Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 116


__ADS_3

"Sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu yakni bagi setiap orang yang mengharap rahmat Allah, datangnya hari kiamat dan dia sering menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab 33:21)


Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"robbij'alnii muqiimash-sholaati wa ming zurriyyatii robbanaa wa taqobbal du'aaa"


"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku."


(QS. Ibrahim 14: Ayat 40)


Potongan ayat itulah yang senantiasa Reza dan Lira panjatkan di setiap sujudnya. Mereka memohon agar anak-anaknya kelak, bisa tumbuh menjadi anak-anak yang soleh dan solehah.


Lira sedang duduk berselonjoran bersama putrinya di tempat tidur, mengelus perut buncitnya sambil mengulang kembali hafalan ayat suci Al-Qur'an yang sudah pernah dihafalkannya. Inas duduk tenang di sebelahnya, mendengarkan dengan seksama lantunan ayat suci yang sedang dibaca oleh ibunya. Seperti inilah kebiasaan yang sering Lira ajarkan pada putri kecilnya, usai melaksanakan sholat lima waktu. Lira dan Reza tak pernah membiasakan Inas memegang iPad melainkan untuk keperluan menonton para hafiz dan Hafizah Qur'an bertilawah. Di luar daripada itu, iPad akan Reza jauhkan dari jangkauan pitrinya. Begitupun sebaliknya, mereka tak akan bermain ponsel di depan putrinya selain hanya untuk komunikasi atau untuk keperluan lain yang sangat penting.


Setelah surah yang Lira hafalkan itu selesai, kini giliran Inas yang menyetor hafalan surah pendek yang baru beberapa hari lalu sudah dihafalkan dengan bantuan murotal, tapi belum sempat Inas setor pada orang tuanya. Inas begitu fasih membaca surah pendek itu dengan bahasa cadelnya. Jika ada yang keliru dalam penekanan panjang atau pendek pada bacaannya, Lira akan menegurnya dengan lembut lalu memberi contoh bacaan yang benar.


Reza yang baru saja pulang dari masjid langsung masuk ke dalam kamar. Dari depan pintu kamar, Reza sudah mendengar betapa lembut dan sabarnya Lira saat mengajarkan anaknya menghafalkan Al-Qur'an. Reza membuka pintu kamar dan langsung disambut tawa girang putri kecilnya.


"Papaaaaa." Panggilnya sambil merentangkan tangan meminta untuk segera digendong.


"Anak papa kok seneng banget, sih. Ada apa, sayang?" Tanya Reza saat ia menggendong Inas.


"Kakak kangen, papa." Sahutnya gemas.


Reza menyerngitkan keningnya mendengarkan jawaban putrinya. Reza menoleh ke arah istrinya untuk mencari tahu, tapi Lira hanya tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.


"Kangen sama papa? kan papa gak kemana-mana, sayang."


"Mas gak peka banget, sih. Si kakak tuh lagi nyari perhatian karena baru aja selesai hafalin satu surah pendek."


"Masya Allah. Coba, papa mau denger hafalan baru kakak."


Reza langsung mendudukan dirinya yang masih menggendong Inas, di sebelah istrinya. Inas dengan percaya diri langsung membacakan surah An-Nasr di depan kedua orang tuanya sampai selesai.


Reza dan Lira langsung memberikan tepuk tangan sambil mengucapkan syukur. Mereka sangat bangga melihat tumbuh kembang pada otak Inas yang semakin meningkat. Mereka langsung menyium dengan gemas kedua pipi gembul Inas hingga membuat bocah lucu tertawa kegelian.


🌸🌸🌸🌸


Saat ini Reza dan Lira sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Kebiasaan mereka sebelum tidur adalah saling mengobrol hangat tentang banyak hal. Reza mengelus perut buncit Lira dengan lembut sambil membaca ayat kursi dan bersholawat. Saat ini, usia kandungan Lira sudah hampir memasuki bulan kelima. Reza sudah tak sabar untuk segera melihat jenis kelamin anaknya.


