Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 145


__ADS_3

Lanjut......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara dengan mendayu-dayu sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." ( QS. al-Ahzab:32)


🌸🌸🌸🌸


"Papaaaa, buluan, kakak udah telat." Teriak Inas di depan pintu kamar orang tuanya.


Sejak satu jam yang lalu, Inas sudah menunggu ayahnya di meja makan untuk mengantarnya ke sekolah. Namun, yang ditunggu tak juga datang untuk ikut sarapan bersama.


Kedua eyangnya juga sudah meminta Inas untuk sabar menunggu. Namun, Inas yang memang sudah merasa kesal dan cemberut, langsung menuju kamar orang tuanya untuk memanggil sang ayah yang mungkin saja masih tertidur menurutnya.


Sementara di dalam kamar, Reza memakai pakaiannya dengan gerakan cepat. Suara teriakan putri kesayangannya membuat Reza menjadi semakin kalang kabut dan bergerak cepat. Saking cepatnya, kemejanya pun ikut kena dampak. Kancingnya yang tak beraturan serta dasinya yang miring tak rapi. Alhasil, ia harus mengulangnya kembali hingga benar-benar rapi.


Di atas tempat tidur, seorang wanita hanya bisa mengamati setiap gerak cepat yang dilakukan Reza tanpa ada niat untuk membantu. Lira hanya menggulung tubuhnya dengan selimut tebal sambil tersenyum geli melihat kepanikan di wajah tampan suaminya. Suruh siapa pagi-pagi udah mesum? Batin Lira tersenyum mengejek.


"Papa, udah siap belum? Kakak udah telat nih!" Suara Inas kembali menggelegar disertai ketukan pintu yang cukup kencang.


Reza semakin panik setelah mendengar suara Inas hingga tubunhya pun ikut berkeringat. Padahal ia sudah segar usai mandi tadi.


"Iya sayang, tunggu ya. Papa lagi pake sepatu." Jawab Reza sambil memakai sepatunya dengan gerakan cepat.


"Makanya mas, jangan mesum. Udah tahu anaknya gak suka menunggu, malah dibuat kesel nungguin mas yang belum siap." Ejek Lira dari atas tempat tidur.


"Namanya juga kebutuhan mendesak, sayang. Siapa yang bisa tahan? Mas kan udah lama gak olah raga pagi karena harus menjaga sayang sama dedek bayi," jawabnya sambil menghela nafas panjang.


Ya, usai mengaji bersama selepas sholat subuh, Reza meminta haknya yang sudah beberapa bulan ini tidak ia lakukan. Sejak Lira hamil muda, Reza berusaha menahan hasratnya untuk tak menyentuhnya. Selain karena menjaga kehamilan Lira agar tetap aman, juga untuk menjaga kondisi Lira yang masih lemas hingga tak bisa melayaninya. Kini di usia kandungan Lira yang telah memasuki bulan ke empat, Reza bisa kembali menuntaskan hasratnya pada sang istri. Namun, harus tetap dalam mode hati-hati agar tak menyakiti sang calon anak di dalam sana.


Lira pun tak menolak. Sebagai seorang wanita yang sedang tinggi hormon seksualnya karena hamil, tentu ia juga menginginkan hal itu. Ingin lebih dari sekedar bermanja-manja pada sang suami. Namun, rasa malu dan genggsinya yang terlalu menjulang tinggi, membuat Lira enggan untuk memintanya lebih dulu.


Mereka melakukan kegiatan yang membuat hubungan mereka semakin erat itu hingga beberapa kali. Reza tak sadar jika paginya, ia harus mengantarkan putri kesayangannya yang super bawel ke sekolah. Jika Reza terlambat sedikit saja, Inas akan berteriak di depan pintu kamar mereka hingga pintu itu terbuka. Seperti yang sedang dilakukannya saat ini.


"Papaaaaaaaa!" Teriak Inas cukup kencang bercampur kesal.


"Iya sayang iya. Papa udah siap," sahut Reza cepat. " Sayang, mas berangkat kerja dulu ya. Sayang jangan lupa makan dan vitaminnya juga harus diminum." Pamitnya sambil mengecup seluruh wajah Lira.


"Iya suamiku yang bawel." Jawab Lira dengen kekehan. "Mas hati-hati di jalan ya. Jangan lupa sarapan. Keasikan di kamar, mas sampe gak sarapan."


