
Lira menghampiri kedua mertunya yang masih sibuk mengajak Nur bercerita tentang kisah hidupnya hidupnya.
"Bu Nur, ayo makan dulu. Saya udah siapin makan malam." Ajak Lira.
"Terima kasih, non. Tapi saya udah makan." Tolak Nur halus.
"Silakan makan, bu. Gak usah malu-malu." Timpal Irma. "Ra, mama sama papa ke kamar ya. Udah ngantuk banget." Lanjut Irma.
"Iya, ma." Jawab Lira. "Ayo, bu kita ke dapur." Ajaknya lagi.
Nur hanya bisa menurut tanpa berani membantah karena memang ia sangat kelaparan.
Tiba di dapur, Lira langsung menarik kursi dan mempersilakan untuk Nur duduk menikmati makanan yang sudah Lira sajikan di atas meja. Dengan ragu Nur mulai menyendok nasi, ayam goreng serta capcai yang terlihat begitu menggiurkan. Reza memang sengaja memesan makanan yang cukup banyak, agar sisanya masih bisa dibagikan kepada beberapa tetangga yang tidak sempat hadir. Termasuk Nur yang juga kebagian makanan.
Nur mulai menyuapi makanan ke mulutnya. Namun, baru suapan pertama, mata Nur langsung berkaca-kaca. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Nur bisa menyicipi makanan selezat ini. Nur jadi teringat pada ketiga anaknya di rumah yang sedang menunggunya dalam keadaan lapar. Nur langsung menghentikan makannya lalu menyodorkan piring berisi sisa makanannya pada Lira.
"Maaf non, makanan saya mau bungkus saja, boleh? Tanya Nur dengan wajah polos.
Lira langsung tersenyum. "Ibu makan aja gak papa. Untuk anak-anak ibu, udah saya siapkan. Jadi ibu gak usah khawatir."
"Terima kasih, non." Nur langsung melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda.
Reza melihat hal itu menjadi terharu. Sekali lagi Reza mengucap syukur karena telah diberikan istri yang memiliki hati yang begitu mulia.
πΈπΈπΈπΈ
"Rumah ibu di mana? Biar kami antar ibu pulang." Tanya Lira.
Lira dan Reza mengantar Nur di depan rumah sambil menenteng satu kantung bersisi makanan yang telah disusun ke dalam rantang bersusun dan satu lagi kantung berisi beberapa lembar pakaian baru milik Indah dan Reza untuk diberikan kepada Nur dan suaminya. Sedangkan untuk ketiga anak Nur, rencananya besok akan Lira belikan baju baru.
__ADS_1
"Terima kasih, non. Gak usah repot-repot. Saya pulang sendiri saja. Non Lira dan Den Reza sudah baik pada saya jadi saya tidak ingin merepotkan Non Lira dan Den Reza lagi." Tolak Nur.
"Gak papa, bu. Saya gak merasa direpotkan, kok." Timpal Reza. "Mari Bu, silakan." Ajak Reza lalu mempersilakan Nur masuk ke dalam mobilnya.
"Terima kasih, den." Ucap Nur saat telah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manis di kursi penumpang.
Sedangkan Lira memilih duduk di kursi depan untuk menemani suaminya menyetir karena Reza memilih menyetir sendiri tanpa meminta bantuan Jono. Reza tak ingin merepotkan Jono yang sudah istirahat akibat kecapekan karena sejak pagi sudah membantunya dalam mengurus acara.
Sekitar 10 menit perjalanan, mobil Reza telah berhenti di depan gubuk kecil yang minim pencayahan. Nur turun lebih dulu baru setelah itu disusul Reza dan Lira yang langsung mengekorinya dari belakang. Nur mengetuk pintu rumahnya yang terlihat sudah mulai keropos di beberapa bagian.
Tok...tok...tok
"Assalamu'alaykum kak, ini ibu." Ucap Nur sambil terus mengetuk pintu.
Kemudian terdengar sahutan dari dalam dengan suara lemas seperti baru bangun tidur. "Wa'alaykumussalam." Jawabnya sambil membuka pintu. "Ibu, udah pulang?" Tanya anak perempuan Nur yang pertama dengan lesu.
"Udah dari tadi, bu. Kecapean nungguin ibu pulang jadi ketiduran deh." Jawab anak Nur. "Ibu bawa apa? Makanan ya?" Tanyanya antusias dan seketika itu juga Razak kantuknya langsung hilang.
"Iya, kak. Alhamdulillah. Jawab Nur sambil tersenyum hangat. "Sampe lupa. Ayo Non Lira, Den Reza silakan masuk." Ajak Nur sambil membuka lebar pintu rumahnya.
