Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 37


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Doni kembali bergabung bersama Reza dan Afika, setelah cukup lama ia membersihkan kemejanya di toilet. Ia duduk dengan santai sambil tersenyum ke arah kekasihnya yang juga tersenyum padanya, seolah tak terjadi apa-apa antara ia dan Reza.


Doni heran melihat Reza yang belum memesan makanan, dan bahkan posisi duduknya belum berubah sejak tadi. "Lo gak pesen makan? Katanya tadi Lo laper banget. "


"Gak, tiba-tiba selera makan gue ilang." jawabnya ketus.


"Idih, ngambek." Ucap Doni sambil tersenyum mengejek. "Oke, nanti gue temenin deh!" Jika sudah begini, Doni tahu apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan mood Reza.


Reza tersenyum miring mendengar tawaran Doni. "Terus, cewek Lo mau di kemanain?"


Doni langsung melihat ke arah kekasihnya yang masih diam menyaksikan percakapannya bersama Reza. "Sayang, gak papa kan aku pergi bareng Reza? Gak lama kok. Tapi sebelumnya, aku anterin kamu pulang dulu."


Afika tersenyum masam. "Iya, gak papa." Jawabnya singkat, memaksakan senyumnya.


Afika merasa kesal pada Reza yang selalu merusak momennya bersama Doni. Jika sudah begini, Afika tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Doni pergi bersama Reza. Afika lebih memilih mundur daripada rahasia besarnya terbongkar. Ia jelas takut pada ancaman Reza padanya.


Usai mengantarkan Afika pulang, Doni langsung menuju tempat yang telah ditentukan Reza. Di mana lagi kalau bukan di kafe langganan mereka. Hanya kafe itulah yang menjadi tempat ternyaman untuk mereka berdua.


Doni memasuki kafe dan langsung menuju meja di mana Reza sedang menikmati makan malamnya. Doni menjatuhkan bokongnya di kursi depan Reza.


"Bro, kenapa Lo ninggalin Lira sendirian di rumah?" Doni membuka percakapan setelah Reza menyelesaikan makannya.


Reza mendengus kesal mendengar Doni selalu menanyakan Lira. "Kenapa sih, setiap ketemu gue, yang Lo tanyain selalu wanita itu? Segitu pedulinya Lo sama dia." Kesal Reza sambil menatap Doni tajam.


"Ya gak, gue cuma kasian aja sama dia. Sejak pembantu rumah Lo pada pulang kampung, Lo selalu keluar rumah sendiri. Gak tahu bini Lo udah makan apa belum."


"Terus kalo dia belum makan, gue peduli? Ya, gak lah."

__ADS_1


"Ckk, gue yakin pasti suatu saat Lo bakal nyesel." Ucap Doni geram.


"Gak bakal. Gue gak bakal nyesel." Reza merasa yakin dengan ucapannya.


Doni tak menghiraukan ocehan Reza. "Bro, gue ikut pulang ya ke rumah Lo, ya!"pintanya setelah situasi kembali aman. Doni ingin memastikan keadaan Lira.


"Tumben Lo mau ikut gue pulang? Biasanya Lo langsung cabut buat ketemuan sama si cewek gak jelas itu." Reza tersenyum sinis.


"Afika bro, namanya Afika. Dia cewek gue, kalo Lo lupa."


"Terserah Lo."


"Kenapa sih, kayaknya lo benci banget sama cewek gue? Ini pertanyaan yang udah sering gue tanyain, tahu gak?" Doni ingin sekali mendengar alasan Reza membenci Afika, karena hingga saat ini Reza belum mau menjelaskan alasannya.


"Nanti juga Lo bakal tahu sendiri, karena kalo gue yang cerita juga Lo gak bakal percaya."


"Cih, jawaban Lo selalu aja sama setiap gue nanya soal ini." Doni menggerutu


🌸🌸🌸🌸


Lira mencoba memejamkan matanya, namun ia gagal karena perutnya terus berbunyi nyaring. Ia lalu duduk sambil memegang perutnya. Sesekali ia juga mengipas wajahnya yang kepanasan. Di kamarnya tak ada kipas angin, hanya ada fentilasi kecil untuk memberi cela agar angin dapat masuk ke dalam. Namun, tetap saja Lira merasa gerah, tubuhnya berkeringat. Ia mencari potongan kardus yang dapat dijadikan kipas manual.


Lira ingin ke dapur mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut kosongnya, tapi ia takut jika nanti harus bertemu Reza dan ia akan kembali dituduh sebagai pencuri. Lira juga sudaj berjanji tak akan mengambil makanan lagi tanpa izin dari Reza.


