
Selamat membaca........πΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Sesuai permintaannya, sore ini Lira sudah diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Lira memilih dirawat di rumah karena ia sangat merindukan putri kecilnya. Meski fasilitas ruang perawatannya sangat berkelas, tapi Lira tetap merasa tidak betah.
Reza sudah membereskan barang-barang Lira. Tidak banyak, hanya ada satu tas berisi pakaian kotor yang mereka kenakan ketika pertama kali masuk rumah sakit.
Reza membantu Lira untuk duduk di kursi roda lalu mendorongnya menuju pintu masuk rumah sakit. Di depan pintu masuk, telah terparkir mobil mewah milik Reza yang disupiri oleh Jono. Reza menggendong Lira dan membawanya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Jono. Reza duduk kursi penumpang tepat di sebelah Lira.
"Sayang mau beli sesuatu dulu gak, sebelum kita pulang ke rumah?" Tanya Reza sambil mengusap kepala Lira dengan lembut.
Lira berpikir sejenak. Awalnya Lira sedang tak ingin makan karena lidahnya masih terasa pahit. Tapi karena suaminya sendiri yang sudah menawarkan, akhirnya Lira menjadi tergoda. Sebenarnya sejak berada di rumah sakit, Lira sudah membayangkan untuk makan bakso. Tapi Lira tak yakin Reza akan mengizinkannya.
"Ada apa, sayang? hmmm?"
"Hmm, sebenarnya Lira pengen bakso, mas." Jawab Lira sambil tertunduk takut.
"Belum boleh, sayang. Yang lain aja, ya."
"Tapi Lira pengen makan itu, mas." Ucap Lira dengan suara pelan.
"Nurut sama mas ya, sayang."
"Ya udah deh, kalo gitu kita pulang aja."
Lira tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya. Harapannya untuk bisa menikmati semangkok bakso dengan kuah segar, terpaksa harus gagal karena titah suaminya yang tak bisa dibantah.
"Gini aja deh, nanti kalo sayang udah bener-bener sehat, kita pergi makan bakso sampe puas. Gimana, sayang?" Janji Reza untuk menenangkan istrinya.
"Bener ya, mas?" Tanya Lira dengan wajah yang sedikit tak yakin, mengingat kesibukan suaminya yang jarang ada waktu luang bersamanya.
"Insya Allah, mas usahakan ya sayang."
"Tuh, kan. Mas aja gak yakin, apalagi Lira." Ucapnya dengan wajahnya yang cemberut.
Merasa gemas melihat wajah cemberut Lira, Reza menarik tubuh mungil istrinya kedalam dekapannya dan dikecup ubun-ubun istrinya berkali-kali.
"Jangan cemberut gitu dong, sayang. Mas jadi gemes, tahu."
Lira langsung tersenyum malu. Pasalnya, sejak tadi Jono mendengar percakapan mereka dan sesekali ia melirik mencuri pandang lewat kaca spion sambil tersenyum geli.
πΈπΈπΈπΈ
Saat sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, mobil Reza terjebak macet sehingga membuat mereka tiba lebih lama. Sambil menunggu macet, Lira dan Reza bercanda ria bersama Jono. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mobil mereka bisa terbebas dari kemacetan pajang ibu kota.
__ADS_1
Setibanya di rumah, mereka langsung disambut oleh suara tangisan Inas yang cukup kencang. Balita itu menangis karena menjelang sore, kedua orang tuanya belum juga muncul di hadapannya.
"Assalamu'alaykum." Reza dan Lira mengucap salam bersamaan ketika memasuki rumah
"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Irma dan Martin.
Mendengar suara orang tuanya, tangis Inas langsung berhenti. Inas meronta ingin lepas dari gendongan neneknya dan berpindah pada ibunya.
"Huwaaaaa...huwaaaaa...da-da-da-da." Pecah tangis Inas digendongan neneknya.
Reza segera meraih tubuh mungil putrinya lalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Meski sudah digendong ayahnya, Inas tetap juga ingin digendong ibunya. Inas merentangkan tangannya ke ibunya.
"Dek, sama papa dulu ya. Bunda lagi gak sehat." Rayu Reza pada putrinya yang masih menangis. Namun, Inas tak mengerti apa yang ayahnya ucapkan. Inas hanya tahu, jika saat ini ia ingin digendong oleh ibunya.
"Gak papa, mas. Lira bisa sambil duduk di sofa." Ucap Lira lalu berjalan menuju sofa ruang tengah.
Reza mendesah pelan. Jika sudah seperti ini, ia hanya bisa mengalah. Ia tak bisa menyalahkan putrinya yang merindukan ibunya. Dengan penuh kehati-hatian, Reza menyerahkan Inas pada Lira yang sudah duduk nyaman di sofa. Inas langsung berhenti menangis saat Lira mengusap punggungnya dengan lembut. Mungkin karena lelah menangis ditambah dengan usapan lembut dari tangan hangat ibunya, Inas langsung tertidur dalam dekapan ibunya.
"Langsung tidur aja dianya." Ucap Martin sambil tersenyum geli melihat tingkah lucu Inas.
"Iya, tadi aja nangis-nangis. Padahal, tadi siang si dedek anteng-anteng aja, tuh. Malah pas bangun tidur, dia asik banget main sama papa." Timpal Irma ikut tertawa.
