Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 67


__ADS_3

Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Tu-tuan. Silakan masuk."


Reza masuk ke dalam rumah Lira dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Mata Reza menyusuri setiap sudut rumah Lira. Tak ada sofa empuk seperti yang ada di rumahnya, hanya ada ranjang kosong sebagai pengganti kursi. Jangankan kulkas, televisi atau kipas angin saja tak nampak di sana.


Sakit, dada Reza terasa sakit melihat tempat tinggal istri dan anaknya yang tidak bisa dikatakan sebagai rumah yang layak huni. Betapa mirisnya semua ini, di saat ia hidup berlimpah harta, istrinya justru harus tinggal di rumah yang bahkan nyaris roboh. Sebagaian atapnya juga sudah terlihat bocor di beberapa bagian.


"Bagaimana mereka bisa hidup nyaman di tempat seperti ini? Ya Allah, apa sudah aku lakukan?" Batin Reza menangis.


Lamunan Reza terhenti, ketika Indah datang membawa nampan berisi teh hangat dan langsung menawarinya untuk minum.


"Silakan diminum tuan. Maaf, ada nya cuma ini." Indah menawarkan teh hangat pada Reza.


"I-iya bu, terima kasih."


"Mohon maaf sebelumnya, ada keperluan apa sampai tuan harus jauh-jauh datang ke kampung kami?" Tanya Indah sambil tersenyum ramah.


Reza merasa bersalah melihat sambutan dan senyum hangat mertuanya itu padanya. Padahal jelas-jelas ia sudah menyakiti hati Lira. Reza langsung bersimpuh di kaki Indah untuk memohon maaf atas semua kesalahan yang telah ia lakukan pada Lira dan juga mertuanya.


"Saya minta maaf, bu. Maaf sudah buat Lira dan ibu menderita. Maaf sudah berburuk sangka pada kalian. Saya jahat bu, sangat jahat. Tolong maafkan saya, bu."


Reza memegang kedua kaki Indah sambil menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya pu ikut bergetar.


Indah mengangkat tubuh Reza untuk kembali duduk di sebelahnya. "Jangan seperti ini, tuan. Anda tidak pantas melakukan ini. Saya sudah memaafkan tuan jauh sebelum tuan meminta maaf." Lagi-lagi Indah berkata lembut.


Reza semakin merasa bersalah. Terbuat dari apakah hari mertuanya ini? Luka yang ia berikan bukanlah kecil, tapi mertuanya masih dengan mudahnya memaafkan semua kesalahannya.


"Ta-tapi saya sudah sangat jahat pada ibu, terutama Lira. Dia sudah sangat terluka dan menderita karena saya, bu." Air mata Reza masih mengalir deras di wajah tampannya.


"Sebenarnya saya juga terluka ketika melihat anak saya menderita. Saya sangat terluka dan kecewa ketika tuan menuduh anak saya berencana akan merebut harta tuan dengan cara mendekati ayah tuan. Kami hanya orang miskin, tidak tahu caranya mengambil harta orang lain. Yang kami tahu hanya bagaimana caranya agar dapur kami tetap berasap, agar bisa tetap bertahan hidup."


Indah menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara pelan, lalu ia kembali melanjutkan ucapannya.


"Saya tidak tahu kesalahan apa yang pernah saya lakukan di masa lalu sampai anak saya yang harus menanggung akibatnya. Sejak kecil, dia sudah sangat menderita. Sejak kecil, Lira tak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan untuk baju sekolah saja, dia harus memakai seragam bekas yang diberikan oleh tetangga kami. Begitu juga dengan baju lebaran, dia harus bekerja dulu mengumpulkan uang hanya untuk membeli baju baru yang hanya bisa dibeli setahun sekali. Kalau uangnya tidak cukup, dia hanya bisa membeli baju bekas atau tidak dia terpaksa harus memakai baju lebaran lama yang sudah tidak muat di tubuh kecilnya.


