
Maaf baru bisa up sekarang. Otor lagi bed rest, man teman. Mohon doanya.π
Lanjut........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
"(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'd: 28)
πΈπΈπΈπΈ
Setelah beberapa kali cuti untuk menemani istrinya selama masa kehamilan. Kini Reza telah kembali pada aktifitasnya seperti semula, yaitu sibuk mengurus perusahaan maupun terjun ke lapangan untuk mamantau langsung kondisi rumah sakit miliknya yang berada di beberapa wilayah. Ditambah dengan berbagai jadwal meeting yang terkadang sangat menyita waktunya. Tak jarang membuat Reza harus keluar kota selama dua hingga lima hari untuk memantau langsung proyeknya.
Terkadang Reza merasa jenuh dengan aktifitasnya yang seolah tak kenal waktu. Menjadi anak tunggal tak selamanya menyenangkan. Reza harus menggantikan posisi sang ayah yang memiliki perusahaan besar. Reza sangat membenci situasi seperti ini. Rasanya Reza ingin sekali mengeluh. Namun, ia kembali berfikir bahwa sangat tak pantas jika ia mengeluh, sedangkan masih banyak orang di luar sana yang ingin memiliki nasib sepertinya, hidup dengan bergelimang harta. Selain itu, tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin perusahan begitu besar, mengingat banyak karyawan yang menggantungkan nasibnya di perusahaannya.
Dukungan juga datang dari sang istri yang selalu mengingatkannya agar tak boleh mengeluh dan jangan membenci segala sesuatu yang telah ia dapatkan. Lira ingin Reza selalu banyak bersyukur. Tak semua orang dilahirkan dengan keadaan yang sama sepertinya. Tentu Reza harus mengingat hal itu.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS Al-Baqarah: 286)
Reza tak boleh egois hanya karena masalah waktu bersama keluarganya yang sedikit berkurang. Ia tak boleh melupakan realita, banyak kepala keluarga yang juga bernasib sama dengan. Bekerja hingga tak kenal lelah hingga rela waktu bersama keluarga tersita, asalkan dapur mereka tetap berasap.
Saat ini Reza sedang berada luar kota tepatnya Kota Semarang, Jawa Tengah untuk meninjau langsung proyek pembangunan rumah sakit. Reza harus rela meninggalkan keluarganya selama beberapa hari dan hanya bisa mengandalkan video call sebagai sarana untuk berkomunikasi atau melihat wajah anak-anaknya.
Reza melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul satu siang, berarti anak-anaknya sedang tidur siang. Reza memutuskan menghubungi istrinya untuk sekadar melepas rindu.
"Assalamu'alaikum, sayang lagi ngapain?"
"Wa"alaikumussalam, lagi ngumpul nih sama anak-anak. Ada mama sama papa juga. Mas lagi di mana? Udah makan belum?"
"Mas lagi hotel sayang, lagi istirahat. Mas tadi udah makan di restoran hotel sama Arman," Jawab Reza sambil membaringkan tubuh lelahnya ke tempat tidur.
"Anak-anak kok belum pada bobo siang sih, sayang?" tanya Reza dengan kening yang mengkerut.
Tak biasanya anak-anaknya belum tidur siang di saat waktu telah memasuki waktu istirahat.
"Mereka baru selesai makan, mas. Agak telat sih makan siangnya. Anak-anak pada rewel, gak mau makan karena katanya gak seru makan gak ada papa."
"Walah, bisa aja anak-anak. Papa langsung mendadak kangen deh" ucap Reza sedih.
Baru sehari berpisah dari istri dan anak-anaknya, rasa rindunya sudah semakin besar. Ingin rasanya ia segera pulang untuk bisa memeluk dan berkempul bersama keluarga kecilnya. Apalagi kehamilan Lira yang sudah memasuki bulan kedelapan. Tinggal satu bulan lagi, Lira akan melahirkan anak ketiga mereka.
"Terus, tadi sayang jadi gak USG nya?"
"Alhamdulillah, jadi mas. Tadi aku ditemenin sama mama."
"Oya? Terus jenis kelaminnya apa?"
