Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 53


__ADS_3

Maaf banyak typo bertebaran. Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Adzan subuh telah berkumdang dengan begitu indah. Semilir angin tertiup pelan memberi kesan sejuk bagi para hamba yang bersusah payah melawan rasa kantuk demi menjalankan kewajiban mereka untuk menghadap sang pemberi kehidupan.


Lira bangun dari tidurnya lalu beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Lira melaksanakan sholat subuh dengan khusyu diiringi lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacanya dengan penuh penghayatan. Di atas sajadahnya, Lira menumpakan semua kesakitannya yang begitu perih tak terkira. Lira menadahkan tangannya, menangis pilu mengingat beratnya hidup yang ia jalani.


"Ya Allah, Ya Robbi. Ampuni hamba-Mu yang lemah ini. Ampuni hamba yang harus menyerah menjalani pernikahan yang penuh luka dan air mata ini. Hati hamba tak sekuat hati Asiyah istri Fir'aun, yang terkenal begitu sadis dan kejam. Hamba juga tak sekuat Ibunda Khodijah, yang begitu sabar menemani Rasulullah ketika beliau menghadapi banyaknya fitnah yang ditimpahkan kamum kafir kepadanya. Hamba hanyalah wanita akhir zaman yang berselimut khilaf dan dosa. Namun, hamba meminta kepada-Mu, jangan cabut hidayah ini dari hati hamba. Agar Hamba dapat selalu meminta ampun kepada-Mu. Mengucap syukur atas nikmat iman dan nikmat sehat yang telah Engkau beri. Lindungilah suami hamba dari banyaknya godaan setan yang menyesatkannya untuk menuju jalan-Mu. Ampunilah semua dosa-dosanya dan jauhkanlah dia dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya. Lembutkanlah hatinya, agar suatu saat nanti dia bisa datang kembali pada hamba dengan hati dan cintanya. Hamba titipkan dia pada-Mu. Ampuni hamba yang harus memilih pergi dari hidupnya."


Air mata Lira mengalir deras hingga membasahi mukena putihnya yang sudah terlihat usang. Lira mengusap perutnya dengan lembut seolah memberi kekuatan dan pengertian pada anaknya, mereka akan baik-baik saja tanpa Reza di hidup mereka.


Usai sholat, Lira mulai membersihkan rumah seperti biasa. Rasanya begitu berat harus meninggalkan rumah ini. Lira melihat ke seluruh ruangan rumah yang selama ini telah menjadi saksi bisu bagaimana ia menjalani kerasnya hidup berumah tangga bersama Reza. Tak ada kenangan indah di sini, yang ada hanyalah kenangan yang penuh teriakan kesakitan dan tangisan pilu penuh luka.


🌸🌸🌸🌸


Pukul enam pagi, Lira telah bersiap-siap untuk pergi. Lira memilih memakai gamis andalannya. Gamis yang diberikan sahabatnya dulu, selalu ia kenakan jika ingin berpergian jauh. Sebelum pergi, Lira menyimpan hasil USG anaknya di atas meja, agar suatu saat jika hati Reza telah luluh padanya, maka ia akan mencari dirinya bersama anaknya.


Namun, sebelum pergi Lira lebih dulu menemui Reza di kamarnya untuk meminta berpamitan. Lira berdiri mematung dengan tatapan kosong di depan pintu kamar Reza. Lira mengumpulkan keberaniannya untuk berhadapan dengan Reza. Lira menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya dengan pelan.


tok....tok...tok....


"Tuan, apa anda sudah bangun?"


Karena tak mendapat sahutan, Lira kembali mengetuk pintu itu berkali-kali dengan sedikit keras. Lira yakin, jika suaminya saat masih masih tidur. Cukup lama Lira berdiri menunggu Reza membuka pintu kamarnya.


Tak lama kemudian Reza membuka pintu dengan wajah yang terlihat jelas masih menahan kantuk.


"Ngapain pagi-pagi gini kamu udah gangguin saya?" Tanya Reza dengan wajah menahan kesal.


"Maaf tuan, saya cuma mau pamit pulang kampung. Ibu lagi kurang sehat, jadi saya harus merawat beliau." Jawab Lira sambil menunduk takut.


"Kalo mau pergi, ya pergi aja. Tapi jangan sampe ada barang di rumah ini yang kamu bawa."


deg


Lagi-lagi Reza menuduhnya sebagai pencuri. Hati Lira kembali merasakan sakit.


"Saya tidak berani mengambil barang di rumah ini, tuan." Jawab Lira sambil menahan air matanya.


"Ya, kan siapa tahu. Lagian, hari gini mana ada maling ngaku!" Reza masih tak mau kalah, tetap dengan kata-katanya yang kasar dan menuduh.

__ADS_1


"Tapi saya bukan pencuri." Ucapa Lira pelan, nyaris tak terdengar.


"Ya udah, sana pergi." Usirnya dengan wajah datar.


"Tapi, apa saya boleh menyium tangan tuan untuk yang terakhir kali."


Reza mengerutkan dahinya, merasa tak paham dengan ucapan Lira. Apa maksudnya dengan kata terakhir kali? Tapi Reza tak mau ambil pusing. paling juga nanti Lira akan balik lagi ke sini tanpa ia minta. Pikirnya.


"Tangan saya terlalu bersih untuk kamu sentuh." Tolaknya dengan kasar.


"Maafkan saya,.sudah lancang ingin menyium tangan tuan." Tanpa Lira duga, air mata yang sejak tadi ia tahan agar tak tumpah , kini mengalir deras dan itu disaksikan langsung oleh Reza.


