
Selamat membaca......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Usai mengunjungi panti asuhan pekan lalu, kini keluarga Reza kembali disibukkan dengan persiapan acara tasyakuran empat bulanan kehamilan Lira. Kali ini konsep acaranya ditentukan langsung oleh Irma dan Martin selaku orang tua. Jika tasyakuran sebelumnya saat Lira mengandung Haidar hanya diadakan secara sederhana di panti asuhan, kini Irma memilih mengadakan syukuran di rumahnya sendiri.
Tak hanya menentukan tempat saja, tapi Irma juga menentukan tema dalam acara sakral itu. Tak tanggung-tanggung, Irma bahkan menyewa penyedia jasa profesional acara terbaik khusus untuk acara tasyakuran. Lira sempat menolak keinginan mertuanya, namun Irma tetap kekeh untuk mendekor rumah mereka agar terlihat lebih elegan. Lira memilih mengalah daripada nantinya ia dianggap tak menghargai keputusan orang tua.
Acara tasyakuran yang akan diadakan dua hari lagi, kelurga Reza sepakat mengundang anak-anak yatim yang ada di beberapa panti asuhan tempat mereka menjadi donatur tetap. Termasuk Panti Asuhan Kasih Ibu, tempat tinggal Amel dahulu dan Panti Asuhan Pelita Bunda, milik sepasang suami istri yaitu Diana dan Rusdi.
Reza dan Lira pun sepakat. Bagi mereka di mana pun acara syukuran itu diadakan, asalkan tetap sakral dan tidak menyalahi aturan yang sudah ditetapkan dalam syari'at islam, mereka sama sekali tak keberatan.
"Ra, temanya mama pilih warna putih gak papa kan? Biar terkesan bersih dan suci, gitu."
"Terserah mama aja. Lira mau protes juga percuma, orang dekornya aja udah dipasang," ucap Lira pura-pura cemberut, membuat Irma tersenyum.
"Ya gak papa kali, Ra. Mama kan, juga pengen yang terbaik untuk calon cucu ketiga mama sama papa," jawab Irma sambil tersenyum. "Oke. Baju udah mama pesen dan udah beres, tinggal tunggu aja nanti bawain langsung sama karyawan butik langganan mama. Katering udah beres, dekor juga udah. Berarti sekarang tinggal hubungin ibu kamu aja, Ra," lanjut Irma sambil mencentang semua persiapan yang sudah ditulisnya.
"Lira udah telfon ibu dari kemarin, ma. Kayaknya bentar udah nyampe, deh."
"Oh, bagus deh kalo gitu."
Tiba-tiba Inas datang sambil berlari-lari kecil menghampiri ibu dan eyangnya yang sedang memerhatikan beberapa orang yang sedang memasang dekorasi di ruang keluarga dan sebagian lagi sedang memasang tenda di halaman rumah.
"Eyang, nanti kakak pake baju apa?" Tanya Inas dengan wajah penasaran.
Irma dan Lira langsung menoleh ke arah Inas yang berdiri tepat di depan mereka.
"Eh, adeknya di mana sayang?"
"Adek lagi main sama Abang Falel," jawab Inas. "Bunda sama eyang belum jawab peltanyaan kakak tadi," ucapnya lagi dengan wajah cemberut.
"Yang mana, kak? Tadi bunda gak denger," Tanya Lira bingung. Pasalnya Lira tak begitu mendengar pernyataan Inas karena terlalu fokus memerhatikan orang yang sedang serius bekerja.
"Tadi kakak tanya, nanti kakak pake baju apa?"
"Oh itu. Kita pake gamis, sayang. Eyang yang pesen khusus untuk kita," jawab Lira lembut.
"Holeeee....! Kakak mau kasih tahu ke Lili sama Abang Falel dulu ya bunda, eyang," pamit Inas dan langsung berlari kecil menuju halaman belakang tempat di mana Farel, Ikbal dan Haidar bermain bersama.
Turun dari tangga, Reza langsung melihat Inas yang sedang berlari-berlari menuju ke arah belakang rumah.
"Kakak mau kemana lari-lari gitu sayang?"
Inas langsung berhenti saat berpapasan dengan ayahnya di tangga. "Papa, tadi kata eyang, nanti kakak pake gamis balu buat acalanya bunda," jawab Inas dengan binar bahagia di wajah imutnya.