"Siap bunda. Udah ya, mas berangkat sekarang. Takutnya si kakak tambah ngamuk lagi di luar. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumusalam Warahmatullah."


Reza membuka pintu kamarnya dengan tenang. Namun, ia harus tetap bersiap-siap untuk mendengar omelan dari putri kecilnya yang sudah menunggunya sejak tadi. Dan benar saja, saat ia keluar kamar, Reza sudah melihat Inas berdiri sambil melipat tangannya ke dada sambil memasang wajah cemberut tapi tetap terlihat menggemaskan.


"Eh, ada prinses kesayangan papa di sini. Selamat pagi, sayang?" sapa Reza basa-basi mencoba untuk menghilangkan rasa kesal pada Inas.


Sayangnya Inas tak menjawab. Inas memilih memasang wajah cemberut sambil menatap sinis ke ayahnya.


"Kok gak dijawab sih, sayang?"


"Kakak masih kesel sama papa. Kakak udah nungguin papa dali tadi, tapi papa belum siap. Kalo kakak telat ke sekolahnya, gimana?" Jawab Inas masih dengan posisi tangan yang terlipat di dada.


Bukannya merasa bersalah, Reza malah tersenyum geli melihat wajah lucu dan menggemaskan putrinya. Digendonganya tubuh gempal putrinya lalu dikecupnya kedua pipi gembul milik Inas dengan gemas hingga nyaris membuat sebagian bedak Inas terhapus.


Cup


Cup


Cup


"Gemesyin banget syih plinces papa. Jadi pengen diuyel-uyel pipinya," ucap Reza gemas.


"Iiiiihhhhh!!!! Bedak kakak bisa kehapus gala-gala papa." Inas kembali cemberut.


Reza langsung tertawa. Hal inilah yang membuatnya belum siap, jika suatu saat putrinya tumbuh menjadi gadis dewasa yang mungkin saja, tak bisa bersikap manja dan bersedia dicium seperti sekarang. Yang lebih membuat Reza sedih, mungkin saja suatu saat sang putri akan menemukan penggantinya, untuk bersandar padanya setiap saat.

__ADS_1


"Hehe, papa gemes banget tahu kak," sahut Reza sambil menyengir. "Maafin papa ya, udah bikin kakak kesel karena nungguin papa."


"Kakak mau maafin, tapi papa gak boleh telat lagi."


"Iya. Insya Allah, papa janji gak akan telat lagi. Gak akan bikin kakak kesel lagi."


"Ya udah, kakak maafin."


Inas langsung menyium pipi kanan Reza sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi kecilnya yang putih dan rapi.


"Karena kakak udah maafin papa, berarti kakak mau kan dengerin omongan papa?"


"Mau pa."


"Nanti lain kali, kakak gak boleh teriak-teriak kayak tadi lagi ya sayang. Kakak gak boleh bersuara tinggi di depan orang tua, termasuk eyang, nenek, dan semua yang ada di rumah ini. Karena kita harus bersikap sopan dan menghormati orang yang lebih tua dari kita. Selain itu, kakak kan perempuan. Jadi suara kakak itu adalah...?"


"Aulat."


"Pinter anak papa," ucap Reza sambil mengusap lembut kepala Inas yang sejak tadi sudah mendengarkannya dengan patuh dan seksama. "Jadi, kakak gak boleh ulangi lagi ya teriak-teriak kayak tadi."


"Iya pa, kakak janji gak kayak gitu lagi," jawab Inas sambil tersenyum. "Makasih papa."


"Iya, sama-sama sayang. Ya udah, kita berangkat sekarang yuk. Takutnya nanti prinses papa telat."


"Oke. Go go go....!!!"


🌸🌸🌸🌸


Reza mengantar Inas sampai di depan kelas untuk memastikan jika putri kesayangannya telah duduk dengan tenang di kelas. Setelah itu, barulah Reza menuju kantornya untuk menemui Arman yang sudah menunggunya.


Hari ini agenda Reza cukup padat hingga malam nanti. Ia harus menemui beberapa klien untuk membahas proyek kerja sama yang akan mereka lakukan. Maka dari itu, Reza telah meminta pada Jono untuk menjemput Inas di sekolah tanpa harus membuat Inas menunggu. Meski nantinya Reza harus bersiap untuk mendengarkan omelan putrinya karena tak bisa menjemputnya di sekolah, seperti yang biasa Reza lakukan selama ini. Tak masalah baginya. Yang penting Inas tetap aman dan selamat.


