Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 129


__ADS_3

“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.” (QS. An-Nahl :72)


Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Di dalam ruang perawatan nan mewah itu, tersisa sepasang kekasih halal yang sedang bahagia menatap bayi tampan mereka yang sedang tertidur dalam dekapan hangat sang ibu. Reza yang sejak semalam belum tidur sama sekali pun masih setiap menemani istrinya dalam menjaga putra mereka.


Sementara, ketiga orang tua mereka serta Inas telah pulang ke rumah sekitar dua jam yang lalu untuk beristirahat, karena sejak malam mereka kurang tidur dan sudah menemani Lira di rumah sakit. Inas yang menangis tak ingin pulang karena masih ingin melihat adiknya pun langsung luluh setelah dibujuk bahwa siang nanti mereka akan kembali melihat adiknya dan membawakan makan siang untuk Reza dan makanan khusus untuk Lira agar ASI nya lancar.


Saat sedang asik menatap sang putra, Lira merasa kantung kemihnya telah penuh. Ia ingin sekali ke kamar mandi, mengajak serta Reza untuk membantunya, tapi Lira merasa tak tega harus meninggalkan putranya sendirian di dalam kamar tanpa ada yang mengawasi.


Melihat wajah Lira yang seperti sedang menawan sesuatu dan terus saja mencoba mencari posisi duduk yang nyaman Reza langsung sadar.


"Ada apa, sayang?"


"Pengen pipis, mas."


"Ya udah, pipis aja. Kan sayang pake popok."


"Iih, gak nyaman mas."


"sini, mas bantu ke kamar mandi."


"Terus baby, gimana? Sendirian dong." Tanya Lira khawatir. Itulah alasan mengapa ia menahan pipis sejak tadi karena tak tega meninggalkan bayinya sendirian.


"Gak papa sayang, mas udah kunci pintu kok."


Lira langsung mengarahkan pandangannya ke pintu dan benar saja, pintu sudah terkunci rapat. Reza memang sengaja mengunci pintu saat ketia orang tuanya berpamitan pulang karena ia ingin menikmati momen bersama istri dan anak keduanya tanpa ada yang mengganggu.


"Ya udah, kalo gitu tolong ambilin popok Lira di tas item itu, mas. Lira sekalian ganti. Udah penuh banget, nih."


"Iya, sayang."


Reza menuju sofa tempat tas perlengkapan bayi mereka di simpan lalu mengembil popok dewasa untuk Lira. Setelah itu, Reza kembali ke ranjang untuk menggendong Lira ke kamar mandi. Dengan cekatan, Reza membantu Lira membuka popoknya yang sudah penuh.


Reza ikut meringis, melihat Lira yang meringis menahan perih saat air kencingnya melewati bagian intinya yang dijahit karena robek beberapa senti. Air mata Reza menetes untuk kesekian kalinya, merasa tak sanggup melihat perjuangan istrinya ketika pipis saja harus menahan sakit. Setelah membasuhnya dengan air bersih, Reza membantu memakainkan Lira popok baru. Sedangkan popok Lira yang penuh tadi, Reza bersihkan tanpa rasa jijik sedikit pun.


Setelah semua selesai, Reza membungkus popok itu ke dalam kresek hitam dan menaruhnya ke dalam tong sampah yang berada di pojok kamar mandi. Barulah kemudian Reza menggendong Lira, kembali ke tempat tidur. Reza juga memakaikan selimut untuk Lira agar bisa beristirahat.


"Istirahat aja lagi, sayang. Nanti biar mas yang jagain baby Haidar."


"Iya, mas."

__ADS_1


Reza duduk di sofa dekat dengan box baby Haidar. Dipandangnya wajah tampan sang anak yang mana, saat ini terlihat jelas mewarisi hampir semua wajahnya. Kecuali bagian bibir yang sangat mirip dengan Lira, tipis dan bergelombang pada bagian atasnya.


Perlahan mata Reza ikut terpejam. Sejak malam di mana ia mengantar Lira ke rumah sakit hingga sekarang, ia belum tidur sama sekali. Kepalanya juga mulai terasa berat, namun sebisa mungkin menahan kantuknya di depan istrinya yang masih membutuhkan bantuannya.


Baru sekitar tiga puluh menit Lira tertidur, terdengar suara baby Haidar yang menangis kencang merasa kehausan. Dengan berat, Lira membuka matanya dan mengambil bayinya dari dalam box untuk diberi ASI. Lira mulai menyusui baby Haidar yang sangat kehausan, terbukti dari bayi itu menghisap rakus dada ibunya.


Lira mengusap lembut kening putranya yang sedang menyusu, lalu pandangangnya langsung mengarah ke suaminya yang sedang tertidur di sofa dengan posisi meringkuk. Lira sadar betul jika suaminya sangat kelelahan. Bahkan, saat baby Haidar menangis kencang tadi saja, Reza sama sekali tak merasa terusik.


Tak ingin mengusik tidur nyenyak sang suami, Lira memilih mengajak bayinya cerita dengan suara pelan. Setelah baby Haider tertidur dengan perut kenyang, Lira kembali menaruhnya ke dalam box.


Karena tak bisa lagi tertidur, Lira memilih bermain ponselnya. Ia langsung mengirim pesan pada Bela dan Amel tentang kelahiran anak keduanya.. Tak butuh waktu lama, ponselnya langsung bergetar tanda panggilan masuk dari Bela.


"Halo, assalamu'alaikum. Iya, Bel."


"Wa'alaikumussalam. Ini beneran, kamu udah lahiran?" Tanya Bela antusias.


