Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 120


__ADS_3

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al Hujurat: 13)


Selamat membaca........๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sambil menunggu istrinya datang membawakannya makan siang, Reza memilih menyelesaikan pekerjaanya, seperti membaca kembali hasil catatan meeting yang baru saja dilakukan bersama kliennya di ruang meeting tadi. Reza tersenyum puas melihat hasil kerja Arman yang dinilai cukup cermat dan cepat dalam menangkap hal-hal penting yang dibahas dalam sebuah meeting penting.


Semua itu, tak lepas dari peran Ferdi yang mengajarinya beberapa jam sebelum meeting dimulai. Tak lama Ferdi menjelaskan, Arman pun sudah mengerti dengan cukup baik. Untuk seorang pemula seperti Arman yang baru pertama kali menjadi sekretaris, tentu akan mengalami kesulitan. Namun, Arman membuktikannya dengan baik hingga mengasilkan sebuah pekerjaan yang cukup memuaskan untuk Reza. Hal ini membuat Reza merasa tak menyesal telah mengajak Arman untuk bekerja sebagai sekretaris pribadinya.


Dengan hadirnya Arman sebagai sekretaris Reza, tentu membuat Ferdi dapat bernafas lega karena pekerjaannya dapat sedikit berkurang. Tentu waktu istirahatnya juga jadi lebih banyak dari sebelumnya.


Saat sedang serius membaca hasil meeting, Arman mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan Reza. Arman ingin mengingatkan pada Reza bahwa waktu makan siang telah tiba.


"Permisi, Pak Reza. Maaf, saya cuma mau mengingatkan kalau waktu makan siang telah tiba. Bapak mau dipesankan apa?" Tanya Arman sopan yang mana membuat kening Reza mengkerut.


Kemudian Reza mengangguk paham sembari tersenyum tipis. Berarti Bela belum mengabari Arman tentang kedatangannya kemari. Batin Reza.


"Gak usah, Man. Terima kasih. Kita makan di sini saja, tapi tunggu makanan special kita datang dulu." Jawab Reza santai.


"Baik, pak."


"Arman, saya sudah bilang berapa kali? Kalo cuma kita berdua, kamu tetap bersikap seperti biasa, gak usah formal kayak gitu." Tegur Reza dengan senyum ramah.


"Baik, mas. Maaf!" Sahut Arma kikuk, merasa tak enak hati dengan panggilan untuk atasannya.


Mereka kembali membahas hasil meeting tadi dengan klien yang cukup berpengaruh dalam pengembangan perusahaan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Mobil yang mengantar Lira dan Bela, telah tiba di depan gedung bertingkat milik mertua Lira. Dengan senyum ramah, Lira membalas karyawan yang menyapanya sambil membungkuk sopan. Seluruh karyawan perusahan sudah sangat mengenal siapa istri bos mereka. Apalagi Inas, si bocah menggemaskan itu bak selebriti terkanal yang sudah memiliki banyak penggemar di kantor karena wajahnya yang imut dengan mata bulat, serta bulu matanya yang lentik membuat orang yang melihatnya menjadi gemas ingin menyubit pipi gembulnya.


Tanpa menunggu lama, resepsionis langsung menyilakan kedua ibu muda itu untuk masuk ke dalam lift menuju lantai tempat di mana sang pemimpin perusahaan berada.


Saat tiba di depan pintu masuk ruangan Reza, Lira melihat ke arah Ferdi yang sedang membereskan mejanya untuk bersiap-siap menuju kantin karena waktu istirahat telah tiba. Ferdi tersentak lalu menoleh saat mendengar mejanya diketuk oleh Lira.


"Eh, ada Bu Bos. Maaf bu, saya tidak sadar kalo ibu ada di sini." Ucap Ferdi dengan salah tingkah.


"Gak papa Mas Ferdi. Oh iya, Mas Reza ada di dalem kan?"


"Iya, bu. Pak Reza dan Pak Arman ada di dalam. Silakan masuk, bu." Sahut Ferdi sopan.


"Ya udah, makasih ya. Ini untuk Mas Ferdi."


Lira memberikan kotak makanan kepada Ferdi. Belum sempat Ferdi mengucapkan terima kasih, Lira dan Bela serta kedua anak mereka telah masuk ke dalam ruangan Reza. Ferdi sangat bersyukur, saat mendapat jatah makan siang dari istri bosnya yang baik hati. Lira memang sengaja membawa kotak makan untuk Ferdi karena merasa tak enak hati jika mereka makan tanpa berbagi pada Ferdi yang telah banyak membantu pekerjaan Reza.


