Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 119


__ADS_3

Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Hari ini adalah hari pertama bagi Arman bekerja di perusahaan. Sejak subuh, Bela telah sibuk menyiapkan keperluan untuk suaminya bekerja. Seperti kemeja, celana kain, dasi dan juga sepatu. Semua keperluan suaminya, Bela letakkan di atas tempat tidur. Bela membeli semua keperluan kerja suaminya, ketika sedang berada di Bandung.


"Yank, tolong ambilin kaos kaki mas dong."


"Iya, mas. Bentar ya." Dengan telaten, Bela mengurus suaminya.


"Masya Allah! Ganteng banget sih, suami aku." Lanjutnya dengan wajah bangga melihat penampilan baru suaminya yang terlihat lebih tampan.


"Alhamdulillah. Tapi mas gugup banget, yank." Arman mengambil tangan Bela dan meletankan di dadanya untuk ikut merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang.


"Bismillah. Semoga mas bekerja dengan baik, ya. Mas Reza orangnya baik, kok. Jadi Bela yakin, suami aku pasti akan betah bekerja di sana." Ucap Bela lembut, menenangkan suaminya yang terlihat gugup.


"Aamiin. Makasih sayangku."


"Sama-sama, mas."


🌸🌸


Sementara di kamar yang berada di lantai dua, terlihat seorang wanita dengan perut buncitnya sedang sibuk mengurus putrinya serta bayi besarnya yang manja. Usai mengurus Inas hingga wangi dan cantik. Kini giliran bayi besarnya yang harus diurus dengan baik. Jari-jari lentik Lira sedang bermain di kancing kemeja Reza. Dengan telaten Lira mengancingkan kemeja putih milik suaminya lalu memasangkan dasi.


"Mas, tolong tunduk dikit. Lira gak nyampe kalo mas berdiri kayak gitu."


"Iya sayang, maaf."


Reza mulai membungkukkan badannya, agar Lira dapat dengan mudah memasang dasi di kerah kemejanya. Mata Reza tak lepas dari wajah cantik istrinya. Reza merasa kagum dengan wajah cantik alami istrinya yang tetap terlihat enak dipandang, meski tanpa polesan bedak atau pun lipstik di wajahnya.


Lira yang merasa diperhatikan pun merasa malu dan salah tingkah. Wajahnya langsung memanas dan berubah menjadi merah.


"Mas, kenapa liatin Lira kagak gitu sih?" Ucapnya usai menyelesaikan tugasnya lalu berpura-pura membereskan tempat tidur yang sudah terlihat rapi.


Reza menyusul istrinya yang sedang menepuk-tepuk tempat tidur lalu memeluk tubuh mungil itu dari belakang sambil meletakan dagunya di pucuk kepala istrinya.


"Habisnya, sayang cantik banget. Mas jadi tambah cinta."


"Ck, pagi-pagi udah ngegombal. Malu atuh sama kakak dan dedek di perut."


"Ini bukan gombal sayang, tapi kenyataan. Kakak, bunda cantik kan?"


Inas yang merasa ditanya langsung menoleh dan mengangguk kecil lalu kembali memainkan bonekanya tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang sedang menatapnya dengan gemas.


Reza langsung bersimpuh di depan perut buncit Lira lalu menadahkan telinga kanannya serta tangannya di perut Lira, ingin menyapa anaknya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak papa? Lagi ngapain, sayang? Dedek dengarkan papa ngomong apa? Hari ini bunda keliatan cantik banget lho, dek. Gak hanya hari ini aja sih, tapi setiap hari juga bunda keliatan cantik banget. Nanti kalo dedek udah lahir, pasti dedek bangga punya bunda yang cantik dan sabar kayak Bunda Lira." Ucap Reza pada buah hatinya yang hingga kini belum ditahu jenis kelaminnya.


Reza mengelus lembut dan mengecup perut buncit Lira berkali-kali hingga membuat Lira tersenyum geli. Lira mengusap rambut hitam dan lebat milik suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Reza berdiri dan langsung mengecup seluruh wajah Lira tanpa melewatkan satu pun. Kemudian kecupan Reza berakhir di kening Lira. Mereka saling menyatukan kening dengan cukup lama.


"I love you, istriku." Ucap Reza dengan mesra tepat di depan bibir istrinya.

__ADS_1


"I love you too, suamiku." Balas Lira sambil tersenyum manis.