Reza begitu antusias dan penasaran untuk mengetahui jenis kelamin anak ketiganya. Biasanya, Reza selalu mendampingi istrinya saat USG dan hasilnya selalu membuat penasaran karena sang calon anak selalu berusaha menutupi. Seolah ia ingin memberikan kejutan pada kedua orang tuanya.
"Seperti biasa mas, dedeknya masih nutupin tititnya," sahut Lira diiringi kekehan geli.
"Si dedek bikin gemes aja, deh."
"Oya, anak-anak papa lagi pada ngapain nih?" tanya Reza saat mendengat suara kedua anaknya yang begitu asik berceloteh bersama kedua eyang mereka.
"Kita lagi ngumpul sama bunda sama eyang. Papa lagi ngapain?"
"Papa lagi istirahat, sayang. Kakak sama adek kangen gak sama papa?"
"Kangen banget. Papa kapan pulang? Kakak pengen main sama papa sepelti papi yang seling main sama Lili," ucap Inas dengan wajah murung.
"Belum sayang. Kan papa baru nyampe di sini. Masak udah ditanya kapan pulang." Reza terkekeh geli mendengar pertanyaan polos dari putri kesayangannya. "Sabar ya, sayang. Kalo urusan papa udah selesai, papa pasti pulang kok. Kakak sama adek mau dibawain oleh-oleh apa?"
"Kakak gak mau oleh-oleh. Kakak cuma mau papa pulang. Minggu depan kakak mau ikut lomba tahfiz, wakilin sekolah baleng Abang Falel. Papa dateng ya," Pinta Inas penuh harap.
Inas sangat ingin ayahnya hadir untuk melihatnya tampil dan memberinya semangat, seperti lomba yang pernah ikuti sebelumnya. Tingkat percaya dirinya akan semakin meningkat jika melihat kedua orang tuanya ikut hadir untuk menyemangatinya.
"Masya Allah, kakak ikut lomba lagi, ya? Papa bangga banget sama kakak. Insya Allah, secepatnya papa selesaikan pekerjaan papa ya, nak. Kakak harus rajin latihannya. Gak boleh malas-malasan," sahut Reza mengingatkan.
"Janji ya, pa.
"Insya Allah, sayang."
"Adek juga jagain bunda ya. Adek kan jagoannya papa. Gak boleh berantem sama kakak ya, nak. Harus nurut sama bunda, sama eyang juga."
"Iya pa. Ade dagain unda. Ade duga nda beyantem sama tata (kakak)"
__ADS_1
"Adek hebat," puji Reza pada putranya sambil mengacungkan dua jempolnya.
Mendengar pujian ayahnya, Haidar hanya menyengir memamerkan deretan gigi kecilnya yang lucu.
Obrolan mereka pun berakhir karena Reza memaksa kedua anaknya untuk beristirahat.
πΈπΈπΈπΈ
Reza benar-benar bekerja keras agar bisa menyelesaikan pekerjaanya tepat waktu. Ia tak ingin berlama-lama karena harus menepati janjinya pada kedua anaknya. Terlebih pada putri kecilnya yang akan mengikuti lomba tahfiz atarsekolah tingkat Taman Kanak-kanak. Tentu Reza tak ingin melewatkan momen penting itu.
"Man, tolong pesankan tiket pesawat buat besok pagi ya," ucap Reza saat mereka baru saja selesai makan malam di salah satu restoran dekat hotel tempat mereka menginap.
"Baik, mas."
"Cari pesawat yang berangkat pagi ya, sekitar jam 6. Soalnya anak-anak akan tampil sekitar jam 10 pagi."
Bisa saja Reza menggunakan jet pribadinya, tapi ia tak ingin dipandang berlebihan. Reza akan memakai jet pribadinya, hanya di saat penting saja, seperti pergi berlibur bersama keluarganya atau ada kunjungan ke suatu daerah yang cukup jauh dari Jakarta. Jika di daerah yang masih satu daratan seperti Jawa Tengah, Reza memilih menggunakan pesawat komersil.