"Iya bu, terima kasih." Jawab Lira lalu masuk ke dalam rumah Nur sambil memberi salam.
Nur mempersilakan Reza dan Lira duduk di atas tikar plastik yang sudah sedikit koyak di beberapa sisinya. Mata Lira langsung menyusuri setiap sudut rumah Nur yang terlihat tak jauh berbeda dengan rumahnya yang dulu. Bedanya, rumah Nur tak ada pembatas antara ruang tamu dan dapur. Ukuran kamar juga terlihat sangat kecil, tanpa pintu dan hanya ditutupi oleh kain batik yang sudah usang.
"Kak, tolong bangunin bapak dan adik-adik untuk makan ya." Perintah Nur langsung diangguki oleh anaknya dengan semangat.
Tak lama, keluarlah dua anak Nur yang masih kecil-kecil serta suami Nur yang berjalan pincang, dituntun oleh anak pertamanya untuk duduk di sebelah Nur.
"Pak, kenalin ini Non Lira dan suaminya. Mereka yang udah ngasih kita makanan ini." Ucap Nur mengenalkan Lira dan Reza pada Adi suaminya. Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing. Nur langsung mengeluarkan makanan dari dalam rantang bersusun untuk dipindahkan ke piringnya. Anak-anak Nur langsung bertepuk tangan dengan bahagai saat melihat ayam goreng dan beberapa lauk pauk lezat yang selama ini belum pernah mereka rasakan sebelumnya dan kini sudah tersaji di hadapan mereka. Nur langsung menyuruh suami dan anak-anaknya untuk makan lalu disambut dengan anggukan antusias dari ketiga anaknya.
__ADS_1
Sambil menunggu suami dan ketiga anaknya selesai makan, Nur mulai menceritakan kisah hidupnya. Mulai dari bagaimana ia akhirnya hamil anak pertama di usia pernikahannya yang telah lebih dari 15 tahun. Maka tak heran jika di usianya yang telah memasuki hampir setengah abad itu, anaknya masih kecil-kecil. Anak perta Nur baru berusia 12 tahun dan duduk di bangku kelas kelas 6 SD. Sedangkan anak kedua dan ketiga hanya selisih 2 dan 3 tahun dari usia anak pertama.
Nur juga menceritakan bagaiman suaminya tersenggol motor saat pulang dari bekerja membersihkan rumput di kebun tetangganya, hingga menyebabkan kaki kiri suaminya menjadi picang. Sedangkan orang yang menyenggolnya langsung kabur begitu saja dan meninggalkan Adi kesakitan di pinggir jalan. Kejadian itu pun baru terjadi satu Minggu sebelum Lira tiba di kampung. Sejak saat itu, Adi sudah tak bisa lagi bekerja.
πΈπΈπΈπΈ
Cukup lama mereka berbicang-bincang hingga anak-anak Nur kembali tertidur dengan perut terisi penuh, Lira dan Reza berpamitan.
Lira dan Reza telah tiba di rumah tepat pukul 23.30. Mereka langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu, mereka merebahkan tubuh lelah mereka di atas tempat tidur yang empuk. Sementara putri mereka, Inas telah tertidur di kamar Indah.
Sejak pulang dari rumah Nur, wajah Lira langsung berubah menjadi sendu. Reza melihat hal itu langsung memeluk Lira dengan lembut. Tak lama terdengar suara isakan dari bibir Lira.
"Sayang, ada apa? Hmm?" Tanya Reza lembut sambil mengusap rambut Lira.
"Mas, Lira gak tega liat Bu Nur sama-anaknya. Kalo Bu Nur gak ke rumah, pasti anak-anaknya akan tidur dengan perut kosong." Ucap Lira sesegukkan.
"Semua udah takdir, sayang. Allah yang udah menggerakan langkah Bu Nur untuk datang rumah ini." Jelas Reza.
"Mas, boleh gak kita bantuin mereka?" Tanya Lira sambil mendongakan kepalanya.
Reza tersenyum lalu mengecup kening Lira dengan sangat dalam. "Boleh, sayang. Insya Allah kita akan bantu mereka. Nanti mas juga akan bawa Pak Adi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan yang terbaik."
"Terima kasih, mas." Ucap Lira sambil tersenyum lalu mengecup pipi Reza sekilas.
"Sama-sama, sayang. Udah ya, jangan nangis lagi." Lira mengangguk dalam pelukan hangat Reza.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung........π
__ADS_1