Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 75


__ADS_3

Lanjut.........


🌸🌸🌸🌸


Usai menyantap steak yang lezat namun tak mengenyangkan menurut Lira, kini tiba saatnya bagi Reza untuk memberikan hadiah yang sudah seharusnya diterima oleh Lira sebagai istri. Reza bersimpuh sambil menggenggam tangan Lira. Lagi-lagi rasa bersalah menyerbu hati Reza saat menggenggam tangan Lira yang terasa keras dan kasar. Tangan itu yang sudah menjadi saksi bisu bagaimana kerasnya Lira menjalani hidup.


Reza menghembuskan nafasnya kasar, berusaha sekuat tenaga agar tak menangis di depan istrinya. Reza mencoba mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Ia mencoba mengingat kembali kata demi kata yang telah ia susun dan tersimpan di memori otaknya untuk disampaikan dihadapan istrinya.


"Sayang, mas tahu jika kesalahan yang telah mas lakukan dulu sangat fatal. Luka yang mas torehkan di hati sayang juga sangat dalam dan mungkin luka itu masih meninggalkan bekas hingga saat ini di hati sayang. Tapi mulai saat ini dan seterusnya, selama Allah masih menitipkan nyawa ditubuh mas, Insya Allah mas akan selalu berusaha untuk membahagiakan sayang. Mas berharap, keluarga kecil kita bisa dikumpulkan kembali di surganya Allah. Jadi, tolong bantu mas untuk bisa mewujudkan itu semua. Tegur mas jika suatu saat mas khilaf dan lalai dalam menjalankan kewajiban mas sebagai seorang hamba juga seorang suami dan ayah. Terima kasih untuk setiap kesabaran dan kesetiaan sayang, selama menjadi istri mas."


Reza mengakhiri untaian kalimat indahnya dengan mengambil kotak beludru kecil dari dalam saku kemejanya lalu menyematkan cincin berlian ke jari mungil milik Lira. Setelah itu, Reza mengecup kedua tangan Lira secara bergantian. Reza juga mengusap tangan kasar Lira dengan disertai deraian air mata yang mengalir di wajah tampannya.


Lira sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan Reza padanya. Lira sangat menghargai usaha Reza untuk berubah menjadi suami serta ayah yang lebih baik dan bertanggung jawab dalam memimpin keluarga kecilnya. Lira ikut bersimpuh di hadapan Reza lalu mengusap lembut air mata yang masih terus mengalir di wajah suaminya itu.


"Mas, apapun kesalahan yang pernah mas lakukan pada Lira dulu, Insya Allah Lira sudah ikhlas dan ridho. Mengenai luka hati Lira, seiring berjalannya waktu pasti akan disembuhkan dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang mas berikan pada Lira juga anak kita. Mari sama-sama kita belajar untuk membina rumah tangga kita, agar tetap berada di jalan Allah dan keluarga kita selalu mendapat ridho-Nya. Maka dari itu, Lira minta supaya mas tetaplah menjadi suami serta ayah yang baik untuk Lira dan Inas."


Lira mengecup kening dan kedua mata Reza secara bergantian. Begitu juga Reza, ia membalas mengecup kening Lira dengan sangat dalam, menyalurkan rasa kasih sayangnya yang begitu besar pada istrinya itu.


"Udah ya, nangis-nangisnya. Kita pulang sekarang, kasian dedek nanti nangis nyariin kita." Ajak Lira sambil membantu Reza untuk berdiri.


"Iya, sayang. Ayo, kita pulang."


Reza menggandeng tangan Lira dengan mesra sambil sesekali memberi kecupan ringan di tangan mungil itu. Reza mengemudikan laju mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tak melepaskan genggamannya dari tangan Lira.


Saat melewati warung sate Padang yang berada tak jauh dari rumahnya, Reza menjadi kembali teringat ketika Lira mendatangi warung sate itu saat masih mengandung Inas. Sayangnya saat itu Lira hanya bisa menyium bau asap dari sate tanpa bisa membelinya. Maka dari itu, tanpa banyak bertanya Reza langsung memutar balik mobilnya untuk menghampiri warung sate Padang itu. Reza ingin menebus kesalahannya yang dulu dengan membelikan Lira sate padang itu dengan porsi yang banyak. Reza juga membelikan sate Padang itu untuk kedua orang tua serta asisten mereka di rumah.


"Mas kok beli sate? Buat siapa? Kita kan udah makan?" Tanya Lira beruntun saat melihat Reza menenteng dua kantung plastik berukuran sedang berisi sate Padang.


"Mas beli 50 tusuk khusus untuk sayang dan 50 tusuk lagi untuk mama, papa, ibu dan asisten kita di rumah.


"Ya Allah, 50 tusuk itu kebanyakan untuk Lira makan sendiri. Nanti kalo gak habis, kan jadi mubazir mas. " Omel Lira.


"Ya, nanti sisanya bisa sayang simpen di kulkas buat dimakan besok." Jawab Reza santai tanpa menghiraukan omelan Lira.


"Ya udah, deh. Makasih ya, mas."


Lira tersenyum bahagia, akhirnya keinginannya yang dulu untuk makan sate Padang bisa terwujud.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


"Assalamu'alaykum." Ucap Lira dan Reza bersamaan saat mereka memasuki rumah.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Irma dan Indah.


"Eh, anak bunda udah bangun. Sini sayang, sama bunda." Lira mencoba mengambil putrinya dari pangkuan mertuanya, namun dengan cepat dicegat oleh Reza.


"Cuci tangannya dulu, sayang. Kita baru habis dari luar, banyak kumannya."


