Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 149


__ADS_3

Lanjut.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Setelah acara tasyakuran beberapa hari yang lalu selesai, Reza memilih meliburkan diri selama sepekan untuk menghabiskan waktu luangnya bersama keluarga kecilnya yang sudah cukup banyak terbuang karena kesibukannya. Reza mengerjakan pekerjaan yang dikirim oleh asistennya lewat email di rumah tanpa harus mengurangi waktunya bersama anak-anaknya.


Saat ini mereka sedang berkumpul bersama di halaman belakang rumah sambil memantau kedua anaknya yang sedang bermain. Dengan ditemani istrinya tercinta, Reza memangku laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa dikirim kembali pada Arman.


Ketika menemani Reza, Lira juga tak mau kalah. Wanita berwajah teduh nan ayu itu juga memangku toples berukuran cukup besar bersisi cemilan berupa keripik singkong yang dibuatkan langsung oleh ibunya. Sambil mengunyah, Lira tak lupa juga menyuapi bayi besar manja yang kini sedang sibuk bekerja.


"Mas, dua hari lagi si kakak udah lima tahun lho umurnya," ucap Lira mengingatkan suaminya yang kini tengah serius menatap layar laptopnya.


"Iya sayang," sahut Reza tanpa menyimak apa yang disampaikan istrinya.


"Terus, mas gak ada niat buat ngajakin jalan-jalan atau apa gitu?


"heemm," hanya deheman yang Reza berikan.


Martin, Irma dan Indah langsung memandang sambil tersenyum geli melihat wajah kesal Lira.


"Mas dengerin Lira ngomong gak, sih?" tanya Lira kesal.


"Mas denger sayang," sahut Reza santai, namun pandangannya masih fokus pada layar di hadapannya.


"Emang tadi Lira ngomong apa?" pancing Lira memastikan.


"Sayang mau jalan-jalan,"


Lira langsung berdecak kesal. "Ck, udah Lira duga. Lagian, mas udah di rumah tapi masih aja sibuk kerja," sungut Lira.


"Kamu kayak gak tahu suami kamu aja, Ra. Dia tuh kalo udah fokus, yang lain bakal dikacangin sama dia," timpal Martin sinis.


Mendengar sindiran yang ditujukan padanya, Reza langsung meletakan laptopnya di atas meja lalu menatap istrinya sambil tersenyum manis.


"Terus, kalo bukan sayang yang mau jalan-jalan, siapa dong?"


"Makanya jangan sibuk kerja mulu, jadinya malah gak nyambung sama omongan orang," cibir Irma.


Reza hanya mendesah pelan. "Ya udah, mas minta maaf. Tadi sayang ngomong apa, hmm?"


"Lira bilang, dua hari lagi umur si kakak nambah jadi lima tahun."


"Oh ya?" Reza terkejut dengan ekspresi tak percaya.


Tak terasa, putri kecilnya kini sudah semakin besar. Waktu berjalan begitu cepat hingga tanpa disadari, sudah empat tahun mereka lewati bersama dengan penuh suka duka. Banyak kenangan yang sudah mereka ciptakan dalam bingkai kebahagiaan.


"Masya Allah. Mas gak sadar, tahu-tahu si kakak udah mau lima tahun aja," ucapnya penuh rasa haru.


"Iya mas, Lira juga gak nyangka. Bayi yang dulu Lira kandung, sekarang udah semakin besar dan tumbuh menjadi putri yang cantik."


"Papa sama Mama juga lebih gak nyangka lagi, Ra. Punya dua cucu yang pinter, penurut dan menggemaskan. Kami sangat bersyukur karena Allah masih ngasih kesehatan dan umur panjang untuk papa sama mama, bisa melihat mereka tumbuh besar," ucap Martin tak kalah haru.


Mereka semua mengucap syukur dengan apa yang telah mereka terima. Apalagi jika mengingat pengorbanan Lira saat mengandung Inas yang penuh dengan luka kecewa dan air mata. Tentu tak mudah baginya, mengandung dan melahirkan dalam keadaan kekurangan. Belum lagi, Lira harus berhadapan dengan orang-orang menghina dan mencaci maki dirinya serta calon anaknya.


Bagi Reza, segala kebahagiaan yang ia berikan selama ini, belum cukup untuk membayar semua luka dan air mata yang sudah ia torehkan pada istri dan anaknya. Dosa yang selalu Reza ingat adalah ketika ia tak mampu menjaga lisannya dengan mengatakan kehadiran anak dari rahim Lira, hanya akan menjadi aib dalam hidupnya.


"Udah atuh, jangan melow gitu," ucap Indah mencairkan suana.


Indah tak ingin Reza kembali larut dalam penyesalan. Meski Indah tahu, hingga saat ini Reza masih sering terlihat menyesal. Apalagi melihat wajah putrinya, rasa bersalah Reza semakin besar. Namun, itu semua tak mengalahkan rasa sayangnya pada putri kecilnya.