Mendengar celotehan putrinya, Reza pun mengerutkan dahinya merasa heran. "Kakak kan, memang punya banyak gamis baru di lemari, kok jadi seneng banget?"
"Itu beda lagi, pa. Kalo gamis ini, eyang langsung yang pesenin kusus untuk acala sukulan bunda sama dedek bayi."
"Oh gitu. Terus kakak lari-lari, ini mau kemana?"
"Kakak mau ngasih tahu Lili sama Abang Falel, pa," jawab Inas semangat. "Udah ya pa, sekalang kakak mau ke belakang dulu."
"Jangan lari-lari sayang. Nanti jatuh," teriak Reza cemas melihat putri kesayangannya sedang berlari-lari kecil dengan begitu gembira.
Mendengar suara teriakan ayahnya, Inas langsung menghentikan larinya dan berjalan pelan. "Iya, pa. Kakak gak lali-lali," sahut Inas dengan cukup kencang.
Reza hanya menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan putri kecilnya. Ia langsung ikut bergabung bersama istri dan ibunya.
"Si kakak kayaknya seneng banget kita ngadain acara kayak gini di rumah," ucap Reza sambil tersenyum geli.
"Iya mas. Tadi aja dia nanya mau pake baju apa," sahut Lira ikut tertawa.
"Udah selesai berapa persen nih, ma?" Tanya Reza sambil mengambil kursi untuk istri dan ibunya "Lain kali kalo mau liatin orang kerja, harus duduk sayang. Jangan berdiri lama kayak gini, gak baik," ucap Reza lembut.
"Iya, mas. Makasih ya." Lira langsung duduk
__ADS_1
"Sama-sama sayang. Gimana, ma?"
Irma tersenyum melihat perhatian kecil Reza untuknya dan Lira. Meski Reza tahu Irma bukanlah ibu kandungnya, namun hal itu tak merubah sikap santun dan hormat Reza pada Irma.
"Katanya sih tadi udah delapan puluh persen gitu. Besoknya tinggal ditambahin hiasan bunga mawar putih segar, semua langsung selesai."
"Lho, mawar merahnya gak jadi ma?"
Reza merasa heran karena sebelumnya, Irma begitu ngotot untuk menambahkan bunga mawar merah segar agar dekorasi menjadi lebih hidup, menurutnya.
"Mama berubah pikiran karena temanya putih, jadi mama milih mawar putih aja biar terkesan lebih bersih. Lagian juga istri kamu iya-iya aja tuh, gak banyak protes kayak kamu," sahut Irma santai namun dengan tatapan sinis ke arahnya.
"Ya udah deh, terserah mama aja," Reza memilih mengalah pada sang ibu.
Lira hanya tersenyum melihat kelakuan suami dan ibu mertuanya yang terkesan tak akur, namun saling menyayangi satu sama lain.
πΈπΈπΈπΈ
Acara tasyakuran yang dinantikan pun tiba. Tasyakuran akan diadakan pada pukul 8 pagi hingga selesai. Sejak pagi, Lira telah siap dengan gamis putih polos yang dihiasi mutiara putih kecil yang melingkar indah di bagian leher, serta jilbab putih yang dihiasi bros berbentuk mawar berukuran kecil di bahu kanannya. Lira tak menghias wajahnya dengan make up tebal. Ia hanya menggunakan bedak padat dan lipstik warna natural.
Tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit. Mereka saling memandang lalu membalas senyum lewat kaca. Lira mengisap lembut wajah tampan suaminya yang telah rapi dengan baju koko putih dan kain bahan berwana hitam.
"Masya Allah, bunda cantik banget sih. Tiap hari semakin bertambah kadar kecantikannya," ucap Reza sambil mengecup pipi Lira dari samping disertai usapan lembut di perut buncitnya.
"Terima kasih mas, pujiannya," sahut Lira sambil terkekeh geli.
"Sama-sama, sayang. Semoga bunda sehat selalu sampe lahiran ya."
"Aamiin," Lira mengaminkan. "Mas udah siap?"
"Udah dong, sayang. Gak liat nih, mas udah ganteng membahana kayak gini?" Sahut Reza dengan mengusap rambutnya ke belakang menggunakan jari sambil menaikturunkan alisnya.
