
Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Selesai menjalankan sholat isya, Lira langsung membuka nasi bungkus yang diberikan oleh Yati dan menyantap dengan penuh keharuan. Lira tak menyangka, ternyata Yati memberinya banyak nasi lengkap dengan lauk pauknya serta beberapa buah pisang dan juga salak sebagai pencuci mulut.
Puas menyantap nasi bungkus, Lira menutup makan malamnya dengan buah pisang. Buah salaknya sengaja disimpan untuk esok hari. Sedangkan coklat yang dibelinya di warung, langsung dimakan usai ia memakan buah pisangnya. Lira merasa sangat bersyukur, karena malam ini ia bisa tidur dalam keadaan perut kenyang. Beruntung malam ini ia tak merasakan mual seperti siang tadi.
Merasa istirahatnya sudah cukup, Lira menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Seperti malam-malam sebelumnya, Lira lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar daripada keluar duduk di taman untuk sekedar menikmati angin malam. Sebenarnya, Lira sangat ingin duduk di gazebo yang berada di taman belakang rumah sambil melihat bintang yang bertebaran di langit, namun Reza tak pernah mengizinkannya duduk di gazebo miliknya. Entah apa alasannya hingga Reza tak pernah mengizinkan Lira menikmati waktunya untuk bersantai. Yang pasti, Lira tak pernah sekalipun berniat melanggar apa yang sudah Di titahkan oleh Reza.
Lira menyandarkan tubuhnya ke dinding kamarnya menghadap jendela kecil yang sengaja dibuka untuk mendapat angin malam dan melihat bintang. Meski hanya sedikit bintang yang dapat dilihat, Lira tetap merasa senang dan tenang. Saat melihat satu bintang yang bersinar sangat terang, Lira menjadi teringat wajah orang tuanya. Kebiasaan sederhana yang dulu sering ia lakukan bersama kedua orang tuanya yaitu duduk di depan rumah mereka, menikmati malam yang penuh bintang sambil bercanda. Tak memiliki televisi atau radio sebagai penghibur di kala lelah, tak membuat Lira berkecil hati. Asalkan dapat berkumpul bersama kedua orang tuanya, sudah cukup baginya.
Tiba-tiba Lira merindukan masakan sederhana ibunya. Tak mewah memang, hanya oseng tempe dan tumis kangkung yang selalu menjadi menu andalan, namun sangat menggugah selera makannya. Lira meraih ponsel jadulnya, berniat menghubungi ibunya di kampung. Beruntung pulsanya masih cukup untuk digunakan menelpon ibunya, meski itu tak lama. Beberapa detik kemudian terdengar suara wanita yang sangat dirindukannya dari seberang sana.
"Halo, Assalamu'alaykum. Neng apa kabar?" Akhirnya,.Lira dapat kembali mendengar suara lembut milik ibunya yang selama ini ia rindukan.
"Wa'alaykumussalam, bu. Alhamdulillah neng sehat. Ibu sehat juga kan?" Tanya Lira dengan senyum yang terus merekah di wajahnya.
"Alhamdulillah, ibu sehat sayang. Oh ya, ibu lupa bilang ke neng, dulu mertua ke neng pernah naruh uang banyak ke dalam tasnya ibu pas waktu ibu pulang ke kampung. Ibu baru sadar pas ibu mau ngambil dompet dari dalam tas, terus ibu lihat ada amplop coklat berisi uang dan surat dari nyonya Irma buat ibu."
"Oh ya? Kok bisa, bu?"
"Ibu juga gak tahu, neng. Tapi katanya, uang itu untuk keperluan ibu cek kesehatan ke dokter dan untuk kebutuhan hidup ibu. Masya Allah, ibu gak nyangka ternyata nyonya Irma sampe segitunya mikirin kondisi ibu."
"Alhamdulillah, neng jadi ikut seneng dengernya. Kalo beliau udah ngomong kek gitu, berarti ibu harus sering cek kesehatan ibu ke puskesmas. Nanti ibu minta ditemenin aja sama Ayu, Insya Allah pasti dia mau."
Iya, neng. Eh! Sampe lupa nanyain, neng udah makan apa belum?"
"Udah bu, Lira udah makan. Tapi Lira kangen masakan ibu." Ucap Lira sendu.
"Sabar ya! Nanti kalo neng pulang kampung, Insya Allah pasti ibu masakin makanan kesukaan neng." Balas Indah lembut menutupi kesedihannya merindukan putri semata wayangnya.