Inas memang sudah sangat terbiasa diantar jemput oleh ayahnya, hingga ia tak mau dijemput oleh siapa pun selain ayah dan eyangnya.


Pernah sekali, Reza sedang menghadiri rapat penting bersama seorang klien bertepatan dengan waktu penjemputan Inas di sekolah. Reza pun tak bisa meninggalkan rapat begitu saja dan meminta asistennya untuk menggantikannya, karena kliennya termasuk orang yang sangat tegas dan profesional. Akhirnya, Reza meminta pada Jono untuk menjemput Inas di sekolah. Inas menolak keras tak mau pulang bersama Jono, sebelum Reza sendiri yang menjemputnya.


Jono yang tak bisa membujuk Inas, terpaksa langsung menghubungi Reza untuk memberitahukan tentang penolakan Inas yang tak mau pulang bersamanya. Beruntung saat Jono menelpon, Reza baru saja selesai rapat bersama kliennya. Mendapat kabar dari Jono, Reza langsung menuju sekolah Inas untuk menjemputnya.


Reza tak menyalahkan Inas dalam hal ini. Semua adalah murni kesalahannya sendiri yang terlalu sayang dan memanjakan putrinya. Inas menjadi terbiasa dengan semua apa yang diberikan oleh Reza. Namun, bukannya Inas tak bisa dinasehati. Hanya saja, Inas sudah terlalu terbiasa dengan apa yang dilakukan Reza untuknya, termasuk mengantar dan menjeputnya ke sekolah.


Berhubung hari ini kesibukan Reza cukup padat dan menyita waktu, Reza terpaksa meminta pada Jono untuk menjemput Inas di sekolah. Reza berharap kali ini Inas tak kecewa atau merengek harus ayahnya yang menjemputnya di sekolah.


Tiba di depan gedung yang menjulang tinggi, Reza keluar dari mobilnya dengan tatapan datar menuju ruangan di mana sekretarisnya telah menunggu dengan setia. Sepanjang jalan menuju ruangannya, ia berpapasan dengan karyawannya yang menyapa dengan sopan, namun hanya dibalas deheman dari si empunya gedung. Aura Reza begitu dingin. Ia hanya menampakan senyum hangatnya pada istri dan anak-anak, ketiga orang tuanya serta sahabat baiknya.


Ting


Denting suara lift berbunyi nyaring. Reza melangkah dengan tegas menuju ruangannya. Melihat kedatangan Reza, Arman langsung segera mengikutinya dari belakang.


"Apa saja agenda kita hari ini?" tanya Reza tegas sambil membuka jasnya lalu menyimpannya di punggung kursi kebesarannya.


"Hari ini, pukul 10 pagi ada rapat penting di salah satu restoran Jepang dengan perusahaan WB Group untuk membahas proyek pembangunan rumah sakit yang ada di Jawa Tengah. Setelah makan siang, ada rapat dengan Pak Arjun, pemilik Winter Group. Pukul 4 sore ada rapat penting bersama para petinggi Rumah Sakit MM Group," jelas Arman dengan posisi tegap.


"Kalau begitu, siapkan proposal yang akan dibahas nanti."


"Baik pak, akan saya siapkan."


Arman kembali ke ruangannya. Sedangkan Reza langsung membaca beberapa berkas yang sudah menumpuk di atas meja.


Tepat pukul 9, Reza langsung mengajak Arman untuk menemui klien di restoran Jepang yang telah dijanjikan. Mereka akan membahasa proyek kerja sama, sekaligus makan siang bersama.


🌸🌸🌸🌸


Di depan sekolah, Jono menunggu majikan kecilnya dengan setia. Jono sengaja datang lebih awal agar Inas tak perlu menunggu lama. Tak lama kemudian, terdengar bunyi bel pulang diikuti dengan anak-anak yang berlarian keluar kelas.


Inas keluar dari kelas lalu diikuti oleh Farel dan Riri yang sengaja menunggunya di depan kelas. Hal itu sudah sering terjadi dan bahkan sudah seperti kebiasaan bagi Riri dan Farel untuk menunggu Inas di depan kelas, sebelum jemputan dari masing-masing mereka datang. Mereka berjalan sambil tertawa bersama, menikmati masa kecil yang penuh warna.