"Lira tak punya waktu bermain bersama teman-temannya, karena semua waktunya dihabiskan untuk membantu kami mencari uang. Apalagi saat ayahnya meninggal saat Lira masih sangat muda. Hidup menjadi semakin sulit dengan kondisi yang serba kekurangan. Untungnya Allah menganugerahkan saya seorang putri yang sangat baik dan tidak pernah menuntut. Lira yang sudah bekerja keras agar kami tetap bisa makan. Dia sampai rela bekerja apa saja, asalkan kami tidak kelaparan. Termasuk keputusannya pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib dengan bekerja sebagai pelayan di rumah makan lesehan pinggir jalan dengan upah yang tidak seberapa, semua dia lakukan hanya untuk membahagiakan saya, ibunya.


Saya pikir, setelah dia menikah dengan tuan, dia akan bahagia. Dia bisa mendapatkan apa yang selama ini tidak pernah saya berikan. Tapi ternyata saya salah. Saya terlalu menaruh harapan besar pada anda dan ternyata harapan itu yang sudah menjatuhkan saya ke dalam jurang kekecewaan yang sangat dalam.


"Tapi semua hanyalah masa lalu dan setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Tugas kita hanya saling memaafkan. Saya tidak bisa menyalahkan tuan dengan apa yang sudah terjadi karena memang sudah seperti ini jalan hidup yang harus anak saya lalui." Ucap Indah panjang lebar sambil tersenyum miris mengingat perjuangan besar putri kecilnya.

__ADS_1


Hati Reza kembali merasakan sakit yang luar biasa hingga dadanya terasa sesak, mengingat bagaimana istri berjuang seorang diri mencari rupiah demi rupiah agar bisa tetap bertahan hidup. Betapa kejamnya ia, menuduh istrinya yang begitu polos dan lugu itu akan mengambil hartanya.


"Ya Allah, ampuni dosa hamba."


Reza tidak berhenti menangis. Rasa bersalah telah menenggelamkannya ke dalam lubang penyesalan yang begitu besar dan dalam.


"Saya punya satu permintaan pada tuan." Lanjut Indah masih dengan senyum tulus di wajahnya.


"Apa bu? Insya Allah akan saya penuhi."


"Jika tuan sudah tidak menginginkan Lira hadir di hidup tuan, tolong kembalikan putri saya dengan baik, seperti dulu saat ayah anda meminta Lira secara baik-bauk pada saya. Dan soal anak, tuan tidak perlu khawatir. Kami tidak akan memberitahu pada siapa pun, jadi tuan tidak akan malu karena telah punya anak dari seorang wanita miskin dan kampungan seperti putri saya."


Permintaan Indah seperti puluhan ribu anak panah yang menusuk hingga ke jantungnya, begitu sakit dan menyesakkan. Benar dugaan Reza, Lira pasti sudah menceritakan semua pada ibunya. Tapi bagaimana bisa mertuanya tahu soal ucapan Reza yang pernah menolak kehadiran anak yang lahir dari rahim Lira? Apakah Lira pernah mendengarkan percakapannya dengan Doni waktu itu? Jika itu benar, pasti hati Lira sangat terluka mendengar penuturannya kala itu. Pikir Reza.


"Saya betul-betul menyesal, bu. Tolong berikan saya kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa saya pada Lira, bu. Saya janji akan membahagiakan Lira, anak kami, dan juga ibu." Ujar Reza penuh harap sambil menggenggam tangan Indah.


Sebenarnya Indah merasa tak tega saat mengatakan hal itu. Namun, sebagai seorang ibu, ia hanya ingin melihat putrinya bahagia.


"Maaf tuan, saya tidak berhak menentukan semuanya. Hanya Lira yang berhak untuk menentukan, apakah dia akan kembali pada tuan atau harus pergi dari hidup tuan."


🌸🌸🌸🌸


"Sayur, sayur. Ibu-ibu, ayo beli sayurnya, masih segar-segar." Lira masih berkeliling kampung menjajakan sayurannya sambil menggendong tubuh mungil Inas di depannya, menggunakan kain batik panjang sebagai gendongan.


Mendengar teriakan ibu itu, Lira langsung memutar badannya berjalan menuju ibu yang memanggilnya tadi. Lira menurunkan bakulnya di teras rumah ibu itu.


"Mau beli sayur apa, bu?" Tanya Lira sopan dan lembut.


"Sayur kangkungnya seikat, terong 5 buah, daun bawang sama daun seledri nya masing-masing seikat. Total harga semuanya berapa?"


