Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 92


__ADS_3

Selamat membaca.......🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Satu bulan kemudian.....


Pagi ini Reza berencana mengajak anak dan istrinya untuk jalan-jalan. Berhubung ini hari minggu, jadi Reza ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya yang sudah banyak terbuang karena kesibukannya dalam menangani proyek besar.


Lira telah bersiap-siap untuk mengikuti keinginan suaminya yang akan mengajak mereka pergi entah kemana, ia sendiri pun tak tahu karena Reza enggan membocorkan rencananya.


Lira memilih mengenakan gamis polos berwarna mocca dengan jilbab yang senada menutup dada. Lira juga mendandani Inas, gamis lucu yang senada dengan gamis yang ia kenakan. Mereka terlihat lucu dan kompak.


Sementara Reza lebih memilih mengenakan kemeja berwarna hitam yang digulung hingga ke siku, serta celana jeans berwarna biru gelap. Tak lupa jam tangan berwarna hitam, melingkar indah di pergelangan tangannya.


Reza masuk ke dalam kamar usai menerima telpon dari sekretarisnya mengenai pertemuannya besok dengan salah satu kliennya dari Jepang. Reza menghampiri putrinya yang sedang bermain di tempat tidur sambil menunggu ibunya bersiap-siap.


"Anak papa cantik banget, sih?" Reza langsung menggendong Inas menuju istrinya yang sedang memoles bibirnya dengan liptint.


"Udah sayang, gak usah tebel-tebel." Ucap Reza lembut.


"Iya, mas. Ini cuma liptint kok. Biar bibir Lira gak pucet aja, gitu. Lira juga gak pake bedak. Nih, liat." Tunjuk Lira ke wajahnya.


"Iya sayang, mas liat tahu kok, selama ini sayang gak pernah dandan kalo mau keluar rumah. Lagian, sayang biar gak make up juga tetap cantik. Iya, gak dek? Bunda cantik kan?"


Inas Hanya mengangguk. Reza semakin gemas melihat ekspresi lucu putrinya hingga membuat Reza menyium pipi Inas dengan gemas. Inas memekik kencang saat mendapat serangan bertubi-tubi dari ayahnya.


"Pa-pa-pa-pa." Celoteh Inas dengan gemas.


"Apa sayang? Mau papa cium lagi? Iya dek?" Karena gemas, Reza kembali menyium kedua pipi Inas secara bergantian.


"Lira kan dandannya di rumah, kalo sama mas aja. Udah dong, mas. Nanti dedek sakit perut." Omel Lira karena melihat putrinya terus saja tertawa.


"Iya deh, iya. Ayo, dek kita jalan-jalan." Ajak Reza.


Reza berjalan menuju pintu, tapi langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang mengganggu penglihatannya.


"Sayang, itu jllbabnya kependekan deh. Turunin lagi!" Titahnya karena melihat jilbab Lira yang hanya menutupi sebatas dada Lira dan tidak lebih.


"Emang, iya mas?" Tanya Lira sambil memperhatikan jilbabnya.


"Iya, sayang. Gak enak banget liatnya. Dipanjangin lagi, ya. Biar sempurna."


"Iya, mas. Tunggu bentar ya, Lira benerin dulu."

__ADS_1


Dengan senang hati membetulkan jilbabnya sesuai perintah suaminya. Lira begitu bahagia mendapat perhatian dari suaminya yang kini telah banyak berubah. Bahkan di sela-sela kesibukannya, Reza selalu menyempatkan diri untuk belajar agama langsung dari ustadz yang direkomendasikan oleh sahabatnya, Doni yang juga sedang memperdalam ilmu agamanya.


Tak butuh lama, Lira sudah selesai membetulkan jilbabnya hingga benar-benar menutupi dadanya dengan sempurna.


"Udah mas, ayo berangkat." Ajaknya dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Nah, kalo gini kan bagus. Sayang jadi tambah cantik." Puji Reza sambil mengusap kepala Lira.


"Makasih mas, udah peduli sama Lira."


"Sama-sama, sayang. Itu udah jadi kewajiban mas untuk selalu mengingatkan sayang. Kita sama-sama belajar, ya. Biar bisa jadi contoh yang baik untuk anak-anak kita nanti."


"Iya, mas."


🌸🌸🌸🌸


"Ma, pa, kita mau jalan-jalan dulu ya." Pamit Reza pada kedua orang tuanya yang sedang nonton berdua di ruang keluarga.


"Gitu dong, sesekali ajak anak istri jalan-jalan. Jangan cuma sibuk sama kerjaan terus sampe gak ada waktu untuk keluarga." Omel Irma karena kesal melihat Reza yang selalu sibuk dengan kerjaannya di kantor.


"Iya, ma. Ini juga Reza udah ajak jalan." Jawab Reza sopan.


"Sini, mama mau cium cucu kesayangan mama dulu."


Irma menyium kedua pipi gembul Inas dengan gemas. "Cup.. cup. Cantik banget sih cucu nenek. Jadi gemes deh, liat dia pake gamis lucu kayak gini. Nanti nenek beliin lagi ya, gamis lucu kayak gini, biar dedek tambah cantik." Ucap Irma sambil terus menyium pipi cucunya.


Beginilah keseharian Inas, selalu menjadi rebutan oleh kedua kakek dan neneknya yang selalu gemas melihat wajah imutnya.