"Mas, Lira boleh nanya gak?"


Lira mendongakan wajahnya keatas melihat wajah Reza karena saat ini, posisinya sedang berada dalam dekapan hangat suaminya.


"Boleh, sayang. Mau tanya apa?" Sahut Reza tanpa menghentikan aktifitasnya mengelus perut buncit Lira.

__ADS_1


"Kok, mas bisa tahu tentang Bela? Padahakan Lira gak pernah cerita apa-apa ke mas tentang dia."


Reza tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Lira dengan lembut.


"Sebenarnya mas mulai nyari tahu tentang Bela, waktu sayang bilang ada sahabat baik yang pernah ngasih baju ke sayang. Tapi udah lama kalian gak komunikasi lagi."


Reza mulai menceritakan semuanya, agar rasa penasaran Lira bisa terjawab.


Flashback on


Reza sedang merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena kelahan membaca laporan proyek yang sedang ia tangani. Reza mengambil bingkai foto kecil yang berada di atas meja kerjanya. Ia langsung menyunggingkan senyum hangat di wajahnya. Rasa lelahnya seketika itu juga langsung hilang, saat melihat foto kedua belahan jiwanya yang sedang tersenyum bahagia. Reza jadi teringat cerita Lira tentang sahabatnya yang bernama Bela.


Reza langsung menghubungi mertuanya di kampung untuk mencari tahu tentang Bela serta meminta nomor ponselnya. Sayangnya Indah tak memiliki nomor ponsel Bela. Akhirnya Indah hanya bisa memberikan alamat orang tua Bela di kampung.


Reza segera menghubungi anak buahnya untuk menemui orang tua Bela dan meminta nomor ponsel, alamat sosial media atau alamat email Bela.


Anak buah Reza berhasil menemukan nomor ponsel Bela serta alamat emailnya. Reza langsung menghubungi Bela saat itu juga. Beruntung pada sambungan pertama, Bela langsung mengangkat telponnya.


"Halo, assalamu'alaikum." Sapa Bela.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Bisa saya bicara dengan saudari Bela?"


"Iya, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa ya?"


"Kenalkan, saya Reza Mahardika, suami dari Lira Kanaya."


"Masya Allah. Jadi Lira udah nikah?"


"Alhamdulillah. Gimana kabar Lira sekarang?"


"Kabar Lira baik. Sekarang kami sudah dikaruniai seorang putri."


"Masya Allah. Saya ikut seneng. Oya, ada apa aa telpon saya? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Iya, ada. Kapan anda pulang ke Indonesia?"


"Insya Allah, bulan depan. Ada apa ya, a?"


"Saya ingin memberikan kejutan untuk istri saya. Tolong kabari saya jika anda sudah tiba di Indonesia."


" Baik, a."


"Terima kasih. Assalamu'alaiku."


"Sama-sama. Wa'alaikumussalam Warahmatullah.".Bela merasa heran dengan gaya bicara Reza yang terdengar dingin dan kaku.


Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bela alkhirnya kembali ke tanah air bersama suami dan anaknya. Ia langsung menghubungi Reza yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju Bandung untuk memantau proyek rumah sakitnya.

__ADS_1


Saat urusan Reza telah selesai, ia lansung menemui Bela di kampungnya. Reza tiba di depan rumah Bela dan langsung masuk ke dalam rumah. Keluarga Bela menyambut kedatangan Reza dengan sangat baik.


"Sebenarnya, kedatangan saya kesini adalah untuk meminta bantuan pada anda. Seperti yang sudah pernah saya sampaikan dulu, bahwa saya ingin memberikan kejutan untuk Lira, tepat di hari peresmian rumah sakit kami di Bandung. Tapi sebelum itu, saya ingin mencari tahu apa saja impian istri saya karena saya ingin mewujudkan semuanya. Sebagai sahabat baiknya, pasti anda tahu semua tentang istri saya."