Arman mengangguk paham. Tanpa menunggu lama, Arman langsung memesan tiket untuknya juga Reza. Sama halnya dengan Reza, Arman juga ingin melihat langsung penampilan putranya saat mengikuti lomba. Suatu kebanggan bagi keluarga Arman, mana kala Farel kembali terpilih menjadi salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba tahfiz. Meski bukan pertama kali melihat putranya mengikuti lomba, tetap saja ada rasa bangga dalam diri Arman bisa melihat anak berhasil tampil di depan banyak orang.
Tak butuh waktu lama, Arman sudah memesan tiket di waktu yang sesuai permintaan Reza.
"Sudah, mas. Kita berangkat dari sini ke bandara sebelum subuh aja gimana, mas? Biar kita gak telat," saran Arman.
"Boleh. Nanti kita sholat di bandara aja," sahut Reza setuju.
Reza memang sudah memikirkan hal itu. Tak mungkin ia berangkat setelah subuh, mengingat jarak dari hotel tempat mereka menginap ke bandara cukup jauh, kurang lebih dua jam perjalanan. Reza tak ingin ambil resiko hingga nantinya tak bisa melihat putri kesayangannya tampil di atas panggung.
Setelah masuk ke kamar masing-masing, Reza mulai mengisi pakainnya ke dalam kopor kecil serta beberapa peralatan mandinya ke dalam tas khusus. Dirasa semua telah selesai, Reza langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu kembali menghubungi istrinya untuk melepas rindu.
Reza sengaja meminta pada istrinya untuk merahasiakan kepulangannya besok pagi pada kedua anaknya. Ia ingin memberikan kejutan pada kedua anaknya dengan mengatakan menunda kepulangannya karena pekerjaanya belum selesai.
"Belalti papa gak bisa nonton kakak tampil dong," Ucap Inas dengan raut wajah kecewa dan suara serak menahan tangis.
"Ya, mau gimana lagi sayang? Pekerjaan papa masih banyak, jadi papa belum bisa pulang."
"Ya udah deh."
Inas langsung berlari keluar dari kamar orang tuanya menuju kamarnya. Di dalam kamarnya, Inas langsung menutup seluruh tubuh mungilnya dengan selimut bergambar kuda poni kesukaannya. Inas benar-benar merasa kecewa pada ayahnya yang tak menepati janji.
"Sebenarnya mas juga gak tega, sayang. Tapi biar rencananya kejutannya lancar, kita harus tega."
"Tapi aku gak tega liatnya, mas. Si kakak keliatan kecewa banget. Aku takut itu bisa merusak konsentrasinya tampil besok."
"Insya Allah, gak akan sayang. Besok mas berangkat pagi dari sini. Insya Allah sebelum jam 10, mas udah tiba di tempat lomba."
"Ya udah, deh. Terserah mas aja. Besok mas harus bujuk kakak biar gak cemberut lagi."
"Iya. Sayang tenang aja."
Percakapan mereka pun ditutup dengan saling melemparkan kalimat romantis. Setelah itu, Reza langsung tidur karena sebelum subuh nanti, ia sudah harus menuju bandara.
πΈπΈπΈπΈ
Selama satu jam, pesawat yang ditumpangi Reza akhirnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Reza sengaja tak pulang ke rumahnya karena jarak dari bandara ke rumahnya cukup jauh dan itu akan memakan waktu cukup lama. Ia tak ingin terlambat, akhirnya ia langsung menuju lokasi di mana lomba tahfiz diadakan.
Perjalanan dari bandara menuju masjid cukup jauh. Beruntung acara lomba di adakan pada hari Sabtu, jalanan cukup lengang karena mereka tak harus berlomba bersama kendaraan dari para karyawan serta pemakai jalan lainnya yang sama-sama mencari rezeki.
Reza dan Arman tiba di lokasi sekitar satu jam sebelum acara lomba dimulai. Reza langsung menghubungi Lira sambil mencari keberadaan istrinya di halaman masjid yang digunakan sebagai tempat lomba. Banyaknya keluarga dari peserta lomba yang hadir untuk memberikan dukungan, membuat Reza dan Arman merasa kesulitan menemukan keberadaan istrinya serta kedua orang tuanya.
