
Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Lira pulang ke rumah dengan raut wajah yang sangat bahagia. Ia terus mengulas senyumnya, bahkan kepada siapa saja yang berpapasan dengannya di jalan. Mengingat penjelasan dokter Ambar agar ia mengaja kandungannya dengan tidak melakukan aktifitas berat tentu itu tidak mudah, mengingat bagaimana sikap Reza padanya. Sehari saja ia tidak membersihkan rumah, Reza sudah melayangkan marah besar padanya. Tetapi, Lira tak boleh terus-terusan mengalah. Ia harus memikirkan nasib kandungannya yang masih tergolong lemah dan rentan keguguran.
Di sela-sela senyumnya, Lira mendesah pelan. Ingin rasanya ia memberitahukan pada Reza tentang kehamilannya. Namun, ia kembali teringat pada ucapan Reza tadi pagi yang jelas-jelas menolak kehadiran seorang anak yang lahir dari rahim seorang wanita miskin dan kampungan sepertinya.
Lira merasa bimbang memikirkan nasibnya juga anaknya nanti. Ia tak mungkin bisa selamanya menyembunyikan kehamilannya yang lambat laun akan semakin membesar.
Sebelum pulang ke rumah, Lira sengaja mampir ke warung membeli beberapa bungkus roti dan juga biskuit untuk mengganjal perutnya saat kelaparan di tengah malam. Lira sangat bersyukur, karena hari ini ia hanya mengeluarkan uang untuk roti dan cemilan saja, jadi upahnya bekerja hari ini masih bisa disimpan untuk keperluannya yang lain. Untuk biaya cek kandungan di klinik, Lira tak perlu mengeluarkan biaya karena dari dokter Ambar sendiri yang sudah menggratiskan untuknya. Sedangkan uang yang dipinjamkan oleh Yati untuk biaya cek kandungannya, akan ia kembalikan besok pagi.
🌸🌸🌸🌸
Lira telah memasuki kawasan perumahan elit milik mertuanya. Saat Lira sedang berjalan menuju rumah, dari kejauahan ia melihat sebuah pohon mangga dengan buah yang sangat lebat hingga keluar pagar. Mangga itu terlihat masih muda dan segar. Lira menelan air liurnya, ingin rasanya menyicipi mangga muda yang terlihat sangat menggiurkan itu. Lira melewati rumahnya menuju rumah yang terdapat pohon mangga itu. Ia terus memandangi pohon mangga itu dari depan paggar rumah sambil terus mengecap mulutnya seolah sedang mengunyah mangga muda.
Ia membayangkan, betapa segar dan nikmatnya mangga muda itu jika dimakan dengan bumbu rujak dan ditambahkan cabai rawit.
Lira sangat asik melihat buah mangga, hingga ia tak menyadari jika sang pemiliki rumah sudah memerhatikannya sejak tadi. Sang pemilik rumah itu menghampiri Lira, lalu menggeser pintu gerbangnya dan mempersilakan Lira untuk masuk ke halaman rumahnya.
"Adek mau buah mangga?" Tanya orang itu langsung tanpa basa basi sambil menunjuk mangga muda miliknya.
"Eh, maaf saya sudah lancang berdiri di depan rumah bapak." Lira tak menanggapi pertanyaan dari sang pemilik rumah yang sudah lebih dulu mengetahui keinginannya.
"Gak papa. Adek mau mangga itu?" Karena tak mendapat jawaban dari pertanyaanya, orang itu kemudian mengulang kembali pertanyaannya.
"I-iya pak, maaf." Lira menuduk malu.
"Ngapain minta maaf? Kan cuma pengen makan buah mangga, bukan mau mencuri!" Jawabnya sambil tersenyum. " Kalo mau ambil, silakan. Gak usah malu-malu, nanti anaknya ileran, loh." Lanjut orang itu dengan nada bercanda.
Lira membulatkan matanya, tak percaya jika orang itu mengetahui tentang kehamilannya. Padahal ia sama sekali belum mengatakannya.
__ADS_1
"Udah, gak usah kaget kek gitu. Istri saya dulu juga pernah hamil, jadi saya tahu kalo wanita yang sedang hamil muda itu, pasti ingin makan yang buah asem-asem seperti mangga muda." Jelas bapak itu ketika melihat raut wajah terkejut Lira.
"Terima kasih banyak, pak. Memang benar, saya sedang ingin makan mangga muda." Jawab Lira dengan senyum malu di wajahnya.
"Monggo diambil. Terserah, mau ngambil banyak juga gak papa."
"Terima kasih, pak."
Lira mulai memetik buah mangga muda itu dengan semangat. Beruntung pohon mangga nya cukup pendek, jadi bisa dijangkau langsung dengan tangan, tanpa perlu lagi menggunakan jala. Bahkan bapak itu juga ikut membantu memetik buah mangga untuk Lira. Setelah dirasa sudah cukup banyak mangga yang dipetik, Lira memutuskan untuk pulang.
"Terima kasih banyak ya pak, sudah mengizinkan saya untuk memetik mangga ini." Ucap Lira sambil menenteng kantung plastik yang sudah berisi buah mangga yang cukup banyak.
