
Sebelumnya masuk ke cerita, othor mau ngucapin banyak terima kasih pada saudara onlen semua untuk doa dan dukungannya. Othor bener-bener gak nyangka bakal dapat banyak banget ucapan selamat dan doa dari kalian semua. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan rejeki yang lebih banyak ya. Aamiin.
Lanjut..........๐น๐น๐น๐น
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dariย hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.โ (QS. Al Hadiid: 7)
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Juara pertama putra, diberikan kepada Ananda Ahmad Farel Akbar."
Suara lantang sang pembawa acara begitu lantang terdengar. Ditambah dengan tepuk tangan meriah dari para penonton yang ikut senang atas kemenangan Farel sebagai juara satu Tahfidz Qur'an.
Bela dan Arman langsung saling berpelukan. Tak lupa juga mereka mengucap syukur atas apa yang telah Allah titipkan pada mereka. Ya, bagi mereka semua hanyalah titipan, termasuk kecerdasan Farel. Jika Allah tak menitipkan ilmu itu pada putra mereka serta mengizinkannya untuk mengingat setiap ayat, maka pastilah semua takkan terjadi.
Tak hanya Bela dan Arman saja yang merasa senang, Lira dan Reza serta orang tua mereka pun turut merasa senang dan bangga atas prestasi Farel. Lira mengucapkan selamat pada Bela, begitupun Reza dan kedua orang tuanya.
"Silakan Ananda Farel untuk maju ke depan," pinta sang pembawa acara usai Farel melakukan sujud syukur atas kemenangan yang telah diraihnya. Tak lupa juga Farel bersalaman dengan temannya yang mendapatkan juara dua.
Senyum manis terus Farel tunjukan saat melihat wajah bahagia kedua orang tuanya yang mengacungkan dua jempol kepadanya.
Usai pengumuman pemenang dari kategori kelompok putra, kini tiba saatnya bagi pembawa acara untuk kembali mengumumkan pemenang dari kategori kelompok putri.
Reza dan Lira yang sejak tadi saling bertautan tangan langsung tersenyum ke arah di mana sang putri berdiri dengan cukup tegang. Padahal, mereka tak menuntut sang putri tercinta untuk menjadi juara. Yang terpenting bagi Reza dan Lira adalah pengamalan dari setiap surah yang dihafalkan.
__ADS_1
Sang pembawa acara mulai membacakan nama-nama dari para juara dari kelompok putri. Suasana terlihat cukup tegang, namun Inas tetap memasang wajah dengan senyum tenang. Meski tak bisa dipungkiri, hatinya juga merasa tegang.
"Baik, sekarang saatnya bagi kita untuk sama-sama melihat juara dari kelompok putri," ucap pembawa acara dengan suara lantang yang membuat hati para peserta menjadi semakin gelisah.
"Juara kedua diberikan kepada Ananda Naila Putri,"
Tepuk tangan gemuruh pun terdengar. Inas menjadi terkejut saat nama Naila yang dinobatkan sebagai juara kedua, sangat mirip dengan nama depannya.
Tak hanya Inas saja yang merasa terkejut, Lira dan Reza pun sama. Namun, dengan cepat mereka berusaha kembali tenang agar Inas tak merasa tegang.
"Sekarang saat yang ditunggu-tunggu bagi kita semua. Untuk juara pertama diberikan kepada...."
Suasana kembali tegang saat pembawa acara sengaja menjeda kalimatnya hingga membuat jantung dari kedua peserta yang menunggu namanya disebutkan pun menjadi berdegub semakin kencang.
Inas langsung melakukan sujud syukur karena telah berhasil mencapai harapannya. Tak ingin kalah dari sang putri, Reza pun melakukan hal yang sama, sujud syukur lalu memeluk erat tubuh Lira yang sedang tersenyum dengan penuh haru. Mereka tak menyangka jika putri mereka bisa menjadi juara di antara para peserta yang bisa dibilang memiliki kemampuan menghafal Al-Qur'an di atas Inas.
Inas langsung maju ke depan untuk bergabung bersama para juara yang sudah berdiri dengan wajah bahagia, diiringi tepuk tangan meriah dari para penonton. Inas juga melambaikan tangan ke arah keluarganya yang masih bertepuk tangan dengan bangga atas prestasinya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Usai acara selesai, mereka semua memutuskan untuk merayakan kemenangan Inas dan Farel dengan acara makan bersama di salah satu restoran. Inas dan Farel masih tak bisa menyembunyikan kebahagian mereka. Sejak keluar dari halaman masjid, Inas dan Farel terus saja memuji satu sama lain. Orang tua mereka pun hanya menggelengkan kepala melihat sikap sok dewasa dari keduanya.
"Sebagai hadiah atas kemenangan Abang Farel dan Kakak, hari ini papa bebasin buat makan apa aja yang Abang dan kakak mau," ucap Reza sambil mengusap lembut kepala putrinya.
"Benelan, pa?" tanya Inas girang.
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Yeeeee.... Kakak mau makan ayam goleng yang baaaaanyak," ucap Inas sambil merentangkan tangannya dengan sangat lebar. "Kalo abang mau makan apa?" tanya Inas pada Farel yang duduk di hadapannya.
"Abang juga mau ayam goreng," sahut Farel tak kalah semangat hingga membuat semua keluarga mereka tertawa melihat kelucuan mereka.
Setelah acara makan bersama, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, mengingat hari semakin siang dan kehamilan Lira yang sudah semakin besar, membuat Reza menjadi khawatir. Reza tak ingin istrinya merasa kelelahan.
"Gimana kerjaannya, mas? Lancar-lancar aja kan?" tanya Lira saat mereka telah berada di atas tempat tidur untuk beristirahat.
Sementara anak-anak mereka telah tertidur di kamar masing-masing karena kelelahan dan kekenyangan.
"Alhamdulillah, semua lancar sayang. Semua berkat doa dari istri dan anak-anak mas yang soleh dan solehah," sahut Reza sambil mengusap lembut perut Lira yang semakin membuncit.
"Alhamdulillah. Lira senang dengernya. Semoga semua urusan mas, selalu diberi kemudahan oleh Allah,"
"Aamiin," ucap Reza mengaminkan doa tulus istrinya. "Semoga sayang juga selalu diberi kesehatan dan dilancarkan lahirannya."
Reza mengecup kening istrinya dengan sangat dalam. Setelah itu, mereka beristirahat karena Reza merasa benar-benar sangat lelah.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambung........๐๐๐๐
Gak lama lagi cerita ini akan tamat. Jadi mohon dukungannya ya๐
__ADS_1