Begitu melihat wanita hamil dengan ciri-ciri yang mirip dengan istrinya sedang menelfon dan seperti sedang mencari seseorang, Reza langsung menghampiri wanita hamil itu. Dan benar saja, itu adalah Lira.
"Sayang, acaranya belum mulai kan?" Tanya Reza usai menyium kening istrinya dengan penuh rindu sambil mengisap perut buncit Lira.
"Belum, mas."
"Alhamdulillah. Mas takut banget tadi, gak bisa liat si kakak tampil."
"Alhamdulillah, mas tiba tepat waktu."
"Iya, sayang. Ya udah, ayo kita duduk dulu," ajaknya ke salah satu kursi yang berada di deretan paling depan. "Mama sama papa di mana, sayang?" tanya Reza.
"Mama sama papa lagi bujukin si kakak yang lagi ngambek di sana, mas. Ada Bela juga kok." Tunjuk Lira pada salah satu tenda yang menjadi tempat khusus bagi para peserta lomba yang berada di belakang panggung.
"Kalo gitu, mas ke sana dulu ya. Sayang gak papa, kan sendirian di sini?"
__ADS_1
"Gak papa, mas. Lagian aku gak sendirian kok di sini."
"Ya udah, kalo ada apa-apa langsung telfon mas, ya."
"Iya, mas. Udah sana, keburu mulai lombanya."
Reza menyium kening Lira dan langsung menuju tempat putrinya. Dari jarak yang cukup jauh, Reza bisa melihat bagaimana kedua eyangnya sedang membujuk Inas yang masih memasang wajah cemberut dan tak bersemangat.
"Assalamu'alaikum," Reza mengucap salam sebelum duduk tepat di sebelah putrinya.
"Kamu kapan tibanya, Za?" tanya Martin usai Reza menyium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Belum lama, pa. Kira-kira baru sekitar sepuluh menit yang lalu,"
"Kalo gitu sekarang kamu bujuk tuh, si kakak. Dari tadi pagi dia udah cemberut sama nanyain kamu terus," ucap Martin. "Papa sama Mama mau ke Lira dulu, kasian dia sendirian," lanjutnya lalu mengajak Irma untuk meninggalkan Reza dan Inas yang.
"Hey! Kakak kok gak Jawa salam dari papa, sih?"
Bukan maksud tak menjawab salam dari ayahnya, Inas hanya merasa bingung dengan situasi yang dilihatnya sekarang. Inas seperti sedang bermimpi.
"Ini benelan papa? Kakak gak lagi mimpi, kan?" Tanya Inas polos, masih dengan raut wajah bingung.
"Ini beneran papa, sayang. Papa sengaja bilang gak jadi pulang karena mau ngasih kakak kejutan," sahut Reza langsung menyium kedua pipi putrinya dengan gemas. "Maafin papa ya, kak. Papa udah bikin kakak cemberut kayak gini," lanjutnya penuh sesal.
Inas hanya mengangguk lalu langsung naik ke pangkuan ayahnya, memeluk tubuh kekar ayahnya dengan penuh kerinduan.
"Kakak kangen banget sama papa. Dali semalem kakak inget papa telus. Kakak malah sama papa kalna papa bilang gak jadi pulang. Telus, kakak kulung dili di kamal," ucap Inas di sela-sela pelukannya.
Reza balas memeluk putrinya dengan erat sambil menepuk punggung mungil itu dengan pelan. Reza merasa gemas mendengar curahan hati sang putri yang terdengar begitu lucu.
"Maaf ya, sayang," ucap Reza penuh sesal dan Inas hanya membalasnya dengan anggukan kecil. "Ya udah, sekarang kakak siap-siap ya. Gak lama lagi lombanya mau dimulai. Kakak harus semangat. Liat tuh, Abang Farel sama temen-temen kakak udah ngeliatin dari tadi,"
Inas langsung menoleh kearah Farel yang tertawa geli melihatnya bermanja-manja pada ayahnya, serta teman-teman dari TK lain yang juga merupakan peserta lomba sepertinya sedang menatapnya. Inas yang merasa malu pun hanya menyengir sambil memeluk kembali tubuh ayahnya.