"Iya, bener kata kamu dek. Sekarang kita harus seneng-seneng dengan menyiapkan persiapan menyambut ulang tahun si kakak," sahur Irma cepat.


"Gak usah ma. Reza udah punya rencana sendiri," tolak Reza halus.


"Rencana apa, mas?" tanya Lira penasaran.


Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu ia memberitahukan hal itu, tapi tiba-tiba Reza sudah menyusun rencananya sendiri.


"Kalo sayang setuju, rencananya akhir pekan ini mas pengen ngabisin waktu seharian buat kencan berdua sama si kakak. Mas mau seharian jalan berdua, terus makan makanan kesukaan kakak sama belanja mainan dan apapun itu. Mas mau ngajak kemana pun kakak mau. Gimana sayang?" jelas Reza antusias.


Wajah Reza terlihat sangat berbinar. Jelas sekali ia sangat bahagia merancang rencana untuk menghabiskan waktu sehari bersama putri kecilnya. Lira tahu, Reza tak ada niat untuk menomorduakan putranya. Hanya saja, keinginan Reza ini murni dari hatinya yang ingin menebus semua rasa bersalahnya dan ingin menebus waktu yang penah terbuang selama sembilan bulan Inas di dalam kandungan serta satu tahunnya yang terbuang karena menelantarkan putrinya. Meski kejadian itu telah lewat beberapa tahun, namun Lira paham bagaimana perasaan suaminya itu.

__ADS_1


Padahal tanpa melakukan hal itu, Reza sudah menebus semuanya dengan memberikan banyak limpahan kasih sayang dan perhatian yang lebih, serta harta yang melimpah untuk Inas. Namun, tetap saja Reza merasa hal itu masih kurang.


"Boleh dong, mas. Nanti Lira siapin gaun yang cantik untuk si kakak," jawab Lira sambil tersenyum hangat. "Aduh, Lira udah gak sabar deh liat muka menggemaskan si kakak, kalo tahu dia mau diajak jalan sama papanya," lanjut Lira sambil terkekeh geli.


"Iya sayang, mas juga udah gak sabar buat jalan berdua bareng putri menggemaskan kita yang satu itu," sahut Reza ikut tersenyum gemas membayangkan rencananya berjalan lancar.


"Berarti, gak ada acara pesta dong?" tanya Irma dengan raut wajah sedikit kecewa.


"Maaf ma, bukannya Reza gak mau. Tapi, alangkah baiknya kalo uang itu kita pakai untuk sesuatu yang lebih memberikan manfaat dan mendatangkan kebaikan bagi kita," jawab Reza lembut agar ibunya tak tersinggung.


"Atau gini aja, gimana kalo kita ajak anak-anak buat ngunjungin panti asuhan. Tapi jangan di tempat biasa yang kita datengin. Kita ajak mereka ke panti asuhan yang lain lagi, biar mereka semakin banyak punya temen baru," usul Martin.


"Boleh juga tuh, ide papa. Gimana menurut kalian," timpal Irma langsung kembali semangat.


Lira dan Reza langsung saling memandang lalu mengangguk bersama sebagai tanda setuju. Reza dan Lira selalu berusaha untuk mengajarkan hal-hal baik pada kedua anak mereka. Salah satunya dengan cara bersosialisasi atau berteman dengan siapa saja tanpa harus memandang status. Reza dan Lira selalu mengingatkan pada kedua anaknya untuk tidak menghina atau merendahkan orang lain.


"Kita setuju benget dong, ma. Malahan, kita mendukung banget kalo anak-anak punya banyak teman di panti. Jadi mereka bisa banyak belajar tentang kehidupan dari mereka. Belajar tentang penting rasa syukur dalam hidup," sahut Lira.


Reza mengusap kepala dan perut buncit Lira dengan penuh kasih sayang. Betapa bangganya ia bisa memiliki istri seperti Lira.


🌸🌸🌸🌸


Malam berganti subuh yang berkabut hingga menciptakan hawa yang begitu sejuk nan menusuk. Sepasang suami istri yang masih berpelukan dan saling memberi kehangatan itu langsung terbangun saat mendengar suara panggilan untuk menghadap sang Maha Pemberi kehidupan, dikumandangkan.


Reza mengusap kepala dan perut Lira, lalu mengecup seluruh wajah kekasih hatinya itu dengan penuh rasa sayang. Setelah itu, ia membantu sang istri tercinta untuk membersihkan diri dan bersuci di kamar mandi.


Untuk sholat subuh kali ini, pilihan Reza jatuh pada baju koko berwarna abu terang berlengan panjang, serta sarung dan peci putih. Meski telah berusia matang, namun ketampanan dan karisma Reza tak pernah pudar hingga selalu berhasil membuat Lira terkesima.


