Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 146


__ADS_3

Lanjut.....🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Sepulangnya dari pertemuan bersama petinggi Rumah Sakit MM Group, Reza meminta pada supirnya mengantarkannya menuju Mall untuk membelikan hadiah, sebagai permintaan maaf pada Inas karena tak bisa menjemputnya di sekolah. Untungnya rapatnya tak terlalu lama, jadi Reza bisa langsung ke tempat tujuannya.


Reza membuka jasnya, menyisakan kemeja biru laut yang sudah digulung hingga ke siku. Meski terlihat lelah, namun ketampanan Reza tak memudar. Ia justru terlihat semakin berkarisma.


Reza berjalan dengan santai sambil terus mengitari area mall yang terlihat semakin ramai di malam hari. Hingga langkahnya terhenti saat melihat deretan boneka lucu yang berukuran besar terpampang di depan toko yang menjual berbagai macam bentuk boneka.


Reza langsung tertarik untuk membeli satu buah boneka beruang berukuran besar. Bahkan lebih besar dari postur tubuhnya. Reza memilih boneka beruang berwarna coklat tua. Sudut bibirnya terangkat sempurna saat membayangkan wajah bahagia putri kesayangannya.


"Mbak, saya mau boneka beruang yang ini ya." Pinta Reza pada salah satu karyawan toko.


"Baik, pak. Silakan langsung ke kasir ya." Jawab karyawan itu ramah.


"Bonekanya tolong bungkus dengan cantik terus dikirim ke alamat ini ya."


"Baik pak, akan kami bungkus sesuai permintaan. Ada lagi pak?"


"Sudah, itu saja."


Usai melakukan pembayaran, Reza tersenyum puas. Ia kembali melanjutkan perburuannya mencari mainan untuk putranya. Pilihan Reza jatuh pada mobil aki yang berukuran cukup besar berwarna biru muda sesuai kesukaan Haidar. Mobil dengan harga yang cukup mahal itu bisa dinaiki untuk dia orang anak. Reza tak mempermasalahkan soal harga, asalkan anak-anaknya bahagia.


Sama halnya dengan boneka beruang tadi, Reza juga melakukan pengiriman yang ditujukan langsung ke alamat rumahnya, agar ia tak perlu repot untuk menenteng kedua hadiah yang berukuran besar itu.


Setelah membelikan hadiah untuk kedua buah hatinya, Reza kembali pulang ke rumah. Ia merasa sudah tak sabar untuk segera tiba di rumah dan melihat ekspresi bahagia dari kedua anaknya. Ia berharap anak-anaknya belum tidur saat ia pulang nanti.


Reza sengaja tak mengabari kepulangannya pada istri dan anak-anaknya. Biarlah ini menjadi kejutan untuk mereka. Padahal, Reza sedang tak melakukan perjalanan ke luar kota. Tapi tetap saja, kepulangannya selalu dinantikan oleh orang-orang tercintanya.


🌸🌸🌸🌸


Deru suara mobil Reza terdengar memasuki halaman rumah. Reza turun dengan tak sabaran dari mobil. Kedatangan Reza ternyata bertepatan dengan datangnya mobil yang membawa barang belanjaannya tadi.


Pintu utama terbuka lebar dan langsung terlihat dua bocah menggemaskan berlari keluar rumah disusul Lira dan kedua orang tua Reza. Awalnya Inas dan Haidar merasa bahagia saat mendengar suara mobil ayah mereka. Namun, rasa penasaran semakin besar saat mendengar suara mobil baru yang belum pernah didengar sebelumnya.


Untuk memastikan dan menjawab rasa penasarannya, Inas pun mengajak Haidar ke depan. Benar saja, mereka langsung bertepuk tangan girang saat melihat mobil ayahnya. Namun, bebetapa detik kemudian kening mereka mengkerut melihat mobil box yang membawa dua buah kado besar.


"Assalamu'alaikum, anak-anak papa." Sapa Reza yang langsung memeluk kedua anaknya yang sudah merentangkan tangan lebih dulu, dengan penuh kasih sayang. " Lagi pada nungguin papa pulang ya?" Tanya Reza dengan wajah bahagia melihat sambutan dari anak-anaknya.


Biasanya setiap pulang kerja malam hari, anak-anaknya sudah tertidur lebih awal. Jadi mereka sangat jarang bertemu.


"Wa'alaikumussalam. Iya pa, kita sengaja nungguin papa pulang. Papa kok balu pulang? Ini kan, udah malem," Tanya Inas polos.


Reza tersenyum melihat wajah polos Inas yang terlihat semakin menggemaskan.


"Papa kerja, sayang."


"Tapi kan, uang papa udah banyak. Masak halus kelja telus."