"Sekarang kakak gabung sama Abang Farel dan ustadzah, ya. Papa sama bunda sama eyang juga, nonton kakak di kursi paling depan. Oke?"
"Oke, pa."
Sebelum beranjak, Reza memeluk dan menyium gemas kedua pipi Inas sebagai tanda dukungannya.
πΈπΈπΈπΈ
Lomba pun dimulai. Satu per satu para peserta telah menampilkan kemampuannya dalam menghafalkan surah panjang maupun pendek sesuai pilihan juri. Penialainnya tentu tak hanya pada cara menghafal saja, tapi juga bagaimana cara penyebutan huruf yang benar sesuai ilmu tajwid.
Usai Farel yang tampil dengan kemampuannya menghafalkan surah dengan suara yang merdu dan sudah tentu membuat kedua orang tuanya merasa bangga atas prestasinya. Kini tiba giliran Inas yang tampil sebagai peserta terakhir.
Inas tampil dengan penuh percaya diri. Apalagi saat melihat kedua orang tua serta kedua eyangnya yang duduk di kursi paling depan sambil bertepuk tangan memberikan dukungan padanya, membuat rasa percaya diri Inas semakin bertambah.
Inas mulai menghafalkan ayat al-Qur'an dengan suara merdu serta penuh penghayatan. Semua penonton begitu terpukau mendengar suara merdu Inas. Meski Inas baru berumur lima tahun, namun kemampuan dalam menghafalkan ayat suci al-Qur'an tak perlu diragukan lagi. Semua tak lepas dari peran kedua orang tuanya yang mendatangkan langsung guru mengaji terbaik untuk mengajari kedua anak mereka dalam menghafal al-Qur'an.
Sebagai orang tua, Reza dan Lira sangat merasa bangga. Bukan mudah mengajari anak-anak menghafal al-Qur'an di usia mereka yang masih ingin banyak bermain. Namun, berkat kesabaran dan kegigihan, Lira dan Reza berhasil mendidik anak-anaknya tumbuh menjadi penghafal al-Qur'an.
Setelah semua peserta selesai menunjukan kemampuannya masing-masing dan juri telah memberikan penilaian mereka. Tibalah saatnya pembawa acara untuk membacakan juara.
"Baik, setelah tadi kita menyaksikan bersama penampilan dari para peserta, kini tiba saatnya bagi saya untuk membacakan juara," ucap sang pembawa acara.
"Kita mulai dari harapan satu putra, diberikan kepada Ananda Fahmi Hamzah dari TK Anak Soleh. Kepada ananda, silakan maju ke depan. Beri tepuk tangan meriah kepada Ananda Fahmi."
Para penonton memberi tepuk tangan yang meriah kepada Fahmi saat maju meraih harapan satu.
"Selanjutnya, juara tiga diberikan kepada Ananda Hasan Abdullah. Silakan maju kedepan," ucap pembawa acara sambil diiringi tepuk tangan meriah dari para penonton.
Farel langsung deg-degan menunggu keputusan dari para dewan juri. Ia merasa takut jika gagal dalam lomba ini. Meski Bela, selaku sang ibu sudah mengingatkan agar berlapang dada jika Farel tak berhasil meraih juara, tapi tetap saja ada rasa khawatir dalam hati Farel.
Tersisa dua peserta lagi yang belum disebutkan namanya. Kedua peserta itu langsung diminta maju ke depan panggung dengan tangan yang saling berpegangan.
"Kini tiba saatnya penentuan bagi juara pertama. Baik, juara pertama diberikan kepada......"
Kedua peserta putra yang belum disebutkan namanya itu, menunggu dengan cemas. Begitu pun dengan para penonton yang hadir. Arman menggenggam lembut tangan Bela sambil tersenyum lalu pandangan mereka beralih pada sang putra yang berdiri di atas panggung dengan raut wajah cemas, menanti pengumuman.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung........π
Jangan lupa dukungannya vote dan bunga mawarnya ya...
__ADS_1
terima kasih....