"Assalamu'alaikum." Ucap Lira dan Bela bersamaan memberi salam.


Diskusi Reza dan Arman menjadi terhenti saat mendengar pintu diketuk lalu masuklah dua ibu muda sambil menenteng tas khusus untuk menyimpan rantang makanan, disusul dua bocah menggemaskan di belakang mereka yang langsung berlari ke arah ayah mereka masing-masing.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Eh, jangan lari-lari sayang."

__ADS_1


Reza berdiri dari kursi nyamannya, berjalan dengan cepat untuk menangkap tubuh mungil putri kecilnya lalu menghadiahkan ciuman gemas di seluruh wajah putrinya yang sudah berhasil membuat cemas karena melihatnya berlari. Begitu pun dengan Arman yang menangkap tubuh putranya lalu menggendongnya. Farel dan Inas hanya tertawa bahagia saat berhasil berlari ke arah ayahnya. Seolah itu menjadi sesuatu yang lucu menurut mereka.


Lira menyium punggung tangan Reza, setelah itu ia mendapat hadiah kecupan mesra di keningnya. Wajah Lira langsung berubah merah merona. Ia merasa sangat malu karena Reza melakukannya tepat di depan Bela dan Arman.


"Kenapa mukanya merah gitu sih, sayang?" Goda Reza sambil terkekeh.


"Iya nih, muka kamu kenapa Ra?" Timpal Bela tak mau kalah untuk menggoda Lira yang sudah salah tingkah.


Mereka sangat senang melihat wajah Lira yang akan berubah merah merona ketika sedang merasa malu. Mendengar suami dan sahabatnya menggoda dirinya, Lira langsung memasang mode cemberut hingga membuat Reza, Bela, dan Arman langsung tertawa.


"Mas sama Bela kok nyebelin banget sih?!"


"Hahaha. Maaf, ya sayang. Udah ah, mending kita makan. Mas udah laper banget, sayang. Habis makan, baru kita sholat dhuhur bareng."


"Iya, mas." Sahut Lira lalu menyiapkan makanan di atas meja kaca dengan dibantu oleh Bela.


"Mau makan cama papa."


"Iya sayang. Kakak makan bareng papa sama bunda juga, ya."


"Iya papa, cama abang duga."


"Iya, bareng Abang Farel sama umi dan abi."


Sesuai permintaan Bela, Inas harus memanggilnya dengan sebutan umi sama sepeti Farel memanggilnya, karena Bela sudah menganggap Inas seperti putrinya sendiri. Hal itu pun disambut baik oleh Reza dan Lira selaku orang tua Inas. Karena dengan begitu, ikatan persahabatan di antara mereka tetap terjaga sampai kapan pun.


Keluarga itu langsung menyantap makan siang mereka dengan lahap tanpa ada yang bersuara. Setelah makan siang bersama, mereka melaksakan sholat dhuhur berjamaah di ruang itu dan langsung diimami oleh Reza. Sementara Bela yang sedang berhalangan, bertugas mengawasi dua bocah yang sedang bermain bersama.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tiba di rumah, Lira dan Bela langsung menidurkan putra, putri mereka di kamar. Kedua bocah itu langsung tertidur pulas, entah karena lelah atau mengantuk, tapi saat tangan lembut ibunya mengusap kepala mereka dengan penuh kasih sayang, mata kedua bocah itu langsung tertutup rapat.


Merasa kekenyangan dan mengantuk, kedua ibu muda itu juga langsung menyusul anak-anak mereka tertidur.


Saat malam menjelang, para suami belum juga pulang ke rumah. Padahal, waktu telah menunjukan pukul 11 malam. Para penghuni rumah yang lain juga telah tertidur lelap. Hanya menyisakan dua ibu muda yang masih setia menunggu kedatangan sang pujaan hati sambil mengobrol hangat di ruang keluarga dengan ditemani teh hangat serta cemilan.


"Ra, kapan kamu mau periksa kandungan lagi?" Tanya Bela sambil memasukan cemilan ke dalam mulutnya.


"Insya Allah besok, Bel."


"Suami kamu udah tahu?"


"Belum. Aku mau ngasih tahu nanti kalo beliau udah pulang. Aku udah gak sabar banget mau liat jenis kelamin anak aku, Bel."