Mereka langsung saling membalas senyum lalu berpelukan dengan sangat lama. Lira menempelkan wajahnya di dada bidang milik suaminya dan menghirup dengan dalam aroma khas yang melekat di tubuh kekar suaminya yang begitu menenangkan.


krrruuukkkk


Momen romantis mereka terganggu oleh suara perut Lira yang berbunyi cukup kencang hingga membuat wajah Lira memerah karena malu. Reza tertawa renyah melihat wajah malu istrinya yang terlihat semakin menggemaskan. Reza kembali memeluk gemas tubuh mungil istrinya yang sudah memasang tampang cemberut.


"Hahahah....Sayang udah laper banget, ya." Goda Reza di sela-sela tawanya.


"Maaaasss. Nyebelin banget sih. Ini yang laper dedek nya lho, bukan Lira." Elaknya sambil mengerucutkan bibirnya, menahan malu.


"Maafin bunda ya, dek. Bunda malu banget sama papa, jadi bunda bilang kalo dedek yang laper." Ucap Lira dalam hati sambil mengelus lembut perut buncitnya.


"Iya, sayang. Mas tahu kok, sekarang dedeknya lagi laper." Sahut Reza dengan menahan tawanya agar tak pecah dan membuat istrinya semakin malu.


"Ya udah, kita sarapan yuk. Kasian dedek di perut udah laper banget sampe mencet bel di perut bundanya."


"Maaasss."


Pukulan manja mendarat di dada bidang Reza hingga membuat si pemilik dada menjadi tertawa kencang. Reza merasa puas mengerjai istrinya di pagi hari. Hal ini, seolah menjadi vitamin penambah semangatnya untuk memulai aktifitasnya yang padat hari ini.


🌸🌸🌸🌸


Suasana meja makan menjadi semakin ramai dengan kehadiran keluarga kecil Bela. Terdengar suara celoteh lucu dari dua bocah menggemaskan yang juga sedang menikmati sarapan mereka.


Usai makan, Reza dan Arman berpamitan pada kedua orang tua mereka. Lira dan Bela langsung mengantar para suami dengan disusul oleh kedua anak mereka dari belakang, sampai ke depan pintu rumah.


Lira mengajak Bela masuk ke dalam rumah, ikut bergabung bersama Irma dan Martin yang sudah duduk di ruang keluarga, menonton televisi. Sementara Inas dan Farel, memilih bermain bersama di atas karpet bulu yang berada di tengah-tengah ruang keluarga yang luas itu. Untuk saat ini, kedua bocah lucu itu terlihat akur. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah mereka akan seterusnya akur, atau nanti mereka akan bertengkar lalu menangis bersama? Hanya waktu yang mampu menjawabnya.


Sekitar satu jam Lira dan Bela duduk bersama Irma dan Martin di ruang keluarga sambil sesekali mereka mengobrol hangat dan bercanda. Tak lama kemudian, terdengar suara tangis dari Inas yang cukup kencang. Lira dan Bela langsung menghampiri kedua bocah itu. Sedangkan Irma dan Martin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Inas. Mereka sudah terbiasa melihat pertengkaran kecil di antara Inas dan Farel, jadi mereka tak akan ikut campur karena Irma dan Martin percaya, jika Lira dan Bela mampu menenangkan anak-anak mereka tanpa bentakan atau kekerasan.


"Kakak kenapa nangis? Ada apa, sayang?" Tanya Lira sembari mendekap tubuh mungil putrinya.


"Abang nakal, bunda." Adu Inas di sela tangisnya.


"Abang, apain adek?" Kali ini Bela yang bertanya pada putranya yang sedang diam membisu dengan wajah bersalah karena telah membuat Inas menangis.


"Tadi abang lampas mainan adek, umi." Jawab Farel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Bela tersenyum mendengar jawaban jujur dari putranya, sekaligus merasa tak tega melihat wajah sedih putranya yang merasa bersalah. Bela memeluk putranya dengan penuh kasih sayang lalu menasehatinya dengan lembut agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Bela juga meminta putranya untuk meminta maaf pada Inas. Dengan patuh, Farel mengulurkan tangannya meminta maaf pada Inas.


"Abang minta maap ya, dek." Ucapnya tulus.


"Iya, abang."


Lira dan Bela tersenyum bahagia melihat sikap anak-anak mereka yang begitu penurut. Meski Farel dan Inas seumuran, tetapi Lira tak mengizinkan Inas memanggilnya tanpa sebutan yang sopan. Biar bagaimanapum, Farel adalah lelaki yang kelak akan menjadi seorang pemimpin dalam keluarganya. Jadi, sebisa mungkin sejak dini, Lira sudah membiasakan putrinya untuk bersikap sopan Farel.