"Insya Allah ya, bu. Yang penting ibu jaga kesehatan dan gak boleh terlalu capek." Lira belum berani menyampaikan kondisinya saat ini sampai ia melihat hasilnya besok pagi.
"Insya Allah, ibu akan selalu jaga kesehatan. Ibu juga gak terlalu kerja berat kok, paling cuma bersihin makan ayah dan sesekali bantuin Bu Hajah Iroh di tokonya. Neng gak usah khwatir ya, sayang."
"Iya, bu. Ya udah, sekarang ibu istirahat. Inget pesan neng ya bu, gak boleh kecapean."
"iya putri ibu tersayang, dunia dan akhirat. Sekarang jadi bawel deh." Canda Indah menggoda putri kesayangannya.
Lira terkekeh mendengar candaan ibunya. "Hehehe, ibu bisa aja. Ya udah, selamat malam ibuku tersayang. Assalamu'alaykum."
"Malam juga putri kesayangan ibu. Wa'alaykumussalam Warahmatullah."
Tut....Tut...Tut...
Percakapan singkat antara ibu dan anak itu berakhir dan cukup mengobati rasa rindu yang selama ini menggerogoti dada meraka. Lira membaringkan tubuh mungilnya yang terasa lelah, agar besok pagi ia bisa bekerja kembali dengan lebih semangat.
🌸🌸🌸🌸
Dion baru saja pulang dari kantornya, sengaja menyetir mobil mewahnya seorang diri tanpa supir pribadi, agar ia lebih leluasa pergi ke tempat yang ingin ia kunjungi. Saat sedang menikmati suasana jalanan yang cukup lengang, Ia melihat seorang gadis berhijab panjang sedang mendorong gerobak jualannya. Dion segera menghentikan mobilnya tepat di belakang gadis itu. Dion turun dari mobilnya dan langsung menghampiri gadis itu. Pandangannya fokus melihat gerobak gadis itu yang berisi kacang rebus, ubi rebus, jagung rebus, dan pisang rebus yang belum laku terjual sementara waktu telah menunjukkan pukul 9 malam.
__ADS_1
"Permisi mbak, kacang rebus dan yang lainnya ini berapaan ya harganya?" Tanya Dion yang terus memusatkan pandangannya pada jualan gadis berhijab panjang dengan warna hijab biru langit itu.
"Murah aja mas, semua harganya serba lima ribuan. Mas nya mau beli berapa?" Jawab gadis itu dengan lembut dan ramah.
Doni langsung menoleh pada gadis itu yang sudah memasang senyum manis di wajahnya. Jantung Doni langsung berdetak dengan sangat kencang ketika melihat senyum manis gadis itu. Wajah gadis itu sangat manis meski tanpa polesan bedak sedikit pun. Mata bening dengan bulu mata yang lentik, hidung kecil yang mancung serta bibir yang sedikit tebal di bagian bawahnya membuat gadis itu terlihat sangat manis.
Doni kembali mengalihkan pandangannya ke arah jualan gadis itu untuk menormalkan detak jantungnya. Ia segera beristighfar ketika gadis itu masih setia memasang senyum manisnya.
"Saya mau beli semuanya, kira-kira berapa ya?" Doni masih terus berusaha menormalkan detak jantungnya yang terus memompa dengan sangat cepat.
"Aduh, berapa ya? Saya juga gak tahu mas, tunggu saya hitung dulu ya."
"Eh! Gak usah, nanti malah kelamaan. Langsung dibungkus aja. Kalo segini cukup gak? Doni menyodorkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.
"Masya Allah, itu kebanyakan mas." Balas gadis itu dengan mata yang membulat sempurna ketika melihat sejumlah uang yang Doni sodorkan padanya.
"Gak papa, ambil aja. Saya ngasihnya ikhlas kok." Doni memaksa gadis itu menerima uangnya.
"Tapi saya gak bisa nerima ini, mas. Uangnya terlalu kebanyakan, sedangkan harga dagangan saya gak sampe segitu."
"Tapi bener mbak, saya ikhlas kok. Diterima ya?"
"Ya udah, kalo gitu terima kasih banyak ya mas." Ucap gadis itu sambil tersenyum senang.
deg..deg..deg...
Jantung Doni kembali berdetak kencang ketika melihat senyum gadis itu.
