
Martin sedang sibuk membaca koran langsung dikejutkan dengan bunyi getaran dari ponselnya yang berada di atas meja.
Dililihatnya nomor baru yang tertera di layar ponsel, kemudian diletakkannya kembali tanpa menghiraukan panggilan itu.
Martin kembali membaca koran yang sempat tertunda. Lagi-lagi ponselnya bergetar, kali ini Martin benar-benar terganggu dibuatnya.
drt....drt...drt...
Martin mengambil ponsel nya yang berada di atas meja itu, lalu menekan tombol hijau pada layar.
π"Halo, Assalamu'alaykum?" Suara Martin terdengar dingin dan tegas.
π"I-iya halo, Wa'alaykumussalam. Apa betul ini nomor Tuan Martin?" Tanya Lira.
Mendengar suara wanita, seketika itu juga Martin tersenyum puas. Dia tahu siapa yang sedang menelponnya sekarang.
π"Iya, betul. Maaf dengan siapa saya bicara?" Tanya Martin pura-pura tidak tahu.
π"Hmmm...sa-saya Lira, Tuan!" Jawab Lira gugup.
π"Oh! Nak Lira. Gimana-gimana, ada yang bisa om bantu?" Martin basa-basi.
Sebenarnya Martin sudah tahu tujuan Lira menelponnya, karena anak buahnya sudah lebih dulu mengabarkan tentang kondisi ibu Lira yang sedang berada di rumah sakit. Martin juga tahu, jika saat ini Lira membutuhkan uang untuk biaya operasi ibunya. Hanya saja, Martin ingin melihat sejauh mana Lira bertahan dengan pendiriannya.
π"Maaf kalo Lira sudah ganggu waktu berharga tuan.
π "Panggil Om saja Nak Lira . Gak usah panggil tuan." Pinta Martin. "Oh iya, Nak Lira mau ngomong apa sama om?"
π" Baik! Hmm....O-om, Lira bisa minta tolong gak sama om? Kan dulu om pernah bilang kalo Lira boleh datang sama om, kalo butuh bantuan." Lira mencoba mengingatkan. Padahal tanpa Lira ingatkan pun Martin tidak akan lupa.
π"Iya betul. Apa yang om bisa bantu?"
Lira sangat senang mendengar pertanyaan Martin. Setidaknya, ada harapan untuknya saat ini. Walau harus mengorbankan harga dirinya.
π"Lira mau pinjam uang untuk biaya operasi ibu di kampung." Jawab Lira menahan malu.
πBaik. Kita ketemu di restoran tempo hari, gimana?" Tawar Martin.
Lira mengernyitkan dahinya bingung.
π"Kenapa harus ketemu di restoran, om?"
Lira tidak ingin kembali ke restoran itu karena takut kejadian dirinya dihina akan terulang lagi.
π"Ya gak papa, biar lebih enak saja ngobrolnya. Gimana? Tapi kalau Nak Lira gak mau, ya gak masalah." Martin sengaja membuat Lira bimbang dengan pilihannya.
π"Baiklah, Lira setuju om." Jawab Lira pasrah.
__ADS_1
π"*Oke! Kalau begitu 2 jam lagi kita di restoran."
π"Baik. Terima kasih sebelumnya, om. Assalamu'alaykum*?" Ucap Lira tulus.
π"Sama-sama. Wa'alaykumussalam."
Tut...Tut..Tut...
Telepon terputus. Martin sangat senang, karena ini akan menjadi kesempatan emas baginya. Martin akan memanfaatkan kesempatan untuk membuat Lira mau menerima tawarannya menikah dengan Reza
Walaupun terdengar jahat, namun Martin tak punya pilihan.
πΈπΈπΈ
Usai berbicara dengan Lira, Martin segera ke kamar untuk bersiap-siap. Padahal dia masih punya waktu dua jam. Entah karena senang atau mungkin tak ingin datang terlambat seperti tempo hari, yang mengakibatkan Lira mendapat hinaan dari security restoran. Martin benar-benar ingin mengindari hal itu agar tidak terulang kembali.
Martin berjalan dengan sedikit terburu-buru. Namun, saat Martin melewati ruang tengah, tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh Reza yang kebetulan sedang berada di ruang tengah bersama Irma.
"Papah kenapa? Kok buru-buru banget?"
"Eh, gak papa kok. Papah cuma ada urusan sebentar di luar."