"Biasa aja sayang liatnya. Kayak gak pernah liat mas ganteng aja," Reza terkekeh melihat wajah istrinya yang masih suka diam-diam menatapnya dengan penuh kekaguman.


"Gak tuh, biasa aja. Mas jangan suka kegeeran jadi orang," elak Lira salah tingkah.


"Bener gak terpesona sama mas? padahal tadi udah ketangkap basah, lho. Masih gak mau ngaku juga?" Goda Reza dengan terus mendekati Lira yang wajahnya sudah merah merona. "Padahal kita nikahnya juga udah lumayan lama. Mas juga udah hafal banget sama kebiasaan sayang, yang suka diem-diem mandangin mas yang tampan ini," lanjut Reza terus memojokkan Lira.


"Mas apaan sih? Udah ah, Lira mau sholat ini bareng ibu sama mama. Belum lagi bangunin si kakak yang suka telat bangun," ucap Lira mencari alasan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Reza langsung tertawa tebahak-bahak melihat istrinya salah tingkah dan pipi yang sudah merah merona.


"Udah tahu mau sholat, masih aja nyoba godain mas," Reza menangkup kedua pipi Lira lalu mengecupnya dengan gemas.


"Siap bunda. Papa ke masjid dulu ya, sayang."


Dikecupnya kening dan perut Lira bergantian. Setelah itu, Reza bergegas ke masjid bersama sang ayah. Sementara Lira langsung menuju kamar anak-anaknya untuk membangunkan si sulung sholat subuh.


"Kak, bangun yuk. Kita sholat berjamaah bareng nenek, eyang, sama tante,"


"Hmmmm, iya bunda. Dikit lagi kakak bangun," sahut Inas dengan mata yang masih terpejam membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan.


"Bangun sekarang sayang, sebelum mataharinya terbit."


"Iya bunda, kakak bangung sekarang," sahut Inas malas.


Tanpa sadar, Inas sudah bisa mengucapkan huruf 'r' dan hal itu sontak membuat Lira terkejut dan senang.


"Eh, coba kakak ulang ngucapin yang tadi," ucap Lira antusias.


"Ngomong apa bunda?" tanya Inas bingung.


Rasa kantuknya mendadak hilang berganti rasa bingung. "Emang tadi kakak ngomong apa, bunda?" tanya Inas lagi.


"Coba kakak ulang ucapin kata 'sekarang' tapi huruf 'r' nya harus jelas."


"Sekalang,"


"Lho, kok beda sih?"


"Beda apanya sih bunda."


"Gak papa sayang. Ayo, sekarang kakak cuci muka, gosok gigi terus berwudhu. Bunda tunggu di sini ya. Kita sholat berjamaah di bawah."


Tak ingin membuat putrinya semakin bingung, Lira memilih mengakhiri. Lira yakin telinganya tak salah dengar jika putrinya dalam keadaan tak sadar sudah bisa mengucapkan huruf 'r'. Lira harus lebih sering harus lebih sering melatih putrinya mengucapkan huruf 'r' agar terbiasa.

__ADS_1


"Siap bunda."


Lira mengajak putri kecilnya melaksanakan sholat subuh bersama nenek dan eyang serta kedua tantenya di musholah yang ada di rumah mereka. Musholah itu belum lama dibuat oleh Reza, agar istri dan anak serta ibunya tetap bisa melaksanakan sholat berjamaah di rumah. Tak hanya digunakan untuk sholat saja, tapi juga biasa digunakan sebagai tempat tadarus atau menghafal Qur'an bersama keluarganya.


🌸🌸🌸🌸


Tepat pukul delapan usai sarapan pagi bersama, Lira telah menyiapkan pakaian indah untuk putri kecilnya. Dres tutu berlengan panjang indah berwarna pink pudar yang dihiasi manik-manik kecil terlihat begitu elegan. Lira sengaja memesan khusus dres tutu berlengan panjang agar putrinya bisa tetap tampil dengan hijab yang menutupi rambut indahnya. Tak lupa sepatu berpita yang super imut serta tas selempang kecil warna senada dengan merk ternama juga melingkar di tubuh mungilnya.


Inas yang didandani yang bisa menatap bingung pada ibunya yang sejak tadi begitu sibuk mengurusi penampilannya.


"Selesai," ucap Lira bahagia melihat penampilan Inas yang begitu lucu dan menggemaskan. "Masya Allah, kakak cantik banget," lanjut Lira dengan wajah bangga melihat hasil karyanya.


"Emang kita mau kemana sih, bunda?" tanya Inas heran.


"Ada deh. Berhubung hari ini kakak lagi libur sekolah sekaligus hari spesial untuk kakak, jadi bunda sama papa punya kejutan istimewa."


"Hali spisyial? Hali apa tuh, bunda?"