"Kamu mau cewek apa cowok?"


"Cewek atau cowok, sama aja. Yang penting, dia lahirnya sempurna dan sehat."


"Iya juga, sih."


Tak lama, terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumah. Bela segera menuju ruang tamu untuk membuka pintu dan menyambut suaminya, Arman dengan senyuman manisnya. Lira juga ikut menyusul Bela ke ruang tamu untuk menyambut pujaan hatinya yang sejak tadi ia nantikan kedatangannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum. Sayang, kok belum tidur? Mas kan udah bilang, jangan ditungguin."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Lira gak tidur kalo gak dipeluk sama mas." Ucap Lira manja, usai menyium punggung tangan suaminya.


Lira berani bermanja-manja pada suaminya saat melihat Bela dan Arman telah lebih dahulu berpamitan ke kamar mereka.


"Manja banget sih istri mas."


"Emang gak boleh ya, Lira manja sama suami sendiri."


"Boleh banget, sayang."


Reza merangkul mesra bahu Lira menuju kamar dengan menggunakan lift. Saat tiba di kamar, Lira membantu melepas pakaian kerja suaminya.


"Mas udah makan?" Tanya Lira lembut, lalu menuju keranjang untuk menaruh pakain kotor milik suaminya.


Hal inilah yang Reza sukai dari seorang Lira. Perhatian yang selalu ditujukan padanya tak pernah berkurang. Meski hanya sekedar menanyakan hal kecil seperti itu, sudah berhasil membuat Reza merasa dicintai dan dihargai sebagai seorang suami.


"Udah, sayang. Tadi mas meeting sekalian makan malam sama klien di restoran."


"Lira udah siapin air anget untuk mas mandi."


"Temenin ya, sayang. Mas capek banget, nih. Badan mas, rasanya pegel semua." Pintanya manja.


"Iya, mas. Ya udah, ayo."


Lira menemani bayi besarnya yang sedang mandi sambil ikut membantu menyampokan serta membilas rambut bayi besarnya yang super manja itu. Setelah itu, Lira juga membantu mengeringkan rambut bayi besarnya menggunakan handuk kecil yang ia ambil dari dalam lemari.


"Mas, besok jadwal Lira check kandungan lho."


"Iya kah? Jam berapa, sayang? Aduh, mas jadi deg-degan, sayang. Gak sabar pengen liat jenis kelamin si dedek."


"Pagi, sekitar jam 9 mas. Emang, besok mas gak sibuk?"


"Sibuk sih. Tapi kan, masih bisa mas atur waktunya, sayang. Pulang dari rumah sakit, mas langsung ke kantor."


"Hmmmm. Kira-kira, mas maunya anaknya cewek apa cowok?" Tanya Lira hati-hati.


Reza tersenyum sambil menggenggam tangan Lira yang masih berada di kepalanya lalu mengecup tangan mungil itu dengan lembut.


"Sayang, apapun dia. Mau cewek ati cowok, mas hanya berharap sayang dan dedek sehat serta selamat lahirnya. Dedeknya lahir dengan sempurna tanpa kurang satu apapun. Mas juga berharap, semoga nanti dia bisa jadi anak yang paruh pada perintah Allah, mengikuti apa yang nabi ajarkan, serta dapat menghormati kedua orang tuanya. Terutama ibunya yang sudah melahirkannya dengan bertaruh nyawa. Jadi, sayang gak usah mikirin itu, ya. Mas akan terima apa yang sudah Allah titipan ke kita, dengan sepenuh hati. Kita didik anak-anak kita, supaya kelak mereka bisa menjadi anak-anak soleh dan solehah yang berakhlak mulia."


"Iya. mas. Terima kasih, mas udah jadi ayah dan suami yang baik untuk Lira dan anak-anak."


"Iya, sayang. Itu semua, sudah menjadi tanggung jawab mas sebagai seorang kepala keluarga. Mas juga masih banyak kekurangan, jadi kita sama-sama belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita."


Lira tersenyum haru mendengar jawaban dari suaminya yang tentu sesuai harapannya. Lira berdoa, semoga keluarga kecilnya bisa dikumpulkan kembali bersama di surga-Nya, kelak. Aamiin.


โ€œOrang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya.โ€ (HR At- Tirmidzi)


"Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak dengan akhlak yang baik.โ€ (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

__ADS_1


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung......๐Ÿ˜Š


__ADS_2