dan menyadari tatapan sinis mereka yang mengarah ke Lira. Reza sangat marah saat tahu istrinya sedang direndahkan di depan matanya. Reza melepaskan genggaman tangannya lalu menurunkan Inas dari gendongannya untuk menghampiri para karyawan yang sedang menjelekan Lira dengan suara pelan, tapi masih bisa terdengar jelas di telinga Reza.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Reza dengan rahang yang sudah mengeras.


Para karyawan wanita itu pun langsung diam dan gugup saat melihat Reza yang sudah berdiri berdecak pinggang dengan wajah menahan marah. Mereka tertunduk takut dan tak ada satu pun yang berani membuka suara.


"Saya tanya sekali lagi, apa yang tadi sedang kalian bicarakan. Coba ulangi di depan saya, SE-KA-RANG?"


Suara Reza langsung menggelegar dan sontak saja ia menjadi bahan perhatian dari karyawannya yang sedang melintas di dekat mereka.


"Ma-maaf pak, ta-tadi kami cu-cumaa bercanda." Jawab wanita yang memakai pakaian sedikit ketat itu dengan gugup.


"Kalian pikir, bercanda dengan menjelekan orang lain itu lucu? Kalian sudah menghina istri saya dan kalian anggap itu lucu, hah?" Teriak Reza marah saat mendengar orang lain menjelekan istrinya.


Para karyawan wanita itu pun hanya diam membeku dan ketakutan. Keringat dingin mengalir deras di pelipis mereka. Jika sudah begini, bisa dipastikan karir mereka akan berakhir hari ini juga.

__ADS_1


"Kalian semua dipecat dengan tidak hormat. Silakan tinggalkan kantor ini sekarang juga. Saya tidak ingin kantor saya diisi oleh orang-orang seperti kalian."


"Maafkan kami, pak. Kami janji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Kami tulang punggung keluarga. Kalau kami dipecat, bagaimana nasib keluarga kami di kampung? Jadi tolong beri kami satu kesempatan. " Ucap salah satu dari mereka dengan berani, menangkupkan kedua tangannya seraya memohon untuk diberi kesempatan. Teman-temannya yang tadinya diam pun langsung mengikutinya.


"Heh, sudah tahu tulang punggung keluarga, kenapa kelakuan seperti ini? Tidak kata maaf untuk orang yang sudah merendahkan istri saya. Ini peringatan untuk kalian semua. Paham?!" Ucap Reza lantang pada semua karyawannya yang sedang menonton mereka.


Lira yang sejak tadi hanya diam, langsung mendekat ke arah suaminya sambil menuntun tangan mungil Inas. Meski merasa sakit hati, tapi Lira tak ingin orang lain menjadi kehilangan rezekinya karena dirinya. Bukankah ia sudah pernah melewati hal-hal menyakitkan sepeti ini? Bahkan yang sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dulu yang pernah ia alami, jauh lebih sakit dari ini. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, iyakan?


"Istighfar, mas. Udah ya, Lira gak papa kok. Mereka cuma khilaf aja tadi." Ucap Lira lembut menenangkan Reza yang sedang dirundung kabut amarah.


"Gak bisa gitu, sayang. Mereka udah ngerendahin sayang di depan mas. Gimana mas gak marah coba." Balas Reza tak terima.


"Kasih mereka kesempatan kedua, mas. Kasian orang tua mereka kalo rejeki mereka, mas tutup."


Hati Reza langsung terenyuh. Ia merasa heran dengan hati Lira yang begitu mudah memaafkan orang yang sudah menghinanya. Dulu ia juga pernah melakukan hal yang sama seperti karyawannya lakukan, tapi dengan mudahnya Lira memaafkan semua kesalahannya dan bersedia memberikannya kesempatan kedua.


Para karyawan wanita itu pun langsung dibuat terperangah dengan sikap lembut Lira yang begitu mudah memaafkan kesalahan yang telah mereka perbuat. Lira bahkan tak segan untuk membela mereka di depan Reza. Rasa bersalah dan malu langsung menyelimuti hati mereka. Tak disangka, ternyata wanita yang telah mereka hina itu adalah wanita yang berhati mulia.


Mendengar suara ayahnya yang meninggi sejak tadi, akhirnya tangis Inas langsung pecah. Inas merasa ketakutan karena selama ini, Inas tak pernah mendengar suara keras atau kasar seperti yang dengarnya barusan.


Reza segera menggendong Inas dan mengelus kepalanya dengan lembut. Reza merasa bersalah karena telah berteriak di depan putrinya. Secara tak langsung, ia telah memberikan contoh buruk pada putrinya.


