Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 112


__ADS_3

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.


(QS An-Nuur:22)”


Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Hanya satu malam saja Reza menginap di rumah mertuanya. Pagi ini sebelum kembali ke Jakarta, Reza akan berziarah ke makam ayah mertuanya seorang diri. Reza meminta izin pada Indah untuk pergi ke makan ayah mertuanya. Indah tersenyum senang mendengar Reza ingin berziarah ke makam suaminya.


Reza memegang satu botol air dan keranjang kecil berisi kelopak bunga. Reza memilih berjalan kaki karena selain jaraknya yang dekat dari rumah, ia juga ingin menikmati udara sejuk dan segar di pagi hari. Hanya beberapa menit saja,.Reza sudah tiba di depan makam ayah mertuanya. Reza mengucapkan salam sekaligus juga doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. ketika masuk ke dalam area pemakaman.


'Assalamu'alaikum ahlad-diyaar minal mu'miina wal muslimin. Yarhamullaahul mustaqdimiina minnaa wal musta'khiriin. Wa Inna insya Allaahu bikum la-laahiquun. wa as alullaaha lanna walakumul'aafiyah.


"Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian."


Reza berjongkok di samping makam mertuanya lalu menyiramkan air dari botol serta menaburkan bunga yang tadi dibawanya.


Reza mengirimkan Al-Fatihah untuk ayah mertuanya. Setelah itu, Reza duduk berjongkok diam di samping pusara lelaki yang pernah menjadi cinta pertama untuk Lira. Meski Reza belum pernah bertemu dan mengenal ayah mertuanya, tapi Reza yakin jika ayah Lira adalah lelaki yang hebat dan bertanggung jawab pada keluarga kecilnya.


Reza merasa salut atas didikan yang kedua mertuanya berikan pada Lira hingga wanita yang dicintainya itu bisa tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan tak mudah menyerah pada keadaan. Reza sangat berterima kasih akan hal itu.


Setelah cukup lama Reza berada di sana, ia pun memutuskan untuk pulang karena merasa matahari mulai menghangat menyapa kulitnya. Reza berjalan melewati beberapa orang yang sedang melakukan aktifitas pagi. Mereka yang melihat Reza, langsung menyapanya dengan ramah dan Reza pun membalasnya dengan hal yang sama.


Saat Reza akan memasuki gang menuju rumah mertuanya, Reza melihat seorang wanita paruh baya dengan tubuh renta sedang mendorong gerobak dengan susah payah yang berisi rumput untuk pakan ternak. Reza mendekati wanita itu berniat untuk membantunya. Namun, mata Reza langsung dibuat terbuka lebar saat tahu, siapa wanita yang ingin ia bantu itu. Wanita itu pun sama terkejutnya, melihat Reza telah berdiri di samping dan bahkan berniat untuk membantunya.


Ya, ia adalah wanita yang pernah menghina Lira secara terang-terangan di depan Reza. Setelah kejadian itu, ia beserta keluarganya harus hidup kekurangan karena suaminya dipenjara atas kasus penggelapan dana bank. Ditambah lagi, para tetangga yang pernah ia hujat tak ada yang bersedia membantunya. Akhirnya, ia pun harus hidup terlunta-lunta. Ia bekerja pada salah satu tetangga jauhnya yang bersedia memberinya pekerjaan sebagai tukang kebun dan memberi makan sapi ternak. Sementara anak-anaknya harus bekerja sebagai buruh di pabrik tahu yang berada di kampung sebelah.


Wajah wanita paruh baya itu langsung berubah pucat dan tangannya juga gemetar hebat. Ia merasa takut, jika Reza akan membuat keluarganya semakin menderita.

__ADS_1


"A-ampuuun, tuan. Sa-saya sudah tidak mengganggu mertua dan istri tuan lagi. Tolong ampuni kami, tuan." Ucapnya terbata-bata sambil tertunduk takut dengan tangan yang sudah gemetar.


Reza menjadi merasa iba melihat penderitaan wanita itu. Bayangan wajah Lira yang pernah ketakutan ketika mendapat hinaan serta pukulan darinya pun kembali menghiasi ingatannya. Reza segera beristighfar di kala ia kembali dihantui oleh kejadian di masa lalu.


"Maafkan saya, bu."


Ucapan Reza membuat wanita renta yang ada di hadapannya itu menjadi cukup terkejut. Ia tak menyangka jika Reza akan meminta maaf padanya. Padahal, ia lah yang seharusnya minta maaf pada Lira.


"Ma-maksud tu-tuuuan apa?" Tanyanya dengan wajah bingung.


"Saya minta karena sudah membuat ibu dan keluarga menjadi menderita." Sahut Reza penuh sesal.


"Tidak tuan. Seharusnya saya yang minta maaf pada istri tuan. Saya sungguh menyesal. Tolong, maafkan saya."


Reza hanya diam sambil terus memandangi wajah wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang dahulu terkenal angkuh dan tak suka berbaur dengan para tetangga, kini berubah menjadi wanita yang lebih sopan dalam bertutur kata. Kejadian yang menimpa keluarganya, sungguh sangat merubah hidupnya. Ia tak merasa dendam pada Reza. Ia justru merasa berterima kasih pada Lira dan Reza karena mereka lah, ia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa menghargai orang lain.


