Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 123


__ADS_3

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).


Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Hari-hari yang dilalui Lira, dipenuhi kebahagiaan yang melimpah dari orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama Reza sang suami tercinta. Reza selalu mencurahkan kasih sayangnya pada istri dan anaknya dengan cara yang tak pernah diduga oleh siapa pun.


Jika sebelumnya Reza memberikan banyak kejutan seperti mengadakan resepsi pernikahan mereka di Bandung dengan mendatangkan langsung sahabat baik Lira dari kampung halamannya, serta memberikan rumah mewah sebagai hadiah atas kebaikan Bela yang sudah banyak membantu Lira. Kali ini, Reza kembali memberikan kejutan pada istri tercintanya dengan mengajak keluarga kecilnya serta kedua orang tuanya untuk pergi berlibur bersama ke Pulau Bali.


Selain untuk berlibur dan menikmati kebersamaan bersama keluarganya, Reza juga akan menghadiri pesta pernikahan salah satu teman sekolah sekaligus rekan bisnisnya di sana. Hal ini tentu membuat Lira sangat bahagia karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akan naik pesawat dan menginjakkan kaki ke Pulau Dewata, Bali.


Tak hanya keluarganya saja yang akan ke sana, tetapi Doni dan Amel yang juga mengajak kedua orang tuanya untuk ikut bersama mereka. Kebetulan Doni juga menjadi salah satu tamu undangan dalam pesta pernikahan temannya itu, jadi Reza berinisiatif untuk mengajak sahabatnya untuk sekalian berangkat bersama-sama.


Reza juga mengajak Bela. Tapi sayangnya, kali ini Bela tak bisa ikut karena harus pulang kampung untuk menghadiri pernikahan salah satu sepupunya yang diadakan bersamaan dengan hari di mana keluarga Reza akan berangkat ke Bali. Lira pun tak bisa memaksakan keinginannya hanya karena keegoisannya. Lira berharap, semoga suatu saat mereka bisa berlibur bersama seperti apa yang pernah mereka impikan dahulu.


Saat ini mereka telah berada di bandara dan langsung menuju jet pribadi milik Martin yang sudah siap untuk mengantarkan mereka terbang menuju Pulau Bali. Kedua orang tua Reza sudah lebih dahulu masuk ke dalam pesawat sambil menggendong Inas dan disusul oleh Doni berserta keluarganya. Sementara, Reza masih berada di luar pesawat untuk menenangkan Lira yang tiba-tiba saja merasa gugup. Karena ini pengalaman pertama bagi Lira naik pesawat, jadi butuh waktu cukup lama bagi Reza untuk bisa menenangkannya.


"Sayang tenang, ya. Insya Allah semua akan baik-baik aja." Bujuk Reza lembut. "Sekarang coba sayang tarik napas, terus keluarkan pelan-pelan." Lanjutnya.


Lira pun mengikuti saran Reza dengan menarik nafas dan membuangnya dengan pelan. Setelah melakukan itu, Lira merasa lebih baik dan rasa gugupnya juga perlahan mulai berkurang.


"Udah mendingan?" Lira mengangguk malu. "Kalo gitu, sekarang kita masuk ya. Kasian yang lain udah nungguin."


"Iya, mas."


Sebelum menaiki tangga, Lira kembali membuang nafasnya untuk menetralkan perasaannya. Reza membantu Lira menaiki tangga dengan terus menggenggaman erat tangannya.


Saat memasuki pesawat, Lira dibuat takjub oleh pemandangan yang ada di dalamnya. Lira seperti tidak sedang berada di dalam pesawat, melainkan seperti sedang berada di hotel bintang lima. Semua perlengkapan yang ada di dalam pesawat seperti, sofa, kasur, dan televisi nya terlihat sangat mewah.


Dengan perasaan kagum, Lira terus menyusuri keindahan sudut pesawat, hingga matanya menangkap seseorang yang ia kenal, tengah duduk di sofa menghadap televisi yang sedang tersenyum lembut padanya. Lira menoleh ke samping dan melihat Reza sedang tersenyum padanya. Lira tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya, kemudian ia memeluk erat tubuh Reza sambil menangis.


"Hiks...hiks. Terima kasih, mas. Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini."


"Sama-sama, sayang. Sekarang, ayo sayang samperin ibu."


Kebahagiaan Lira menjadi berkali-kali lipat saat ia melihat wanita yang sangat ia sayangi juga berada dalam jet pribadi milik mertuanya dan bisa ikut merasakan kebahagiaan yang Lira rasakan dengan ikut berlibur bersamanya.


Ternyata tanpa sepengetahuan Lira, Reza telah meminta anak buahnya untuk menjemput mertuanya di kampung. Hal itu Reza lakukan, agar mertuanya juga bisa ikut merasakan liburan ke luar pulau yang selama ini belum pernah dirasakan sebelumnya. Reza juga meminta pada mertuaya untuk menyembunyikan hal ini dari Lira dan Indah menyetujui permintaan Reza karena ia juga ingin memberikan kejutan pada putri kesayangannya. Hingga saat Lira menghunginya untuk mengajaknya ikut liburan bersama ke Bali, Indah menolaknya dengan alasan tak bisa meninggalkan kedua adik Lira yang sedang mengikuti ujian sekolah. Meski sempat merasa kecewa, tapi Lira tak bisa memaksa ibunya yang sedang menemani kedua adiknya.


