Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 38


__ADS_3

Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Doni benar-benar menepati ucapanya untuk memastikan Lira makan sampai selesai, kemudian ia pamit pulang pada Lira dan Reza. Doni sangat bahagia melihat Lira makan dengan sangat lahap tanpa merasa malu. Lira memang tak pandai menjadi orang lain, ia selalu menampilkan sisi dirinya yang apa adanya tanpa dibuat-buat hanya untuk menarik perhatian orang lain.


Reza mengantar Doni sampai depan rumah dan memastikan sahabatnya itu benar-benar telah pulang. Sementara di dalam rumah, Lira sedang membereskan sisa makanannya yang telah ia bagi untuk sarapannya besok pagi. Ia masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sejenak sebelum ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Reza menyusul Lira dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu kamar Lira dengan kasar hingga berbunyi sangat kencang. Ia kembali menutup pintu dan menguncinya. Lira terkejut melihat Reza masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan marah. Lira melihat Reza mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, wajahnya juga terlihat memerah menahan marah.


Reza mendekati Lira yang sudah meringsut ketakutan di atas tikarnya. Lira terus mundur sambil memeluk kedua lututnya hingga punggungnya menabrak dinding kamar. Ia benar-benar ketahutan melihat Reza semakin yang mendekat padanya. Reza berjongkok di hadapan Lira dengan bertumpu pada salah satu kakinya. Tangannya mulai menyapu lembut kepala Lira. Tak lama kemudian, ia mulai menjambak rambut Lira yang terbungkus jilbab dengan sangat kuat.


"Bukankah aku sudah pernah mengingatkan kepadamu agar berjaga jarak dengan sahabatku. Tapi kenapa kamu tetap dekat dengannya? Kalian bahkan terlihat sangat akrab. Kamu juga tidak segan-segan memanggilnya mas. Sudah sejauh apa hubungan kalian, hmm? Atau jangan-jangan kamu menyukai Doni, jawab?" Teriak Reza sambil terus menarik rambut Lira.


Lira memekik mendengar teriakan Reza tepat di telinganya sambil memejamkan matanya kesakitan. Lira kembali membuka matanya, ia melihat wajah Reza sudah berada dekat dengan wajahnya. Lira tak tahu, mengapa Reza bisa semarah itu padanya hanya karena ia menerima makanan pemberian Doni di saat ia sangat kelaparan.


"Apa kamu suka diberi perhatian seperti itu, hmm? Kamu tidak mendapatkan perhatian dariku sampai kamu harus mencarinya dari orang lain!"

__ADS_1


Tubuh Lira bagai disambar petir. Hatinya serasa hancur berkeping-keping mendapat tuduhan dari suaminya sendiri. "Bu-bukan begitu tuan, saya hanya menerima pemberiannya karena saya sangat lapar, belum makan sejak siang tadi." Lira mencoba membela diri. Air matanya terus mengalir deras membasahi kedua pipinya.


Reza tak mendengarkan penjelasan Lira. Ia menjadi semakin gelap mata mengingat kedekatan antara Lira dan Doni. Ia mulai semakin mendekat hingga hembusan nafasnya yang memburu dapat Lira rasakan. Reza melampiaskan emosinya dengan cara mengambil paksa haknya. Ia melakukannya dengan sangat kasar tanpa memperdulikan jeritan kesakitan Lira. Sebenarnya, tanpa Reza paksa pun, Lira akan tetap memberikannya dengan senang hati sebagai bukti kewajibannya sebagai seorang istri pada suaminya. Namun, Reza mengambilnya dengan sangat kasar. Reza sungguh telah menyakiti batin dan fisik Lira dengan sangat dalam.


Reza ambruk di sebelah Lira yang masih terbaring membeku. Tubuhnya terasa sangat remuk. Ia menangis tanpa suara. Sakit hatinya tak dapat ia jabarkan dengan kata-kata. Reza melakukannya dengan sangat kasar tanpa perasaan dan kelembutan. Reza bangkit lalu keluar dari kamar pengap Lira tanpa menghiraukan kondisi Lira yang terlihat sangat mengenaskan. Reza membanting pintu kamar Lira dengan kencang. Lira tak menghiraukan ketika Reza membanting pintu kamarnya. Ia terus menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Apakah setelah ini, ia masih bisa bertahan menghadapi kekejaman Reza padanya? Apakah ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya di atas penderitaannya? Entahlah, Lira belum bisa memikirkan hal itu. Saat ini, yang ia pikirkan hanyalah nasibnya kedepan. Jika suatu saat ia hamil, entah Reza bisa menerima anaknya atau tidak. Hanya satu hal yang ia minta dari sang pemilih takdirnya, yaitu ke sabaran. Ia percaya pada janji Allah yang akan memasukan hamba-Nya ke dalam surga apabila ia bersabar.


