Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 122


__ADS_3

"Dan Allah telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah kepada selainNYA, dan hendaknya kamu berbuat baik kepada orangtuamu. Jika salah seorang diantara keduanya atau dua-duanya hidup sampai usianya lanjut, maka janganlah sekali-kali mengatakan kepada mereka ucapan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang" (QS. Surat Al-Isra’ 23 – 24).


Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Reza tiba di rumahnya sedikit terlambat dari waktu yang sudah ia perkirakan. Kemacetan jalan raya, membuatnya harus mampir terlebih dahulu ke sebuah masjid untuk bisa melaksanakan sholat Maghrib.


Usai memberi salam, Reza masuk ke dalam rumahnya dan langsung mencari keberadaan anak dan istrinya di kamar. Lira yang baru saja selesai melaksanakan sholat maghrib, dikejutkan oleh sebuah tangan kekar yang tiba-tiba saja memeluknya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Reza yang datang langsung memasang wajah bahagianya.


"Assalamu'alaikum, sayang."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Mas seneng banget sih bikin Lira kaget." Ucap Lira sambil menyium punggung tangan Reza. "Mas udah sholat?"


"Hehe, maaf. Udah sayang, tadi pas lagi di jalan mas sama Arman mampir dulu ke masjid." Sahutnya lembut. "Si kakak, di mana sayang?"


"Lagi main sama Farel di kamar Bela. Reza mengangguk lalu melepaskan pakainnya untuk segera membersihkan diri. "Lira siapin air hangat untuk mas mandi, ya."


"Gak usah, sayang. Mas bisa sendiri." Tolaknya halus.


Semenjak kehamilan Lira semakin bertambah besar, tingkat protektif Reza juga semakin bertambah dan bahkan sangat berlebihan. Reza selalu melarang Lira untuk ke kamar mandi seorang diri tanpa adanya pendapingan darinya. Seperti saat ini, Lira ingin menyiapkan air hangat untuk ia mandi, tapi lagi-lagi Reza melarangnya. Terkadang, Lira merasa jengah dengan sikap posesif dan protektif suaminya. Lira juga ingin sekali protes, namun ia sadar jika suaminya sangat tak suka dibantah. Akhirnya, Lira hanya bisa menerima semua perlakuan suaminya. Toh, juga semua yang dilakukan suaminya adalah demi kebaikannya.


"Pesenen sayang, mas taroh di meja makan ya. Tapi, sayang gak boleh ke bawah sebelum mas selesai mandi. Oke!" Titahnya sambil tersenyum.


"Iya mas, iya. Lira tunggu di sini."


Sekitar lima belas menit, Reza telah menyelesaikan kegiatan mandinya lalu menghampiri istrinya yang sedang berdiri memandangi foto pernikahannya yang diletakan ke dalam bingkai berwarna emas, dengan ukuran yang cukup besar dan menghadap langsung ke arah tempat tidur.


"Lagi ngapain sih, sayang? Serius banget!" Tanya Reza saat ia memeluk tubuh Lira dari belakang, sambil mengelus perut buncitnya dan meletakan dagunya tepat di atas kepala Lira.


"Lagi liat foto-foto nikahan kita." Sahutnya lembut. Lira mengelus lembut tangan Reza yang berada di atas perut buncitnya.


"Oh, itu. Perasaan sejak foto ini tiba, sayang gak pernah bosen liatnya."


Ya, sejak foto keluarga kecilnya yang berada di pelaminan itu tiba, Lira tak pernah bosan untuk melihat foto itu. Bahkan sebelum tidur pun, pasti Lira akan melihat foto pernikahannya. Dengan begitu, Lira tak akan berhenti untuk mengucap syukur atas segala kebahagiaan yang telah ia raih dalam hidupnya.


"Itu karena fotonya bagus banget, mas. Lira, suka banget sama semua yang ada di foto itu. Apalagi kalo liat senyum si kakak, lucu banget."


"Termasuk mas dong, sayang?" Tanya Reza sambil menarik turunkan alisnya, menggoda istrinya.


"Iya, termasuk mas. Lira sayang dan cinta banget sama mas." Jawab Lira tanpa malu dan ragu.

__ADS_1


Reza tentu merasa senang dan bahagia mendengar ungkapan perasaan istrinya yang terdengar begitu tulus. Reza memeluk tubuh mungil Lira dan mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya.