Dalam satu hari ini, Reza telah berhasil membuat putrinya menangis. Tadi siang Inas menangis karena keteledoran ayahnya dan sekarang juga ia menangis karena ayahnya tak mampu menahan amarahnya.


Setelah melihat putrinya mulai tenang, Reza kembali bersuara, tapi kali ini dengan nada yang lebih rendah.


"Kali ini kalian aman. Kalo bukan karena istri saya, kalian sudah saya pecat." Ucap Reza dengan suara rendah tapi terdengar sangat tajam.


"Terima kasih banyak, pak." Ucap mereka serentak.


"Minta maaf dan bilang terima kasih ke istri saya, sekarang!" Titahnya dengan tatapan tajam.


Para wanita itu langsung meminta maaf dan tak lupa mereka mengucapkan terima kasih pada Lira karena telah menyelamatkan nasib mereka.


"Maafkan kamu, bu. Kami telah kurang ajar dengan menghina anda. Kami juga telah salah menilai anda. Terima kasih karena ibu telah memberikan kami kesempatan kedua. Kami janji, mulai sekarang kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi." Ucap salah satu dari mereka dengan tulus dan diangguki setuju oleh yang lainnya.


"Iya, sama-sama. Maafkan suami saya juga ya, mbak." Balas Lira dengan tersenyum hangat di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Sayang." Protes Reza cemberut, merasa tak terima mendengar permintaan maaf Lira atas namanya.


"Iya, mas." Lira hanya menyengir melihat wajah cemberut suaminya.


🌸🌸🌸🌸


Sepanjang pulang ke rumah, Reza terus merenungi ucapan karyawannya yang dengan berani menghina Lira secara terang-terangan di depannya. Ia saja yang sebagai suami, sudah merasa sakit mendengar orang lain menghina istrinya, bagaimana dengan Lira?


Jika dahulu Reza merasa senang menghina Lira, tapi tidak dengan sekarang. Jika dahulu Reza merasa puas melihat Lira terluka dan menangis, tidak dengan sekarang. Air mata Lira ibarat pedang yang menghunus hingga ke jantungnya, terasa sakit dan perih. Reza tak akan sanggup melihat Lira terluka dan menangis di depannya seperti dulu lagi.


Jika sekarang Reza bisa menjadi pahlawan untuk Lira, bagaimana dengan dulu saat orang lain menghinanya dalam keadaan hamil? Reza tak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya hati Lira ketika mendapat hinaan dan cacian dari banyak orang, tanpa ada yang melindunginya.


Sejak kecil, Lira sudah terbiasa mendengar hujatan dari banyak orang hingga hatinya pun dipenuhi oleh banyak luka yang berhasil dijahit tak sempurna oleh waktu. Bisa saja Lira menutupinya dengan senyumannya, tapi matanya tak mampu menyembunyikan segala luka di hatinya.


Inas yang sedang tertidur pulas di pangkuan ayahnya langsung menggeliat kecil seolah ia juga ikut merasakan apa yang sedang dialami ibunya. Reza langsung mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Reza menoleh ke arah Lira yang duduk sambil mengarah ke jendela. Ia menggenggam lembut tangan Lira mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Mas akan selalu menjagamu.


"Sayang, mau jajan dulu gak?"


Lira menjawabnya dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut. Terkadang melihat senyum Lira, membuat hati Reza menjadi sakit. Karena Reza tahu, tak selama senyum itu menggambarkan kebahagiaan tapi bisa juga mengisyaratkan luka di sana.


"Sayang mau apa? hmm?" Diusapnya kepala Lira dengan lembut.


"Lira kangen kampung. Kangen masakan ibu juga, mas." Jawabnya sendu.


"Tapi sayang belum boleh jalan jauh. Kasian baby, masih rentan."


Mata Lira langsung berkabut. Lira tak bohong. Ia memang sangat merindukan kampung halamannya, masakan ibunya. Tapi yang lebih utama, Lira merindukan pelukan hangat ibunya.


Tak tega melihat wajah Lira yang sudah ingin menangis, Reza menjadi tak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Kehamilan Lira masih sangat muda dan masih rentan keguguran. Reza tak ingin mengambil resiko.


Reza merangkul tubuh mungil Lira, membawa masuk ke dalam pelukannya."Jangan nangis, sayang. Mas janji, nanti kita pulang kampung. Tapi gak sekarang."


"Janji ya, mas."


"Iya, sayang. Udah ya, jangan nangis lagi."


Lira mengangguk lalu menyandakan kepalanya di dada bidang Reza. Meski rasanya sangat nyaman, tapi itu tak bisa mengalahkan dan menggantikan pelukan hangat seorang ibu.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.......😊


__ADS_2