
Maaf baru up. Othor mau ngucapin banyak-banyak terima kasih atas ucapan selamat dan doa dari kalian semua. Othor terharu banget pas baca komen yang isinya semua mendoakan pernikahan othor. Sekali lagi terima kasih banyak ya. Lope u all gais๐
Lanjut........
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
โTidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.โ (HR. Bukhari)
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Inas pulang ke rumah bersama sang ayah, dengan perasaan bahagia tentunya. Bahkan sejak masih berada dalam perjalanan saja, bocah menggemaskan itu tak berhenti berceloteh hingga membuat sang ayah menggelengkan kepala sembari tersenyum. Namun, Reza tak pernah lelah atau pun merasa keberatan mendengar celotehan putri kesayangannya. Menurutnya, momen ini akan menjadi kenangan indah dan langka jika Inas sudah beranjak dewasa nanti. Terutama jika Inas sudah menemukan orang yang akan menggantikan posisi Reza sebagai tempat ia bersandar dan berkeluh kesah tentang apapun. Sebelum posisi itu terganti, ia ingin menghabiskan waktunya bersama putrinya.
Tiba di depan rumah nan megah milik Martin, Reza membuka pintu lebih dulu, lalu keluar membukakan pintu untuk sang putri tercinta. Tak lupa juga, Reza menggendong tubuh gempal sang putri.
"Putri papa tambah gendut sih sekarang?" Canda Reza menggoda putrinya dan langsung dibalas dengan wajah cemberut oleh Inas.
"Kan kakak udah gede, papa." Sahutnya dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Masah, sih? Tapi kok, kakak masih minta disuapin sama papa?" Lanjutnya tanpa menghiraukan wajah cemberut putrinya.
"Itu kalna kakak plinses cantiknya papa. Jadi kakak halus disuapin."
Reza langsung tertawa renyah mendengar jawaban Inas yang penuh percaya diri sembari tersenyum memamerkan gigi ompongnya ke arah ayahnya. Reza pun langsung menyium gemas kedua pipi Inas lalu mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Suara tawa renyah Reza terdengar hingga ke dalam rumah dan membuat Lira yang tadinya sedang sibuk menyiapkan makan siang di atas meja pun langsung keluar dapur untuk mencari tahu, hal lucu apa yang membuat suaminya bisa tertawa seperti itu.
Lira membuka pintu dan langsung berpapasan dengan anak dan suaminya yang sudah berada di depan pintu dan hendak masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum, bunda." Reza dan Inas mengucap salam bersamaan sembari tersenyum pada wanita cantik yang membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah." Sahut Lira sambil menyium punggung tangan suaminya dengan takzim lalu Reza mendaratkan kecupan mesra di kening istrinya. Inas pun melakukan hal yang sama, menyium tangan ibunya lalu menyium kedua pipinya sambil tertawa riang.
"Anak bunda bau acem, ih." Ucap Lira menggoda putrinya sambil pura-pura mengibaskan tangannya di depan hidung.
"Bunda, ih. Sebel!" Inas kembali cemberut. " Tadi papa yang gangguin, sekalang bunda." Inas melipat tangannya di atas perut lalu kembali mengerucutkan bibirnya.
"Emang tadi papa ngomong apa?" Tanya Lira pura-pura penasaran hanya untuk menggoda putrinya. Padahal, Lira sudah tahu persis kelakuan Reza yang sering sekali menggoda Inas dengan mengatainya gendut, sama seperti ketika Inas masih berusia 2 tahun.
"Tadi kan, papa bilang kalo kakak gendut. Padahal kan, kakak gak gendut. Kakak hanya suka ngemil aja kan, bunda." Sahutnya dengan wajah menggemaskan.
Tak tahan melihat wajah menggemaskan Inas, Lira dan Reza langsung menghujani kedua pipi Inas dengan ciuman gemas secara bersamaan hingga membuat Inas memekik kegelian.
"Papaaaa, bundaaaa, udaaaaah."
"Gak mau. Suruh siapa kakak gemesin. Gendut lagi." Ucap Reza lalu kembali menyium kedua pipi Inas.
Mereka pun tertawa bersama sembari berjalan menuju ruang tengah tempat di mana Martin dan Irma sedang bermain bersama Haidar.
"Hai, jagoan papa. Lagi main apa, sayang?" Tanya Reza sambil menyium kedua pipi putranya yang sedang sibuk bermain bersama tumpukan robot miliknya di atas karpet bulu yang lembut.
"Main lobot-lobot, papa."
"Udah makan belum?"
"Udah papa. Tadi ade matan nati tama tayul top."
"Sayur top? itu sayur apa dek?"
"Ya ampun, Za. Kayak gak ngerti aja sih, kalo anaknya belum lancar ngomong." Protes Irma. "Maksud adek, sayur sop. Gitu aja kok gak ngerti."
"Oh, sayur sop. Papa kira tadi apa. Hehe." Sahut Reza cengengesan. "Reza ngerti kok, ma. Tadi Reza cuma becanda aja."