"Uang papa banyak, tapi semua itu cuma titipan dari Allah, yang bisa diambil kapan pun Allah mau. Terus, papa juga punya tanggung jawab sama orang-orang yang kerja di kantor papa." Jawab Reza selembut mungkin.


"Kalo papa kelja telus, papa gak bisa lagi main sama kakak sama adek dong," keluh Inas dengan wajah murung.


Hati Reza seperti diremas mendengar curahan hati putrinya. Beberapa bulan terakhir, selama menangani proyek besar, waktu Reza lebih banyak dihabiskan di kantor atau dilokasi proyek, daripada berkumpul bersama keluarga kecilnya di rumah. Ia fikir, selama masih pulang ke rumah sekadar melihat istri dan anak-anaknya, semua akan baik-baik saja. Namun, dugaanya meleset. Ia tak menyangka ternyata anak-anaknya sangat merindukan bisa berkumpul dan bermain bersamanya.


Begitu pun dengan Lira. Selama ini ia yang selalu mendapat pertanyaan dari kedua anak-anaknya, saat ayah mereka sibuk bekerja dari pagi hingga malam hari dan sudah jarang memiliki waktu bersama mereka. Reza yang berangkat bekerja bersamaan dengan ia mengatar Inas ke sekolah, akan pulang malam hari setelah anak-anaknya tertidur.


Reza menyium kening Inas dan Haidar bergantian sebagai permintaan maafnya.


"Maaf ya, karena terlalu sibuk, papa jadi jarang main sama kakak sama adek."


Inas masih memasang wajah murung. Sementara Haidar hanya diam sambil memandang ayahnya dengan tatapan polos.


"Sebagai permintaan maaf papa karena tadi gak bisa jemput kakak di sekolah dan gak bisa main bareng kakak dan adek, papa punya sesuatu untuk anak-anak papa yang pinter ini."


Kedua mata Inas dan Haidar langsung berbinar mendengar kata hadiah.


"Hadiah apa, pa? Tanya Inas penasaran sekaligus tak sabaran.


"Iya pa, hadiah apah? timpal Haidar tak kalah senang.


"Bentar ya."


Reza langsung meminta pada Jono untuk membantunya membawakan kedua kotak kado yang berukuran besar itu ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ayo anak-anak, kita masuk ke dalam," ajak Irma pada kedua cucunya.


"Iya eyang."


Tiba di dalam rumah dengan tak sabaran, Inas meminta Reza agar segera membuka bungkus kado itu. Begitu pun dengan Haidar. Dengan bantuan Martin, kedua kado berukuran besar itu akhirnya terbuka. Inas langsung bertepuk tangan bahagia dan langsung memeluk boneka beruang yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari tubuhnya.


"Wah! Boneka beluangnya besal banget," pekik Inas girang dalam pelukan boneka beruang barunya.


"Mobil-mobilan puna ade duga becal,"


Haidar juga melakukan hal yang sama seperti Inas. Bocah tampan itu langsung menaiki mobil aki itu tak sabaran.


"Pelan-pelan dek, nanti jatuh," ucap Irma mengingatkan.


Meski sudah sering mendapatkan hadiah dari sang ayah, tapi Inas dan Haidar selalu saja merasa bahagia setiap mendapat hadiah mainan atau apa pun yang diberikan. Padahal jika dilihat baik Inasa maupun Haidar, mainan mereka sudah sangat menumpuk di lemari kaca yang dibuat khusus untuk menyimpan semua mainan mereka.


Apalagi Inas yang sejak kecil sudah dimanjakan dengan berbagai macam jenis mainan, sudah tak heran lagi. Reza seperti tak pernah bosan untuk selalu memberikan hadiah pada kedua anaknya dan Lira adalah orang yang sering protes akan hal itu. Menurut Lira, apa yang Reza lakukan sudah sangat berlebihan.


Saat kedua anaknya sedang asik bermain bersama mainan baru, Lira mendekati Reza. Hati Lira sangat tak tenang sebelum mengutarakan isi hatinya. Selama ini Lira hanya bisa diam setiap kali suami atau mertuanya membelikan macam-macam mainan untuk anak-anaknya. Namun, kali ini Lira harus bersikap tegas.


"Mas, Lira mau ngomong."


"Apa sayang? Ngomong aja."


"Mas, apa ini gak berlebihan? Mainan anak-anak kan masih banyak dan hampir tiap hari mas ngasih mereka hadiah. Belum lagi dari mama sama papa dan temen-temen mas yang main ke rumah. Kalo mas keseringan ngasih mereka mainan, terus nanti mainannya yang lain gak akan kepake lagi karena udah ada mainan baru."


"Gak papa kali, Ra. Namanya juga anak-anak. Jadi wajar kalo mereka punya banyak mainan," timpal Irma enteng dan Martin pun mengangguk setuju.