"Mohon maaf sebelumnya mas, saya gak punya kantong plastik besar untuk membungkus ini semua." Ucap gadis itu sambil menunduk malu.
"Oh, gitu." Doni memikirkan ide bagaimana caranya membungkus semua jualan itu. Tak mungkin ia memasukkan semuanya ke dalam mobil mewahnya. "Gimana kalo saya bantu mbak dorong gerobak ini terus kita bagikan ke orang-orang yang ada pinggir jalan." Lanjut Doni memberi usul.
"Tapi nanti baju mas jadi kotor, gak papa?"
"Gak papa, ayo."
"Ya udah, ayo."
Doni sangat senang melihat senyum manis dari gadis itu. Selain Lira dan gadis berhijab itu, Ia belum pernah bertemu gadis dengan senyum setulus ini. Doni membantu mendorong gerobak gadis itu yang ternyata cukup berat untuk ukuran seorang gadis mungil sepertinya.
"Mbaknya kok sanggup dorong gerobak seberat ini? Emang orang tua mbak ke mana?" Tanya Doni sambil terus mendorong gerobak dari sisi kanan.
"Saya udah biasa mas. Saya juga harus tetap kuat agar bisa bertahan hidup. Orang tua saya gak tahu di mana." Jawabnya sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Maaf, saya gak bermaksud bikin mbaknya sedih."
"Gak papa kok, mas. Ngomong-ngomong, jangan panggil saya mbak, umur saya baru 20 tahun mas."
"Jadi, saya harus manggil apa dong?"
"Amelia Putri, itu nama saya. Panggil aja Amel."
__ADS_1
"Baiklah, Amel. Nama saya, Doni." Balas Doni mengulurkan tangannya ke arah Amel dan Amel hanya menangkupkan tangannya ke dada. Doni langsung merasa malu dan menarik kembali uluran tangannya.
"Maaf, saya gak maksud."
"Iya, gak papa."
Mereka kembali mendorong gerobaknya sambil sesekali berhenti untuk membagikan jualan Amel kepada orang-orang yang berada di pinggir jalan. Doni merasa senang bisa membantu Amel menghabiskan jualannya. Setelah semua jualan telah habis, mereka kembali ke tempat di mana mobil Doni berada.
Amel langsung mengucapkan terima kasih kepada Doni karena telah membantunya, kemudian ia pamit untuk pulang. Doni menawarkan diri untuk mengantar Amel pulang ke rumahnya karena memang malam sudah hampir larut. Awalnya Amel menolak dengan halus, tapi Doni terus memaksa dengan alasan keselamatan dan akhirnya Amel pasrah mengikuti Doni.
Amel enggan untuk duduk di samping Doni, ia memilih duduk di kursi penumpang dan Doni memahami itu karena dulu Lira juga melakukan hal itu padanya.
"Mas, tolong berhenti di depan warung itu ya." Pinta Amel dan langsung mendapat anggukan dari Doni.
"Amel mau beli apa?" Tanya Doni ketika mobilnya telah berhenti tepat di depan warung makan kecil yang berada di samping gang.
"Saya mau beli makan malam untuk ibu dan adik-adik."
Doni menyerngitkan keningnya "Amel punya ibu dan adik?"
"Amel tinggal di panti, mas. Jadi Amel punya ibu panti sebagai ibu kami, serta adik-adik yang juga bernasib sama seperti Amel." Jawabnya dengan senyum manis.
"Kalo gitu, mas ikut." Doni bergegas turun dari mobilnya dan langsung memesan makanan untuk Amel dan adik-adiknya di panti.
"Eh, mas mau ngapain?"
"Ya, mau pesen makanan lah. Emang mau ngapain lagi? Jawab Doni santai.
"Gak usah mas, biar Amel aja."
"Udah, gak papa. Adik-adiknya Amel ada berapa?"
Amel diam tak menjawab karena merasa sungkan pada Doni yang masih saja menolongnya.
Doni menjentikan jarinya di depan wajah Amel. "Amel, mas nanya nih. Adik-adik Amel ada berapa?" Doni kembali mengulang pertanyaannya.
"Ada sebelas orang, mas."
"Oke! Bu, pesen nasi ayamnya tiga belas bungkus ya." Ucap Doni pada pemilik warung.
"Baik, mas."
🌸🌸🌸🌸
Bersambung..........
jangan lupa dukungannya ya
like, komen, vote..
terima kasih😊?
__ADS_1