"Ngeles aja kamu. Bilang aja emang gak ngerti. Dulu kan, kamu juga gitu" Timpal Martin tak mau kalah.
"Mulai lagi deh, nyerang Reza."
__ADS_1
"Emang gitu kok kenyataannya. Iya kan, ma?"
"Iya, betul."
Inas langsung tertawa renyah melihat ayahnya dipojokan oleh kedua eyangnya. Inas merasa menang karena berhasil membalas kejahilan ayahnya yang selalu menggodanya. Begitu pun dengan Haidar yang langsung ikut tertawa bersama kakaknya. Padahal, ia sama sekali tak paham apa yang ditertawakan oleh kakaknya.
"Anak papa kok, pada kompak banget sih ngetawain papa."
"Papa lutu." Sahut Haidar disela tawanya.
"Iya. Muka papa lucu. Hahaha." Timpal Inas sambil tertawa memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Awas ya kalian berdua. Papa bakal bales."
Reza langsung menyium kedua pipi Haidar tanpa ampun hingga membuat Haidar tertawa tanpa suara sambil mengeluarkan liurnya. Meski begitu, Reza tak berhenti untuk terus menyium pipi putranya yang tampan itu.
Wajah Haidar sangat mirip dengan wajah Reza ketika kecil. Bahkan Haidar dijuluki miniatur Reza. Kali ini, Lira harus terima dengan lapang dada karena tak kebagian sama sekali. Meski begitu, Lira tak berkecil hati. Ia tetap bersyukur karena anak-anaknya tumbuh dengan sehat tanpa kurang satu apa pun.
Sementara Inas, menghindari serangan ayahnya dengan bersembunyi di belakang tubuh kedua eyangnya. Kali ini, Inas tak lagi merasa cemburu seperti dulu. Sekarang Inas sudah mau berbagi kasih sayang ayahnya pada adiknya. Ia tak lagi menjerit apalagi menangis jika melihat ayahnya menyium atau menggendong adiknya. Terkadang, Inas rela jika dalam satu hari ia tak bermain bersama ayahnya. Namun sebagai orang tua, Reza dan Lira selalu berusaha untuk bersikap adil pada kedua buah hati mereka.
Reza langsung meraih tubuh gembul Inas lalu menggigil perutnya hingga Inas tertawa terpingkal-pingkal. Hal itu membuat Martin, Irma dan Lira menggelengkan kepala. Jika sudah bersama anak-anaknya, Reza akan melupakan semua beban pekerjaannya. Keluarga kecilnya diibaratkan vitamin yang selalu bisa membuat tubuh lelahnya langsung segar kembali.
"Eh, tunggu dulu. Tadi katanya, ada yang mau bagiin kabar gembira lho." Ucap Reza usia berhasil menggelitik perut Inas.
Lira, Martin dan Irma pun langsung saling memandang satu sama lain seolah saling mencari jawaban.
"Maksud kamu kabar gembira apa, Za?" Tanya Irma heran.
"Iya, maksud mas apa? Siapa yang mau ngasih kabar gembira?"
"Hmmm! Tanya aja langsung sama si kakak, tuh." Sahut Reza sambil melirik ke arah Inas yang sudah lebih dulu tersenyum.
"Ada apa, sayang?" Tanya Lira lembut.
Inas langsung memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman ketika bercerita.
"Masya Allah. Alhamdulillah, Ya Allah." Ucap mereka semua penuh syukur.
"Cucu eyang memang pinter." Ucap Irma dan Martin. Mereka sangat bangga pada prestasi yang diraih oleh cucu kesayangan mereka.
"Siapa dulu dong papa dan bundanya, Reza dan Lira gitu loh." Timpal Reza bangga.
Martin hanya menggelengkan melihat wajah Reza yang begitu bangga putrinya.
"Nanti kita telfon nenek juga ya bunda. Bial nenek juga tahu." Ucap Inas riang
"Iya, sayang."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Mas gak ke kantor lagi?" Tanya Lira saat mereka telah berada di kamar.
Usai mengurus kedua anaknya dengan memandikan Inas lalu menyuapi makan kedua anaknya hingga mereka tertidur di kamar masing-masing, kini giliran suaminya yang harus ia urus agar tak merasa cemburu atau terabaikan.
"Nanti sayang. Mas mau sholat sama makan siang dulu, habis itu baru mas balik lagi ke kantor." Jawab Reza lembut.
"Apa mas gak capek, tiap hari bolak balik jemput si kakak? Belum lagi mas harus ninggalin kerjaan di kantor."
Bukannya Lira tak suka akan perhatian Reza pada putri mereka. Hanya saja, Lira merasa tak tega jika melihat wajah lelah suaminya setiap kali harus bolak balik untuk menjemput Inas di sekolah. Padahal, mereka sudah memiliki supir pribadi yang selalu siap mengantar Inas ke sekolah. Namun, Reza selalu ingin melakukan hal itu sendiri, meski harus meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk di kantor.
