Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 66


__ADS_3

Selamat membaca......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Pagi-pagi buta usai melaksanakan sholat subuh, Lira memulai aktifitasnya seperti biasa yaitu menyiapkan sarapan untuk ia dan ibunnya serta putri kecilnya, dilanjutkan dengan membuat gorengan yang nantinya akan dititipkan ke warung tetangga. Sarapan yang telah masak, diletakan di atas meja kayu yang berada di tengah-tengah ruangan sebagai pembatas antara ruang tamu dan dapur. Setelah itu, Lira menata semua gorengannya ke dalam wadah yang sedikit lebar agar gorengannya tidak saling menumpuk.


Lira melihat anaknya masih tertidur pulas di atas kasur tipis di kamarnya. Lira merapikan selimut tipis yang melorot di bawah kaki anaknya. Lira menutup kembali tubuh mungil anaknya dengan selimut agar tidak kedinginan. Setelah itu, Lira menuju warung tetangganya untuk menitipkan jualannya.


"Assalamu'alaykum ibu, ini gorengan Lira semuanya ada 50 biji, ya." Ucap Lira pada Yuyun, pemulik warung.


"Iya neng. Taroh aja di tempat biasa." Balas Yuyun sambil merapikan jualannya. "Oh iya neng, hari ini jualan sayur gak?" Tanya Yuyun.


"Insya Allah, jualan bu."


"Kalo gitu, ibu pesen sayur kangkung seikat sama terong, ya. Nanti mampir dulu ke warung ibu." Ucap Yuyun.


"Iya Bu, Insya Allah. Lira pamit dulu ya ,bu. Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam."


Lira langsung pulang ke rumahnya untuk menyiapkan sayurannya yang baru saja ia panen kemarin sore dan akan ia jual keliling kampung. Sejak anaknya memasuki usia satu tahun, Lira kembali menanam sayuran di pekarangan rumahnya.


Setelah semua sayurannya telah dimasukkan ke dalam bakul, Lira membangunkan putri kecilnya yang masih terlelap sambil memeluk boneka kelinci kecilnya yang terlihat sudah usang. Boneka kelinci itu adalah pemberian dari salah satu tetangganya, ketika Inas berusia dua bulan.


"Dek, ayo bangun sayang. Kita mandi terus sarapan. Adek mau ikut bunda jualan, gak?" Lira mengusap lembut kepala putri kecilnya yang semakin hari wajahnya semakin mirip ayahnya, Reza.


Balita menggemaskan itu langsung menggeliat lalu tersenyum ketika melihat wajah ibunya yang juga tersenyum padanya.


"Mandi yuk, dek. Bunda mau jualan, nanti kesiangan." Lira langsung menggendong tubuh mungil putrinya lalu membawanya menuju kamar mandi yang berada di belakang.


Seperti inilah kegiatan rutin Lira setiap pagi. Ia selalu membawa serta putrinya ketika berjualan menjajakan sayurannya kepada para tetangga. Lira sengaja tak menitipkan anaknya pada Indah, ibunya karena akhir-akhir ini kesehatan ibunya sedang kurang baik.


Usai memandikan putri kecilnya, Lira membuatkan teh hangat untuk ibunya yang masih berada di dalam kamarnya. Meski menu sarapan mereka setiap pagi hanya ada pisang rebus dan teh hangat, Lira tetap bersyukur karena masih bisa mengisi perutnya dengan makanan. Sedangkan untuk putri kecilnya, Lira membuatkan bubur encer polos tanpa embel-embel bahan pelengkap lainnya.


"Ibu, ayo kita sarapan. Neng udah siapin teh anget sama pisang rebus di atas meja." Ajak Lira pada ibunya yang masih berbaring di tempat tidur.


"Iya neng."


Mereka sarapan dengan penuh syukur. Sesekali mereka tertawa saat melihat Inas berceloteh tak jelas dengan mulutnya yang dipenuhi makanan, balita itu terlihat begitu menggemaskan.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Di Sebuah Penginapan......


Reza telah siap dengan kemeja biru langitnya yang sengaja digulung hingga ke siku, dipadukan dengan celana jeans berwarna biru gelap. Tak lupa kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya. Penampilan Reza hari ini terlihat sangat sempurna. Wajahnya yang semula ditumbuhi bulu-bulu halus, kini telah bersih dan mulus. Reza memang sengaja merapikan penampilannya untuk bertemu dengan sang pujaan hati yang dahulu telah ia sia-siakan.


Reza menghubungi Jono agar bersiap-siap menuju rumah Lira. Usai memanaskan mobil, Joni menunggu majikannya itu sambil menikmati udara pagi yang begitu sejuk dan segar yang tak mungkin bisa ia nikmati saat berada di Jakarta.


Reza menghampiri Jono yang terlihat sedang menghirup udara segar lalu membuangnya perlahan. Reza pun mengikuti Jono dengan melakukan hal yang sama, menghirup udara segar pedesaan yang jelas terasa berbeda dengan udara yang ada di kota.


"Ayo pak, kita berangkat." Ajak Reza sambil masuk ke dalam mobilnya lalu duduk dengan manis. Namun, jantung Reza kembali berdetak sangat kencang.


