
Selamat membaca.......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
"Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat.βΒ (HR. Ibnu Majah).
πΈπΈπΈπΈ
Suara tangisan Haidar menggema di dalam rumah. Bocah tampan itu menjerit histeris saat bagun tidur, ia tak mendapati ibunya di sampingnya. Haidar memang sangat dekat dengan Lira dibanding Reza. Jadi tak heran jika ia sampai menjerit histeris saat tak ada ibunya di sampingnya. Bahkan para asisten rumah pun dibuat kewalahan hanya untuk membuatnya tenang. Tak ada yang bisa menenangkan Haidar, selain ayah dan ibunya.
"Huaaaaaaaaaaaa!!!! Mau unda. Ade mau unda. Huaaaaaaaa." Jerit Haidar histeris dengan wajah yang memerah.
"Iya, den. Nanti kita pergi ke bunda, ya. Tapi aden harus minum susu sama mandi dulu." Bujuk Mirna lembut, menenangkan Haidar yang masih saja menangis kencang.
"Nda mau. Ade mau unda tekayang. Undaaaaa, undaaaaaa!!!!!!"
Para asisten semakin dibuat bingung. Mereka tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menenangkan Haidar yang semakin menangis kencang dan sulit untuk ditenangkan.
"Duh, gimana dong? Den Haidar gak mau diem." Keluh Mirna pada teman-temannya yang juga ikut menenangkan Haidar.
"Tuan Reza kemana ya?" Tanya Sumi.
Namun pertanyaannya hanya mendapat gelengan kepala dari teman-temannya. Mereka memang tak tahu di mana Reza berada.
"Apa kita coba cari ke ruang kerjanya aja? Siapa tahu aja Tuan Reza ada di sana." Usul Mirna.
"Iya juga ya. Ayo, kita cari ke sana sekarang." Sahut Sumi.
Mereka langsung membawa Haidar yang masih terus menangis untuk ikut bersama mereka menuju ruang kerja Reza yang berada di lantai satu. Saat menuruni anak tangga, Mirna sempat kesulitan menggendong Haidar yang terus saja meronta dan ingin turun dari gendongan Mirna untuk mencari ibunya. Namun, dengan sekuat tenaga Mirna menahan tubuh gempal Haidar agar tak terjatuh.
Dengan susah Mirna dan Sumi tiba tepat di depan ruang kerja Reza. Tanpa menunggu lama, Sumi langsung mengetuk pintu hingga berkali-kali. Awalnya tak ada sahutan dari dalam sana, namun setelah ketukan yang terakhir, barulah Reza menyahut sambil membuka pintu. Reza benar-benar sangat mengantuk. Semua terlihat dari beberapa kali ia menguap dan mengusap kasar wajahnya.
"Ada apa ini? Kenapa adek bisa menangis kencang seperti ini?" Tanya Reza dengan suara beratnya, lalu mengambil alih Haidar dari gendongan Mirna.
"Itu tuan. Anu, em." Jawab Mirna gugup.
"Jawab yang jelas, jangan gagap begitu." Ucap Reza pelan, namun terdengar tegas.
"Itu tuan, Den Haidar dari tadi nangis nyariin bundanya."
"Emang bundanya kemana, pagi-pagi gini udah ngilang?" Tanya Reza kesal.
"Nyonya Lira masuk rumah sakit, tuan."
"Apa? Kok bisa? Lira kenapa, bi?"
Jantung Reza berpacu dengan sangat kencang. Ia juga menjadi semakin merasa bersalah dan takut terjadi sesuatu pada istrinya. Reza benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.
"Tadi pagi Nyonya Lira pingsan di kamar Non Inas, tuan. Terus tuan dan nyonya yang bawa ke rumah sakit bersama nona kecil." Jelas Mirna.
"Pa, mau unda. Ade mau unda, papa." Tangis Haidar menjadi semakin kencang saat mendengar nama ibunya disebut.
"Iya sayang, kita ketemu bunda ya. Adek jangan nangis lagi." Reza mengusap lembut kepala putranya. "Bi, saya mau ke rumah sakit sekarang. Tolong jaga rumah ya."
"Tapi tuan, Den Haidar nya mandi."
"Oh, ya sudah. Kalo gitu tolong dimandiin ya, bi. Saya juga mau siap-siap dulu." Pinta Reza. "Adek mandi sama bibi, ya. Papa juga mau mandi. Habis itu kita ketemu sama bunda. Adek mau kan?"
"Iya, papa." Sahut Haidar sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Anak pinter. Bi, tolong mandiin adek ya."
"Baik, tuan." Jawab Mirna patuh.
Dengan langkah cepat, Reza menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Hati Reza merasa tak tenang dan semakin gelisah jika memikirkan keadaan istrinya. Reza merutuki kebodohannya yang tak bisa menahan emosinya di depan istrinya yang tak salah apa-apa. Andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya Reza meminta maaf atas kesalahannya yang secara sengaja telah menyakiti hati istrinya. Reza hanya bisa menyesali perbuatannya.