Reza memang sangat protektif terhadap putri kecilnya. Ia bahkan tak segan melarang kedua orang tuanya menggendong Inas jika mereka baru datang dari luar dan belum mencuci tangan. Reza juga melarang asisten rumah tangganya agar tak sembarangan menyentuh anaknya. Terkadang Lira merasa jengah melihat sikap protektif Reza yang sangat berlebihan. Padahal dulu saat mereka masih tinggal di kampung, tetangganya dengan bebas menyentuh Inas tanpa menyentuh tangan lebih dulu.


"Ya Allah, mas. Tangan Lira bersih kok."


"Pokonya tetap gak boleh, sebelum sayang cuci tangan." Ucap Reza tegas.


Bukan tanpa alasan Reza melakukan hal itu. Ia tak ingin kejadian di mana Inas dirawat di rumah sakit karena panas tinggi dan step yang disebabkan oleh bakteri terulang kembali.


"Iya deh, maaf."


Lira langsung menuju dapur untuk mencuci tangan. Setelah itu, Lira bisa menggendong dan menyium kedua pipi gembul putri kecilnya dengan gemas.


"Alhamdulillah lancar, ma." Jawab Reza. "Oh iya, ini Reza bawain sate Padang untuk mama, papa, dan ibu. Nanti dibagi juga sama asisten rumah." Reza menaruh kantung plastik itu ke atas meja.


"Sini, biar Lira hidangkan ke piring. Sekalian Lira kasih ke asisten rumah." Lira berniat menaruh Inas ke pangkuan mertuanya lalu mencoba meraih kantung plastik it, namun Reza melarangnya.


"Gak usah sayang, biar mas aja. Sayang duduk diem di sini sama dedek sekalian temenin mama sama ibu nonton siaran ikan terbang." Cegah Reza lalu mengambil kantung plastik itu dan membawanya ke dapur.


"Apaan, acara gak mutu gitu ditonton." Jawab Lira cemberut.


Reza hanya tertawa mendengar jawaban Lira yang begitu lucu menurutnya.


Reza lalu menuju dapur, meminta tolong pada Mirna untuk membagi sate itu menjadi dua bagian lalu memindahkannya ke piring. Satu piring berisi 25 tusuk sate diberikan kepada para asisten rumah dan sate piringnya lagi dihidangkan untuk tuan rumah. Sedangkan sate untuk Lira dipisahkan sendiri dengan berisi 20 tusuk sate dan sisanya disimpan ke kulkas, sesuai permintaan Reza.


"Saya tunggu di ruang tengah ya, bi." Ucap Reza.


"Iya den. Terima kasih banyak untuk satenya, den."

__ADS_1


"Iya sama-sama, bi."


Saat Reza menuju ruang tengah, ia melihat ayahnya telah bergabung sambil memangku Inas yang terus berceloteh. Reza kembali bergabung bersama orang tercintanya di ruang tengah.


Tak lama, Mirna datang membawa dua piring berisi sate Padang yang tadi dibeli Reza. Mirna meletakan kedua piring itu di atas meja lalu berpamitan kembali ke dapur. Namun, Lira menahannya agar bergabung saja untuk menikmati sate Padang bersama mereka. Dengan sopan Mirna menolaknya karena ia ingin bergabung bersama teman-temannya menikmati sate Padang pemberian Reza di dapur. Kemudian Mirna kembali bergabung bersama teman-temannya sesama asisten rumah.


"Makan yang banyak ya, sayang." Ucap Reza sambil mengusap lembut kepala Lira dan Lira hanya mengangguk, menikmati sate Padang dengan bumbu khas yang terasa begitu lezat.


"Kamu gak makan, Za?" Tanya Irma sambil mengunyah sate Padang yang terasa lezat itu. "Eh, itu cincin berlian ya, Ra." Lanjut Irma saat melihat cincin berlian yang begitu indah melingkar di jari Lira.


"Iya, ma. Mas Reza yang ngasih." Jawab Lira dengan wajah merona karena malu.


"Bagus banget. Reza memang gak pernah salah pilih." Ucap Irma.


Sementara Reza yang mendapat pujian dari ibunya hanya tersenyum bangga. Kemudian Reza teringat pada perhiasan yang juga ia belikan untuk mertuanya.


"Reza tadi beli juga untuk ibu. Tunggu, Reza ambil dulu." Reza menuju kamar tamu yang berada di sebelah kamar mertuanya untuk mengambil perhiasan yang ia simpan di kamar itu.


Reza kembali ke ruang tengah dengan meneteng paper bag berisi perhiasan berlian untuk mertuanya.


"Ini untuk ibu." Reza memberikan perhiasan itu kepada mertuanya.


Indah menerima perhiasan itu dengan rasa haru. "Terima kasih, Nak Reza." Ucap Indah tulis. "Tapi, apa ini gak berlebihan?" Lanjutnya.


"Ini gak berlebihan sama sekali kok, bu. Ini bahkan gak sebanding dengan kebaikan ibu saat memaafkan dan menerima Reza kembali menjadi menantu ibu." Balas Reza tak kalah tulus. "Terima kasih karena telah melahirkan wanita yang berhati mulia seperti Lira dan meyerahkannya kepada lelaki bejat seperti Reza." Lanjutnya dengan senyum sendu.


"Sama-sama. Itu sudah menjadi tugas ibu untuk mendidik Lira menjadi wanita yang berbakti, dan Nak Reza adalah lelaki baik yang dipiliha Allah untuk menjadi pendamping hidup anak ibu."


Martin, Irma, dan Lira menyaksikan itu menjadi terharu, kemudian mereka melanjutkan kegiatan makan sate mereka dengan keheningan.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......😊


jangan lupa dukungannya, ya.....


KOMEN, LIKE, DAN VOTE SEIKHLASNYA.....

__ADS_1


TERIMA KASIH😊♥️


__ADS_2