Bela langsung tersenyum lembut. Ia sangat bersyukur karena sahabat baiknya bisa menemukan lelaki baik seperti Reza yang rela menghubunginya hanya untuk memberikan kejutan manis pada Lira.


Bela langsung menceritakan semua tentang Lira. Mulai dari impiannya yang sangat ingin menikah dengan hiasan pelaminan dipenuhi bunga mawar putih kesukaanya. Lira ingin sekali bisa memakan gulali dan permen kapas karena selama hidupnya, Lira belum pernah menyicipi jajanan merakyat itu. Lira juga sangat ingin sekali bisa melihat matahari terbenam bersama orang yang dicintainya dan terakhir, Lira ingin melihat salju secera langsung.


Reza menyatat semua impian sederhana Lira ke dalam ingatannya. Sekali lagi, Reza merasa bersalah yang teramat besar karena saat menikah dahulu, ia memaksa agar pernikahannya tak perlu menggunakan jasa WO dan hanya boleh diadakan dengan cara sederhana.


"Tolong bantu saya untuk mendesign pelaminan seperti apa yang Lira inginkan."


"Insya Allah, saya akan bantu aa. Saya juga ingin melihat sahabat saya bahagia dengan semua kejutan yang sudah aa siapkan."


"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya. Sampai kapan anda berada di Indonesia?"


"Sampai selamanya. Suami saya sudah memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan kembali ke tanah air untuk memulai usaha baru di sini."


"Kalau begitu, apa kalian bersedia bekerja di perusahaan saya di Jakarta? Saya hanya ingin membuat istri saya bahagia dengan kehadiran sahabat baiknya."


Bela melirik ke arah suami dan kedua orang tuanya. Mereka semua menyerahkan keputusan di tangan Bela.


"Tolong pertimbangkan lagi tawaran saya. Kalian tidak perlu khawatir soal tempat tinggal karena saya akan menyiapkan semuanya*."


"Iya Aa, saya terima tawarannya."


Reza bernafas lega. Usahanya datang jauh-jauh ternyata tidak sia-sia. Reza merasa bahagia karena sebentar lagi ia bisa mewujudkan impian sederhana istri tercintanya. Setelah semua rencana kejutan untuk Lira telah selesai disusun. Reza berpamitan untuk menuju ke rumah mertuanya.


Sementara Bela, ia langsung menghubungi pihak WO terbaik yang ada di Kota Bandung, untuk menyiapkan semua keperluan pernikahan yang telah Reza serahkan padanya.


Flashback off


"Gitu ceritanya, sayang."


"Masya Allah, romantis banget sih suami Lira."


Lira langsung menghujani wajah Reza dengan kecupan sebagai tanda terima kasihnya kepada suami tercintanya yang sudah berusaha untuk membuatnya selalu bahagia.


"Terima kasih ya, mas. Lira gak nyangka kalo mas akan melakukan itu semua."


"Sama-sama, sayang. Tapi, kayaknya ucapan terima kasihnya kurang deh. Masak yang dicium cuma muka, yang ini belum." Tunjuknya pada bibirnya sambil tersenyum jail untuk menggoda istrinya.


"Ih, mas apaan sih. Malu tahu." Cicitnya dengan wajah yang sudah memerah karena malu.


Selama ini, Lira selalu merasa malu jika Reza memintanya untuk menyium bibirnya karena Reza yang selalu melakukannya hal itu. Sedangkan Lira hanya bisa menerimanya dengan pasrah.


Reza langsung tertawa renyah saat berhasil menggoda istrinya. Reza memeluk tubuh mungil Lira dengan penuh kasih sayang. Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan. Namun sebelum itu, Reza mengecup seluruh wajah putrinya kemudian dilanjutkan dengan menyium perut buncit dan kening Lira. Setelah itu, barulah mereka tidur dengan nyaman dalam pelukan hangat orang tercinta.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.......😊


__ADS_2