Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 113


__ADS_3

"Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu itu, agar jiwa tersebut merasa tenang bersamanyaโ€. (QS Al Aโ€™raf : 189).


Selamat membaca.......๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Reza tiba di rumah menjelang sholat ashar. Ia segera masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam. Nur menyambut Reza dengan ramah. Reza tahu jika saat ini, seluruh keluarganya sedang beristirahat di kamar.


"Mama sama papa masih di kamar ya, Bu Nur?"


"Iya, den. Apa mau saya panggilkan?"


"Gak usah, terima kasih. Saya langsung ke kamar aja."


"Baik, den."


Reza langsung menuju kamarnya dengan perasaan yang campur aduk, antara bahagia dan deg-degan melihat reaksi Lira ketika menerima bunga darinya. Reza membuka pintu kamarnya dan terlihatlah wajah anak dan istrinya yang masih tertidur. Reza tak langsung menghampiri kedua belahan jiwanya itu. Ia memilih membersihkan diri terlebih dahulu karena tubuhnya terasa lengket dan sebentar lagi akan masuk waktu sholat ashar.


Sebelum itu, Reza meletakan buket bunga mawarnya di tempat tersembunyi agar tak diketahui oleh istrinya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama kurang lebih lima belas menit Reza berada di dalam kamar mandi. Ia keluar dengan badan yang sudah terasa segar. Reza menuju walk in closet untuk mengambil pakaian sholatnya. Reza bersiap-siap lebih awal agar tak terlambat menuju ke masjid.


Setelah siap, barulah Reza menghampiri istrinya yang masih tertidur nyenyak sambil memeluk putrinya. Pemandangan inilah yang sangat Reza rindukan. Melihat dua belahan jiwanya tertidur dengan wajah polos tanpa beban.


Reza mengelus pipi Lira dengan lembut. Ia ingin membangunkan Lira agar tak terlambat melaksanakan sholat ashar, tanpa mengganggu putrinya yang tertidur begitu pulas dengan wajah menggemaskan.


"Sayang, bangun yuk. Udah mau ashar."


Reza terus mengelus pipi Lira dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tak ada pergerakan, Reza kembali membangunkan Lira dan kali ini disertai dengan kecupan di pipinya.


Cu**p


Cup


Cup


"Sayang, bangun."


Lira menggeliat, merasakan benda kenyal menyentuh pipinya. Lira membalikkan badannya menjadi terlentang. Matanya masih terasa berat dan enggan terbuka.


Reza merasa gemas melihat wajah lucu Lira. Ia kembali menghujani kecupan di seluruh wajah polos Lira, agar wanita cantik nan teduh itu mau bangun dari tidurnya.


Cup

__ADS_1


Cup


Cup


Lira langsung memekik saat benda kenyal dan basah itu menyerang seluruh wajahnya. Matanya yang tadinya terasa berat, kini langsung terbuka dengan sempurna.


"Mas, kapan dateng? Kok gak ngabarin Lira, sih?"


Lira lansung memeluk erat tubuh tegap lelaki yang sudah beberapa hari ini ia rindukan. Reza dengan senang hati membalas pelukan istrinya. Pelukan mesra ia berikan pada bidadari tercintanya. Rasa rindunya seketika itu juga langsung musnah, terbayarkan oleh pelukan manja dari sang istri tercinta.


"Kejutan, sayang."


"Lira kangen banget tahu, sama mas. Kangeeeeeenn banget." Ucapnya sambil terus memeluk tubuh suaminya.


"Sama, sayang. Mas juga kangen pake banget ke sayang."


Reza mengecup kening wanita tercintanya dengan mesra. Ia tersenyum melihat wajah istrinya yang semakin berisi. Lira memejamkan matanya saat tangan Reza mengelus lembut pipi chubby


"Baby nya rewel gak, sayang?" Lanjutnya sambil mengelus perut Lira dengan penuh kasih sayang.


Lira menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut, lalu menangkupkan kedua tangannya ke wajah suaminya yang terlihat begitu lelah. Ditambah lagi, bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar rahangnya yang tegas.


"Alhamdulillah, baby gak rewel mas. Dia tahu kalo papanya lagi kerja di tempat jauh, jadi dia anteng banget."


Lira melepaskan pelukannya lalu mengerutkan dahinya melihat penampilan Reza yang sudah mengenakan baju koko, sarung dan peci putih.


"Mas pake baju koko, emang udah sholat?"


"Belum, sayang. Tadi pas tiba, mas langsung mandi lebih awal karena gerah. Terus, kan gak lama lagi udah mau ashar, jadi mas siap-siap lebih awal. Mas sengaja bangunin sayang dulu, setelah itu baru ke masjid."


"Terima kasih ya, mas udah bangunin Lira."


"Sama-sama, sayang. Oya, mas ada sesuatu untuk sayang. Tapi, sayang harus tutup mata dulu dan gak boleh ngintip. Oke!"


"Sesuatu apa, mas? Kok pake tutup mata segala."


"Pokoknya, sayang harus tutup mata dulu."


"Iya deh, iya."


Lira langsung menutup kedua matanya menggunakan tangannya yang tertutup rapat hingga tak ada celah sedikitpun untuknya mengintip. Sedangkan Reza pergi mengambil buket bunga mawar merah yang ia sembunyikan di walk in closet.

