Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 80


__ADS_3

Sebelum lanjut, saya mau curhat dikit. Saya sempat kecewa karena ada yang berkomentar katanya novel ini sama dengan novel sebelah, hanya nama tokohnya saja yang diganti. Jelas saya sangat kaget, karena novel ini murni dari hasil pikiran saya sendiri tanpa menjiplak dari novel manapun. Justru novel ini saya buat karena terinspirasi dari kisah nyata. Jadi bagi yang berpikir jika saya menjiplak karya orang lain. Maaf, saya tekan kan jika itu TIDAK BENAR. terima kasih😊


Lanjut. Selamat membaca🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Acara aqiqahan telah usai, seluruh keluarga besar termasuk orang tua serta mertua Reza dan Doni telah pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada dua pasang suami istri yang masih bertahan untuk membantu membersihkan sisa-sisa dari acara aqiqahan yang digelar tadi.


Lira dan Amel tidak diizinkan oleh suami mereka untuk ikut membantu membersihkan ruangan panti dengan alasan tidak ingin tangan halus mereka menjadi kasar. Lira hanya tersenyum geli mendengar alasan yang diutarakan suaminya padanya. Padahal, meski tidak ikut membantu, tangan Lira sudah kasar dari sananya.


Karena mendapat larangan keras dari suaminya, Lira memilih menidurkan Inas di dalam kamar yang pernah di tempati Amel sewaktu masih tinggal di panti. Lira menemani Amel yang sedang menyusui bayi mungilnya. Seperti ibu-ibu muda pada umumnya yang berbagi tips cara merawat anak, Lira juga membagikan sedikit pengalamannya saat membesarkan anaknya tanpa menceritakan bagaimana kehidupannya dulu yang begitu menderita karena melahirkan tanpa didampingi suami.


Terkadang mereka terlihat serius, kadang juga mereka bercanda hingga tertawa pelan bersama agar tak mengusik kedua putri mereka yang sedang terlelap.


"Lagi ngomongin apa sih, sayang? Keliatannya seru banget."


Tiba-tiba Reza masuk ke dalam kamar hingga membuat Lira dan Amel terkejut. Reza langsung duduk mepet di sebelah istrinya lalu disusul Doni dibelakangnya melakukan hal yang sama langsung duduk di sebelah istrinya yang baru saja selesai menyusui bayinya.


"Ya Allah, mas! Kalo masuk tuh, ketuk pintu dulu. Salam dulu, jangan main nyelonong aja." Omel Lira sambil mengusap dadanya karena terkejut.


"Maaf udah bikin sayang jadi kaget. Tapi tadi mas udah ngetok pintu berkali-kali sama salam juga, cuma sayang aja yang gak denger. Iya gak, bro?" Jelas Reza sambil mengarah pada Doni untuk memintanya membantu menjelaskan pada istri mereka.


Lira dan Amel juga ikut mengarahkan wajah pada Doni untuk menunggu penjelasan. Doni yang paham akan tatapan tajam istrinya langsung menjelaskan.


"Iya sayang, bener apa yang Reza bilang. Kita gak mungkin masuk tanpa ngetuk pintu dulu, kan gak sopan sayang." Jelas Doni.


"Tuh, sayang denger sendiri kan. Jadi jangan marah lagi, ya." Bujuk Reza dengan merangkul bahu istrinya yang masih merajuk.


🌸🌸🌸🌸


Puas berbincang-bincang hingga sore hari, Lira dan Reza berpamitan pulang ke rumahnya meninggalkan Doni berserta istri dan anaknya di panti. Doni dan Amel memutuskan untuk bermalam di panti karena Amel masih ingin melepas rasa rindunya pada tempat tinggalnya dulu.

__ADS_1


Reza menggendong Inas yang masih tertidur menuju mobilnya yang terparkir di dekat gang sambil menggandeng erat tangan istrinya seolah tak ingin terpisahkan. Saat sudah berada di dalam mobil, Inas langsung terbangun lalu merengek karena kehausan.


"Mi-mi-mi-mi." Oceh Inas sambil meraba dada ibunya, meminta ASI.


"Sayang, kayaknya si dedek mau ASI deh." Ucap Reza sambil sesekali melirik ke arah putrinya yang terus merengek.


"Dedek mau mimi? Bentar ya, sayang."


Lira membuka resleting gamisnya yang berada di depan lalu menyodorkan ASI nya ke mulut mungil Inas yang berada dipangkuannya. Dengan cepat Inas menyedot ASI itu dengan mata yang terbuka lebar. Reza melihat wajah anaknya menjadi gemas.


Reza mengusap lembut pipinya Inas yang masih menyedot dengan rakus ASI ibunya. "Haus banget ya, sayang? Sampe nyedotnya keliatan kuat banget." Ucap Reza konyol saat mobil mereka berhenti di lampu merah.