"Bismillah aja, den. Saya yakin, pasti Non Lira mau memaafkan kesalahan aden." Ucap Jono tiba-tiba memecah keheningan dan mencoba memberi semangat pada majikannya yang terlihat gusar itu.


Reza mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan apa yang barusan supirnya tuturkan.


"Maksud Pak Jono apa?"


"Maaf den, saya sudah lancang ikut campur urusan aden."


"Gak papa kok, pak. Tapi, apa Pak Jono sudah tahu tentang rumah tangga saya?"


"Iya bener, pak. Saya udah jahat sama istri saya." Reza menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


🌸🌸🌸🌸


Beberapa menit kemudian, mobil Reza tiba di depan masjid yang berada tepat di pinggir jalan. Jono menoleh ke belakang menghadap majikannya yang masih terlihat bingung melihat suasana kampung yang cukup sepi.


"Maaf den, saya gak tahu rumah Non Lira ada di mana, karena waktu saya mengantar Bu Indah, hanya sampai di sini saja." Ucap Jono dengan wajah tak kalah bingung.


"Gak papa, Pak Jono. Biar saya tanya ke ibu-ibu yang ada di warung sana." Jawab Reza sambil menunjuk ke arah sekumpulan ibu-ibu yang sedang duduk sambil berghibah ria di depan warung tempat Lira menitipkan jualannya.


Reza langsung keluar dari mobil menuju sekumpulan ibu-ibu yang sedang tertawa riang karena menceritakan tentang nasib buruk yang menimpa tetangganya. Aneh, mereka kok malah senang melihat tetangganya menderita.


"Assalamu'alaykum. Permisi ibu-ibu numpang tanya, rumah ibu Indah di mana ya?" Tanya Reza sopan sambil tersenyum manis.


Sementara ibu-ibu tukang ghibah itu hanya menganga lebar ketika melihat wajah tampan Reza yang menyilaukan mata mereka. Reza memang sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, hanya saja sekarang ia menjadi risih sendiri saat mendapat tatapan dari para ibu-ibu itu.


Reza melambaikan tangannya untuk menyadarkan lamunan ibu-ibu itu.

__ADS_1


"Eh iya, Wa'alaykumussalam. Gimana 'A?" Tanya sekumpulan ibu-ibu itu gagap.


"Saya tanya, rumah Ibu Indah di mana ya?" Reza mengulang kembali pertanyaannya masih dengan nada sopan.


"Oh, Indah yang anaknya nama Lira itu ya? Yang hamil di luar nikah itu?" Salah satu ibu-ibu yang memang tidak suka dengan Indah langsung menjawab pertanyaan Reza dengan pertanyaan.


Reza langsung memasang wajah dingin ketika mendengar istrinya dituduh hamil di luar nikah.


"Apa maksud ibu ngomong kayak gitu?" Tanya Reza dengan wajah yang tak ramah, menahan emosi.


"Ya iya 'A. Lira itu gadis gak bener. Pulang dari kota bukannya bawa uang, ini malah bawah benih dari lelaki gak jelas." Jawab ibu lainnya yang juga merupakan pembenci Indah di garda terdepan.


Wajah Reza langsung memerah, telinganya seperti terbakar. Ia tak terima mendengar istrinya difitnah dengan tuduhan yang tidak masuk akal menurutnya. Kemudian keluarlah Yuyun, sang pemilik warung.


"Maaf ya 'A, mulut ibu-ibu di sini emang gak bisa disaring, kalo ngomong suka ngasal." Ucap Yuyun meminta maaf dengan tulus saat melihat raut wajah Reza yang sudah memerah menahan amarah. "Rumah Bu Indah berada tepat di belakang masjid itu, 'A. Ikutin aja jalan setapak itu, nanti pasti ketemu kok." Lanjut Yuyun menjelaskan sambil menunjukan arah jalan rumah Lira.


"Terima kasih banyak, bu. Saya permisi."


Reza berlalu pergi meninggalkan sekumpulan ibu-ibu yang masih menatapnya dengan takjub. Reza langsung mengikuti jalan setapak yang mengarah ke rumah Lira yang berada di belakang masjid. Reza sengaja meminta Jono untuk menunggunya di mobil. Karena ia ingin menyelesaikan urusan rumah tangganya sendiri.


Reza berhenti tepat di depan rumah yang terlihat hampir roboh. Reza langsung memegang dadanya yang terasa sesak. Ia tak menyangka, ternyata selama ini istrinya tinggal di rumah yang sudah tak layak untuk ditinggali.


Kaki Reza terasa berat untuk melangkah menuju rumah Lira yang tinggal beberapa meter lagi di depannya. Cukup lama Reza berdiri memandangi rumah Lira dengan tatapan kosong. Kemudian ia tersadar akan tujuannya kemari.


Reza mengetuk pintu kayu yang sudah terlihat banyak bolongan karena dimakan rayap.


tok...tok...tok....


"Assalamu'alaykum."


Tak ada balasan, Reza kembali bersalam sebanyak tiga kali. Tak lama terdengar sahutan dengan lembut dari dalam.


"Iya, Wa'alaykumussalam." Sahut wanita itu sambil membuka pintu lalu terkejut melihat Reza sudah berdiri tegap di depan pintu.


"Tu-tuan?"


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......

__ADS_1


plus jangan hujat ya....😁


__ADS_2