Tak tahan melihat air mata Lira, Reza memilih masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu dengan keras. Reza mengusap kasar wajahnya tak sanggup melihat wajah Lira yang terlihat begitu terluka karena ucapannya.


"Saya pamit tuan. Jangan lupa jaga kesehatan. Maafkan kesalahan saya selama menjadi istri tuan. Halalkan makan dan minum saya, agar saya tenang untuk pergi. Semoga tuan bahagia." Pamit Lira dengan suara bergetar. "Assalamu'alaykum."


Lira pergi meninggalkan rumah mertuanya yang telah memberinya banyak luka. Saat ia telah berada di depan pagar rumah, Lira menengok rumah itu untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya dia benar-benar pergi. Entah kapan ia akan kembali lagi ke rumah ini. Lira hanya berharap, jika suatu saat ia kembali lagi ke rumah ini, ia akan kembali dengan membawa kebahagiaan bersama suami dan anak-anaknya kelak.


"Selamat tinggal suamiku. Maafkan istrimu yang hina ini tak bisa menemanimu lagi."


Lira melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah mertuanya dengan dada yang terasa sesak.


Sementara Reza, masih berdiri di balkon kamarnya menyaksikan kepergian istrinya tanpa berniat menahannya. Reza memegang dadanya yang terasa nyeri setelah Lira pergi. Tanpa ia sadari, setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya.


🌸🌸🌸🌸


Lira memilih menaiki kereta api agar lebih cepat sampai tujuan. Sepanjang perjalanan, air matanya terus mengalir. Dadanya terasa sesak mengingat perpisahannya dengan Reza. Lira berharap, semoga ini bukalah perpisahan yang terakhir baginya bersama suaminya. Meski ia pergi membawa luka di hatinya, Lira masih berharap suatu saat Reza akan kembali padanya. Sampai kapan pun, Lira akan tetap setia menunggu Reza datang menjemputnya. Meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya, Lira akan tetap menunggu. Lira percaya, jika doanya pasti akan terjawab suatu hari nanti. Ia hanya perlu lebih bersabar lagi.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama empat jam, Lira tiba tepat di depan rumahnya yang terlihat masih sama seperti ketika ia pergi merantau dulu.


Rasa haru langsung menyelimuti hatinya, melihat rumahnya yang terlihat sudah tua dan nyaris roboh. Lira bergegas masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamu'alaykum. Ibu, neng pulang." Lira memasuki rumahnya dan langsung berhambur memeluk ibunya yang sedang berdiri mematung dengan mukena yang masih membungkus kepalanya.


"Wa'alaykumussalam. Neng, pulang kok gak bilang-bilang? Kan ibu bisa masakin makanan kesukaan neng." Ucap Indah masih tak percaya anaknya sedang memeluk dirinya saat ini.


Lira melepas pelukannya lalu mengecup punggung tangan ibunya dengan penuh kasih sayang. Ingin sekali Lira menumpahkan semua kesakitannya di pelukan ibunya untuk mengurangi sedikit beban di hatinya.


"Neng sengaja, mau kasih kejutan buat ibu."


"Bisa aja. Neng udah makan belum? Tadi ibu masak ikan asin sama tumis kangkung."

__ADS_1


"Wah, ibu tahu aja kalo neng lagi laper." Lira langsung tersenyum senang melihat makanan sederhana yang selama ini ia rindukan.


"Ya udah, sok atuh dimakan." Indah sangat bahagia melihat anaknya datang mengunjunginya.


Lira menyendok nasi dan lauk ke piringnya lalu menyantapnya dengan lahap. Lira tak pernah menyangka, akhirnya ia bisa kembali menikmati masakan buatan ibunya.


"Pelan-pelan makannya, neng. Gak ada yang bakal rebut."


Lira hanya menyengir kuda. "Hehe..Neng laper banget bu. Masakan ibu juga lezat banget." Ucap Lira dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Indah hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah putrinya yang sangat ia rindukan itu.


"Neng ke sininya naik apa tadi? Nak Reza juga kenapa gak ikut?"


Lira langsung tersedak makanan. Indah langsung sigap memberikan gelas berisi air minum pada Lira sambil mengusap punggungnya dengan pelan.


"Tuh kan, tadi ibu bilang juga apa? Pelan-pelan atuh makannya, jadi keselek kan sekarang." Omel Indah.


"Iya Bu, maaf."


"Neng belum jawab pertanyaan ibu. Tadi neng naik apa ke sini? Nak Reza kenapa gak ikut?"


"Itu bu. Em itu, Mas Reza lagi keluar negeri jadi Lira disuruh ke sini dulu untuk sementara."


Jawab Lira bohong.


"Kenapa neng gak ikut Nak Reza aja?"


"Itu bu, sebenarnya neng sedang hamil, jadi sama dokter gak dibolehin naik pesawat."


Wajah Indah langsung bahagia. "Alhamdulillah, Ya Allah." Indah langsung berhambur memeluk tubuh Lira. Tak lupa ia mengucap syukur. "Udah berapa bulan sayang?" Lanjut Indah setelah melepas pelukannya.


"Alhamdulillah, udah tiga bulan bu."


"Ibu seneng banget dengernya. Tapi neng gak ngidam yang aneh-aneh, kan? Kasian Nak Reza dibuat repot sama kamu." Tanya Indah masih dengan senyum mengembang di wajahnya.


Lira hanya tersenyum miris mendengar penuturan ibunya. "Gak kok, bu. Alhamdulillah dedeknya gak rewel."


"Andai saja ibu tahu, selama ini Lira harus berjuang jika rasa ngidam itu datang." Batin Lira.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2