Lira hanya tersenyum mendengar penuturan dari kedua mertuanya. Sementara, Reza sibuk mengusap kepala putrinya. Reza merasa gemas melihat wajah polos putrinya yang tertidur pulas dengan hidung yang sudah memerah karena terlalu lama menangis.
Setibanya di kamar, Reza membaringkan tubuh putrinya di atas tempat tidur lalu memberinya selimut. Reza juga meminta pada Lira untuk segera beristirahat, mengingat tubuh Lira yang masih terasa lemas. Tanpa membantah, Lira naik ke kasur dan bersandar pada punggung tempat tidur sambil memainkan ponselnya, menunggu waktu sholat maghrib tiba.
Lira tersenyum saat membaca kembali pesannya bersama sahabatnya, Bela sebelum mereka berpisah. Tanpa terasa, sudah setahun lebih mereka tak bertemu. Entah bagaimana kabar Bela saat ini. Terkadang, Lira merasa rindu pada sahabat baiknya itu.
"Sayang, kenapa senyum-senyum gitu?"
Reza merasa heran saat ia keluar dari kamar mandi, ia mendapati istrinya sedang tersenyum sambil memandangi ponselnya.
"Gak papa, mas." Jawab Lira sambil tersenyum.
"Terus, kenapa sayang-senyum gitu, liatin ponselnya?"
"Lira cuma lagi kangen aja sama seseorang." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Siapa, sayang?"
"Lira kangen sama sahabat baik Lira yang sekarang lagi di Kairo. Lira gak tahu, gimana kabar dia sekarang." Jawab Lira sendu.
Reza mengusap wajah Lira dengan lembut. Reza tak tahu siapa sahabat baik dari istrinya karena Reza tak pernah melihat Lira dekat dengan orang lain, selain keluarganya.
"Kenapa gak dihubungi aja? Sayang punya nomernya kan?"
__ADS_1
Lira mengangguk lemah. "Tapi nomernya udah gak aktif lagi, mas. Padahal Lira kangen banget sama dia. Kita juga udah janji untuk saling mengabari, tapi malah dianya yang ngilang."
"Mungin dia lagi sibuk kuliah, atau mungkin juga ponselnya hilang, kan bisa aja. Jadi sayang harus berpikir positif." Jawab Reza mencoba memberi pengertian.
"Dia gak kuliah, mas. Di ikut suaminya yang kerja di Kairo." Jelas Lira dengan wajah cemberut.
"Oh, dia juga udah nikah?" Reza cukup terkejut.
"Iya, mas. Duluan dia yang nikah dari Lira."
Lira mulai menceritakan ketika sahabat baiknya menikah, ia justru tak bisa hadir karena tak memiliki biaya untuk pulang kampung. Lira juga menceritakan kebaikan Bela padanya. Mulai dari ketika mereka masih sekolah, hingga ketika Bela datang ke Jakarta hanya untuk bertemu dengannya dan mengajaknya jalan-jalan, membelikannya gamis, tas, dan sendal.
Saat mengingat gamis pemberian Bela, Lira langsung tersentak.
"Mas, pakaian Lira yang dari rumah ibu, di mana ya?"
"Memangnya kenapa, sayang?"
"Mas inget gak, gamis hijau mint yang dulu sering Lira pake?"
"Iya, mas Inget. Kenapa sayang?"
Jelas Reza ingat, karena dulu Lira hanya punya satu gamis yang sering ia pakai. Bahkan dulu Reza pernah mengatai Lira kampungan dan memalukan hanya karena ia sering memakai gamis itu dan tak pernah menggantinya dengan yang lain.
"Itu gamis pertama yang Lira punya dan itu pemberian dari Bela, sahabat Lira. Bela ngasih gamis itu, sebelum dia pulang kampung. Dia tahu kalo Lira gak punya baju layak, jadi diam-diam dia beliin Lira gamis." Jelas Lira dengan senyum manis di wajahnya, mengingat kenangannya bersama Bela.
Reza merasa tersohok mendengar cerita Lira yang terlihat tanpa beban ketika menceritakan kenangannya. Reza tak tahu jika gamis itu memiliki arti serta kenangan tersendiri bagi istrinya dan dengan teganya ia menghina istrinya dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Kalo mas gak salah inget, pakaian sayang masih ada di dalam koper dan belum apa-apain kok."
"Iya kah?"
"Iya, sayang. Udah ya, sekarang sayang istirahat lagi."
Reza mengecup kening Lira dengan lembut, sebagai bentuk permintaan maafnya yang sudah tak mampu lagi ia ungkapkan karena terlalu banyak dosa yang ia lakukan pada istri kecilnya itu.
"Tapi bentar lagi mau Maghrib, mas." Ucap Lira manja.
"Oh iya, ya."
Mereka tertawa bersama. Tiada hentinya Reza mengucap syukur karena memiliki istri Solehah seperti Lira. Tak pernah sekali pun ia mendengar Lira membantah perkataanya apalagi sampai berkata kasar padanya. Lira selalu menghargainya sebagai seorang suami, menjawabnya dengan tutur kata yang sopan, lembut dan menenangkan. Meski berkali-kali tersakiti, tapi Lira tak pernah membalasnya atau pun menyumpahinya. Lira bahkan selalu mendoakan untuk kebaikannya.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.....π
__ADS_1