"Udah, nanti juga kakak tahu. Sekarang kita ke bawah, ya. Papa udah nungguin kita dari tadi."


"Tapi kenapa bunda gak ganti baju kayak punya kakak?" tanya Inas polos.


"Kan bunda udah bilang, hari ini adalah hari istimewah untuk kakak. Jadi, hari ini ada kejutan istimewah juga untuk kakak."


"Ya udah, deh. Kakak nulut aja."


Tiba di ruang keluarga, ternyata Reza juga sudah siap dengan kemeja yang senada dengan putrinya serta jas hitam yang dipadukan dengan celana jeans biru gelap. Tak lupa jam tangan mahal melingkar di lengannya. Reza juga mengenakan sneakers berwarna putih dan kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya.


Penampilan Reza sungguh rupawan dan bisa dikatakan nyaris mendekati sempurna. Orang yang baru melihatnya pun takkan percaya jika ia sudah mendekati kepala empat yang tak lama lagi akan dikaruniai anak ketiga. Reza bisa dikatakan sebagai H**ot Daddy masa kini.


"Masya Allah, cucu eyang cantik banget," puji Irma gemas melihat wajah Inas. "Dres nya juga cocok banget sama kakak. Ih, eyang jadi gemes deh," lanjutnya dengan menyubit kecil pipi Inas.


"Eyang, emangnya hali ini ada acala apa sih? Kakak disuluh bunda pake baju ini, tapi bunda sama adek gak ganti baju."


"Mending kakak tanya aja langsung sama papa," sahut Irma yang semakin membuat Inas bingung sekaligus penasaran.


"Kita mau kemana, pa? Dali tadi kakak tuh bingung tahu. Bunda juga gak bilang mau kemana," ucapnya dengan wajah cemberut.


"Pokoknya, hari ini papa akan ajak kemana pun kakak mau."


"Selius pa? Bunda sama adek gak ikut?"


"Enggak, sayang. Hari ini hanya kakak sama papa aja yang jalan-jalan."


"Lho, kenapa pa? Kasian adek, nanti nangis pa?"


"Adek gak akan nangis, karena hari ini adek mau ikut eyang sama nenek ke taman," timpal Irma menengahi agar semua cepat selesai.


Selain Inas dan Reza yang akan menikmati waktu bersama, Irma, Martin, Indah dan kedua anak angkatnya juga akan berjalan-jalan bersama sebelum nantinya Indah dan kedua anaknya akan kembali ke kampung. Irma ingin memanfaatkan waktu liburan itu dengan sebaik mungkin. Sementara Lira sengaja tak ikut karena ia memang ingin menikmati waktu luangnya dengan ditemani sahabatnya. Banyak hal yang ingin Lira dan Bela lakukan seperti mengulang masa-masa ketika mereka sekolah dulu, tanpa harus keluar rumah tentunya.


"Telus, nanti bunda sama sapa?"


"Aduh, pusing eyang. Pokoknya, kakak gak usah khawatir. Bunda nanti ditemenin sama umi. Bentar lagi umi ke sini. Jadi udah, ya."


Irma benar-benar dibuat pusing dengan berbagai macam pertanyaan dari cucu kesayangannya itu.


"Benel ya, bunda nanti ditemenin sama umi. Kakak gak mau bunda sendilian di lumah."


"Kakak tenang aja, bunda gak sendiri kok. Ada Bi Mirna, Bu Nur dan masih banyak orang di rumah ini yang nemenin bunda, sayang," ucap Lira memberikan pengertian pada putri kecilnya


Lira sangat tahu sifat putrinya yang tak pernah bisa meninggalkannya seorang diri tanpa ada yang menemani. Walaupun Lira tak benar-benar sendiri di rumah karena banyak para asisten rumah yang akan menemaninya selain Bela, sahabatnya.


Kali ini Inas tak bisa membantah. Ia hanya bisa menuruti kemauan kedua orang tuanya. Inas hanya mengikuti langkah ayahnya yang sudah menggandengnya menuju mobil. Layaknya seorang putri, Reza membukakan pintu mobil lalu sedikit membungkukkan badan untuk menyilahkan Inas masuk ke dalam mobil.


Inas langsung tertawa melihat ulah lucu ayahnya. Suara tawa Inas menular pada semua orang yang turut mengantarnya sampai ke halaman rumah.


Sebelum masuk ke mobil, Reza berpamitan pada istri dan orang tuanya. Reza tak lupa mengecup kening dan perut buncit Lira. Inas pun melakukan hal yang sama tak lupa berpamitan pada ibu, eyang dan neneknya yang masih menunggu mobil yang ditumpanginya melesat pergi.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.......😊

__ADS_1


jangan lupa kasih bunga untuk otor kaleng-kaleng ini ya, man teman.


Terima kasih...😘


__ADS_2