Bagi Martin dan Irma, memberikan hadiah pada kedua cucu kesayangan mereka adalah hal yang wajar. Apalagi Inas dan Haidar lebih banyak menghabiskan waktu main di rumah daripada di luar bersama teman-teman sebayanya. Martin dan Reza melarang keras kedua anaknya main di luar rumah tanpa pengawasan yang ketat karena alasan keselamatan yang kapan saja bisa datang dari para musuh sesama pebisnis yang merasa iri pada kesuksesan keluarga Martin. Jadi tak masalah jika mainan mereka menumpuk daripada nyawa cucu mereka yang jadi taruhannya.


"Nah, sayang denger sendiri kan? Mas gak masalah kok. Mau mainan mereka segudang pun gak papa, asalkan mereka bahagia dan yang penting keselamatan mereka tetap aman, insya Allah."


"Iya, tapi ini sama aja dengan pemborosan dan mubazir, mas. Islam pun mengajarkan untuk tidak boros dan mubadzir. Sebisa mungkin kita harus menjauhi kedua sifat tersebut, karena boros dan mubadzir lebih dekat pada setan. Belajarlah untuk membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan yang memang bermanfaat."


"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.  (QS.Al-Israa’ : 26-27).


 


"Suatu saat, harta yang kita miliki akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. Kita gunakan untuk apa harta kita? bersedakah atau berfoya-foya seperti sekarang. Membeli barang yang jelas-jelas hanya akan menjadi pajangan."


Terbiasa hidup dalam kekurangan membuat Lira menjadi lebih paham akan kebutuhan dan keinginan. Jika anak-anaknya tidak dilatih dari sekarang untuk bisa membedakan keduanya, ditakutkan nantinya mereka akan terbiasa meminta sesuatu hanya berdasarkan keinginan. Yang lebih Lira takutkan lagi, kedua anak-anaknya akan menjadi orang yang kurang bersyukur karena terus meminta lebih dan tak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimiliki.


Penjelasan Lira membuat suami dan kedua mertuanya bungkam. Mereka terlihat begitu merasa bersalah dengan apa yang telah mereka lakukan. Meski sering bersedekah dan melakukan kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan, tetap saja mereka lalai karena sudah menggunakan harta mereka untuk sesuatu yang tak bermanfaat yaitu menumpuk mainan untuk Inas dan Haidar.


Tujuan mereka mungkin baik, untuk membahagiakan Inas dan Haidar, tapi caranya saja yang perlu diperbaiki. Bukankah masih ada cara lain untuk membuat anak-anak bahagia tanpa mainan? Salah satu caranya dengan mengajak mengenal lingkungan luar, mengajak ke tempat rekreasi untuk menambah edukasi atau mungkin bisa juga dengan mengajak ke pondok pesantren untuk mengenalkan kepada anak-anak akan pentingnya ilmu agama. Selain itu juga, bisa dengan mengajak anak-anak ke panti asuhan agar mereka bisa menjadi pandai bersyukur. Batin Lira.


"Maaf, bukannya Lira bermaksud menggurui. Lira hanya menyampaikan apa yang Lira tahu. Gak ada maksud Lira untuk bikin mas, mama sama papa tersinggung," ucapnya lirih sambil menunduk.


"Gak papa sayang, justru mama mau ngucapin terima kasih karena udah menyadarkan kami. Tanpa disadari, ternyata selama ini kami sudah melakukan hal yang tak baik. Menumpuk pakaian, aksesoris, tas, dan sepatu hanya untuk kepuasan semata," jawab Irma lembut.


Tanpa mereka sadari, ternyata Inas sejak tadi tak sudah mendengat pembicaraan mereka. Tadinya Inas ingin memanggil ayahnya untuk mengangkat boneka beruangnya ke kamar, tapi tak sengaja ia mendengarkan obrolan orang tuanya serta eyangnya.


"Bunda," panggil Inas pelan.


"Iya sayang, ada apa? Eh, adek mana?"


"Adek lagi main baleng Abang Ikbal di belakang."


"Ada apa sayang? Kok muka kakak jadi sedih gitu?" Tanya Lira lembut.


"Bunda, boleh gak sepaluh mainan kakak dibagiin ke anak-anak yang kulang mampu?"


"Boleh dong. Tapi, emangnya kakak udah gak mau lagi sama mainannya?" Tanya Reza.


"Gak! Kan mainan kakak banyak, pa. Dali pada ditumpuk, telus jadi dosa, mending kakak kasih ke anak-anak lain bial kakak bisa dapet pahala. Kata ustadzah di sekolah, kita halus bisa saling belbagi sama olang yang gak mampu," sahut Inas dengan wajah serius namun tetap terlihat menggemaskan.