Reza dan Lira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang mereka yang setiap hari selalu saling merebut perhatian cucu kesayangan mereka. Tak jarang juga, Inas selalu diajak jalan-jalan oleh kakek dan neneknya keliling mall. Bahkan sampai dibelikan hadiah mahal. Inas seperti putri yang selalu dimanja dan dijaga dengan baik. Inas tak boleh terluka sedikit pun. Pernah sekali, Inas terjatuh dan kepalanya benjol hingga membuat kakek dan neneknya menjadi panik dan langsung menghubungi dokter spesialis anak untuk memeriksa kepala Inas.


"Ya udah, kita berangkat ya ma, pa. Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Martin dan Irma bersamaan.


🌸🌸🌸🌸


Reza mengajak anak dan istrinya ke salah satu mall besar di Jakarta. Reza tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan istrinya.


Mata Lira langsung membulat takjub melihat kemegahan mall yang sedang mereka datangi. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lira menginjakan kaki di pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan bagi kaum menengah atas itu.


Selama kembali hidup bersama Reza, waktu Lira dihabiskan untuk merawat sang putri di rumah. Lira sangat jarang keluar rumah dan akan keluar jika ia benar-benar ada keperluan penting seperti membeli keperluan untuk putrinya. Lira tak pernah ikut kedua mertuanya ketika mereka mengajak Inas jalan-jalan. Lira lebih memilih diam di rumah untuk menyiapkan segala keperluan suaminya jika pulang dari kerja nanti.


Reza menggendong Inas menggunakan gendongan berwarna hitam campur abu-abu, yang bertuliskan I β™₯️ DAD di bagian depan. Mereka masuk ke dalam mall sambil terus berpegangan tangan. Ketika masuk ke dalam mall, Reza langsung mendapat tatapan kagum dari para wanita dan ibu-ibu. Bahkan para gadis remaja juga tak mau ketinggalan menatap Reza. Sebagian dari mereka memvideo Reza yang sedang menggendong putrinya sambil menggandeng tangan Lira.

__ADS_1


"*Imut banget sih, anaknya. Jadi pengen nyubit pipinya."


"Iya, anaknya gemesin banget. Apalagi pipinya itu loh, pengen dicubit-cubit sampe kempes."


"Papanya ganteng banget, ya. Hot Daddy banget deh."


"Eh, itu bininya apa ponakannya, sih*?"


Begitulah suara bisik-bisik dari para wanita yang melihat meromatisan Reza dan istrinya. Padahal mereka hanya berpegangan tangan tanpa melakukan hal lain di luar itu. Reza dan Lira hanya mengabaikan bisik-bisik itu dengan terus berjalan menuju tangga eskalator.


Langkah Reza terhenti saat Lira melepaskan tangannya telat di depan tangga. Reza menoleh ke arah istrinya yang sedang telihat gelisah.


"Sayang, ada apa?"


"Mas, Lira takut naik tangga itu. Lira takut jatuh, mas." Ucap Lira polos.


"Gak papa, sayang. Gak bakal jatuh, kok. Sayang pegang tangan mas, terus nanti mas hitung sampe tiga, sayang ikut mas naik. Oke!"


Lira mengangguk ragu lalu dalam hitungan ketiga, ia mengikuti langkah suaminya menaiki tangga eakalator. Lira nyaris jatuh saat tubuhnya tak seimbang, tapi dengan cepat Reza menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Beruntung saat itu hanya ada mereka berdua di tangga berjalan itu, jadi Lira tak begitu merasa malu.


Saat mendekati ujung tangga, Reza kembali melakukan hal yang sama, memegang erat tangan Lira agar tak oleng seperti tadi.


"Maaf ya, mas. Lira udah bikin mas malu karena bersikap kampungan di depan banyak orang." Ucap Lira sambil tertunduk penuh sesal, saat mereka telah tiba di salah satu restoran yang ada di mall itu.


"Gak papa, sayang. Mas juga minta maaf ya, karena mas jarang ada waktu untuk sayang dan dedek. Mas juga gak pernah ajak sayang jalan-jalan."


Reza mengelus punggung tangan Lira lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Reza merasa menyesal karena dulu ia pernah mengatai istrinya kampungan. Dadanya terasa perih saat melihat wajah malu istrinya karena hampir beberapa kali terjatuh saat menaiki tangga eskalator.


"Sayang, mau makan apa? Di sini nasi gorengnya enak, lho. Dulu mas suka makan di sini bareng Doni." Tanya Reza mencoba mengalihkan perhatian Lira dengan menyebutkan salah satu menu andalan di tetoran itu.


Dan benar saja, Lira langsung tertarik begitu mendengar kata nasi goreng. Karena itu adalah salah satu makanan kesukaan Lira. Lira tak pernah merasa bosan meski setiap hari harus memakan nasi goreng.


"Boleh, mas. Lira mau nasi goreng seafood agak pedes, ya." Pintanya dengan nada yang sudah kembali ceria.


"Boleh, sayang. Tapi jangan terlalu pedes ya. Sayang kan lagi menyusui."


"Iya, mas."


"Minumnya apa, sayang?"


"hmmm, Lira mau minum jus jambu."


Reza memanggil pelayan untuk memesan makanan sesuai keinginannya juga istrinya. Sedangkan untuk Inas, Reza memesan makanan khusus balita karena di restoran itu juga menyediakan makanan khusus untuk balila, jadi Reza tidak perlu merasa khawatir putrinya akan kelaparan.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......😊


__ADS_2