Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 84


__ADS_3

Selamat membaca🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Sore menjelang. Seluruh penghuni rumah baru itu telah selesai membersihkan diri. Reza dan ayahnya juga telah bersiap-siap untuk menuju masjid yang berada tepat di depan rumah Lira.


Sungguh pemandangan yang menyejukkan bagi Lira ketika melihat sang suami mengenakan baju koko juga sarung. Ketampanan Reza semakin bertambah menjadi berkali-kali lipat menurut Lira.


Reza menyadari tatapan memuja dari sang istri di sertai senyum mengembang indah di wajah cantiknya. Reza sadar jika istrinya sedang terpukau padanya, tapi Reza pura-pura tak peduli.


"Sayang, kok ngeliat mas sampe segitunya?"


Lira yang telah tertangkap basah sedang memandang suaminya dengan tatapan memuja, langsung menjadi malu. Wajah memerah bak kepiting rebus. Reza melihat wajah malu istrinya menjadi gemas sendiri.


"Sayang gemesin banget sih, kalo lagi malu kayak gini."


Dicubitnya dengan gemas kedua pipi Lira yang chubby hingga membuat Lira meringis kesakitan.


"Mas, sakit." Rengek Lira manja.


"Maaf, sayang. Habisnya, sayang gemesin banget sih." Jawab Reza santai tak menghiraukan keluhan Lira. "Sayang belum jawab pertanyaan mas tadi." Lanjut Reza.


"Pertanyaan apa, mas." Tanya Lira pura-pura lupa.


"Ck! Sayang gak usah pura-pura."


Reza mulai memeluk erat tubuh mungil istrinya yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta dan sayang padanya.


"Mas, lepasin Lira."


"Gak akan mas lepasin, sebelum sayang jawab pertanyaan mas." Kekeh Reza sambil mengeratkan pelukannya.


"Tapi ini udah mau Maghrib, ma. Ntar mas telat lho ke masjidnya. Papa juga udah nungguin mas di bawah."

__ADS_1


"Ok, kali ini mas lepasin sayang. Tapi nanti balik dari masjid, gak akan mas lepasin." Ancam Reza dengan senyum misterius di wajahnya.


Setelah perdebatan singkat di antara mereka, akhirnya Reza melepaskan Lira karena adzan maghrib telah berkumandang dan sang ayah juga telah menunggu Reza di ruang tamu untuk pergi ke masjid bersama-sama. Untuk sementara, Lira bisa bernafas lega saat melihat Reza keluar dari kamar. Namun, ia tak bisa menjamin bisa lepas saat menjelang tidur nanti, karena sudah bisa di pastikan jika Reza akan mengganggunya dan tak membiarkannya tidur dengan tenang.


🌸🌸🌸🌸


Usai menjalankan sholat maghrib berjamaah di masjid, Reza dan ayahnya langsung pulang ke rumah. Sebelumnya Reza telah mengundang para jamaah di masjid untuk datang ke rumah mertuanya esok hari tepat setelah sholat ashar.


Saat memasuki rumah, suasana sangat sepi karena para wanita sedang sholat berjamaah. Memasuki ruang keluarga, Reza melihat putrinya sedang bermain boneka sendiri tanpa ada yang mengawasi. Seketika itu juga rahang Reza langsung mengeras menahan marah. Bagaimana bisa Lira bisa seceroboh ini meninggalkan putrinya bermain sendirian seperti ini? Pikir Reza.


Martin menyadari perubahan wajah Reza, langsung segera mengingatkan untuk menahan emosinya. Martin tak ingin Reza kembali melakukan kesalahan fatal karena tidak mampu mengontrol emosinya. Mendengar nasihat ayahnya, Reza langsung segera beristighfar.


"Adek mainnya sendiri ya?" Reza menggendong Inas yang masih sibuk sendiri.


"Papa-papa-papa." Celoteh Inas sambil menunjukkan bonekanya ke arah ayahnya.


"Iya, sayang. Bonekanya baru, ya. Kemarin dibeliin sama kakek. Adek suka gak?"


Lira sudah sering mengingatkan suami serta kedua mertuanya agar tidak terlalu memanjakan Inas, tapi lagi-lagi Lira dibuat bungkam oleh jawaban yang keluar dari mulut mertuanya. Alasannya, Inas adalah cucu pertama di keluarga mereka yang sudah lama dinantikan kehadirannya, sudah tentu mereka sangat menyayangi dan memanjakannya.


