Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 45


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Lira baru saja selesai melaksanakan sholat subuh. Setelah itu, ia mengambil tespek lalu menuju kamar mandi. Sekali lagi, ia membaca petunjuk cara pemakaian tespek yang benar. Ia mengambil wadah kecil untuk menampung air kencingnya lalu menaruh tespek ke dalam wadah itu. Lira menunggu cukup lama dengan perasaan gugup, hingga muncul satu garis merah yang terlihat begitu jelas sedangkan satunya lagi terlihat samar-samar. Lira menjadi bingung, apakah ia hamil atau tidak? Lira berencana membawa hasil tespeknya kepada Yati dan menanyakan langsung tentang hasilnya.


Seperti biasa, usai subuh Lira langsung membersihkan rumah. Mulai dari halaman depan, sampai ke halaman belakang, semua ia bersihkan. Namun, saat hendak membersihkan kolam ikan, Lira merasa mual. Ia segera berlari sambil menutup mulutnya menuju kamar mandi. Ia terus saja muntah dan kali ini semua isi perutnya ikut keluar tanpa sisa.


Lira berkumur-kumur membersihkan mulutnya dari sisa-sisa muntahnya. Tubuhnya lemas dan mengeluarkan keringat dingin. Diusapnya keringat yang terus meluncur di dahinya sambil menyandarkan tubuh lemahnya di pintu kamar mandi.


Nafasnya tersengal-sengal usai memuntahkan semua isi perutnya. Ia kembali merasakan mual, namun kali ini hanya cairan kuning yang keluar dari mulutnya hingga membuat perutnya terasa perih. Lira segera membersihkan mulutnya, lalu bergegas menuju kamarnya. Ia mengambil buah pisang dan salak kemudian memakannya untuk mengganjal perutnya yang kosong.


Mulutnya terasa hambar ketika mengunyah buah pisang dan salak. Namun, Lira tetap memaksa menelannya agar perutnya dapat sedikit terisi. Lira mengambil air minum yang sengaja disimpan di botol mineral bekas, agar ketika merasa haus, ia bisa langsung meminumnya tanpa harus pergi ke dapur.


Saat Lira meminum air putih dari botol mineral bekas itu, rasanya sangat pahit. Lira ingin sekali membuat teh untuk menghangatkan perutnya dan menghilangkan rasa pahit pada mulutnya.


Secara diam-diam, Lira pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Ia melihat rumah masih sepi, belum terlihat ada tanda-tanda kehadiran Reza di sana. Dengan cepat Lira mengambil gelas cangkir yang sedikit besar agar ia lebih puas meminum teh hangat, serta gula dan teh yang berada di lemari dapur gantung. Lira menyiramkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi gula dan teh celup. Ia mulai mengaduknya dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara. Sayangnya, Lira tak menyadari ternyata Reza telah mengamati setiap gerak-geriknya sejak tadi. Hanya saja, ia sengaja bersembunyi di balik pintu dapur agar Lira tak melihatnya.


Saat Lira hendak berbalik untuk menuju kamarnya, ia terkejut melihat Reza yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajahnya marah. Untung saja gelas yang ada di tangannya tak jatuh ke lantai.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Reza dengan tatapan tajam ke arah Lira.


"A-anu tuan, sa-saya ta-tadi cuma m-ma-mau buat teh, karena perut saya mual tuan." Jawab Lira menunduk ketakutan.


Tanpa aba-aba, Reza langsung merampas gelas dari Lira dan langsung menyiramkan teh dengan asap yang masih mengepul itu ke tangan Lira. Lira langsung memekik kesakitan. Tangannya terasa panas seperti terbakar, kemudian berubah menjadi merah.


'Itu hukuman untuk pencuri sepertimu." Ucap Reza lalu berlenggang pergi meninggalkan Lira yang menangis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengurangi rasa perih yang menjalar di tangannya.


Lira bergegas menuju kamarnya mencari kertas untuk mengipas tangannya yang mulai melepuh. Air matanya mengalir dengan deras di wajahnya. Ia terlihat sangat menyedihkan.


🌸🌸🌸🌸


Tepat pukul tujuh pagi, Doni telah rapi dengan kemeja biru langit yang lengannya sengaja digulung hingga ke siku, celana jeans hitam serta jam tangan berwana hitam ikut melingkar dengan elegan di pergelangannya yang kokoh. Tak lupa juga kaca mata hitam bertengger manis di hidungnya yang mancung.


Tak seperti biasanya, hari ini Doni terlihat lebih segar dan bersemangat. Sejak semalam, ia terus membayangkan pertemuannya dengan Amel dan adik-adiknya, hingga membuat hati kecilnya turut merasa iba.

__ADS_1


Sesuai rencana, pagi ini Doni akan lanjut berbelanja segala kebutuhan pokok untuk anak-anak Panti Asuhan Kasih Ibu. Ia telah menyewa lima mobil pick up yang akan digunakan untuk membawa barang belanjaannya. Tentu Doni tidak melakukannya sendiri, ia dibantu oleh asistennya yang sengaja dihubungi sejak malam. Mereka akan bertemu di salah satu mall terbesar di Jakarta.


Usai berbelanja semua kebutuhan pokok yang diperlukan oleh anak-anak panti, Reza langsung melajukan mobilnya menuju panti asuhan tempat Amel. Sepanjang perjalanan, jantung Doni terus berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia juga mulai merasa was-was seperti hendak berjumpa dengan pujaan hatinya. Ah! gadis sederhana seperti Amel mampu memporak-porandakan hati seorang Doni yang jelas-jelas masih terisi oleh nama wanita lain, siapa lagi kalau bukan Afika.


Tiba di depan gang sempit menuju panti, Doni dengan sigap meminta pada supir mobil beserta anggotanya untuk mengangkat semua barang-barangnya menuju panti.