πΈπΈπΈπΈ
Tiba di rumah sakit, Reza segera menemui istrinya. sebelumnya Reza telah menghubungi ayahnya dan menanyakan di mana Lira dirawat. Saat tiba di depan ruang perawatan Lira, dari kejauhan ia melihat Martin dan Jono sedang berbincang santai. Langsung saja Reza menghampiri keduanya.
"Assalamu'alaikum, pa. Gimana keadaan Lira?" Tanya Reza dengan raut wajah khawatir.
"Kamu liat aja sendiri di dalem." Sahut Martin tenang. "Lain kali kalau ada masalah, ya diselesaikan baik-baik. Jangan sampe kejadian kayak gini terulang lagi. Papa gak mau rumah tangga kalian berantakan hanya karena kecerobohan salah satu di antara kalain yang gak bisa nahan emosi." Ucap Martin bijak.
Bukan tanpa alasan Martin berkata demikian. Ia sangat mengenal baik, bagaimana sikap putra semata wayangnya yang terkadang masih susah mengontrol emosi. Sebagai seorang ayah, tentu sudah tugasnya untuk mengingatkan ketika sang putra sedang melakukan kesalahan. Namun, Martin melakukannya masih dalam batas wajar sebagai orang tua dan tanpa ada unsur mencampuri. Martin hanya ingin rumah tangga anaknya tetap baik-baik saja.
"Iya pa, maaf." Jawab Reza sambil tertunduk sesal."
"Ya sudah, sekarang kamu ke dalam. Kasian anak-anak kamu, liat bunda mereka sakit kayak gitu."
"Iya pa, Reza ke dalem dulu ya. Makasih banyak, pa."
"Sama-sama."
Reza masuk ke dalam ruang perawatan Lira sambi mengucap salam lalu diikuti oleh Haidar yang berada dalam gendongannya. Bocah tampan itu sudah tak menangis lagi, tapi jejaknya masih terlihat jelas di matanya yang membengkak.
Mata Irma langsung menatap tajam ke arah Reza tanpa enggan bersuara. Irma masih merasa kesal pada sang putra yang tiba-tiba menghilang di saat istrinya sedang membutuhkan bantuannya. Sementara Reza hanya diam mematung dengan hati yang hancur melihat tubuh tak berdaya istrinya di atas ranjang pesakitan. Rasa bersalahnya semakin besar karena telah membuat wanita yang dicintainya kembali terluka oleh perbuatannya. Reza masih berdiri mematung, merasa tak sanggup melihat wajah sendu istrinya yang sedang tertidur dengan selang infus di tangannya.
Haidar berlari kecil menghampiri sang ibu yang terbaring lemah tak bergerak. Mata bulatnya terus memandangi wajah bidadari tak bersayap itu. Bocah kecil itu masih belum paham tentang kondisi sang ibu saat ini. Yang ia tahu, sang ibu masih tertidur.
"Eyang, napa unda tidul di tini?" Tanya Haidar polos.
"Tapi unda duga puna kamal." Ucap Haidar lagi.
"Iya, cuma kalo di sini bunda banyak yang jagain."
"Dek, kita main di lual yuk." Ajak Inas pada sang adik yang tak berhenti bertanya.
Inas seolah paham dengan perasaan ayahnya yang ingin berduaan dengan ibunya tanpa ada siapapun. Sikap Inas memanglah sangat dewasa untuk anak seumurannya. Itulah yang membuat Lira dan Reza merasa bangga dengan putri mereka.
"Tapi ade matih mau di tini cama unda."
"Ya udah deh. Padahal kakak mau ajak adek beli coklat sama eyang."
Seketika itu juga Haidar langsung semangat mendengar kata coklat. Matanya langsung berbinar dengan cerah.
"Mau, mau. Ade mau tokat." Ucapnya girang. "Eyang, ade mau tokat."
"Iya sayang. Yuk, kita beli coklat."
"Pa, kakak ikut eyang beli coklat buat adek ya." Izin Inas dengan sopan.
"Iya, sayang. Hati-hati, ya. Jagain adek baik-baik."
"Siap, papa."
"Dek, jangan nakal ya. Harus nurut sama eyang dan kakak."
"Iya, papa. Ade dandi nda nakal."
__ADS_1
"Anak pinter." Reza mengusap gemas kepala putranya.
Usai berpamitan dan mengucap salam, Irma menggandeng tangan kedua cucunya keluar dari ruang perawatan Lira menuju tempat Martin dan Jono duduk. Setelah itu, Irma mengajak kedua cucu kesayangannya untuk berjalan-jalan sebentar ke kantin rumah sakit untuk membeli coklat dan jajanan lainnya.
πΈπΈπΈπΈ
Sepeninggal Ibu dan kedua anaknya, Reza pun langsung menghampiri istrinya. Reza duduk tepat di samping Lira dan mulai menggenggam tangan mungil itu dengan penuh penyesalan. Andai ia bisa lebih bisa menahan emosinya. Andai ia bisa mengikuti keinginan istrinya tanpa harus berdebat dan pada akhirnya justru ia menyakiti hati istrinya. Andai ia tak bertemu kliennya yang menyebabkannya banyak berpikir. Anda, andai dan andai. Semua hanya kata andai yang tersisa.