Tak tanggung-tanggung, Inas bahkan sudah mendapat saham di rumah sakit miliki keluarga Reza yang diberikan oleh Martin. Tak hanya itu saja, hotel serta usaha lain juga telah disiapkan untuk Inas. Jika sudah begitu,


Lira tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan mertuanya.


🌸🌸🌸🌸


Lira yang masih menjalankan sholat berjamaah bersama ibu dan mertua serta kedua asisten rumahnya, tentu tak mengetahui jika suaminya telah pulang dari masjid. Usai sholat dan tanpa melepas kerudungnya, Lira segera menghampiri anaknya di ruang tengah yang ternyata sudah berada di atas pangkuan ayahnya.


"Mas sama papa udah dari tadi pulangnya?" Tanya Lira langsung menyium punggung tangan suami dan mertuanya.


Reza hanya berdehem sambil memasang wajah datar saat menjawab pertanyaan Lira. Reza memilih bermain dengan putrinya daripada harus menanggapi pertanyaan istrinya. Melihat hal itu, Martin langsung menjawab lalu mengalihkan perhatian dengan menanyakan keberadaan sang istri yang jelas ia sudah tahu di mana berada.


"Iya, nak. Kita baru aja tiba. Mama kemana, nak?" Tanya Martin.

__ADS_1


"Mama sama ibu masih di kamar, pa. Lagi ngaji bareng." Jawab Lira.


Benar saja, saat hendak menghampiri Inas, Lira sempat melihat kedua ibunya sedang membuka Al-Qur'an. Sementara kedua asistennya juga sudah lebih dulu meninggalkan kamar menuju dapur untuk menyiapkan makanan malam.


"Oh, gitu. Ya udah, kalo gitu papa ke kamar dulu ya."


Martin langsung berjalan menuju kamar untuk memberi waktu pada Reza dan Lira menyelesaikan urusan di antara mereka.


Melihat sikap Reza yang mendadak berubah menjadi dingin dan mengacuhkan kehadirannya dengan sibuk bermain bersama putrinya, Lira langsung menghampiri Reza. Lira sadar jika perubahan sikap Reza itu karena keteledorannya yang meninggalkan putrinya bermain sendiri di rumah keluarga tanpa adanya pengawasan. Sebenarnya sebelum sholat, Lira sudah membawa serta putrinya masuk ke dalam kamar Indah. Namun, bocah menggemaskan itu terus saja merengek minta keluar dari kamar. Akhirnya dengan terpaksa, Lira membiarkan Inas bermain sendiri di ruang keluarga.


"Mas, sini biar Lira yang gendong adek. Mas ganti baju aja dulu. Atau mas mau nunggu isya sekalian?"


"Gak usah, nanti aja." Jawab Reza dingin.


"Mas, maaf. Lira sadar kalo Lira salah. Lira teledor karena udah ngebiarin si adek main sendiri. Tadi sebelum sholat, Lira udah ngajak adek main di kamar terus Lira kunci pintunya, tapi mas tahu sendiri kalo adek anak aktif banget dan gak mau diem." Jelas dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.


"Tapi harusnya sayang biarin aja adek nangis, daripada dia main sendiri. Kalo sampe adek kenapa-napa, gimana? Untung tadi mas pulangnya cepet, kalo gak?" Ucap Reza dengan menekan suaranya, sambil menahan emosi.


Tak bisa Reza pungkiri, ada rasa khawatir saat melihat putrinya ditinggal seorang diri dengan keadaan pintu tidak terkunci. Untung saja mereka sedang berada di kampung yang tentu saja ancaman penculikan sangatlah kecil kemungkinannya jika di bandingkan dengan di kota.


"Maaf, mas. Lira janji hal ini gak terjadi lagi." Ucap Lira penuh sesal.


"Iya, sayang. Mas juga minta maaf udah bersikap dingin pada sayang."


Reza merangkul bahu Lira lalu mengecup keningnya dengan lembut. Reza juga mengecup kening putrinya yang masih berada di pangkuannya.


Martin tersenyum dari balik pintu saat melihat perubahan besar pada putranya yang mampu mengendalikan emosinya. Kehadiran Lira sungguh membawa pengaruh besar pada hidup seorang Reza.


Martin berharap, rumah tangga putranya selalu baik-baik saja tanpa ada gangguan apapun. Semoga mereka mampu menghadapi segala rintangan yang tentu saja akan selalu datang menghantam rumah tangga putranya.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2