"Iya, sama-sama. Besok-besok, kalo pengen makan mangga muda, langsung ke sini aja." Balas bapak itu.
"Iya, pak. Oh iya, saya lupa mengenalkan diri. Nama saya Lira, pak. Saya tinggal di rumah yang sana." Ucap Lira mengenalkan diri sambil menunjuk rumah Martin. "Nama bapak siapa?" Lanjutnya.
"Oh, adek yang tinggal di rumah sana?" Tanya bapak itu dengan wajah heran. Setahunya selama ini, hanya ada laki-laki yang tinggal di rumah mewah itu. "Nama saya, Ridwan." Ternyata pemilik pohon mangga itu adalah Ridwan. Lelaki paruh baya yang pernah mengajak Reza untuk mengikuti ceramah subuh di masjid dekat rumah mereka. Namun, sayangnya Reza tak datang saat itu. "Adek tinggal sama siapa di rumah itu?" Tanya Ridwan mencari tahu untuk menghilangkan rasa penasarannya.
Ridwan hanya mengangguk seolah paham dengan jawaban Lira. Kemudian Lira berpamitan pulang karena waktu Maghrib akan segera tiba.
🌸🌸🌸🌸
Baru saja memasuki rumah, Lira sudah ditodong dengan banyak pertanyaan dari Reza yang memang sengaja menunggunya sejak tadi.
"Dari mana saja kamu? Lihat, ini sudah jam berapa? Kenapa baru pulang, hah?" Bentak Reza dengan suara keras hingga membuat Lira terkejut dan ketakutan.
"Ma-maaf tu-tuan. Ta-tadi saya mampir dulu ke warung." Lira benar-benar ketakutan. Jika posisinya tidak sedang mengandung, mungkin saja ia tak akan setakut ini. Sekarang yang ia pikirkan hanyalah kandungannya.
"Kamu pikir saya gak tahu, kamu baru dari mana?" Reza mulai mendekati Lira dengan seringai tajam.
Lira melangkah mundur saat melihat Reza berjalan mendekat padanya. Ia memeluk perutnya untuk melindungi kandungannya dari ancaman Reza yang bisa saja membahayakan kandungannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu mundur? Kamu takut?" Tanya Reza dengan senyum mengejek.
"Ampun tuan. Saya janji tidak akan pulang terlambat lagi." Lira terus berjalan mundur dengan wajah ketakutan.
"Kalau kamu takut, harusnya kamu tahu batasan kamu di rumah ini. Ingat, kamu cuma numpang di rumah ini, jadi jangan berbuat sesuka hati di sini!" Ucapnya dengan nada membentak. "Satu lagi, kamu ngapain mengemis mangga di rumah orang? Kamu tahu, karena ulah kamu itu udah bikin saya malu."
Reza meraih lengan Lira dengan kasar hingga barang bawaannya jatuh berserakan di lantai. Reza lalu mencengkram nya dengan sangat kuat, membuat Lira meringis kesakitan.
"Ampun tuan." Lira memohon, tak ingin terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Dasar perempuan tidak tahu diri, kampungan! Kamu pikir di sini kampung, sampe kamu bisa bertingkah sesuka hati. Meminta pada tetangga tanpa memikirkan nama baikku di sini, hah? Jawab?" Teriak Reza.
Ternyata saat Lira berdiri di depan rumah Ridwan hingga memetik mangga, itu di saksikan oleh Reza yang kebetulan baru saja pulang dari Rumah Sakit. Ia begitu marah saat melihat Lira tanpa rasa malu, memetik mangga milik tetangga barunya.
Lira memilih diam, tak ingin menjawab agar Reza tak semakin marah padanya. Ia rela menahan sakit untuk melindungi kandungannya dari pada menjawab kemarahan Reza yang nantinya akan semakin menjadi-jadi.
Saat melihat wajah sendu Lira yang sudah dipenuhi air mata, Reza langsung memilih pergi meninggalkan Lira dalam keadaan menangis di ruang tamu. Saat Reza pergi, Lira dengan cepat memungut kembali bungkusan roti, biskuit dan buah mangga nya, kemudian pergi ke kamar untuk menyelamatkan diri. Ia merasa lega, Reza tak melakukan hal-hal yang membahayakan kandungannya.
🌸🌸🌸🌸
Reza membanting kuat pintu kamarnya. Ia merasa marah pada dirinya sendiri. Saat melihat Lira menangis, Reza tak merasakan bahagia seperti dulu ketika ia menyiksa. Ia justru merasa sakit hati melihat Lira kesakitan dengan air mata mengalir.
Aaarrrgggggg......
Reza menjerit sambil menjambak rambutnya dengan sangat kuat. Nafasnya naik turun tak beraturan. Ia tak mengerti dengan perasaanya saat ini.
"Kenapa gue malah sakit hati waktu liat dia menangis? Gak mungkin gue kasihan sama dia? Gak, gue gak boleh punya rasa kasihan atau iba sama cewek kampung itu?" Gumam Reza sambil mengusap kasar wajahnya.
Tak lama terdengar suara adzan berkumandang. Waktu sholat Maghrib telah tiba. Reza menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena seharian bekerja melayani pasien.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Bersambung.......