Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 74


__ADS_3

Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸


"Mas, ini belanjaan siapa? Kok banyak banget?" Lira melihat beberapa paper bag yang tergeletak di atas karpet bulu di kamar mereka.


"Oh, itu buat sayang sama dedek. Yang agak gedean itu, buat ibu. Nanti tolong sayang kasih ke ibu, ya." Jawab Reza sambil menepuk-nepuk pelan pantat Inas yang sudah tertidur pulas di ranjang.


Lira langsung membuka paper bag itu yang diberikan Reza padanya. Lira langsung tercengang saat melihat beberapa pasang gamis yang sangat indah.


"Mas, ini bagus banget." Lira mengusap gamis indah itu dengan lembut. Rasa haru tergambar jelas di wajahnya. Selama hidupnya, Lira belum pernah memiliki baju yang begitu indah dengan harga yang mahal seperti baju itu. Lira tidak pernah bermimpi memiliki baju bagus karena bagi Lira, bisa membeli baju bekas saja, ia sudah sangat bersyukur.


Reza melihat istrinya tersenyum sambil memandangi gamis yang ia belikan tadi, langsung melepaskan pelukannya di tubuh anaknya lalu menuju ke arah istrinya yang masih terus memandangi dan mengusap gamis yang ada di tangannya.


"Sayang, kenapa? hmm?" Reza menangkup wajah Lira, mengusap lembut air mata yang tiba-tiba mengalir di wajah Lira.


Lira memeluk tubuh Reza dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Reza merasa heran dengan sikap istrinya yang begitu tiba-tiba dan untuk pertama kalinya Lira memeluknya tanpa diminta.


"Sayang ngomong, ada apa?"


"Gak papa, mas. Lira cuma seneng dan merasa terharu aja. Ini baju bagus pertama yang Lira punya. Terima kasih, ya." Ucap Lira sambil memeluk erat tubuh Reza.


Hati Reza menjadi terenyuh saat mendengar penuturan istrinya. Meski Reza sudah pernah mendengar cerita itu dari mertuanya, tentang bagaimana perjuangan Lira untuk bisa membeli baju baru yang hanya bisa dibeli setahun sekali dan selebih nya, Lira hanya bisa memakai pakaian bekas. Namun, tetap saja Reza merasakan sesak di dadanya.


Air mata Reza mengalir dari sudut matanya, menahan sakit di hatinya. Reza tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya memakai pakaian bekas orang lain. Kebutuhannya selalu terpenuhi dan bahkan ia hidup dengan bergelimangan harta tanpa takut hidup kekurangan. Ayahnya yang seorang pebisnis, tentu bisa memenuhi gaya hidup Reza yang terbilang cukup mewah.


"Iya, sama-sama sayang. Mas janji, akan selalu membahagiakan sayang juga dedek."


Reza mengecup kening Lira dengan sangat dalam dan penuh perasaan. Diusap dengan lembut wajah istrinya yang selalu menampilkan senyum hangat. Reza merasa bersyukur dan beruntung bisa memiliki istri yang begitu sabar dan memiliki hati yang begitu tulus. Kesederhanaan dan kesabaran Lira mampu meruntuhkan kesombongan seorang Reza Mahardika.


"Nanti bajunya dipake ya, sayang."


"Iya, mas. Sekali lagi terima kasih ya. Lira suka banget sama bajunya." Lira memandangi wajah Reza sambil tersenyum tulus.


"Sayang berhak mendapatkan itu semua. Terima kasih karena kebaikan hati sayang, mas jadi luluh dan semakin cinta sama istri mas yang sabar ini."


Reza kembali mengecup lembu kening Lira sampai berkali-kali hingga Lira merasa geli barulah Reza menghentikan kecupannya.


"Sejak kapan mas jadi jago ngegombal?" Lira mendongakan wajahnya ke atas agar bisa melihat wajah tampan suaminya yang begitu mempesona.


"Sejak mas punya istri yang baik hati dan sabar seperti sayang."

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Usai sholat isya, Lira bersiap-siap lebih dulu sambil menunggu Reza pulang dari masjid. Lira memilih memakai gamis berwaran tosca gelap dengan bordiran berwarna emas di bagian pinggang, menambah kesan mewah pada gamisnya. Lira memoles wajahnya dengan make up tipis dan natural, namun tetap menampilkan kecantikannya yang alami. Lira merapikan jilbab pasmina krem yang menutupi dadanya. Tampilan Lira terlihat begitu sempurna.


Lira melihat pantulan dirinya di cermin lalu tersenyum bahagia. Untuk pertama kalinya Lira bisa merasakan memakai pakaian indah yang belum pernah yang rasakan seumur hidupnya.


Tanpa Lira sadari, Reza memandanginya sejak tadi. Reza menghampiri Lira lalu memeluknya dari belakang.


"Astaghfirullah, mas." Lira terkejut saat lengan kekar milik Reza melingkar erat di perutnya.


"Masya Allah, istri mas cantik banget." Ucap Reza sambil meletakan dagunya di pucuk kepala Lira. Tubuh Lira yang begitu mungil membuat Reza selalu merasa gemas saat memeluk tubuh istrinya.


Lira tersenyum, mengusap lembut punggung tangan Reza yang melingkar di perutnya.


"Terima kasih. Mas juga siap-siap, biar kita gak kemaleman pulangnya. Lira udah siapin baju mas."


"Iya sayang." Reza mengecup pipi Lira lalu mengambil baju yang telah disiapkan Lira untuknya.