"Semua sebelas ribu."


Ibu itu langsung menyodorkan uang Lima puluh ribu rupiah pada Lira.


"Maaf bu, yang kecil aja. Soalnya, gak ada kembalian." Ucap Lira.


"Sisanya buat dedek Inas yang cantik." Balas ibu itu sambil menyebut gemas pipi Inas.


"Eh, gak usah bu, makasih." Tolak Lira halus.


"Udah, gak papa. Nih ambil." Paksa ibu itu.


"Makasih ya, bu. Saya pamit dulu, Assalamu'alaykum." Pamit Lira sambil tersenyum kemudian menggendong kembali bakulnya ke pinggangnya.

__ADS_1


"Iya silakan, Wa'alaykumussalam."


🌸🌸🌸🌸


Matahari sudah mulai meninggi. Karena tak ingin anaknya merasa kepanasan, Lira memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Meski jualannya belum semua laku terjual, tapi Lira tetap bersyukur. Setidaknya, hari ini ia bisa mendapat uang untuk membeli beras juga lauk untuk makan siang dan malam nanti.


Sebelum pulang ke rumah, Lira mampir ke warung untuk mengambil uang hasil gorengannya tadi pagi, sekalian membeli satu kilo beras dan tempe dan telur ayam. Setelah itu, Lira pulang ke rumah.


Lira belum mengetahui kedatangan Reza di rumahnya karena ia tak menyadari jika mobil terparkir di seberang jalan tepat di depan masjid adalah mobil Reza.


"Assalamu'alaykum. Bu, neng sama dedek pulang."


"Wa'alaykumussalam." Jawab Indah, sementara Reza hanya bisa menjawabnya pelan nyaris tak terdengar.


Deg


Deg


Deg


Reza yang sedang sibuk dengan tangisnya di hadapan sang mertua, jantungnya langsung berpacu dengan sangat cepat saat mendengar suara Lira yang sudah lama ia rindukan.


Sementara Lira belum menyadari keberadaan Reza karena posisi duduk Reza tepat di belakang pintu jadi tak mudah terlihat, langsung masuk begitu saja ke dalam rumah sambil menurunkan tubuh mungil Inas dari gendongannya, meletakannya di atas lantai kemudian memberikan botol bekas yang sudah disulap menjadi mainan pada anaknya. Setelah itu, Lira meletakan bakulnya yang masih berisi beberapa ikat sayuran, wadah yang berisi sisa gorengannya, dan hasil belanjaannya ke atas meja.


Lira duduk di atas kursi kayu lalu menghitung hasil jualannya hari ini. Lira tersenyum saat melihat uang dari hasil jualannya yang cukup banyak. Lira mengucap syukur lalu menaruh beberapa lembar uang ribuan ke dalam toples bekas yang dijadikan sebagai pengganti celengan.


Aktifitas Lira pun tak lepas dari pandangan Reza yang terus menatapnyanya dengan perasaan terluka, karena melihat istri dan anaknya menderita karena ulahnya. Apalagi saat melihat pakaian yang dikenakan Lira dan anaknya, yang sudah tidak layak. Terdapat beberapa tambalan di bagian bawah rok yang dikenakan oleh Lira. Sedangkan anaknya mengenakan baju yang cupuk besar untuk ukuran tubuhnya yang kecil.


Tak sanggup lagi menahan rindunya, Reza langsung berjalan menuju Lira yang masih sibuk dengan kegiatannya dan berdiri di belakang tubuh mungil wanita yang ia rindukan itu.


"Lira?" Panggil Reza dengan suara serak menahan tangisnya.


Deg


Tubuh Lira mendadak membeku. Jantungnya seolah ingin keluar saat mendengar suara berat yang ia yakini itu adalah suara Reza. Lelaki yang ia rindukan kehadirannya.


Lira langsung membalikan tubuhnya menghadap Reza yang sudah berdiri tegap tepat di belakangnya dengan mata memerah menahan tangis.


"Tu-tuan?"


Ya Allah, apakah ini mimpi? Jika benar, tolong biarlah sementara seperti ini. Aku masih ingin menatap wajah lelaki yang sudah menorehkan luka di hatiku, namun sangat aku rindukan.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung.........😊


__ADS_2