"Astaga, kirain narsisnya udah ilang karena mau punya anak tiga. Tahunya malah tambah parah," gumam Lira sambil tersenyum geli. "Terus mas gak ke bawah buat liat persiapan, udah beres apa belum?"
"Tadi mas udah dari bawah sayang. Alhamdulillah, persiapan udah beres semua. Mas tinggal bantuin si kakak sama adek di kamar. Kayaknya si kakak udah gak sabar deh buat pake baju barunya. Mas heran, padahal di lemarinya juga banyak gamis baru."
"Iya juga ya. Udah yuk, gak kelar-kelar kalo kita bahas si kakak yang super gemesin itu."
"Iya gemesin karena anak Lira," ucap Lira sambil mengedipkan matanya.
"Eh, kata siapa?" sahut Reza cepat, tak terima. "Itu juga anak mas. Kalo gak ada benih premium dari mas, mana mungkin hasilnya bisa super begitu," lanjutnya membanggakan diri.
Lira langsung tertawa renyah. "Ya ampun mas, narsis banget sih."
"Ini bukan narsis sayang, tapi kenyataan. Denger ya, KE-NYA-TAAN,"
"Iya mas, iya. Terserah mas aja."
"Eh, kok kedengarannya kayak gak ikhlas gitu sih sayang?"
"Bukan gak ikhlas mas, tapi ini udah jam berapa? Kalo kita bahas ini terus, gak bakal selesai-selesai. Mas mau si kakak dateng ke sini sambil ngomel-ngomel."
"Iya juga ya. Bisa budeg telinga mas dengerin kakak ngomel gak berhenti," mereka berdua langsung terkekeh geli.
Tanpa mereka sadari, ternyata Inas sudah berdiri sejak tadi di depan pintu kamar orang tuanya dengan tangan terlipat di perut dan bibir yang mengerucut lucu.
"Papa sama bunda lagi gosipin kakak ya?"
Reza dan Lira langsung terkejut dan menoleh ke sumber suara, kemudian mereka saling memandang.
"Kakak, sejak kapan di situ sayang?" tanya Reza menghampiri Inas yang masih memasang wajah cemberut.
"Sejak papa bilang telinga papa bisa budeg kalo dengelin kakak ngomel-ngomel."
Reza langsung tersenyum dan menggendong tubuh gempal Inas. "Tadi papa sama bunda cuma becanda, sayang. Mana mungkin prinsesnya papa yang cantik ini bisa bikin telinga papa budeg."
"Tapi tadi kakak dengel sendili papa ngomong gitu," wajah Inas masih cemberut.
__ADS_1
"Ya udah, papa minta maaf ya sayang. Papa usahain gak ngomong gitu lagi. Inget ya, papa usahain. Kalo kakak masih suka ngomel, berarti nama kakak papa ganti jadi putri ngomel aja."
"Gak mau," sahut Inas cepat. "Nanti kakak gak imut lagi, telus gak cantik lagi kayak bunda," lanjutnya dengan wajah yang menggemaskan. Lira dan Reza langsung tertawa bersama. Menggoda Inas adalah hal yang menyenangkan bagi mereka.
Untuk membujuk Inas agar tak cemberut lagi, Reza mengambil jurus jitu dengan menawarkan diri untuk mendandani putri kesayangannya. Benar saja, Inas langsung setuju dan kembali ceria.
Inas mulai memakai gamis putih yang dipilihkan secara khusus oleh eyangnya. Dengan gaya khas anak-anak, Inas berputar-putar di depan kaca untuk memastikan, penampilannya sudah sempurna atau belum.
Berbeda dengan Inas, Haidar justru masih terlihat mengantik saat dipakaikan baju oleh Lira. Haidar terlihat beberapa kali menguap lebar dengan mata yang memerah dan berair.
"Adek masih ngantuk ya sayang?" tanya Lira tersenyum geli melihat wajah mengantuk putranya.
"Ade nda nantut, unda. Ade tuma menuap."
"Kalo adek ngantuk, nanti duduknya sama papa aja ya,"
"Nda mau. Ade mau tama unda."