Reza telah siap dengan kemeja yang senada dengan gamis Lira. Dipadukan dengan celana kain hitam hinggam membuat penampilan Reza terlihat sempurna dan sepadan dengan penampilan Lira. Dengan tatanan rambut yang disisir tapi ke belakang, membuat Reza menjadi terlihat lebih muda dari usianya. Lira mencuri-curi pandang ke wajah Reza, merasa kagum melihat ketampanan wajah suaminya. Reza menyadari jika Lira sedang mencuri pandang padanya, membuatnya tersenyum.


"Kenapa sayang liatin mas kayak gitu?" Tanya Reza sambil tersenyum geli.


"Eh, gak papa mas." Jawab Lira dengan wajah merona karena malu. "Mas, si dedek masih tidur. Terus gimana? Kalo ditinggal, takutnya dedek nangis." Lira mengusap lembut kepala anaknya yang sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka panda berukuran sedang pemberian Reza.


"Udah, gak papa. Kita titipin aja dedek ke mama dan ibu. Pasti mereka gak keberatan." Jawab Reza sambil memakai jam tangan nya yang berwarna silver. "Ayo, sayang. Kita gak lama kok." Ajak Reza menggandeng tangan Lira.


Mereka berdua menghampiri orang tua mereka yang sedang berada di ruang keluarga dan meminta tolong pada kedua ibu mereka untuk menjaga Inas yang sedang selama mereka pergi. Irma dan Indah tentu tak merasa keberatan saat diminta menjaga Inas. Mereka justru merasa senang karena bisa menjaga cucu kesayangan mereka yang menggemaskan itu.


"Nanti kalo dedek rewel, mama langsung telpon kalian. Jadi gak usah khawatir." Ucap Irma saat melihat raut wajah Lira yang masih belum tenang untuk meninggalkan Inas dalam keadaan tertidur.


"Iya, ma. Kalo gitu Reza sama Lira pergi dulu. Assalamu'alaykum." Pamit Reza sambil menyium punggung tangan orang tua mereka.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Irma, Indah, dan Martin bersamaan.


"Hati-hati, ya." Ucap Irma.


Terukir senyum bahagia di wajah Indah saat melihat kebahagiaan putrinya. Akhirnya, setelah melewati ujian yang begitu menyesakan dada dan menguras air mata, putrinya bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini diimpikan.


🌸🌸🌸🌸


Reza dan Lira telah sampai di restoran yang telah dipesan sebelumnya. Wajah Lira langsung berubah takjub saat melihat restoran mewah itu. Reza hanya tersenyum melihat wajah istrinya. Reza keluar dari mobil untuk membuka pintu lalu mengulurkan tangannya pada Lira dan Lira menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1


Lira mengaitkan tangannya ke lengan Reza, namun matanya masih terus memandangi restoran itu.


"Sayang, matanya fokus ke depan dong. Kalo jatuh gimana?" Tegus Reza lembut saat mereka sudah berada di depan pintu restoran.


"Eh, iya mas. Maaf."


"Iya, gak papa. Ayo, masuk."


Reza membawa Lira masuk ke dalam private room di restoran itu. Reza menarik kursi untuk Lira dan Reza duduk dihadapan Lira. Mata Lira belum lepas dari kekagumannya melihat kemewahan yang tersaji di dalam restoran yang mereka kunjungi. Ini ketiga kalinya Lira masuk ke restoran mewah dan menikmati kemewahan di dalamnya.


Lilin-lilin kecil dan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati menghiasi ruangan, menambah kesan romantis bagi pasangan halal itu.


Reza menggenggam lembut tangan Lira yang di atas meja. Lira tersenyum lembut ke arah Reza, namun senyumnya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya yang begitu besar.


"Sayang pasti heran karena tiba-tiba mas ajak ke sini, iyakan?"


"Iya, sebenarnya ada apa mas ngajakin Lira ke sini?"


"Mas akan jawab, tapi setelah kita makan." Lagi-lagi Reza sengaja membuat Lira semakin penasaran.


Lira hanya cemberut mendengar jawaban Reza yang menggantung tanpa penjelasan. Reza memanggil waiters untuk segera menyajikan makanan yang telah dipesan. Tak lama kemudian seorang waiters datang membawa sebuah kereta dorong yang berisi steak dan jus lemon. Reza sengaja memilih steak dan jus lemon sebagai pengganti anggur merah untuk santapan malam romantis mereka.


Wajah Lira mendadak bingung saat melihat steak yang sudah tersaji indah di atas meja tanpa didampingi nasi. Menurutnya, perut tidak akan kenyang tanpa makan nasi. Lira juga tidak tahu bagaimana cara menggunakan pisau dan garpu secara bersamaan karena memang Lira belum pernah makan steak.


"Mas, ini emang gak ada nasinya?" Tanya Lira polos membuat Reza menjadi tertawa terbahak-bahak saat melihat kepolosan istrinya.


"Hahahaha...Sayang ada-ada aja. Steak gak dimakan pake nasi, sayang." Jelas Reza masih sambil tertawa.


"Ya, mana Lira tahu. Lagian juga kalo makan daging tanpa nasi, mana kenyang."


Reza memotong steak nya menjadi kecil-kecil lalu steak itu diberikan kepada Lira. Reza sengaja menukar piringnya dengan piring Lira yang berisi steak yang masih utuh agar Lira bisa segera menikmati hidangannya tanpa merasa repot harus memotong-motobg steak nya lebih dulu.


"Terima kasih, mas."


"Sama-sama, sayang."


Lira merasa takjub saat mengunyah steak nya yang begitu lembut dan lezat. Reza hanya tersenyum menyaksikan kebahagiaan yang dirasakan istrinya. Sangat mudah membuat istrinya terdenyum, hanya dengan hal sedehana sepert ini bisa membuat istrinya bahagia. Mereka menikmati makan malam romantis dalam diam.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.......😊

__ADS_1


__ADS_2