Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 60


__ADS_3

Maaf baru up, banyak kerjaan di dunia nyata. terima kasih karena masih setia menunggu. Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Hubungan Doni dan Amel semakin dekat karena hampir setiap hari, Doni selalu menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke panti. Awalnya Amel merasa risih setiap Doni berkunjung sambil membawa banyak mainan, pakaian, juga bahan makanan untuk anak-anak panti. Namun, perasaan risih itu langsung berubah menjadi cinta di kala Amel melihat perhatian serta ketulusan Doni pada anak-anak panti.


Usai mengutarakan perasaanya dan langsung disambut oleh Amel. Doni langsung mengajak Amel menikah. Meski usia mereka terpaut cukup jauh, tapi Doni telah merasa yakin untuk membangun rumah tangga bersama Amel. Wanita Solehah yang telah banyak membuatnya berubah menjadi lebih baik.


Bahkan, Doni berencana mengenalkan Amel pada kedua orang tuanya dalam waktu dekat setelah kedua orang tuanya kembali dari berlibur. Saat ini kedua orang tua Doni sedang menikmati liburan mereka di Jepang. Ibu Doni sangat menyukai negara yang dijuluki sebagai negeri sakura itu, karena suasananya yang sangat nyaman dan penduduknya sangat tertib serta pandai menghargai waktu. Tak heran jika Jepang menduduki urutan pertama negara paling maju di dunia untuk tingkat Asia.


Niat baik Doni itu tentu telah lebih dahulu disampaikan pada Amel agar nanti ketika bertemu dengan kedua orang tua Doni, Amel sudah tak kaget lagi. Dan Amel menyambut baik niat Doni untuk mengenalkannya pada kedua orang tuanya. Meski di awal, Amel sempat merasa minder dengan status sosial keluarga Doni yang dikenal sangat kaya, dan sangat jauh dengan. Namun, Doni berhasil meyakinkan Amel jika kedua orang tuanya tidak pernah memandang status sosial orang lain.


Saat ini Doni sedang berada di panti, usai menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Doni langsung menuju panti untuk membawakan kebutuhan pokok seluruh penghuni panti yang akan dibawa setiap bulannya.


"Besok papa sama mama balik ke Indonesia. Nanti kita jemput sama-sama ya, di bandara." Ucap Doni pada Amel.


"Gak enak lah mas. Kita kan belum jadi mahram, jadi belum boleh jalan berdua." Tolak Amel dengan halus.


"Tapi kan kita gak ngapa-ngapain dek. Kamu juga nanti duduknya di belakang, seperti biasa."


Amel tersenyum, ternyata Doni belum paham juga tentang batasan antara laki-laki dan perempuan. Meski tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, tapi tetap saja akan menimbulkan fitnah di mata orang-orang yang melihat. Selama ini mereka tidak pernah jalan berdua, setiap Doni mengajak Amel jalan, pasti adik-adik juga ibu panti akan ikut bersama mereka.


"Tapi tetap aja akan menimbulkan fitnah. Jadi maaf ya mas, Amel tetap gak bisa. Insya Allah nanti kalo kita udah sah, Amel mau kok diajak ke mana aja berdua sama mas." Timpal Amel dengan lembut.


"Ya udah, gak papa. Tapi nanti kamu mau kan ketemu mama sama papa?"


"Insya Allah Amel mau, mas."


"Kalo gitu, nanti mas akan bawa mama sama papa ke sini supaya bisa kenal sama kamu, ibu dan adik-adik."


"Iya, mas."


🌸🌸🌸🌸


Pukul 12 siang, Doni telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput kedua orang tuanya. Sambil menunggu orang tuanya, Doni lebih dahulu melaksanakan sholat dhuhur karena ketika ia tiba di bandara, adzan dhuhur langsung berkumdang.

__ADS_1


Setelah itu, Doni menunggu di pintu kedatangan. Kali ini penumpang pesawat dari Jepang ke Indonesia tak sebanyak seperti biasa, jadi orang tua Doni bisa keluar dengan cepat tanpa harus menunggu lama dan berdesak-desakkan dengan penumpang lainnya.


Sepasang suami istri yang ditunggu akhirnya keluar dengan raut wajah bahagia karena dijemput langsung oleh putra kesayangan mereka. Selain itu juga, mereka merasa bahagia karena Doni telah mengabarkan berita bahagia bahwa ia akan segera mengenalkan wanita pujaan hatinya yang akan ia nikahi secepatnya setelah mengenalkan kepada orang tuanya.


"Aduh, anak mama kok tambah ganteng aja sih!" Ucap Marta sambil memeluk erat putra kesayangannya. "Apa kabar sayang? Kok calonnya gak diajak sekalian ke sini?" Lanjutnya setelah melepas pelukannya.


"Alhamdulillah Doni baik, ma. Kami kan belum halal, ma. Jadi belum boleh jalan berdua, takutnya malah jadi fitnah." Jawab Doni.


"Masya Allah. Jarang loh, ada cewek kayak gitu jaman sekarang, yang masih menjaga diri dengan gak berduan sama laki-laki." Puji Marta dengan wajah berseri-seri.


Doni tersenyum bangga mendengar pujian dari ibunya untuk kekasihnya. Ia juga merasa bersyukur karena telah dipertemukan dengan wanita sederhana dan solehah seperti Amel, yang mampu menjaga dirinya dengan baik di tengah-tengah bebasnya pergaulan anak jaman sekarang.


"Apa kabar, pa?" Kini Doni beralih memeluk ayahnya, Sigit Cahyono. Pria paruh baya itu masih terlihat tampan di usianya yang telah lebih dari setengah abad. Tubuhnya juga masih terlihat segar bugar.


