
Selamat membaca........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Pagi menjelang, mentari perlahan mulai menampakkan sinar keemasannya, menyusup masuk lewat sela-sela jendela kamar Reza. Sinarnya menyapu hangat wajah Reza yang terlihat tampan meski dalam keadaan tidur. Perlahan Reza mulai menyipitkan matanya, merasa terusik dengan sinar mentari yang menghangat di wajahnya.
Rasanya, pagi ini Reza enggan melakukan aktifitas apapun selain bermalas-malasan di tempat tidur. Ini bukan kebiasaannya yang suka membuang waktu dengan cara bermalas-malasan.
Jika biasanya di pagi hari, Reza akan memulai harinya dengan melakukan joging di sekitar taman dekat rumahnya, kini ia hanya ingin melakukan aktifitasnya di kamar seperti, berbaring di kasur sambil membaca buku atau nonton film sambil ngemil di kasur. Reza ingin melakukan kegiatan yang sudah lama tidak ia jalani, mengingat pekerjaannya sebagai dokter yang cukup menyita waktu.
Usai membersihkan diri, Reza meraih ponselnya lalu menghubungi Doni untuk memintanya membawakan sarapan, sekalian mereka bisa sarapan bersama.
Tut.....Tut.....Tut......
"Halo?" Terdengar suara serak khas bangun tidur dari seberang sana.
"Halo bro, Lo baru bangun? Ini udah jam berapa, kok Lo baru bangun sih?" Reza mulai mengoceh tidak jelas saat tahu Doni baru bangun atau lebih tepatnya ia yang membangunkan sahabatnya itu.
Doni langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Reza yang suka mengomel jika tahu Doni bangun kesiangan dan melewatkan waktu untuk berolah raga pagi.
"Mulut Lo gak berubah ya, tetep aja bawel kek emak-emak." Doni menggerutu kesal.
"Gue gak mau tahu, pokoknya sekarang Lo bangun terus Lo beliin gue bubur ayam yang biasa mangkal di pertigaan deket rumah gue, Lo tahu kan? Sekalian kita sarapan bareng. Gak pake lama!!" Ucapnya panjang lebar dan langsung mematikan telpon sepihak karena tak ingin memberikan kesempatan kepada Doni untuk melayangkan protes.
Doni mendengus kesal melihat Reza
memutuskan telpon secara sepihak. Doni terpaksa bangun sambil mengacak kasar rambutnya, lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Waktu tidur paginya harus terganggu karena mendapat perintah konyol dari sahabatnya. Mau menolak juga percuma, toh Reza akan terus meneror tidurnya sampai ia bangun. Doni juga sering melakukan hal yang sama seperti yang Reza lakukan padanya saat ini.
Mereka sudah berteman sejak kecil, jadi kebiasaan saling membutuhkan atau menyuruh secara sepihak itu sudah sering mereka lakukan sejak dulu. Bagi orang lain yang melihatnya, mungkin itu terkesan sangat tidak sopan. Namun, seperti itulah gaya persahabatan yang dianggap nyaman menurut Doni dan Reza.
πΈπΈπΈπΈ
Setelah membeli bubur ayam pesanan Reza, Doni langsung melakukan mobilnya menuju rumah sahabatnya itu. Saat tiba di depan pintu rumah Reza, ia terus menekan bel karena pintu masih terkunci.
Lira yang masih berada di dalam kamar mendengar suara bel berbunyi berkali-kali. Ia ingin bangun, namun badannya terasa sangat lemas. Pagi ini, memang Lira sengaja bangun terlambat untuk mengistirahatkan tubuh lemahnya akibat aksi brutal Reza semalam.
Karena tak ada yang membukakan pintu untuknya, takhirnya Doni menghubungi Reza yang masih berada di kamar mandi. Kamar Reza kedap suara, jadi ia tak mendengar suara bunyi bel. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat ponselnya berbunyi, kemudian ia mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Halo bro, lo di mana? kok lama banget?"
"Ckk, gue udah di depan pintu rumah Lo. Buruan bukain gue pintu sebelum gue pulang." Titahnya dengan kesal. Bagaimana tidak, ia sudah menunggu cukup lama di depan pintu persis seorang kurir.
"Oke." Jawab Reza singkat.
Reza menuju ruang tamu membukakan Doni pintu. Saat membuka pintu, ia melihat Doni yang sudah menekuk wajahnya, sementara Reza hanya menyengir kuda melihat wajah tekuk Doni.
"Lo dari mana aja? Tahu gak, gue udah dari tadi berdiri di depan pintu sambil mencet bel tapi gak ada satu pun orang yang bukain gue pintu. Kalo ada tetangga lo lewat, nanti dikiranya gue kurir pengantar makanan." Kali ini giliran Doni yang mengomel panjang lebar.
"Hehe, sorry bro. Tadi tiba-tiba perut gue mules jadi gue ke toilet dulu. Lagian Lo tahu sendiri kan, kamar gue kedap suara? Jadi, mau Lo mencet bel sampe jari-jari Lo bengkak juga gue gak bakal denger." Jawab Reza membela diri.
"Ya, seenggaknya Lo jangan ngunci pintu dong. Lo yang nyuruh gue ke sini pagi-pagi, sampe gue ngorbanin waktu tidur eksklusif gue cuma buat Lo, tahunya pas tiba, gue dikunciin pintu."