__ADS_1


Reza duduk di depan Lira lalu menyuruhnya untuk membuka mata. Lira terkejut dengan mata yang terbuka lebar melihat rangkaian bunga mawar merah yang begitu indah di depan matanya.


"Mas, i-ini untuk Lira?" Tanya Lira terbata-bata merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


"Iya, sayang. Ini bunga special untuk istri tercinta mas."


"Lira suka banget bunganya. Terima kasih, mas."


"Sama-sama, sayang. Maafin mas, ya. Mas baru ngasih bunga sekarang."


"Gak papa, mas. Mas perhatian ke Lira aja, udah bersyukur banget."


Reza mengelus kepala Lira dengan lembut sambil memperhatikan Lira yang terus menghirup aroma wangi bunga mawar merah itu berkali-kali. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya, menerima bunga mawar yang begitu indah dari orang yang ia cintai. Rasanya begitu membahagiakan. Senyum indah terus terukir di wajah cantiknya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Satu Minggu kemudian, Reza beserta keluarganya sudah berada di Bandung untuk meresmikan rumah sakit milik keluarganya. Satu hari sebelum acara peresmian itu diadakan, mereka telah tiba lebih dahulu dan menginap di hotel milik Martin yang berada tak jauh dari lokasi acara peresmian itu. Begitu pun dengan Indah dan kedua anak angkatnya yang telah tiba di Bandung, dijemput langsung oleh anak buah Reza menggunakan mobil mewah.


Lagi-lagi ini adalah kali pertama bagi Lira, Indah dan kedua adik angkat Lira menginap di hotel mewah. Tak pernah terpikirkan bahwa mereka akan menginjakan kaki di hotel mewah itu. Lira merasa takjub melihat design hotel yang begitu mewah dan elegan. Seluruh keluarga Reza menginap di kamar president suite yang sangat mewah. Meski kamar Reza yang ada di rumahnya juga tak kalah jauh mewahnya, tapi tetap saja Lira merasa terpaku akan keindahan dan kemewahan kamar yang mereka tempati.


Saat ini, Reza beserta keluarganya telah bersiap-siap menuju aula hotel yang mereka tempati sementara, di mana acara peresmian itu dilakukan. Mereka semua kompak mengenakan pakaian seragam. Reza dan ayahnya sama-sama mengenakan texudo mahal. Hanya saja, Reza memakai texudo berwarna gold, sementara ayahnya mengenakan texudo yang berwana hitam.


Di sisi lain, para wanita mengenakan kebaya brokat berwara gold yang sangat indah. Hanya Lira seorang yang penampilannya sangat berbeda. Lira mengenakan gaun pengantin syar'i berwarna gold. Awalnya Lira merasa heran dengan baju yang dipilihkan ibu mertuanya karena di antara seluruh keluarganya, hanya ia seorang yang mengenakan gaun pengantin. Inas pun sama. Bocah kecil nan menggemaskan itu juga didandan dengan mengenakan gaun pengantin yang didesign khusus untuknya agar terlihat sama seperti Lira, ibunya hingga membuatnya terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Tapi, Irma terus meyakinkan Lira dengan alasan, ini adalah acara yang bertema pernikahan. Jadi ia dan Reza harus mengenakan gaun pengantin. Bagi wanita polos seperti Lira yang tak paham dengan konsep acara orang kaya, hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tanpa berani membantah.


Aula hotel pun telah disulap menjadi tempah yang sangat mewah seperti sebuah tempat yang bukan didesign untuk sebuah acara peresmian tapi didesign khusus untuk acara pernikahan seseorang. Lira memerhatikan seluruh ruangan itu dihiasi dengan mawar putih kesukaanya. Seluruh tamu undangan juga telah berdatangan memenuhi ruangan.


Reza berserta keluarganya duduk di meja bundar yang sudah ditata rapi lengkap dengan hiasan bunga mawar putih di atasnya. Lira masih belum paham dengan situasi yang ada saat ini.


Berselang beberapa menit kemudian, acara peresmian pun dimulai. Martin selaku pemilik rumah sakit, maju ke podium untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarganya terutama kepada istri dan anaknya yang telah banyak membantunya. Setelah itu, kepada para rekan bisnisnya yang telah bersedia hadir ke acaranya. Martin memanggil Reza untuk ikut bergabung bersamanya di podium.


Reza menatap ke arah Lira yang duduk tepat di sebelahnya sambil tersenyum. Lira membalas senyuman Reza lalu meminta Reza agar segera maju ke podium. Reza berjalan dengan penuh percaya diri karena saat ini, ia sedang ditemani oleh pujaan hatinya.


Tiba di podium, Martin langsung memeluk bangga putra semata wayangnya yang telah berhasil memajukan perusahaannya. Martin merasa bangga atas semua pencapaian yang telah Reza raih hingga saat ini.


Martin meminta Reza untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama menangani proyek pembangunan rumah sakit itu. Reza maju menuju mic berada. Ia kembali menatap ke arah istri dan anaknya lalu ia melemparkan senyuman manis kepada dua belahan jiwanya yang sedang menatapnya dengan bangga.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung......๐Ÿ˜Š


ditunggu kelanjutannya ya man teman.....๐Ÿ˜

__ADS_1


jangan lupa untuk teruk mendukung ohor yang masih labil ini dalam menulis.


terima kasih๐Ÿ˜โค๏ธ


__ADS_2