"Iya, mas. Tadi dedek asik main, jadi gak sempat mimi." Jawab Lira sambil mengusap kepala anaknya. "Iya dek, tadi asik main ya sama temen-temen baru?" Lanjut Lira.


Balita menggemaskan itu hanya tersenyum samar menanggapi pertanyaan ibunya. Ia memilih menyedot ASI ibunya untuk menghilangkan rasa hausnya yang sejak tadi ia rasakan.


🌸🌸🌸🌸


Setelah 45 menit kemudian, mobil mewah Reza masuki halaman rumahnya. Reza keluar lebih dulu lalu membuka pintu untuk istrinya. Reza mengambil Inas dari gendongan Lira, kemudian mereka masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Mirna yang sedang membersihkan ruang tamu.


"Mama sama papa kemana, bi?" Tanya Reza saat melihat rumah sepi.


"Tuan sama nyonya masih di kamar, den." Jawab Mirna.


"Kalo ibu?" Tanya Lira.


"Nyonya Indah sedang istirahat di kamar juga Neng Lira.


"Oh, ya udah. Kita ke kamar dulu ya, bi." Pamit Reza dan Lira lalu menaiki tangga menuju kamar mereka.

__ADS_1


Saat tiba di kamar, Lira langsung membuka baju anaknya untuk dimandikan karena waktu sudah pentang. Reza melihat istrinya ingin menggendong tubuh mungil putrinya, segera mencegahnya.


"Sayang, sini biar mas yang mandiin dedek. Sayang istirahat aja, ya." Tanpa menunggu jawaban dari Lira, Reza langsung membawa putrinya menuju kamar mandi untuk dimandikan dengan air hangat.


Lira mendengar suara canda tawa dari dalam kamar mandi, terdengar suara tawa dari Reza dan Inas yang begitu kencang. Mereka terdengar begitu bahagia, tertawa bersama. Reza sangat menikmati momen indah bersama putrinya yang pernah terlewatkan. Lira mengintip kegiatan ayah dan anak itu dari dekat pintu hanya bisa tersenyum. Kemudian Lira menyiapkan pakaian untuk putri kecilnya. Kaos pink polos dengan celana kaos panjang hitam menjadi pilihan Lira.


Reza keluar dari kamar mandi sambil menggendong Inas yang sudah berbalut handuk putih dengan gambar kelinci khas anak-anak. Saat Lira akan memakaikan putrinya baju, lagi-lagi Reza mencegahnya dan meminta agar ia saja yang memakaikan baju untuk Inas. Lira hanya bisa menurut tanpa berani membantah. Lira paham, jika Reza sedang membiasakan diri untuk ikut andil dalam mengurus putri kecilnya.


Usai memakaikan putrinya baju kaos polos lengan pendek berwarna pink, Reza lalu menaburkan bedak bayi di kedua pipi Inas. Balita itu tertawa cekikikan saat ayahnya mengecup gemas kedua pipinya yang sudah ditaburi bedak bayi.


"Wangi banget sih, dek. Papa jadi tambah gemes." Reza terus menyium wajah putrinya dengen gemas hingga sebagian bedak di wajah putrinya terhapus.


"Mas, udah dong. Nanti perut adek jadi sakit." Omel Lira saat melihat putrinya tertawa terbahak-bahak karena mendapat serangan gelitikan di perutnya.


"Habisnya si adek gemesin banget, sayang. Jadi pengen nyium terus, kayak sayang." Balas Reza sembari menggoda istrinya.


Wajah Lira langsung berubah merah merona. Reza kembali tertawa kencang saat berhasil menggoda istrinya. Melihat ayahnya tertawa, Inas juga langsung ikut tertawa. Padahal, balita itu tak paham dengan apa yang ayahnya tertawakan. Akhirnya mereka semua tertawa bersama. Keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia. Bahkan tawa mereka terdengar sampai ke telinga penghuni rumah yang lain, dan hal itu membuat orang tua Reza, mertua serta asisten rumah mereka juga ikut tersenyum bahagia.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung....


jangan lupa dukungannya ya...


LIKE, KOMEN, VOTE SEIKHLASNYA


JANGAN LUPA JUGA UNTUK MEMBACA KARYA SAYA YANG LAINNYA, DENGAN JUDUL.


"CAHAYA DAN BARA"


"PELANGI UNTUK SENJA"

__ADS_1


MOHON DUKUNGANNYA JUGA UNTUK NOVEL "GARIS SI BUNGSU" KARYA AUTHOR RINI PA. JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA. CERITANYA JUGA GAK KALAH SERU KOK, KARENA TERINSPIRASI DARI KISAH NYATA.


TERIMA KASIH.😊


__ADS_2