🌸🌸🌸🌸


Untuk membunuh rasa bosan yang secara tiba-tiba mendera, Lira dan Bela memilih membantu para asisten rumah yang sedang memasak untuk makan siang. Awalnya para asisten rumah tidak mengizinkan dengan alasan takut kena marah dari Reza, apalagi sekarang Lira sedang mengandung. Tapi, Lira meyakinkan bahwa ia akan berhati-hati. Sedangkan putra dan putri mereka, dibiarkan bermain di ruang tengah bersama kedua eyangnya yang duduk sambil mengawasi keduanya.


Usai memasak, mereka beristirahat dengan duduk sebentar di meja makan untuk menghilangkan rasa lelahnya. Sebenarnya, Lira ingin sekali mengajak Bela berjalan-jalan seperti yang pernah mereka lakukan dahulu, menghabiskan waktu dengan berbelanja di Pasar Tanah Abang. Namun, Lira takut nanti Reza tak mengizinkannya.

__ADS_1


"Bel, aku pengen banget jalan-jalan ke Tanah Abang seperti dulu. Tapi aku takut nanti suami aku marah."


"Kamu izin aja dulu, Ra."


"Iya deh, aku coba izin dulu ya."


Lira mulai menghubungi Reza. Pada panggilan ketiga, Reza tak juga mengangkat telponnya.


"Gak diangkat, Bel. Pasti Mas Reza lagi sibuk banget sekarang."


"Mungkin aja Ra. Sekarangkan baru pukul 10.30, bisa aja mereka lagi sibuk."


Tak berselang lama, ponsel Lira berdering. Tertulis nama suaminya di layar. Lira segera menerima panggilan itu dengan jantung yang berdetak kencang.


"Halo. Asaalamu'alaikum, mas."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Sayang tadi telpon mas, ya? Maaf ya, tadi mas lagi meeting sama klien. Ada apa, sayang?"


"Iya, gak papa kok mas. Harusnya Lira yang minta maaf, udah ganggu mas lagi kerja."


"Enggak kok, sayang. Mas gak merasa keganggu. Ada apa, sayang?"


"Hmmm, itu mas. Li-Lira mau izin keluar sama Bela, boleh gak?"


"Mau ke mana, sayang?"


"Mau jalan-jalan ke Tanah Abang. Gak lama kok, mas. Boleh ya?!"


"Gak boleh, sayang. Bahaya! Mas gak mau sayang kecapean. Jadi sayang di rumah aja, ya."


"Ya udah, deh. Gak papa."


Mendengar suara istrinya yang mendadak berubah, Reza menjadi tak tega. Pasti istrinya merasa bosan setiap hari hanya terkurung di dalam rumah. Bisa saja Reza mengizinkan istrinya pergi, tapi kondisi istrinya yang sedang hamil ditambah lagi kondisi pasar yanga ramai, membuat Reza menjadi takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya tercinta. Reza mendesah kasar.


"Ya udah, gini aja. Gimana kalo sayang sama Bela bawain makan siang untuk mas dan Arman? Jadi kita bisa makan siang bareng di sini. Sayang mau gak?"


"Mau mas, Lira mau banget. Tunggu ya, Lira sama Bela siap-siap dulu." Sahut Lira antusias. Selain jalan bersama Bela, itu juga yang Lira inginkan, bisa makan siang bersama suaminya.


"Iya, sayang. Hati-hati, ya. Assalamu'alaikum."


Reza menghembuskan nafas lega saat mendengar suara istrinya yang sudah kembali ceria. Memang mudah membuat seorang Lira kembali bahagia. Hanya dengan mengajaknya makan siang bersama, maka ia sudah sangat merasa senang.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah."


"Bel, Mas Reza minta kita buat bawain makan siang, sekalian kita makan siang bareng di sana. Kita siap-siap, yuk." Ajaknya antusias.


"Wah! Aku mau banget, Ra. Ya udah, sekarang kita siapin makanan terus kita ajak anak-anak buat bersih-bersih."


Dengan semangat, kedua ibu muda itu menyiapkan makan siang untuk para suami mereka tercinta. Setelah itu, mereka menuju kamar untuk membersihkan tubuh mereka yang terasa lengket usai memasak tadi. Tak lupa juga mereka mengajak Inas dan Farel untuk siap-siap.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊

__ADS_1


__ADS_2