"Papah ada urusan apa di hari libur begini?" Kali ini Irma yang bertanya. Karena tidak biasanya Martin keluar di saat ia sedang libur. Martin lebih suka menghabiskan waktunya di rumah sambil membaca koran atau sekedar berkumpul bersama keluarga.
"Papah mau ketemu teman lama, Ma? Cuma bentar kok, gak lama."
"Teman papah yang mana? Kenapa gak diajak aja ke rumah? Terus kenapa mama gak diajak?" Tanya Irma curiga.
Martin benar-benar dibuat bingung oleh pertanyaan istrinya itu. Martin tahu betul bagaimana sifat istrinya. Walaupun terlihat sangat lembut, namun Irma sangat pencemburu dan posesif.
"Papah cuma mau ngobrol ringan sebentar aja kok, ma! Habis itu papah langsung pulang." Martin mencoba meyakinkan Irma.
Mendengar jawaban Martin, akhirnya Irma mengalah. Irma merasa jika suaminya itu memang membutuhukan waktu untuk dirinya sendiri.
"Baiklah. Tapi papah hati-hati, ya?"
Martin merasa lega. "Iya sayang. Ya udah, papah pergi dulu ya. Takut kena macet." Martin mencium kening istrinya.
"Hmmm." Irma tersenyum.
πΈπΈπΈπΈ
Reza merasa curiga dengan tingkah ayahnya. Reza merasa Ini bukan kebiasaan ayahnya yang mengorbankan waktu liburnya hanya untuk bertemu teman lama, apalagi itu dilakukan di luar rumah.
Reza langsung menghubungi anak buahnya untuk membuntuti ayahnya.
π"Ikuti kemana papah saya pergi. Laporkan ke saya, dengan siapa dia bertemu!" Perintah Reza pada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban, Reza langsung memutuskan panggilan.
"*Maaf Pah, bukannya Reza gak percaya sama papah. Reza cuma curiga aja, karena tingkah papah keliatan mencurigakan. Reza takut papah bermain api dan membuat mama jadi sakit hati." Gumam Reza.
πΈπΈπΈπΈ*
Martin tiba di restoran lebih awal dari waktu yang telah ia janjikan. Sambil menunggu Lira datang, Martin memesan minuman lebih dulu.
Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya Lira tiba dengan sedikit tergesa-gesa. Lira merasa tidak enak karena Martin telah tiba lebih dulu dan menunggunya.
Di samping itu juga, Lira merasa lega karena apa yang ia takutkan tidak terjadi.
"Maaf, Lira telat om." Ucap Lira sambil menarik kursi di hadapan Martin.
"Tidak apa-apa. Om juga belum lama sampai." Ucap Martin santai sambil tersenyum. "Nak Lira mau pesan minum apa?" Martin mencoba mencairkan suasana agar Lira tidak merasa canggung.
"Gak usah repot-repot om." Tolak Lira halus.
"Gak papa. Masak Om minum, Nak Lira gak!" Martin sedikit bercanda.
"Kalo gitu, Lira jus jeruk aja." Jawab Lira malu-malu.
Kemudian Martin memanggil pelayan, lalu memesan jus untuk Lira.
Melihat Lira yang terus tertunduk, Martin lalu membuka percakapan.
"Ehem.." Martin berdehem pelan.
"Nak Lira mau pinjam uang berapa?" Tanya Martin to the point.
Lira tersentak langsung mengangkat wajahnya menatap Martin.
"Hmmm....Lira mau pinjam 50 juta, Om. Tapi Lira bayarnya nyicil." Ucap Lira sambil terus meremas tangannya yang sudah berkeringat sejak tadi.
"Baik! Saya akan transfer sekarang ke rekening Nak Lira. Tapi ada syaratnya."
Wajah Lira yang tadinya sangat senang langsung berubah menjadi bingung.
"Apa syaratnya, Om?"
"Syaratnya, Nak Lira harus menikah dengan anak, Om."
Jdeeerrr...
Lira sangat terkejut, bagai petir di siang bolong, ucapan Martin benar-benar menusuk relung hatinya.
Seperti inikah topeng orang kaya? Selalu memanfaatkan kelemahan orang lemah seperti Lira. Di saat Lira membutuhkan pertolongan, hanya Martin yang menjadi satu-satunya harapan, kini justru dimanfaatkan oleh situasi.
__ADS_1