"Mas juga sayang dan cinta banget sama bunda. Terima kasih, sayang."


"Sama-sama, mas. Udah yuk, Lira kepengen banget makan nasi Padang yang mas beliin." Sahut Lira dengan melonggarkan pelukannya.


Lira menuju dapur dengan ditemani Reza. Setibanya di dapur, Reza dengan sigap menyiapkan makanan yang sudah ia beli disertai air minum sebagai pelengkap. Reza menemani sambil menatap intens wajah istrinya yang menikmati nasi Padang dengan sangat lahap. Reza terus menyunggingkan senyumnya. Hatinya merasa lega karena bisa mengabulkan keinginan istri yang selama ini sudah sangat ia nantikan.


Di awal kehamilannya, Lira tak pernah merasa mengidam hingga membuat Reza sempat merasa berkecil hati. Reza sempat berfikir, jika ini adalah salah satu balasan terhadap apa yang pernah ia lakukan pada Lira ketika mengandung Inas. Sekarang, momen itu sudah bisa ia rasakan. Raut bahagia terpancar jelas di wajah tampannya. Bahkan sejak memasuki rumah, Reza sudah tak sabar melihat istrinya memakan makanan yang sudah ia belikan dengan sepenuh hati.


"Mas kenapa liatin Lira kayak gitu? Mas mau makan ini juga?" Tanya Lira usai menelan makanannya.


"Gak, sayang. Mas cuma lagi seneng aja, liat sayang makannya lahap banget." Jawab Reza dengan mengusap lembut kepala Lira.


Lira hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Reza yang masih terus memandangnya dengan sangat dalam.


"Ehem." Dehem Irma saat memasuki dapur untuk mengecek makan malam, sudah siap atau belum.


Lira dan Reza langsung menoleh ke sumber suara. Lira langsung tertunduk malu saat bertatapan dengan mertuanya yang tersenyum padanya. Reza membalas senyum ibunya sambil memasang tampang jailnya.


"Maaf ya ma, Lira makan duluan. Soalnya dedek di perut udah minta makan." Ucap Lira tertunduk malu.


"Gak kemana-mana tapi kok, bikin kangen ya ma?"


Mendengar gombalan receh suaminya membuat Lira tersedak. Dengan cepat Reza menyodorkan segelas air pada Lira dan Lira meminumnya hingga tandas. Kemudian Lira menatap kesal Reza yang memasang tersenyum manis tanpa merasa bersalah padanya.


"Kamu ya Za, ngegombal gak liat situasi. Udah tahu istrinya lagi makan, malah dikasih gombal receh kayak gitu." Omel Irma sambil menggeleng kepala.


"Gak sengaja, ma. Maaf ya, sayang." Lira hanya mengangguk kecil. "Ayo, dimakan lagi sayang."


"Udah gak pengen. Mas aja yang abisin." Sahut Lira dengan wajah memelas.


"Lho, kok gitu! Ini masih banyak lho sayang."


"Gak mau, mas. Ini juga maunya si dedek yang pengen liat papanya makan sisa bundanya. " Rengek Lira manja.


"Ya udah deh. Demi dedek di perut, mas akan makan semuanya."


Reza menghabiskan semua sisa makanan Lira hingga piringnya benar-benar bersih tanpa sisa dan jijik sedikit pun. Setelah itu, mereka berpamitan pada Irma untuk kembali ke kamar.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Memasuki waktu akhir pekan, Reza mengajak seluruh keluarganya dan keluarga kecil Bela untuk menuju rumah yang sudah ia siapkan untuk Bela dan kuarganya tinggali. Rumah itu Reza beli atas saran dari ayahnya yang kebetulan mengenal baik sang pemilik rumah yang merupakan mantan pejabat tinggi Bank swasta yang pindah ke kampung asalnya, Jogja untuk menghabiskan masa tuanya di sana. Rumah itu juga masih berada di kompleks yang sama dengan rumah Martin dan letaknya hanya terhalang oleh tiga rumah saja, agar memudahkan Lira ketika ingin bertemu dengan Bela.