"Saya sudah memaafkan ibu, tapi ibu juga tolong maafkan sikap saya."


Reza tersenyum bahagia mendengar permintaan maafnya diterima. Ia merasa lega karena orang yang ia sakiti telah memaafkannya. Hal itu sangat berpengaruh besar pada apa yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat kelak.


Sebelum berpamitan, Reza memberikan kartu namanya serta menghubungi Jono untuk mengurus kembali rumah wanita itu yang telah disita oleh pihak bank. Reza juga berjanji akan memberikan pekerjaan kepada anak-anak wanita itu. Berdasarkan informasi yang dahulu Reza terima, wanita itu memiliki tiga orang anak perempuan yang semuanya merupakan lulusan terbaik dari sekolah tinggi keperawatan. Rencananya, Reza akan memasukan mereka untuk bekerja di rumah sakitnya yang akan segera diresmikan. Namun untuk suami wanita itu, Reza tak dapat membantunya karena memang ia seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya atas dana yang telah ia gelapkan.


Wanita itu mengucapkan terima kasih pada Reza karena telah membantu keluarganya. Ia tak menyalahkan Reza atas apa yang menimpa suaminya. Ia menganggap itu semua adalah musibah serta teguran dari Yang Maha Kuasa atas apa yang telah suaminya lakukan.


Reza berpamitan pulang ke rumah mertuanya. Tapi sebelum itu, Reza menuju warung untuk membeli sembako dan meminta pada Yuyun, sang pemilik warung untuk mengantarkan semua sembako pesanannya ke rumah wanita tadi. Awalnya Yuyun merasa terkejut, mengapa Reza mau membantu wanita yang pernah secara terang-terangan telah menghina Lira? Tapi Yuyun tak ingin mencari tahu karena ia yakin, pasti Reza melakukan hal itu atas rasa iba. Di mata tetangga Lira, Reza adalah lelaki yang baik hati dan suka membantu orang yang sedang kesulitan. Jadi tak heran jika Yuyun melihat Reza membantu orang lain.


🌸🌸🌸🌸


"Bu, Reza pamit ya. Ibu tetap jaga kesehatan. Nanti Reza usahakan untuk mengajak Lira dan Inas pulang kampung." Pamitnya sambil menyium punggung tangan Indah.

__ADS_1


"Iya, Nak Reza. Hati-hari di jalan, ya. Salam buat orang tua Nak Reza di rumah. Maaf, ibu gak ngasih apa-apa sebagai oleh-oleh. Habisnya, Nak Reza menolak, sih."


"Maaf bu, Reza gak bermaksud menolak pemberian ibu. Reza hanya gak mau merepotkan ibu, itu aja."


"Iya, ibu paham kok." Sahut Indah sambil tersenyum lembut.


"Oh iya bu, insya Allah Minggu depan, Reza akan meresmikan rumah sakit yang ada di Bandung. Jadi, nanti Reza akan meminta anak buah Reza untuk menjemput ibu dan adik-adik di sini."


"Masya Allah. Iya Nak Reza, ibu akan datang."


"Ya udah bu, Reza pamit ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah."


Reza menaiki mobilnya untuk kembali ke Jakarta. Rasanya, ia sudah tak sabar untuk segera tiba di rumah. Reza sudah sangat merindukan istri dan anaknya.


Saat mobilnya telah memasuki Kota Jakarta, Reza tak langsung pulang ke rumah. Ia sengaja mampir ke sebuah toko bunga yang tak lain adalah milik Cempaka, yang pernah menjadi tempat kerja Lira selama beberapa waktu. Reza ingin membelikan bunga untuk istrinya yang sedang menunggunya di rumah. Ini kali pertama bagi Reza membelikan bunga pada Lira karena Reza memilih untuk mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayangnya dalam bentuk tindakan yang nyata.


Reza memasuki toko bunga lalu memesan buket bunga mawar merah yang cukup besar. Saat menunggu rangkain bunga mawar pesannnya selesai, mata Reza menelusuri setiap sudut ruangan toko itu. Reza tak melihat tantenya di sana. Mungkin saja Tante Cempaka sedang sibuk dengan urusannya di luar. Pikir Reza.


Tak butuh waktu lama, bunga mawar pesanan Reza pun jadi. Reza tersenyum puas saat melihat rangkain bunga mawar merah yang begitu indah. Reza sudah tak sabar untuk memberikannya langsung pada istrinya.


Reza membayar bunga mawar itu lalu beranjak pergi. Semua karyawan yang ada di toko bunga itu merasa kagum pada ketampanan dan sikap romantis Reza. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang tahu jika Reza adalah suami dari Lira, teman yang dahulu pernah bekerja bersama mereka.


"Pasti bunga itu untuk istrinya." Ucap Wiwit, wanita yang pernah dekat dengan Lira.


"Aku juga mikir gitu. Beruntung banget wanita yang jadi istrinya. Pasti tiap hari dia dapet kejutan romantis dari suaminya." Timpal wanita yang satunya lagi.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung.......😊


__ADS_2