Inas, Riri dan Farel langsung menuju bangku panjang yang biasa digunakan sebagai tempat untuk menunggu jemputan, yang berada di dekat taman sekolah.

__ADS_1


Jono langsung menghampiri ketiga bocah menggemaskan itu yang masih asik bercanda bersama khas anak-anak.


"Neng Inas," panggil Jono sopan.


"Mang, kok di sini? Papa mana?"


"Papa hari ini gak bisa jemput, jadi Mang Ono yang disuruh jemput Neng Inas."


"Tapi kakak maunya sama papa,"


"Gak bisa neng, hari ini papa lagi sibuk sampe malem."


Inan berpikir sambil melirik ke arah Farel dan Riri yang sejak tadi hanya diam, memandangi percapakan di antara mereka.


"Kalian mau jemput siapa?" tanya Inas pada kedua sahabatnya itu.


"Aku mau dijemput papi. Tapi tadi papi bilang telat jemputnya," jawab Riri polos.


"Kalo aku gak tahu dijemput siapa. Kalna umi lagi jagain adek, telus abi lagi kelja."


Inas kembali berfikir serius sambil mengetuk-ketuk telunjuknya ke dagu. Tak lama kemudian, Inas langsung tersenyum senang.


"Gimana kalo kalian pulang baleng aku aja. Nanti Mang Ono yang telpon papi sama umi," usul Inas.


Riri dan Farel masih diam saling memandang dengan wajah bingung. Melihat hal itu, Jono langsung ikut memberi saran.


"Ya udah, kalo Neng Riri dan Den Farel masih bingung. Mang Ono telpon papi sama umi sekarang ya, biar Mang Ono yang ijin bisa pulang bareng Neng Inas," usul Jono dan langsung mendapat anggukan dari keduanya.


Jono mulai menghubungi Doni. Wajah Jono yang terlihat serius pun, tak lepas dari pantauan ketiga bocah itu. Beberapa kali Jono terlihat menganggukkan kepala. Setelah panggilan berakhir, Jono kembali sibuk menghubungi Bela. Ekspresi Jono tak berubah. Persis seperti saat ia berbicara dengan Doni.


"Kata papi dan umi, kalian boleh pulang bareng Kak Inas. Nanti kalian dijemput setelah papi sama abi, pulang kerja," jelas Jono saat ia selesai melakukan panggilan.


"Yeeeeee...!!! Seru Inas girang. "Kalian ikut aku ke lumah ya. Nanti kita bisa main baleng."


Riri dan Farel juga tak kalah girang. Mereka langsung bertepuk tangan bersama sambil berjalan mendahului Jono yang berada di belakang mereka.


🌸🌸🌸🌸


Usai makan siang bersama kliennya, Reza langsung menghubungi Lira untuk memastikan jika Inas telah tiba di rumah dengan selamat. Meski ia telah meminta tolong pada Jono untuk menjemput, tetap saja Reza masih merasa khawatir akan keselamatan putri kesayangannya.


"Halo. Assalamu'aikum, mas." Sapa Lira dari seberang sana.


"Wa'alaikumussalam. Sayang, kakak udah nyampe rumah belum?"


"Udah dari tadi mas, bareng Riri dan Farel. Tadi habis makan siang, anaknya lanjut main tuh, sama temen-temennya di kamar. Ada apa, mas?"


"Alhamdulillah. Gak papa, sayang. Mas cuma mau mastiin aja." Sahut Reza lega.


"Ya ampun, mas. Kirain ada apa." Terdengar kekehan dari seberang sana. "Kan, mas sendiri yang minta Mang Jono buat jemput," lanjut Lira sambil terkekeh.


Terkadang Lira merasa, rasa khawatir Reza terlalu berlebihan pada putri mereka.


"Iya sayang, mas tahu. Ya udah, mas kerja lagi ya." Tak ingin dipojokan, Reza memilih mengakhiri. Oh ya, sayang udah makan, belum?"


"Udah mas. Tadi bareng anak-anak. Udah minum vitamin juga."


"Oh, syukur deh kalo gitu. Udah ya, sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Reza tersenyum geli mengingat kekhawatirannya pada putri tercinta begitu besar.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......😊


jangan lupa untuk lempar tangkai bunganya ke sini ya.

__ADS_1


terima kasih....❀️


__ADS_2