Sebenarnya, rumah mewah itu adalah rumah yang dahulu ingin Reza beli untuk ditinggali bersama keluarga kecilnya. Namun karena Reza adalah anak tunggal, jadi ia memutuskan menetap di rumah orang tuanya untuk menemani dan mengurus kedua orang tuanya. Reza merasa tak tega jika harus meninggalkan kedua orang tuanya di rumah besar tanpa adanya hiburan yaitu Inas, cucu yang sangat disayangi oleh kedua orang tua Reza.


Reza sangat menyanyangi kedua orang tuanya, jadi ia juga mengajak istrinya untuk ikut membantunya mengurus kedua orang tuanya. Reza sangat ingat betul dengan hadist yang pernah disampaikan oleh ustadz yang mengajarinya tentang agama. Bunyi hadistnya seperti berikut ini.


"Celaka seseorang itu(diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga” (HR Muslim No: 2551).


Imam Nawawi mengatakan: Hadits ini memotifasi seseorang untuk melakukan Birrul walidain (bakti kepada orang tua), dan menjelaskan besarnya pahalanya, maksudnya: berbakti kepada orang tua ketika mereka sudah sepuh dan “ditelan usia” dengan melayani mereka atau memberikan nafkah dsb, merupakan penyebab masuknya seseorang ke dalam surga” (Alminhaj).


Dan diantara keutamaan berbakti kepada orang tua menurut perkataan sebagian ulama kita; amalan ini dapat menggugurkan dosa-dosa besar, berkaca kepada keutamaan-keutamaan ini, maka orang yang diberi taufik oleh Allah untuk berbakti kepada orang tua seakan mendapat ghanimah yang sangat besar. 


Saat memasuki halaman rumah, mereka disuguhkan oleh pohon pemandangan yang menyegarkan mata. Ada pohon Cemara berukuran sedang , berjejer rapi menghadap jalan dan bunga-bunga indah berwarna-warni yang menghiasi taman.


Mereka semua masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam setelah pintu rumah dibuka lebar oleh Reza. Lagi-lagi Bela dan Arman dibuat takjub dengan interior rumah yang terlihat elegan dan mewah. Semua perabotan mewah terlihat di setiap sudut ruangan.


Bela dan Arman saling menatap satu sama lain, merasa tak enak hati atas rumah yang Reza berikan secara cuma-cuma pada mereka. Sementara Lira, jelas merasa sangat bahagia melihat rumah yang suaminya siapkan untuk Bela.


"Gimana, kalian suka? Atau masih ada yang ingin ditambahkan?" Tanya Reza usai mengelilingi rumah mewah itu.


"Maaf mas, apa ini gak berlebihan?" Tanya Bela ragu.


"Berlebihan gimana, Bel?" Timpal Irma heran.


"Iya ma, rumah ini terlalu besar untuk kami bertiga."


"Selama istriku bahagia, rumah ini gak ada apa-apanya. Lagi pula, ini gak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan pada istriku."


Jawaban Reza berhasil membuat kedua orang tuanya bangga. Terlebih lagi Lira, yang sudah terlihat berkaca-kaca dengan apa yang sudah Reza lakukan untuk kebahagiaannya.


"Kalian tenang aja, di rumah ini gak cuma kalian aja kok yang tinggal. Nanti akan ada beberapa asisten rumah tangga yang akan membantu Bela dalam mengurus rumah ini. Jadi Bela bisa selalu menemani Lira saat kami sedang bekerja. Kalian juga boleh kok, mengajak saudara kalian yang ada di kampung untuk berkunjung ke sini." Lanjut Reza.


Rasa cinta Reza yang begitu besar, sanggup membuat Reza melakukan apa saja demi melihat istrinya bahagia. Termasuk mengeluarkan banyak uang, membelikan rumah mewah untuk Bela. Wanita yang sangat berjasa dalam hidup Lira.


Bela dan Arman langsung mengucapkan terima kasih atas kebaikan Reza serta kedua orang tuanya yang sudah bersedia menerima mereka untuk menjadi bagian dari keluarganya.


Setelah puas mengobrol bersama, Reza mengajak keluarganya pulang ke rumah untuk memberikan waktu pada Bela dan Arman agar menikmati rumah baru mereka. Inas tak ingin pulang karena masih ingin bermain bersama Farel. Lira dan Reza juga tak keberatan selama Inas bermain bersama orang yang mereka kenal dengan sangat baik.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.........😊

__ADS_1


__ADS_2