"Baik, son." Sigit membalas pelukan putranya.


"Papa gantengnya kok jadi nambah sih, pas pulang dari liburan?" Goda Doni pada ayahnya.


"Ah, kamu bisa aja. Mentang-mentang sekarang udah ada yang mau di halalin, jadi sok muji-muji papa." Sigit balik menggoda Doni sambil menaik turunkan alisnya.


"Udah, ah. Kok pada gombalin Doni, sih? Ucap Doni pura-pura memasang wajah kesal. "Gadis nakal itu gak ikut mama sama papa pulang?" Lanjut Doni menanyakan Dina, adik perempuan satu-satunya yang berprofesi sebagai pelukis.


"Biasalah, adik kamu itu mana bisa betah di satu tempat aja. Setelah dari Jepang, dia langsung ke Thailand. Katanya sih mau nyari inspirasi gitu." Jawab Marta sambil menggeleng kepala mengingat tingkah anak gadisnya yang selalu bikin pusing kepala.


"Gak papa, ma. Yang penting dia bisa jaga diri. Tapi lain kali, jangan biarin dia jalan sendirian karena dia perempuan, bahaya." Jelas Doni lalu mendapat anggukan dari kedua orang tuanya.


Mereka langsung menuju mobil yang sudah ditunggui sopir pribadi keluarga mereka, lalu pulang ke rumah untuk berisitirahat sebelum menyiapkan diri bertemu Amel di Panti Asuhan.


🌸🌸🌸🌸


Kini bayi Inas telah memasuki usia satu bulan. Pertumbuhannya juga terbilang cukup baik karena bayi Inas sangat lahap ketika meminum ASI. Pipi bayi Inas juga terlihat bertambah gembul, membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


Lira sudah kembali berjualan setelah melahirkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lira tak lagi menjual sayuran hasil dari kebunnya sendiri karena harus mengurus bayi Inas, Lira hanya menjual gorengan pada pagi hari yang dititipkan ke warung tetangga. Gorengan itu akan diambil pada sore hari. Jika gorengannya tak habis, maka gorengan itu akan dijadikan lauk dan dimakan bersama nasi.


Selama ini Lira dan ibunya menggantungkan hidup mereka dari hasil sayuran yang mereka tanam sendiri di halaman rumah mereka yang tak seberapa luas, namun masih bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran, cabai, juga tomat. Hasil tanaman itulah yang mereka jual ke tetangga. Kemudian uangnya bisa mereka gunakan untuk membeli kebutuhan pokok hidup mereka.

__ADS_1


Meski hasil dari berjualan gorengan tak banyak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama ibunya. Sedangkan untuk kebutuhan bayi Inas, Lira banyak mendapat hadiah dari para tetangganya. Ketika bayi Inas lahir, banyak tetangga yang datang membesuk ingin melihat bayi Inas yang mereka dengar sangat cantik dan menggemaskan itu sambil membawa banyak keperluan bayi. Jadi masih cukup untuk kebutuhan bayi Inas selama beberapa bulan kedepan.


ooeekk...ooeekkkk...ooeekk.,


Terdengar suara tangisan bayi Inas dari dalam kamar. Lira yang sedang menjemur pakaian anaknya langsung meninggalkan kegiatannya lalu berlari ke dalam rumah. Lira menggedong bayi Inas dan menimangnya dengan penuh kasih sayang.


"Cup cup cup, sayang. Dede kenapa nangis? Mau enen ya, de? Iya? Dede haus?" Lira langsung memberikan ASI pada anaknya yang sudah menangis hingga mukanya berubah menjadi merah. Namun anaknya menolak ASI yang disodorkan ke mulutnya.


"Kok gak mau sih, de? ***** dulu ya, sayang. Cup cup cup, anak bunda kenapa nangisnya kenceng gini? Dede kenapa sayang?" Lira mulai khawatir melihat anaknya yang terus saja menangis dan menolak diberi ASI.


"Inas kenapa nangis kayak gitu, neng?" Tanya Indah saat memasuki rumah dan melihat Lira kesulitan menenangkan bayi Inas yang terus menangis.


"Neng juga gak tahu, bu. Tadi neng lagi jemur cucian, terus denger dede nangis kenceng banget. Pas dikasih ASI, dia malah gak mau." Jawab Lira sambil terus berusaha menimang tubuh anaknya agar kembali tenang.


"Coba sini, ibu yang gedong." Indah mengambil bayi Inas dari gendongan Lira dan benar saja, bayi Inas langsung tenang tak lagi menangis histeris seperti tadi.


"Kok dia malah diem sih, pas ditimang sama ibu?" Lira merasa heran melihat anaknya yang langsung tiba-tiba tenang digendongan neneknya.


"Mungkin aja dede Inas lagi kangen sama neneknya." Gurau Indah sambil tersenyum menatap wajah cucunya.


"Mungkin aja ya, bu. Tapi kalo dia lagi tidur tenang gini, mukanya jadi mirip banget sama ayahnya ya, bu.?


"Iya, ya. Dede Inas kok mirip banget sama ayahnya." Indah dan Lira sontak tertawa bersama. Meski tawa itu menyiratkan luka dalam. Namun, kehadiran bayi Inas telah membawa kebahagiaan tersendiri bagi Lira dan Indah.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung..........


jangan lupa dukungannya ya...


LIKE


KOMEN


VOTE, VOTE, VOTE seikhlasnya..

__ADS_1


terima kasih....😊


__ADS_2