"Insya Allah, mas gak papa sayang. Lagian kalo mas capek, semua akan hilang gitu aja pas liat muka si kakak yang tersenyum riang."
"Lira hanya gak mau mas kenapa-napa. Itu aja, mas."
"Iya, sayang. Mas ngerti. Tapi sayang gak usah khawatir, ya. Insya Allah, semua akan baik-baik aja."
__ADS_1
Lira hanya mengangguk pasrah. Jika sudah menyangkut anak-anak, Reza pasti akan selalu berkorban melakukan apa saja agar membuat mereka bahagia.
"Oh iya, sayang. Kemungkinan hari ini mas akan pulang terlambat, karena harus ketemu klien di restoran setelah sholat isya nanti. Jadi, sayang gak nungguin mas pulang ya. Kalo sayang udah ngantuk, sayang langsung tidur aja duluan."
"Mas ditemenin sama siapa?"
Reza tersenyum senang melihat sikap posesif Lira yang semakin terlihat jelas, tak seperti dulu lagi.
"Sama Arman, sayang."
"Ya udah, gak papa. Yang penting, mas jangan lupa jaga kesehatan, ya."
"Iya, sayang."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Seperti ucapannya siang tadi, Reza pulang terlambat. Bahkan sangat terlambat dari biasanya. Wajahnya terlihat muram dan kusut. Dasinya yang tadinya tersumpul rapi di leher, kini sudah tak berbentuk lagi.
Reza masuk ke dalam rumah menggunakan kunci cadangan agar tak merepotkan asistennya yang sudah tertidur lelap. Langkahnya pun terhenti saat melihat istrinya tertidur di atas sofa ruang keluarga karena lelah menunggunya. Rasa bersalah Reza langsung menyusup masuk ke dalam hatinya karena telah membuat istrinya menunggu. Padahal, sebelumnya ia sudah mengingatkan pada Lira agar tak usah menunggunya pulang.
Reza mengusap lembut pipi istrinya dan menatap lekat wajah teduh yang terlihat lelah itu. Ia tak menyangka, pertemuannya dengan kliennya tadi, membuatnya harus mengingat kembali kenangan pahit yang sudah ia kubur dalam-dalam dan tak ingin ia ingat lagi. Namun, takdir seolah tak merestui ia melupakan semuanya begitu saja dengan mudah.
Reza mengecup kening Lira dengan penuh kasih sayang, seolah takut kehilangan istrinya. Reza sangat takut, jika mereka tak sanggup menghadapi badai yang datang menghantam rumah tangga mereka. Reza takut kehilangan istri dan anaknya seperti dulu lagi karena kebodohannya.
"Sayang, bangun yuk."
Lira menggeliat menyesuaikan cahaya lampu yang terang dan langsung mengenai netranya.
"Mas, ini udah jam berapa? Kok baru pulang?" Tanya Lira dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jam 2. 30. Maaf ya, sayang. Tadi mas ada pertemuan penting. Kan mas udah bilang, sayang gak usah nungguin."
"Iya, tahu. Tapi tetep aja Lira gak tenang, mas. Apalagi sekarang udah mau subuh gini."
"Sekali lagi maaf ya, udah bikin sayang khawatir." Sahut Reza penuh sesal.
"Iya, mas. Sekarang mas mau mandi dulu atau langsung tidur?"
"Mas mau mandi dulu, sayang."
"Ya udah, Lira siapin air angetnya dulu ya mas."
"Iya. Sini, mas bantu sayang berdiri."
Mereka langsung menuju kamar sambil berangkulan. Tiba di kamar, Lira dengan telaten menyiapkan air hangat untuk Reza mandi. Sementara Reza, sedang mengingat kembali pertemuannya dengan kliennya tadi. Hingga Lira memanggilnya untuk segera mandi pun, Reza tak mendengarnya.
"Lagi mikirin apa, mas? Sampe gak denger gitu, Lira manggil-manggil dari tadi."
"Gak papa, sayang. Mas cuma lagi mikirin kerjaan aja."
"Oh, kirain ada apa. Ya udah, sekarang mas mandi terus istritahat. Gak lama lagi udah mau subuh."
"Iya, sayang. Makasih, ya."
"Sama-sama, mas."
Reza langsung mengecup kening Lira lalu berlenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan otaknya yang terasa lelah.
Sementara Lira memandang punggung Reza hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Lira tahu jika saat ini suaminya sedang memikirkan sesuatu. Namun, Lira tak ingin mencari tahu lebih dalam lagi. Biarlah Reza sendiri yang akan menceritakan semua keresahannya hatinya tanpa perlu Lira minta. Karena itulah yang selalu Reza lakukan jika ia sedang merasakan keresahan. Ia akan berbagi kesulitannya pada sang istr, meski Lira tak bisa memberikan banyak solusi, tapi seridaknya ia sudah berusaha menjadi pendengar yang baik.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambung........๐
jangan lupa untuk terus dukung karya othor ya, dengan cara LIKE, KOMEN DAN VOTE.
__ADS_1
TERIMA KASIH๐๐๐๐