"Jika seorang istri sabar menghadapi keburukan akhlak suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti yang diberikan kepada Asiyyah istri Fir'aun (HR. Muslim).


🌸🌸🌸🌸


"Aaarrrggggghh.....Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa gue bisa lepas kontrol gini?" Teriak Reza merasa frustasi. Ia takut apa yang ia perbuat akan menghasilkan benih di rahim Lira.


Cukup lama Reza berada di bawah guyuran shower hingga ia menyudahi kegiatan mandi besarnya dengan tubuh yang sudah menggigil kedinginan. Reza keluar dari kamar mandi lalu mengenakan pakaian santainya untuk tidur. Ia membaringkan tubuhnya ke kasur lalu membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Sebelumnya, ia mematikan AC kamarnya kemudian tertidur sambil membekap erat selimut agar dapat menutupi tubuhnya yang kedinginan dengan sempurna.


Waktu telah menunjukkan tepat pukul satu dini hari. Reza memejamkan matanya yang sudah terasa berat. Perlahan deru nafasnya mulai teratur yang artinya ia telah masuk ke alam mimpinya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Lira bangun tepat pukul tiga pagi. Ia segera bangun untuk mandi besar lalu sholat malam. Saat bangun, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan Lira meraih selimut tipis yang membungkus tubuh polosnya, lalu berjalan dengan terseok-seok menuju kamar mandi yang berada di luar kamarnya.


Usai mandi besar dan berwudhu, Lira langsung melaksanakan sholat malam. Setelah itu Lira bersimpuh di hadapan sang pemilik takdir hidupnya. Lira mulai menangis tersedu-sedu memohon kekuatan dan kesabaran.


"Ya Allah, ya Tuhanku , kembali bersimpuh dihadapan-Mu, memohon ampunan untuk kekhilafan suami hamba. Ampunilah segala dosa dan keburukannya. Lembutkanlah hatinya sebagaimana engkau melembutkan hati orang-orang yang engkau ridhai. Kuatkanlah hatiku sebagaimana engkau menguatkan hati Asiyyah ketika menghadapi keburukan akhlak Fir'aun. Wahai zat yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku agar senantiasa berada di jalan-Mu. Jangan biarkan hamba kalah dari para bangsa jin yang ingin merusak rumah tangga hamba, hingga membuat mereka tertawa bahagia di atas penderitaan hamba. Sesungguhnya, hamba hanyalah manusia yang lemah tanpa pertolongan-Mu. Aamiin.


Lira menunggu adzan subuh dengan membaca Al-Qu'an. Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar begitu merdu dan menyentuh hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Karena terlalu menghayati bacaan ayat demi ayat, tak terasa telah masuk waktu sholat subuh. Suara adzan mulai berkumandang. Lira langsung menghentikan kegiatan mengajinya.


Sementara di kamar Reza. Lelaki tampan itu tak merasa terusik sama sekali. Ia tidur dengan sangat nyenyak, bahkan posisi tidurnya tidak berubah. Ia tidur sambil memeluk erat selimut yang membungkus tubuh jakungnya. Hingga akhirnya, telinganya menangkap suara suara adzan yang berkumandang. Ia ingin membuka matanya, namun sayang ia masih merasakan kantuk yang luar biasa dahsyat, akhirnya ia memilih kembali tidur.


Tepat pukul lima subuh, Reza bangun. Tubuhnya terasa sangat lemas dan kepalanya juga terasa berat. Reza memaksakan dirinya bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi, setelah itu ia berwudhu.


Usai sholat, Reza kembali tidur karena kepalanya masih sangat berat. Rencananya pagi nanti, ia akan menghubungi Doni untuk meminta tolong membawakannya bubur ayam untuk sarapan. Reza kembali membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, kemudian ia mulai memejamkan matanya.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2