Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 17


__ADS_3

Selamat membaca......🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Dengan ragu-ragu, Lira bertanya.


"Maaf Om, apa ini tidak terlalu cepat? Lira belum ngomong soal pernikahan ini sama ibu." Ucap Lira sambil meremas tangannya.


"Cih, bahkan sekarang saja dia masih bisa bersandiwara" Cibir Reza melihat Lira sinis.


Martin paham maksud Lira.


"Nak Lira tidak perlu khawatir soal Ibu Nak Lira. Saya sudah bertemu dengan Ibu Nak Lira dan sudah melamar Nak Lira langsung pada beliau. Ibu Nak Lira menerima lamaran kami." Jelas Martin.


Lira melongo mendengar penjelasan Martin. Bahkan Wajahnya masih menunjukkan kebingungan yang sangat besar. Dari mana Martin tahu kampung Lira?


flashback on


Usai mengajukan persyaratan nikah pada Lira, dua hari kemudian Martin langsung menuju kampung halaman Lira untuk beretemu Indah yang tidak lain adalah Ibu dari Lira.


Kondisi Indah sudah berangsur membaik setelah operasinya berjalan lancar. Jadi Martin berniat ingin bertemu langsung dengan Indah yang masih berada di rumah sakit itu untuk menyampaikan niat baiknya.


Kedatangan Martin di rumah sakit, disambut baik oleh Indah. Karena sebelumnya anak buah Martin sudah bertemu Indah untuk menyampaikan kedatangan Martin.


Langkah Martin terlihat begitu wibawa ditambah wajahnya yang karismatik sontak saja membuat para pasien wanita berdecak kagum.


Martin memasuki ruang rawat Indah, didampingi Jono supir pribadinya.


"Assalamu'alaykum" Ucap Martin dan Jono bersamaan.


"Wa'alaykumussalam" Jawab Lira sambil tersenyum.


Martin tertegun melihat senyum Indah yang terlihat sangat tulus. Wajahnya sangat mirip dengan Lira, walaupun saat ini wajah Indah terlihat pucat, namun tak membuat aura kecantikannya menghilang.


Di ruang perawatan VIP itu, Indah terbaring seorang diri tanpa ada keluarga yang mendampingi. Selama berada di rumah sakit, hanya tetangga dekat dan orang tua Bela saja yang datang menjenguk Indah. Bahkan beberapa dari mereka, ada yang bersedia menginap untuk menemani Indah.

__ADS_1


Indah adalah anak tunggal sekaligus anak yatim piatu. Sedangkan Firman, ayah Lira masih mempunyai saudara, tapi karena sifat saudaranya yang sangat sombong dan angkuh, jadi mereka enggan untuk datang menjenguk Indah.


"Maaf jika kedatangan saya kemari mengganggu waktu istirahat Anda." Ucap Martin saat ia menjatuhkan bokongnya di kursi yang berada di sebelah kanan Indah.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Martin. Mungkin nyonya sudah tahu kedatangan saya dari salah satu anak buah saya yang menjumpai nyonya beberapa waktu lalu" Lanjutnya.


Indah hanya mengangguk lemah sambil tersenyum.


"Baik, saya langsung saja. Tujuan saya bertemu Anda, karena saya ingin melamar putri Anda, Lira untuk menjadi menantu saya." Ucap Martin ramah.


Indah sangat terkejut. Bagaimana bisa dia melamar anaknya? Sedangkan Lira tidak pernah menyampaikan apa-apa padanya.


"Tapi tuan, anak saya masih sangat muda. Masih banyak yang ingin dia raih" Jawab Indah.


Sejujurnya, Indah masih belum rela melepaskan anak kesayangannya. Karena hanya Lira yang Indah miliki saat ini.


"Sebenarnya tujuan saya menikahkan Lira dengan anak saya adalah sebagai bentuk rasa terima kasih saya pada Lira. Sebab, saya berutang nyawa pada Lira. Jadi saya ingin membalasnya dengan cara menjadikannya menantu saya." Jelas Martin.


Indah mengernyitkan dahinya. Dia benar-benar belum paham apa maksud Martin bahwa dia berhutang nyawa pada Lira.


"Tuan berhutang nyawa pada anak saya?"


Indah langsung tersenyum haru. Ia tidak menyangka, anaknya bisa melakukan perbuatan yang sangat terpuji itu.