"Iya, Bel. Alhamdulillah, tadi sekitar jam tujuh deh kalo gak salah."


"Masya Allah. Aku ke sana, ya."


"Boleh, sekalian bareng mama, papa, sama ibu aja, Bel. Kebetulan, mereka mau bawain aku makan siang."


"Boleh deh. Ya udah, aku ke rumah mama sekarang aja sama Farel. Mas Arman gak bisa ikut karena lagi ada kerjaan di kantor."


"Iya, kamu hati-hati ya."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah."


🌸🌸🌸🌸


Pukul 11 siang, para orang tua datang ke rumah bersama Bela dan kedua bocah menggemaskan yang sudah tak sabar ingin segera melihat sang adik. Mereka datang membawakan makan siang, serta pakaian ganti untuk Lira dan Reza.


Khusus Bela, ia datang membawa kotak berukuran cukup besar yang sudah dihias dengan kertas kado bermotif beruang kecil berwarna coklat, ditambah hiasan pita merah di atasnya.


Tiba di ruang perawatan, ternyata mereka harus menunggu di depan pintu yang masih terkunci sambil terus mengetuk pintu. Reza yang masih tertidur pun langsung terusik mendengar pintu yang diketuk dengan cukup keras secara berkali-kali. Reza mengerjapkan matanya yang masih terasa berat dan mengantuk. Namun, tidak dengan Lira yang masih terlelap usia menyusui bayinya beberapa jam yang lalu.


Reza merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, lalu ia menuju ranjang untuk membetulkan posisi selimut Lira yang mulai melorot hingga lutut. Reza mengecup kening istrinya, barulah ia membuka pintu.


"Assalamu'alaikum. Kamu ke mana aja sih, Za? Kita udah ketok-ketok pintu dari tadi, udah nunggu lama juga, kamunya baru bukain pintu sekarang!" Omel Irma kesal saat mereka telah masuk ke dalam ruangan Lira.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Maaf ma, tadi Reza ketiduran." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Eh, ada anak cantik papa juga toh? Sini sayang, kita liat adek." Reza mengendong Inas menuju box baby Haidar.


"Terus, kenapa harus pake ngunci pintu segala sih?"

__ADS_1


"Aduh, masih lanjut ya ma, omelnya?" Tanya Reza sambil terkekeh geli. "Ya, biar gak ada yang gangguin Lira lagi tidur, ma." Sahutnya lagi sambil menerima kado dari Bela dan meletakkannya di atas nakas telat di sebelah ranjang Lira.


"Udah dong, ma omelnya. Gak enak didenger orang." Sanggah Martin lembut, menengahi.


Irma pun langsung diam dan memilih melihat box baby Haidar. Merasa gemas, Irma langsung menggendong baby Haidar yang menggeliat kecil dengan bibir yang mengerucut.


"Lucu banget, sih. Pa, liat deh mukanya ganteng banget ya. Masya Allah." Ucap Irma gemas.


"Iya, ma. Kan turunan papa, ya jelas ganteng dong." Ucap Martin dengan senyum bahagia dan sisambut anggukan oleh sang istri.


Irma setuju dengan apa yang suaminya ucapkan. Namun, bukan karena ketampanannya yang membuat Irma rela menghabiskan masa tuanya bersama duda tampan dan kaya dari mendiang saudaranya itu, melainkan kebaikan dan kesabarannya lah yang membuat Irma luluh dan tulus mencintai seorang Martin Mahardika.


Merasa penasaran, Bela pun ikut bergabung bersama Irma untuk melihat baby Haidar. Senyum bahagia terbit dari bibir Bela.


"Ma, Bela boleh gendong juga gak?"


"Boleh dong, sayang. Nih, biar ketular punya ganteng kayak gini."


"Hehe, insya Allah ma


Doain aja, semoga anak Bela juga nanti bisa ganteng kayak gini." Sahut Bela, menggendong baby Haidar yang lagi-lagi menggeliat kecil. "Masya Allah! Ganteng banget sih kamu, nak."


"Siapa dulu bibitnya, Bel." Ucap Reza bangga.


"Ck, itu juga karena ladangnya cantik. Coba kalo landangnya biasa aja, pasti juga hasilnya biasa." Cibir Irma dengan mencebikkan bibirnya.


Reza hanya diam tak lagi menanggapi karena percuma jika ia kembali menjawab ibunya yang selalu saja punya jawaban.


Mendengar keributan di ruangannya, Lira pun terbangun. Dengan sigap Reza membantu Lira untuk duduk bersandar. Lira meminta tolong pada Reza mengambilkan tisu basah untuk mengelap mukanya. Lira menyapa orang tuanya serta sahabatnya yang telah datang untuk membesuknya.


"Kok gak bangunin Lira sih, mas."


"Sayang tidurnya pules banget, jadi gak tega banguninnya." Sahut Reza lembut.


Setelah dirasa Lira telah sepenuhnya sadar dan tak merasa mengantuk lagi, Reza langsug menyiapkan makan siang yang dimasak khusus untuk Lira untuk memperkaya ASI nya. Lira merasa tak berselera melihat menu makananya.


"Jangan cemberut gitu atuh, neng liat makanannya. Semua kan demi kebaikan baby Haidar." Ucap Indah lembut. Lira hanya mengangguk lalu menerima suapan dari suaminya.


"Mas gak makan?" Tanya Lira usai menelan makanannya.


"Nanti aja, kalo sayang udah selesai makan." Jawab Reza lalu kembali menyuapi Lira.


Lira kembali mengangguk.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......😊


__ADS_2