"Ibu, Lira kangen." Ucapnya manja sambil memeluk ibunya. "Katanya, ibu gak bisa ikut." Lanjut Lira yang berada dalam pelukan hangat ibunya.

__ADS_1


"Maaf ya, sayang. Ibu sengaja bo'ong karena mau ngasih neng kejutan. Dan ibu seneng banget karena semua berjalan sesuai rencana." Jawab Indah lembut lalu mengusap pipi Lira yang sedang cemberut.


"Ini pasti idenya mas, kan?"


"Iya. Tapi sayang seneng, kan?"


"Seneng banget. Makasih, mas."


"Aduh-aduh. Sayang, tuh liatin bunda. Udah mau punya anak dua, tapi manjanya ngalahin kakak." Ucap Irma menggoda menantu kesayangannya. Sedangkan Lira, langsung menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu ke dada bidang milik suaminya.


"Bunda manda cama papa." Sahut Inas lalu tertawa cekikikan hingga melihatnya menjadi gemas.


Semua yang ada di situ pun langsung ikut tertawa melihat tingkah Lira dan Inas yang lucu dan menggemaskan. Meski akan memiliki dua anak, tapi Lira tak malu untuk bermanja-manja pada ibunya.


🌸🌸🌸🌸


Perjalanan yang ditempuh dari Jakarta ke Bali sekitar satu jam empat puluh lima menit. Jadi, Reza dan Doni beserta seluruh keluarga mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Hanya Lira dan Amel yang masih enggan beristirahat. Kedua ibu muda dengan latar belakang yang sama itu, lebih memilih menikmati perjalanan dengan melihat dari jendela, gumpalan awan yang terlihat begitu indah.


Rasa syukur serta pujian-pujian pada sang pencipta, tanpa henti keluar dari bibir keduanya. Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah diberikan kebahagiaan yang tidak pernah mereka sangka-sangka sebelumnya. Kesabaran mereka dalam menjalani setiap ujian hidup, kini telah berbuah manis. Allah menghadiahkan kesabaran mereka dengan memberikan pasangan hidup serta mertua yang sangat baik yang selalu membahagiakan mereka.


Hingga tanpa terasa, pesawat mereka telah mendarat sempurna di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Mata Lira dan Amel tetap terbuka lebar karena sangat menikmati perjalanan liburan mereka yang begitu mengagumkan.


Reza langsung mengajak seluruh keluarganya menuju villa pribadinya. Setibanya di villa, mereka langsung disuguhkan oleh kemewahan villa dengan fasilitas kolam renang yang menghadap pantai. Puas melihat pemandangan, mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing yang telah disiapkan.


"Sayang suka gak sama tempatnya?" Tanya Reza sambil melingkarkan tangannya ke perut buncit Lira dari belakang. Lira yang sedang memandangi pantai itu langsung mengangguk senang. "Nanti habis sholat ashar, kita jalan-jalan ke pantai ya. Sayang mau, kan?"


"Mau mas, mau banget." Sahutnya antusias.


"Ya udah, kalo gitu sekarang kita istirahat ya. Mas perkatiin sejak di pesawat tadi, sayang belum istirahat."


"Iya, mas. Yuk, kita tidur."


Reza memeluk tubuh istrinya yang masih terus mengulum senyumnya itu, dengan erat sambil mengelus kepalanya hingga mereka tertidur bersama.


🌸🌸🌸🌸


Usai melaksanakan sholat ashar berjamaah, mereka semua berjalan-jalan di tepi pantai. Lira mengenakan gamis putih dan jilbab senada disertai topi bundar berwarna krim. Reza juga mengenakan kemeja putih dan celana krim dengan panjang di bawah lutut, serta kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. Inas pun tak ingin kalah dari kedua orang tuanya dengan memakai baju pantai tertutup serta memakai topi bundar dan kaca mata khas balita.


Sejak menginjakan kakinya ke pasir pantai, Inas terus saja berlari sambil tertawa riang dengan diawasi oleh kedua eyang serta neneknya. Bahkan balita menggemaskan itu juga mengajak Riri untuk ikut bermain pasir bersamanya, namun dengan lembut Irma menjelaskan jika Riri masih kecil dan belum bisa bermain pasir. Inas mengangguk paham lalu kembali bermain pasir bersama neneknya.


Sementara Doni dan Amel sudah lebih dahulu berjalan-jalan di tepi pantai dengan bergandengan tangan. Riri, putri mereka sengaja dititipkan ke orang tua mereka yang sedang duduk bersama orang tua Reza di salah satu kursi panjang yang tersedia.