"Barang-barangnya dipikul ya, bang! Soalnya gangnya sempit jadi mobil gak bisa masuk.ke dalam." Ucap Doni pada salah satu supir beserta anggotanya.


"Siap, mas. Arah panti asuhannya sebelah mana ya, mas?" Tanya supir itu.


"Nanti abang ngikutin saya aja. Tunggu, saya mau ambil barang-barang saya dulu di mobil."


Kemudian mereka memikul semua barang-barang yang dimuat di mobil pick up lalu masuk ke dalam gang sempit menuju panti. Barang-barang itu diletakan di halaman panti yang tak begitu luas, namun cukup untuk menampung semua barang yang diangkut.


Para tetangga yang melihat kegiatan mengangkut barang itu langsung berhamburan keluar rumah untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi. Begitu pun Rini dan Amel, mereka juga ikut keluar rumah. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat banyaknya barang-barang kebutuhan pokok yang memang sangat diperlukan oleh mereka.


Tak lama, Doni muncul sambil menenteng beberapa kantong plastik besar yang berisi mainan untuk anak-anak panti. Kedatangan Doni di panti asuhan, sontak membuat para ibu-ibu cctv kompleks menjadi tercengang melihat ketampanan Doni.


Amel melihat Doni memasuki halaman panti, langsung menyambut kedatangan Doni dengan senyum lembut di wajahnya.


Jantung Doni kembali berdetak kencang saat Amel menyambutnya dengan senyum manis. Namun, ia cepat-cepat menetralkan perasaanya.


"Mas sengaja beli ini semua buat Ibu, Amel, dan adik-adik yang ada di panti asuhan ini." Jawab Doni dengan senyum cerahnya.


"Tapi ini kebanyakan, mas."


"Gak papa. Alhamdulillah, mas ada rezeki lebih, jadi bisalah sedikit-sedikit buat bantu adik-adik di sini."


"Terima kasih banyak ya, mas. Mas udah baik banget sama kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan mas." Timpal Rini dengan senyum tulusnya.


"Aamiin. Sama-sama, bu. Kalo gitu, saya langsung pamit ya, bu. Masih ada urusan soalnya. Untuk barang-barangnya, nanti diangkat sama orang-orang ini ya, bu." Pamit Doni sambil meminta pada beberapa orang yang sengaja telah ia bayar untuk mengangkut barang-barang dan menyusunnya ke dalam panti, agar Amel dan Rini tak perlu lagi repot-repot untuk mengangkatnya.


"Gak mampir dulu, mas. Minum teh atau lihat anak-anak." Tanya Rini.


"Gak usah, bu. Lain kali aja. Pasti nanti saya masih ke sini lagi kok. Mari bu, Mel. Assalamu'alaykum." Pamit Doni sambil menangkupkan tangannya, berlalu pergi meninggalkan Amel dan Rini yang masih berdiri memandangi punggungnya hingga menghilang dari pandangan mereka.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Sepulangnya dari panti asuhan, Doni tak langsung menuju kantornya. Ia memilih menuju rumah Reza untuk menceritakan rencananya mengajak Reza ikut menjadi salah satu donatur tetap di Panti Asuhan Kasih Ibu.


Saat tiba di rumah Reza, ia langsung masuk dengan mengucapkan salam terlebih dahulu tanpa menekan bel atau mengetuk pintu karena Doni sudah sangat hafal dengan kebiasaan Reza di pagi hari. Sahabatnya itu pasti sudah bangun sejak pagi tadi untuk berolah raga sebelum berangkat kerja.


Doni menuju ruang tamu dan langsung menjatuhkan bokong di sofa empuk sambil berteriak memanggil nama Reza.


"Reza, oh Reza. Gue dateng nih, lo turun sini dong." Teriak Doni sambil mengangkat kakinya ke atas sofa dengan posisi baring.


Merasa namanya dipanggil, Reza langsung turun ke bawah. Ia menyebikan bibirnya saat melihat Doni asik baring di sofa sambil sibuk memainkan ponselnya.


"Lo ngapain ke sini pagi-pagi. Gak ngantor, lo?" Reza menggeser tubuh Doni agar memberinya ruang untuk duduk.


"Elah, ganggu aja sih lo. Sofa sebelah sana kan kosong, ngapain gangguin gue di sini sih?" Doni menggerutu kesal ketika Reza menggeser tubuhnya untuk bangun.


"Gak usah banyak bacot deh. Gue nanya, lo gak ngantor makanya lo santai duduk di sini?"


"Gue kan bos, jadi bebas. Kebetulan hari ini gue gak ada jadwal penting." Jawabnya dengan gaya angkuh.


"Cih, gaya banget lo." Cibir Reza.


"Sebenarnya tujuan gue ke sini itu, buat ngajakin lo ikutan jadi donatur tetap di salah satu panti asuhan. Itu juga kalo lo nya mau, sih!"


"Tumben hati lo jadi baik. Habis kesambet apa lo?" Goda Reza sambil memicingkan matanya.


"Sadis banget mulut lo, bro! Kebetulan semalem pas pulang kantor, gue ketemu cewek yang gayanya mirip Lira banget, sederhana gitu. Dia lagi dorong gerobak berisi jualan, terus gue samperin dan pas gue tanya-tanya, ternyata dia tinggal di panti. Gue gak tega liatnya, jadi gue mau ngajakin lo buat jadi donatur tetap di sana."


"Boleh, gue sih ngikut aja. Asal panti asuhannya itu jelas."


"Gue jamin jelas, bro. Gue udah buktiin sendiri. Nih aja, gue baru dari sana. Kalo lo mau, kapan-kapan kita sana bareng-bareng."


"Hmmm, ntar gue liat jadwal dulu."


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2