"Ya udah, gak papa sayang. Nanti adek duduknya sama bunda, kakak sama papa," Reza ikut menimpali.
πΈπΈπΈπΈ
Acara tasyakuran empat bulan kehamilan Lira berlangsung dengan hikmat. Banyaknya tamu undangan yang hadir. Mulai dari tetangga rumah serta sahabat-sahabat dekat saja yang hadir, tapi keluarga besar Reza yang datang dari berbagai kota juga datang secara khusus untuk ikut mendoakan kehamilan Lira. Tak lupa juga para anak-anak yatim ikut hadir di sana.
Suasana tasyakuran begitu khikmad terasa. Lira tak sanggup menahan air matanya melihat acara tasyakurannya yang dibuat begitu meriah oleh sang mertua. Reza menggenggam tangan Lira dengan lembut sembari tersenyum lalu membisikkan kalimat mesra di telinganya.
"I love you, bidadariku."
Lira langsung tersenyum dengan air mata haru yang masih mengalir di pipinya. Reza mengusap pipi Lira dengan lembut. Sedangkan Inas dan Haidar yang berada di pangkuan mereka terlihat begitu tenang tanpa terganggu sama sekali.
Untaian doa pun diucapkan dengan penuh keikhlasan hati. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembagian amplop dan bingkisan untuk anak-anak panti asuhan. Inas, Haidar, Riri dan Farel juga ikut membagikan amplop dan bingkisan untuk teman-teman baru mereka. Barulah kemudian masuk ke acara makan-makan bersama.
Seluruh tamu undangan terlihat begitu menikmati hidangan yang disediakan. Inas duduk bersama Riri dan Farel yang berada dekat dengan ayah mereka masing-masing. Sedangkan Haidar duduk di dekat neneknya, yang datang dari kampung dua hari sebelum acara dimulai. Indah datang bersama kedua adik angkat Lira dan dijemput langsung oleh anak buah Reza.
Usai acara makan bersama selesai, sebagian para tamu undangan langsung berpamitan pulang sementara yang lainnya memilih duduk bersantai sambil mengobrol hangat satu sama lain. Termasuk anak-anak panti juga enggan untuk pulang karena mereka masih asik bermain di halaman belakang rumah. Mereka begitu menikmati fasilitas permainan lengkap khusus anak-anak yang ada di rumah Martin.
"Inas, masih gak sama Om Adam?" tanya salah satu saudara sepupu Reza yang datang dari Semarang.
"Jangan panggil Inas, tapi panggil kakak kalna aku punya adik," jawab Inas dengan wajah cemberut.
"Kakak, gak boleh gitu sayang. Itu gak sopan," tegur Reza lembut dan Inas pun mengangguk.
Reza sangat faham akan sifat putrinya yang tak suka dipanggil namanya. Menurut Inas, sebagai anak pertama tentu harus dipanggil dengan sebutan kakak agar lebih sopan.
"Gak papa, Za. Dia kan masih kecil, jadi belum ngerti,"
"Kakak ngelti kok. Makanya kakak mau minta maaf," timpal Inas cepat. " Maafin kakak ya om, kalna udah gak sopan sama om," lanjut Inas dengan tulus.
"Iya, gak papa."
"Pinter banget anak Lo, Za. Udah gitu, cantik dan sopan lagi. Hebat ya Lo," puji saudara Reza yang lainnya.
"Alhamdulillah. Siapa dulu dong ayahnya?" sahut Reza menyombongkan diri lalu mendapat sorakan dari para saudara sepupunya.
Ya, saat ini mereka tengah berkumpul bersama di ruang keluarga sambil menikmati momen bahagia yang sangat jarang terjadi. Hampir semua keluarga dari pihak Martin maupun Irma turut hadir di sana.
"Kata papa, kita gak boleh sombong?" ucap Inas polos.
"Bener tuh, Za. Gak boleh sombong jadi orang," sahut Adam ikut mengompori agar Reza merasa terpojok di depan anaknya.
"Itu bukan sombong sayang, tapi membanggakan diri," jawab Reza membela diri.
Semua keluarga serta sahabat yang ada di situ hanya menggelengkan kepala melihat sikap Reza yang begitu hangat jika bersama keluarga kecilnya terutama anak-anaknya.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung......π
__ADS_1