Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 40


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Tepat satu bulan sudah kejadian di mana Reza mengambil haknya secara paksa. Sejak saat itu, sikap Reza berubah menjadi semakin dingin kepada Lira. Hari ini, Lira bangun subuh sedikit terlambat karena sejak semalam Ia merasa kepalanya sangat pusing dan badannya terasa lemas. Usai sholat subuh, Lira kembali membaringkan tubuhnya ke tikar. Lira merasa tak berdaya dengan kondisinya yang tiba-tiba saja menjadi lemah tak bertenaga. Ia juga merasa perutnya sangat tidak nyaman seperti diaduk-aduk.


Lira kembali tidur untuk menghilangkan rasa pusing dan mual yang menyerangnya. Padahal, sejak semalam Reza sudah menyuruhnya untuk membersihkan rumah karena teman-teman kuliahnya akan datang bertamu. Lebih tepatnya, mereka akan mengadakan reuni kecil-kecilan di rumah Reza.


Lira tertidur cukup lama hingga terdengar gedoran pintu yang sangat kencang. Reza menggedor pintu kamar Lira karena tepat pukul sembilan pagi, Lira belum juga menampakkan wajah untuk membersihkan rumah.


Bugh....bugh....bugh.... (suara gedoran pintu)


"Woy! Babu kampung, ayo buka pintunya. Ini sudah jam berapa hah?" Reza terus berteriak membangunkan Lira sambil menggedor pintu.


Lira langsung terkejut, lalu ia bangun membuka pintu. Reza sangat kesal dan langsung membentak karena melihat Lira bangun kesiangan. Ia tak menghiraukan wajah lira yang sudah terlihat pucat ditambah dengan tubuhnya yang seolah ingin tumbang.


"Bagus ya, kamu tahu gak sekarang sudah jam berapa, hmm? Sekarang sudah jam sembilan pagi dan kamu masih tidur? Di mana rasa malu kamu, numpang di rumah orang tapi lupa tanggung jawab? Apa perlu aku ingatkan lagi, kalo status kamu di sini cuma sebagai pembantu?" Ucapnya panjang lebar.


Lira hanya diam karena tubuhnya terlalu lemah untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Reza padanya. Sakit? Sudah tentu Lira rasakan. Reza selalu mengingatkan status Lira yang cuma dianggap pembantu bukan istri atau menantu.


"Heh, kamu punya mulut gak? Kenapa diem aja, hah?" Reza mulai kehilangan kesabaran saat Lira tak menanggapi semua ocehannya.


"Ma-maaf tuan, hari ini saya tidak bisa membersihkan rumah. Kepala saya sangat pusing dan badan saya juga terasa lemas." Jawab Lira dengan suara lirih. Bahkan, untuk menjawab pun Lira butuh pasokan tenaga ekstra.


"Pokonya gak ada alesan. Hari ini kamu harus bersih-bersih rumah. Siap-siap aja dapat hukuman kalo kamu gak bersihin rumah." Ancamnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Lira tak punya pilihan selain mengikuti perintah Reza. Dengan langkah gontai, Lira mengikuti langkah lebar Reza menuju ruang tamu. Ternyata di sana sudah ada alat pel beserta ember berisi air yang sudah diberi cairan khusus pembersih lantai.

__ADS_1


Lira mulai mengepel rumah dari ruang tamu hingga dapur. Ia memeras kain pel dengan sisa tenaganya yang sudah terkuras. Sementara Reza berdiri di lantai dua sambil terus memantau pekerjaan Lira.


🌸🌸🌸🌸


Usai mengepel rumah secara keseluruhan, Lira melanjutkan pekerjaannya yang lain. Ia menyapu halaman, menyiram tanaman, lalu membersihkan kolam renang. Waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, perutnya mulai kelaparan. Lira menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar bisa beristirahat sejenak sebelum ia membersihkan diri untuk sholat.


Merasa pekerjaannya telah selesai, Lira pangsung bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat. Saat melewati dapur, Lira melihat Reza sedang menikmati makan siangnya yang terlihat begitu menggugah selera dengan begitu lahap. Lira hanya bisa menelan liurnya sambil memegang perutnya yang terus meronta kelaparan.


Ekor mata Reza melirik ke arah Lira yang sedang memandangnya dengan tatapan sendu. Reza tersenyum miring, kemudian ia memberi isyarat menggunakan jari telunjuknya memanggil Lira agar mendekat padanya.


"Kamu lapar." Pertanyaan konyol itu terlontar diiringi senyum mengejek di wajah Reza.