"Udah, gak usah ngomel. Entar mirip emak-emak komplek yang pake daster plus koyo di kepala, lagi marahin anaknya gara-gara gak mau tidur siang." Reza mencoba menghibur Doni yang terus mengomel meluapkan kekesalannya.
"Gak lucu." Doni langsung masuk tanpa menghiraukan Reza yang masih berdiri di depan pintu.
πΈπΈπΈπΈ
Doni langsung menuju dapur untuk mengambil air minum, sekalian ia ingin mencari Lira untuk memberikannya bubur ayam. Saat tiba di dapur, Doni tak melihat Lira yang biasanya di waktu seperti ini sedang membersihkan rumah. Reza ikut menyusul Doni masuk ke dapur. Reza mengerutkan dahinya melihat Doni yang terus mencari keberadaan Lira persis seperti kejadian semalam.
"Mau ngapain lagi kalo bukan nyariin adek kesayangan gue." Jawabnya sambil terus mencari keberadaan Lira di dapur yang luas itu.
"Dia gak ada." Jawab Reza santai. Ia menyuapkan bubur ayam ke mulutnya.
"Hah? Maksud Lo, Lira pergi?"
"Dia gak pergi, Doni. Dia masih di kamarnya. Udah deh, nanti juga dia bangun terus nyari makan. Lo taro aja di situ bubur ayamnya."
"Tapi bro, gue harus ngasih sekarang nih bubur ayam, biar dia bisa sarapan pas lagi anget-angetnya."
Reza langsung kesal mendengar Doni yang begitu perhatian pada Lira. "Lo tunggu di sini, biar gue yang panggilin tu anak."
"Nah, gitu dong. Itu baru suami sayang istri." Ucap Doni menggoda sahabatnya yang sudah berlalu pergi menuju kamar Lira yang berada tak jauh dari dapur tanpa menghiraukan Doni yang sedang menggodanya.
bugh....bugh....bugh....
__ADS_1
Reza menggedor pintu kamar Lira dengan kencang, hingga Lira yang sedang tertidur pun merasa terusik. Lira merasa enggan untuk membuka pintu, karena ia sudah tahu siapa pelakunya kalau bukan Reza. Lira memilih menutup telinganya menggunakan bantal agar tak mendengar geduran pintu yang terus berbunyi cukup keras.
Merasa tak mendapat respon dari Lira, membuat Reza menjadi marah. Ia ingin mendobrak pintu kamar Lira, namun ia menahannya karena saat ini ia sedang kedatangan sahabatnya. Dan sudah pasti Doni akan membela Lira, jika ia ketahuan berbuat kasarnya.
Reza terus menggedor pintu kamar Lira hingga akhirnya Lira menyerah. Ia bangun dengan kondisi tubuhnya yang terasa lemas tak bertenaga. Lira membuka pintu kamarnya, ia melihat Reza sudah memasang wajah marah dengan mata yang terus melotot tajam.
"Kamu sengaja buat aku menunggu lama, terus menggedor pintu sampe tangan aku bengkak." Bentaknya tanpa menghiraukan wajah pucat Lira.
"Maaf tuan, tadi saya ketiduran." Jawab Lira dengan suara lemah.
"Gak usah banyak alesan. Buruan keluar, ada Doni di dapur, dia bawain kamu bubur ayam buat sarapan." Reza langsung meninggalkan Lira yang masih berdiri bersandar di dekat pintu kamarnya.
Reza tak berniat meminta maaf pada Lira karena telah merampas haknya dengan cara kasar, hingga membuat Lira kesakitan. Bahkan ia bersikap biasa, seperti tak pernah terjadi apa di antara ia dan Lira.
πΈπΈπΈπΈ
Lira membersihkan dirinya di kamar mandi, kemudian menyusul Reza ke dapur. Lira melihat Doni sudah duduk manis menunggunya di meja makan. Doni langsung menyuruh Lira untuk duduk di kursi yang berada di dekat Reza, namun Lira tak berani duduk sebelum mendapat persetujuan dari lelaki yang sedang sibuk menikmati bubu ayamnya.
Doni menatap kesal ke arah Reza yang sengaja mengacuhkan Lira. Reza terus sibuk menyuap bubur ayam yang terasa lezat itu ke mulutnya. Tak lama Reza meringis kesakitan saat Doni menendang tulang keringanya di bawah meja.
"aaawww!!! Lo apa-apaan sih? Sakit tahu." Ucap Reza sambil mengusap tulang keringnya yang terasa sakit.
"Biar Lo tahu rasa. Kesel banget gue liat Lo yang asik makan, sementara gue dan bini Lo di kacangin." Jawab Doni tanpa merasa berdosa karena telah menendang tulang kering Reza dengan cukup kuat.
"Ya, tinggalkan makan aja susah banget sih. Ngapain pake nendang tulang kering gue?" Kesal Reza lalu melanjutkan sarapannya.
Setelah mendapat persetujuan dari Reza, akhirnya Lira berani duduk di kursi yang berada di dekat Reza. Doni langsung menyodorkan bubur ayam ke arah Lira dan langsung mendapat anggukan terima kasih dari Lira.
Mereka bertiga menikmati sarapan dengan suasana hening. Tak ada percakapan di antara mereka. Usai sarapan bersama, Doni berpamitan pulang untuk bertemu kekasihnya. Sedangkan Reza dan Lira kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.........
jangan lupa tinggalkan jejak
like, komen, dan vote
__ADS_1
terima kasih....π