🌸🌸🌸🌸


Tiba di rumah, Reza lalu membuka pintu dan Doni langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Reza menyilakannya masuk. Reza tak ambil pusing, karena itu sudah menjadi kebiasaan Doni jika sedang main ke rumah Reza. Beberapa menit kemudian, Reza baru sadar ternyata Doni juga membawa bungkusan yang berisi makanan yang ia pesan di kafe tadi.


"Lo laper lagi bro? Yang bener aja, Lo kan baru habis makan tadi." Reza menyerngitkan dahinya, tak mungkin Doni lapar lagi, sementara tadi saat di restoran ia sudah makan cukup banyak.


"Sorry bro, ini bukan buat gue, tapi ini gue pesen khusus buat adek gue." Jawab Doni sambil mencari keberadaan Lira.

__ADS_1


"Adik?" Reza masih belum paham mendengar jawaban ambigu Doni.


"Itu, maksud gue bini Lo." Jawab Doni menyengir kuda.


"Ngapain Lo beliin cewek kampung itu makanan?" Lagi-lagi Reza terbawa emosi. Saat ia tak peduli pada Lira, justru sahabat sendiri yang peduli pada Lira dan bahkan terkesan sangat perhatian.


"Ya, karena gue yakin aja kalo Lira pasti belum makan malem. Kebetulan gue ke sini, jadi sekalian aja gue bawain makanan."


"Lo taruh aja di situ, nanti biar gue yang ngasih ke dia. Lo pulang aja sana, gue mau istirahat."


"Eiitss, gak bisa gitu dong. Gue harus ngasih sendiri ke dia dan mastiin kalo dia bener-bener makan ." Doni tetap kekeh ingin bertemu Lira.


Tak lama Lira keluar karena mendengar suara gaduh di ruang tamu. Ia tak mengetahui jika Reza dan Doni sedang ribut membahasnya. Doni langsung tersenyum senang melihat Lira yang sudah berdiri mematung di dekat guci besar berwana emas bercampur putih yang bertengger indah di dekat ruang tamu.


Doni menghampiri lalu menyodorkan bungkusan berisikan makanan dengan porsi yang cukup besar. Lira tak berani menerima karena Reza terus menatapnya dengan tajam sambil mengeraskan rahanganya. Doni sadar jika Reza sedang menatap Lira, lalu ia balik menatap Reza.


"Lo kenapa bro? Tenang, gue gak bakal rebut dia dari Lo, kok. Gue cuma mau ngasih makanan aja, sebagai tanda kalo dia emang udah jadi adek gue." Doni masih terlihat santai menanggapi tatapan tajam Reza. "Ayo dek diterima, aku tahu kamu pasti belum makan malam kan? Reza juga gak bakal marah kok " Doni terus memaksa menyodorkan bungkusan itu. Ia ingin meraih tangan Lira, namun ia tahu wanita seperti Lira sudah pasti tak suka jika tangannya disentuh oleh laki-laki lain yang bukan mahramnya.


Lira tersenyum manis menerima bungkusan yang sejak tadi Doni sodorkan padanya. Ia tak peduli lagi jika nanti Reza akan marah padanya. Yang terpenting sekarang, ia bisa mengisi perut kosongnya. Lira hendak pergi menuju kamarnya, namun langkahnya langsung dihentikan Doni.


"Kamu mau ke mana, dek?"


"Lira mau ke belakang, mas."


"Oh, mau ngambil piring sama sendok ya? Udah gak usah, di dalam situ udah ada sendoknya kok."


Lira membuka bungkusan itu dan benar saja, ada sendok plastik berwarna putih di dalamnya. Makanan yang Doni bawa malam ini sangat menggugah perut kosong Lira yang sejak tadi sudah meronta. Menunya juga komplit, ada dua potong ayam goreng lalapan berukuran jumbo plus sambal terasi dan sayur sup kesukaan Lira. Entah apa alasan Doni membelikan makanan cukup banyak untuk Lira, yang pasti makanan itu tak akan ia habiskan malam ini, ia akan menyimpannya untuk sarapannya besok pagi.


Tanpa menunggu lama, Lira langsung menyantap makanan itu tanpa menghiraukan tatapan melongo Doni. Sudah bisa dipastikan jika Reza memang sengaja membuat Lira kelaparan. Hati Doni seperti tersayat melihat Lira yang begitu menyedihkan. Keputusannya untuk ke rumah Reza sudah tepat. Andai saja ia tak datang, sudah pasti Lira akan melewati malamnya denga perut kosong.


Sementara Reza terus mengeraskan rahangnya dan menatap tajam Lira yang terlihat akrab dengan Doni. Bahkan Lira tak segan menyebut Doni dengan kata mas.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Bersambung .....


__ADS_2