"Maka dari itu, saya ingin sekali menjadikan Lira sebagai menantu saya. Dan saya juga berharap, Anda mau menerima lamaran ini." Lanjut Martin.


Lagi-lagi Indah menjadi terharu mendengar niat baik Martin. Tapi ada hal yang masih mengganjal di hati Indah, mengenai derajat keluarganya yang berasal dari kalangan tidak mampu.


"Tapi Tuan, kami hanya keluarga miskin. Bagaimana pandangan orang tentang keluarga Tuan?" Tanya Indah.


"Soal derajat kaya atau miskin, bagi kami itu sama saja. Kami tidak pernah mempersoalkan hal itu. Bukankah dalam agama kita, semua manusia itu sama? Yang membedakan hanyalah amal ibadahnya. Jadi Anda tidak perlu khawatir soal itu." Jelas Martin meyakinkan Indah yang masih terlihat ragu atas keputusannya.


"Baiklah kalau begitu. Niat baik Tuan saya terima." Jawab Indah sambil tersenyum lembut. Terima kasih, Tuan sudah bersedia menerima anak saya." Lanjut Indah.


Martin sangat bahagia mendengar jawaban Indah.

__ADS_1


"Harusnya saya yang mengucapkan terima kasih, karena Anda sudah menerima niat baik saya." Ucap Martin bahagia karena Indah menerima lamarannya untuk Reza.


"Oya, soal biaya Rumah Sakit dan kebutuhan hidup Anda, biar saya yang urus. Kita akan menjadi keluarga, jadi Anda tidak boleh menolaknya."


Indah hanya bisa mengangguk pasrah.


Flashback off


Lira tertegun mendengar penjelasan Martin mengenai pertemuannya dengan ibunya di kampung.


"Nak Lira tidak usah bingung soal bagaimana Om bisa tahu kampung Nak Lira, juga Ibu Nak Lira. Yang jelas Ibu Nak Lira sudah setuju dengan lamaran pernikahan ini." Jelas Martin setelah membaca raut wajah Lira.


Lira benar-benar terkejut. Martin seolah tahu apa yang Lira pikirkan.


"Jadi bagaimana Nak Lira? Apakah Nak Lira setuju pernikahan kalian diadakan bulan depan? Tanya Martin lagi.


Belum sempat Lira bersuara, Reza sudah lebih dulu menjawab pertanyaan ayahnya.


"Minggu depan aja, Pa. Reza mau pernikahan kami diadakan Minggu depan dan tidak ada pesta meriah. Hanya ijab Qabul yang diadakan di rumah kita." Pinta Reza tegas.


Martin, Irma, dan Lira sontak menatap Reza dengan wajah terkejut. Bahkan mulut Lira sampai menganga dan matanya terbuka lebar.


"Apa Dia sedang bercanda?" Bagaimana bisa dia memutuskan pernikahan secepat ini?" Batin Lira.


Martin dan Irma langsung saling menatap kemudian tersenyum. Mereka pikir Reza sudah menerima Lira sebagai calon istrinya, sampai-sampai pernikahannya mau dipercepat.


"Baiklah, Papa dan Mama setuju usulan kamu." Jawab Martin tanpa meminta persetujuan Lira. Bahkan Martin tidak mempersoalkan keputusan Reza yang mau menikah tanpa mengadakan pesta.


Martin berpikir bahwa keputusan Reza tidak mengadakan pesta karena ingin melindungi Lira dari ancaman musuh-musuh bisnis mereka. Mengingat banyaknya pesaing bisnis mereka yang tidak suka dengan keberhasilan bisnis keluarga Martin.


Martin dan Irma tidak menyadari, dibalik senyum Reza, tersimpan rencana besar untuk Lira. Dan rencana itu hanya Reza yang tahu.


Kali ini Lira benar-benar tak berdaya menghadapi keluarga Martin. Bahkan soal pernikahan pun mereka putuskan sendiri tanpa meminta pendapat Lira. Mereka hanya menjalankan sesuai keinginan mereka sendiri.


Rasanya Lira ingin menangis meratapi nasibnya. Lira tidak menyangka akan melepas masa mudanya dengan pria yang jauh di atas umurnya secepat ini.

__ADS_1


Reza terus menatap sinis Lira yang masih tertunduk.


bersambung.......


__ADS_2