Sebagai orang tua, tentu mereka sangat bangga pada sikap Inas yang begitu dewasa dan sangat suka berbagi.


Sama halnya dengan Reza dan Lira, sebagai eyang yang selalu memanjakan Inas pun ikut bangga. Tak salah Martin memilih Lira sebagai menantunya. Lira bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.


"Ya udah, kalo gitu nanti kita ke panti asuhan aja buat bagiin mainan kakak di sana. Gimana, kakak mau kan? Usul Lira.


"Ma bun, kakak mau ke sana. Kakak juga mau ajak Lili sama Abang Falel buat ikut ke sana. Boleh ya bunda?"


"Boleh dong sayang,"

__ADS_1


"Yeeee!! Makasih bunda, makasih papa, makasih eyang. Kakak sayang bunda, papa sama eyang," ucap Inas girang


"Kami juga sayang sama kakak," sahut Reza langsung memeluk tubuh mungil Inas dan menyiumnya kedua pipinya dengan gemas.


"Ade duga mau ditayang," ucap Haidar sambil berlari kecil.


"Papa, bunda, kakak dan eyang sayang banget sama adek," jawab Lira lembut.


Wajah Haidar langsung berbinar. Ia langsung meloncat ke pangkuan Reza laku bertepuk tangan. Inas pun langsung memeluk tubuh adiknya dengan penuh kasih sayang.


Semua yang ada di ruangan itu langsung tersenyum melihat kedekatan di antara kakak beradik yang saling menyayangi itu.


"Udah, udah. Sekarang kakak sama adek pergi tidur ya. Besok kakak harus ke sekolah," Ucap Irma.


"Siap eyang. Ayo dek, kita tidul sekalang," ajak Inas sambil menggandeng tangan adiknya menuju kamar mereka di lantai dua. "Pa, boneka beluang kakak nanti tolong dibawa ke kamal ya."


"Iya, sayang."


Mereka semua membubarkan diri ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Reza menggendong boneka beruang milik Inas ke kamar menggunakan Lift.


Reza dan Lira mengantar kedua anak mereka hingga ke kamar dan membantu membersikan muka serta menyikat gigi sebelum tidur. Setelah itu, Lira mengganti pakaian kedua anaknya dengan baju tidur bergambar Hello Kity berwarna pink, dan gambar bintang warna biru campur kuning untuk Haidar.


"Bunda, kakak mau dengelin celita dali pala nabi dong," pinta Inas penuh harap.


"Boleh sayang, tapi sebelum tidur kakak sama adek harus ngapain dulu?"


"Halus baca doa," jawab Inas dan Haidar bersamaan.


"Iya, pinter anak-anak bunda."


"Eh, kok cuma anak-anak bunda sih? Anak-anak papa juga dong," protes Reza sambil pura-pura memasang wajah cemberut.


"Hihihi..muka papa lucu kalo cembelut,"


Mereka pun tertawa bersama dengan penuh kebahagiaan. Rasa lelah Reza usai bekerja seharian langsung sirna begitu saja.


Usai membaca doa sebelum tidur, Lira mulai membacakan kisah dari salah satu nabi, hingga kedua anaknya tertidur pulas.


🌸🌸🌸🌸


"Lira siapin mas air hangat ya." Tanya Lira saat memasuki kamar lalu membantu membuka kemeja yang masih membungkus tubuh tegap Reza.


"Gak usah sayang, mas bisa sendiri," jawab Reza sambil mengecup kening Lira dengan lembut.


"Terus, Lira ngapain dong?"


"Sayang temenin mas mandi," Reza memasang tampang menggoda hingga membuat Lira melotot.


"Mas gitu, gak mau ah. Nanti kalo Lira masuk angin, gimana?"


"Gak sayang, mas cuma becanda. Sensi amat sih neng," sahut Reza sambil menyolek dagu Lira. "Gak mungkin mas tega nyuruh sayang mandi malem-malem dan bikin sayang kedinginan."


"Ya, kan Lira kira tadi mas beneran serius."


"Udah ya, mas mau mandi terus istirahat. Capek banget, pengen cepet-cepet ke kasur terus meluk guling empuk kayak gini," Reza memeluk erat tubuh Lira sambil menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.


"Aduh mas, jangan kenceng-kenceng meluknya. Perut Lira kejepit nih, jadi susah napas."


"Eh, maaf sayang maaf. Mas gak sengaja,"


Reza melepas pelukannya dengan raut wajah khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.


"Ada yang sakit gak, sayang?"


"Alhamdulillah gak, mas. Udah sana, katanya mau mandi?"


"Syukur deh, mas lega dengernya. Oke, mas mandi dulu ya. Sayang tolong siapin baju tidur mas aja ya."


"Siap bos."


Reza mengacak gas rambut Lira lalu tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊

__ADS_1


__ADS_2