"I-iya tuan." Jawab Lira sambil menunduk.


"Ambil ini dan makan di kamar. Jangan sampai selera makanku hilang gara-gara lihat muka kamu." Ucapnya menyodorkan kotak makanan.


Lira sakit hati, namun ia juga merasa senang mendapat perhatian kecil dari Reza. Ia berpikir, ternyata Reza masih peduli padanya. Lira meraih kotak itu lalu pergi menuju kamarnya. Lira tersenyum senang ketika menenteng kotak makanan pemberian Reza.


Air mata Lira langsung mengalir deras. Tak ingin mengeluh, Lira tetap memakan roti itu. Sebelumnya, ia membuang bagian roti yang berjamur lalu memakannya. Setidaknya, Reza masih peduli dengan memberinya makan. Lira terbiasa hidup susah, jadi untuk hal seperti ini ia sudah tak kaget lagi.


Ketika kecil, Lira pernah makan makanan basi karena orang tuanya tak mampu membeli beras. Ia juga pernah diberi makanan yang sudah kadaluarsa oleh tetangganya yang memang sengaja memberikannya kepada keluarga Lira. Meski begitu, Lira dan orang tuanya tetap bersyukur, masih ada tetangga yang peduli pada mereka.


🌸🌸🌸🌸


Malam pun tiba, beberapa teman-teman Reza satu persatu mulai berdatangan. Mereka langsung menuju ruang tamu untuk bergabung bersama beberapa temannya yang sudah lebih dahulu datang.


Setelah semua teman-temannya datang, mereka mulai bertukar cerita tentang kehidupan pribadi sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang telah disiapkan oleh Lira sebelum mereka datang. Dari semua teman-teman Reza yang datang, hampir semua membawa pasangan dan anak mereka masing-masing.

__ADS_1


"Lo kapan nyusul kita, Za? Tanya Dika, salah satu teman Reza yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam.


"Iya nih, anak kita udah pada gede, Lo masih aja betah sama status jomblo yang entah kapan berakhir." Timpal Ari yang juga berprofesi sebagai dokter penyakit dalam seperti Dika.


Sementara teman-temannya yang lain hanya tertawa melihat Reza disudutkan oleh yang lain. Reza hanya tersenyum sinis mendengar semua sindiran dari mulut kejam teman-temannya yang terkenal suka menyindir orang lain.


"Eh Za, toilet rumah Lo di mana? Gue kebelit nih." Tanya pria berkaca mata yang juga merupakan teman Reza.


"Oh itu! Lo lurus aja dari sini, terus nanti sebelum masuk dapur Lo belok kiri, nah di situ toliet khusus tamu." Jelas Reza memberi arahan.


Pria berkaca mata itu lansung menuju tempat yang telah Reza arahkan kepadanya. Ia segera masuk ke kamar mandi karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Usai mencuci tangan, pria ia keluar lalu menuju dapur untuk mengambil air minum, karena minuman yang disuguhkan hampir semua minuman dingin dan jus buah. Tak lama ia melihat Lira yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada dekat kamarnya, namun masih bisa terlihat dari arah dapur karena memang jaraknya tak terlalu jauh.


Merasa penasaran, pria berkaca mata itu mencoba untuk mencari tahu dengan cara mendekati kamar Lira. Ia berjalan dengan sangat pelan agar langkahnya tak terdengar oleh Lira. Saat sudah berada di depan kamar Lira, ia ingin mengetuk pintu untuk mencari tahu wanita siapa yang ia lihat barusan. Belum sempat ia mengetuk pintu, tangannya langsung dicegat oleh Reza.


"Lo mau ngapain di sini." Tanya Reza dengan wajah datar sambil mencekal kuat tangan pria itu


"Za, itu tadi gue lihat ada cewek pake hijab masuk ke kamar ini. Karena penasaran, jadi gue mau cari tahu dia siapa. Lo bilang cuma sendiri di rumah karena pembantu rumah Lo pada pulang kampung. Tapi cewek tadi siapa?" Jawab pria itu.


"Itu keponakan salah satu pembantu gue. Dia baru kerja di sini gantiin pembantu yang udah pensiun." Jawab Reza bohong.


"oh gitu. Ya udah, ayo kita kembali ke depan." Ajak pria itu


Mereka berdua kembali bergabung bersama teman-temannya yang masih terlihat asik bercerita sambil diiringi canda tawa.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan vote nya ya...


terima kasih .😊


__ADS_2