__ADS_1


Merasa tak ingin kalah dari sahabatnya, Reza juga menggandeng tangan Lira untuk menyusuri pantai. Raut bahagia, terlihat jelas di wajah Lira. Ia masih tak menyangka, akhirnya salah satu impiannya bisa terwujud. Reza mengabadikan momen bahagia mereka ke dalam kamera mahal yang dibawanya. Reza meminta pada sahabatnya untuk memotretnya, bergaya dengan posisi bertumpu pada satu kaki di depan perut buncit Lira lalu menyium perut buncit itu dengan kasih sayang. Sementara Lira meletakan tangannya di atas tangan Reza yang berada di perut puncitnya, sembari tersenyum lembut melihat sikap romantis Reza.


Setelah sesi foto berdua, kini Reza mengajak putri kecilnya untuk ikut berfoto bersama mereka. Reza dan Lira saling menggandeng tangan mungil Inas yang berada di tengah-tengah mereka lalu tersenyum ceria di depan kamera. Tak hanya itu saja, Reza juga mengangkat tubuh Inas ke udara sambil tertawa bahagia bersama. Semua momen itu tertangkap ke dalam kameranya. Setelah berfoto bersama keluarga kecilnya, kini Reza mengajak sahabatnya serta orang tua mereka untuk ikut foto bersama di tepi pantai.


Puas berfoto bersama, Reza kembali mengajak Lira menyusuri pantai. Tanpa rasa malu, Reza memeluk dan mengecup kening Lira di depan banyak pengunjung pantai. Awalnya Lira merasa malu ketika Reza tiba-tiba memeluk dan menciumnya, tapi saat ia melihat reaksi orang yang tak peduli apalagi merasa terusik dengan apa yang mereka lakukan, Lira pun membalas pelukan itu dengan senang hati. Reza sengaja melakukan hal itu di depan banyak orang karena secara tidak langsung, ia ingin menyampaikan kepada semua orang yang ada di situ bahwa ia sangat mencintai dan menyayangi istrinya. Reza juga merasa puas saat usahanya berhasil untuk memberikan kejutan pada istrinya.


Sebelum menjelang Maghrib, Reza sudah mengajak seluruh keluarganya kembali ke villa untuk membersihkan diri agar bisa melaksanakan sholat Maghrib tepat waktu dan bisa segera bersiap-siap menuju pesta pernikahan temannya yang diadakan di salah satu hotel mewah di Bali.


🌸🌸🌸🌸


Lira dan Reza sedang bersiap-siap untuk ke pesta. Mereka mengenakan batik pasangan berwarna merah maroon dengan motif burung merak yang menghiasi seluruh permukaan baju. Saat sedang membantu mengancingkan kemeja batik milik suaminya, Lira merasa sangat tak bersemangat untuk ikut ke pesta. Tiba-tiba saja, bayangan masa lalu saat Lira diusir oleh para penjaga di depan banyak orang, terlintas diingatannya hingga membuat Lira ketakutan. Namun, Lira segera menepisnya dengan memasang senyum indah di wajahnya agar Reza tak merasa curiga padanya.


"Mas, kalo Lira gak usah ikut, gimana?"


"Lho, kenapa? Sayang lagi gak enak badan?" Tanya Reza cemas lalu menangkupkan tangannya ke wajah Lira.


"Gak papa, mas. Lira cuma pengen istirahat aja."


"Kalo sayang gak pergi, mas juga gak akan pergi."


"Kok gitu, mas? Gak enak lah sama yang ngundang. Mas Doni sama Mbak Amel juga pasti udah nungguin di luar. Mas pergi aja. Lira gak papa kok. Lagian ada ibu, mama sama papa yang temenin Lira."


"Pokoknya, mas gak mau pergi."


Lira mendesah pelan. Jika sudah begini, ia tak bisa lagi menolak. Tak mungkin ia membiarkan suaminya pergi sendiri, sementara Doni ditememani oleh pasangannya.


"Ya udah deh, Lira ikut. Tapi kita gak boleh lama ya mas, di sana nya. Takutnya nanti si kakak nyariin, lagi." Alasan Lira.


"Terima kasih, sayang. Mas janji, kita gak bakal lama kok di sana."


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.


Marhaban ya ramadhan. Gak terasa tinggal menghitung waktu, kita akan segera bertemu dengan bulan suci ramadhan yang penuh berkah. Untuk itu, otor ingin mengucapkan selamat menyambut bulan suci ramadhan. Semoga selama di bulan puasa ini, kita lebih fokus pada ibadah dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an dan berbuat amal saleh. karena di bulan puasa nanti, segala amal ibadah kita akan bernilai pahala di sisi Allah.


Otor juga ingin meminta maaf kepada semua pembaca novel KHSI, apabila dalam menulis karya ini, ada kata-kata yang secara tak sadar telah menyinggung perasaan pembaca. Otor hanya manusia biasa yang tentu saja bisa berbuat khilaf. Maka dari itu, otor ingin mengajak kalian semua untuk menyambut bulan yang mulia ini dengan saling memaafkan. Semoga selama bulan ini, kita bisa beribadah dengan baik dan meraih banyak pahala. Serta kita tetap Istiqomah dalam beribadah hingga seterusnya. Aamiin.


"Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan." (HR At-Tirmdzi dari Anas).

__ADS_1


"Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)


__ADS_2