Reza mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut kepala lalu turun ke wajah pucat Lira. Reza belum tahu sakit apa yang sedang diderita sang istrinya. Yang pasti, Reza merasa terluka melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah karena ulah
"Sayang bangun. Mas minta maaf udah bikin sayang jadi kayak gini. Semua salah, mas. Coba aja mas gak ngomong kasar ke sayang, mungkin semua gak akan terjadi." Ucap Reza dengan suara serak menahan tangis.
Air mata Reza tak bisa dibendung lagi hingga ia menumpahkan semua penyesalannya di depan sang istri yang masih tertidur lelap di bawah pengaruh obat. Reza mengira Lira hanya memejamkan mata karena enggan melihatnya. Maka dari itu ia terus mengajak Lira berbicara.
"Mas janji kalo sayang udah sehat, nanti kita ke kampung buat tengokin ibu. Mas juga janji akan cerita semuanya ke sayang tentang masalah yang sedang mas hadapi. Tapi mas mohon, sayang jangan kayak gini. Sayang boleh hukum mas dengan cara apapun, tak bukan dengan sakit kayak gini. Mas gak sanggup, sayang. Mas gak sanggup."
Tidur Lira mulai terusik karena suara tangis Reza yang semakin terdengar berat. Lira menoleh ke sebelah ranjang di mana suaminya sedang duduk sambil menangis dengan posisi tertunduk dan menggegam tangnnya.
"Mas." Panggil Lira pelan.
Dengan cepat Reza menganggat kepalanya lalu menatap wajah pucat istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Reza langsung memeluk tubuh mungil yang tak berdaya itu dengan deraian air mata.
"Mas, Lira minta maaf karna gak pernah ngertiin perasaan mas. Lira banyak salah sama mas. Maaf kalo Lira belum bisa jadi istri yang baik untuk mas." Ucap Lira sambil menangis di pelukan Reza.
Reza melepaskan pelukannya sambil menggelengkan kepala dengan cepat. "Gak sayang. Mas yang harusnya minta maaf. Mas salah udah bikin sayang kecewa dan terluka sekali lagi karena sikap mas. Maaf karena mas belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Mas menyesal sayang, mas menyesal. Tolong maafin mas dan jangan tinggalin mas lagi."
Lira tersenyum lembut dalam tangisnya lalu mengusap air mata yang mengalir deras di wajah tampan suaminya. Reza menutup matanya untuk meresapi usapan lembut dari tangan mungil itu.
"Gak mas. Lira gak akan ninggali mas, kok." Ucapnya lembut.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Mas janji gak akan ngelakuin hal bodoh kayak gini lagi." Ucap Reza sambil mengecup tangan dan seluruh wajah Lira.
Lira hanya tersenyum kecil melihat tingkah suaminya.
"Oya, dokternya bilang apa ke sayang?" Tanya Reza khawatir.
Lira kembali tersenyum yang mana hal itu membuat Reza menjadi bingung. "Sayang, kok senyum-senyum aja sih. Mas serius nanya, dokter bilang apa? sayang sakit apa sampe pingsan kayak gini?"
"Lira gak papa kok, mas."
"Gak papa gimana? Sayang pingsan, terus muka sayang pucet kayak gini, masih mau bilang gak papa?!"
"Iya, Lira gak papa. Karena di sini, ada amanah yang Allah titipkan lagi ke kita untuk dididik dengan baik." Ucap Lira sambil mengambil tangan Reza dan meletakannya ke perutnya yang masih rata.
Reza langsung mengucap syukur lalu mengecup seluruh wajah Lira tanpa melewatkan satu pun. Reza merasa sangat bahagia. Ia tak menyangka akan kembali menimang seorang anak diusianya yang sudah tak muda ini.
"Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih, sayang. Akhirnya impian mas terkabul." Ucapnya penuh syukur.
Lira hanya tersenyum sambil mengangguk lemah. Lira paham tentang keinginan suaminya yang sangat ingin kembali memiliki anak. mengingat Reza adalah anak tunggal, jadi ia ingin memiliki banyak anak yang kedepannya bisa ia jadikan teman cerita di masa tuanya nanti. Menjadi anak tunggal membuat Reza selalu merasa kesepian karena tak memiliki teman main atau teman cerita di saat ia sendiri.
"Mulai sekarang, sayang gak boleh capek-capek lagi. Gak boleh masak atau ngelakuin apapun. Mas gak mau, sayang sama dedek kenapa-napa."
"Iya, mas."
Mereka pun saling berpelukan untuk mencurahkan rasa syukur mereka karena kembali diberikan kepercayaan untuk memiliki anak. Reza berjanji tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi dan tak ingin istrinya menderita lagi karena ulahnya.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung..........π
__ADS_1