Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 59


__ADS_3

Selamat membaca ........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Adzan subuh berkumandang, memeceh keheningan pagi yang begitu hening tercipta. Penduduk bumi menyambut suara merdu itu dengan suka cita. Ada yang sudah siap menuju masjid dengan pakaian rapi dan wajah cerah, ada juga yang masih duduk bersila di kasur empuk sambil mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul dengan sempurna.


Kabut tebal yang menutupi gunung dan jalan kini telah terganti oleh embun sejuk yang siap menyambut pagi yang cerah.


Di sebuah rumah kecil yang terlihat nyaris roboh, terdengar suara rintihan kesakitan dari seorang wanita yang tengah berjuang bertarung nyawa melahirkan anaknya kedunia. Bulir-bulir keringat meluncur deras di dahinya bersamaan dengan lahirnya sang anak yang selama sembilan telah menemaninya, serta dengan setia mendengarkan keluh kesahnya.


Hampir setiap hari, ia akan mengajak anaknya bercerita tentang rindunya pada ayah dari si bayi. Tentang cintanya yang takkan pernah terganti, meski yang ia rindukan belum tentu sudi membalas rindunya. Sang anak pun meresponnya dengan memberikan tendangan dari dalam perut sang ibu.


Namun hari ini, tepat di hari Jumat pagi usai melaksanakan sholat subuh, bayi yang selama sembilan menumpang hidup di rahim sang ibu, kini telah lahir ke dunia dengan bantuan seorang dukun beranak. Kelahirannya langsung disambut dengan tangis haru dari sang ibu dan juga neneknya.


Bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir dengan sempurna. Wajah bulat, pipi merah, alis tebal, serta bulu mata yang lentik membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh hati padanya. Wajah bayi menggemaskan itu sangat mirip dengan ayahnya. Padahal jelas-jelas sang ayah menolak kehadirannya. Tak adil memang, saat sang ibu yang harus berjuang menghadapi fitnah kejam yang diarahkan padanya, ketika anaknya lahir, wajahnya justru lebih mirip ayahnya.


Nailah Inas Humairah, yang berarti karuniah yang baik hati serta berpipi merah, itulah nama yang diberikan oleh ibunya. Nama itu tentu memiliki makna yang dalam serta harapan yang besar bagi sang ibu. Kehadiran bayi mungil itu telah menjadi karuniah dalam hidup sang ibu yang kelak diharapkan dapat selalu berbuat baik pada siapa pun tanpa memandang status.


Bayi Inas diletakan di atas dada sang ibu untuk diberikan tetes ASI pertama yang dipercaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh pada sang bayi. Air mata haru mengalir dari sudut mata sang ibu. Ia tak menyangka, bayi yang kehadirannya tak diharapkan oleh ayahnua sendiri, kini telah ada didekapannya.


Bayi Inas kemudian dibersihkan oleh dukun beranak yang telah membantunya keluar dari rahim sang ibu. Usai dibersihkan, bayi Inas langsung dibedong dengan menggunakan selimut bekas pakai dari bayi tetangga yang diberikan seminggu sebelum Lira melahirkan. Meski bekas pakai, tapi selimut itu masih terlihat baru, jadi masih layak untuk menghangatkan tubuh mungil bayi Inas.

__ADS_1


Lira menerima banyak pakaian bayi bekas pakai dari tetangganya yang juga memiliki bayi karena Lira sendiri tak mampu membelikan perlengkapan bayi untuk anaknya.


🌸🌸🌸🌸


Dukun beranak yang membantu proses persalinan bayi Inas, telah undur diri setelah Indah memberinya upah sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah membantu Lira melahirkan. Lira sengaja menggunakan jasa dukun karena upahnya jauh lebih murah daripada jasa bidan yang tergolong cukup mahal bagi kalangan bawah seperti Lira.


Sebenarnya, bisa saja bagi Lira untuk melahirkan secara gratis di PUSKESMAS, namun karena terkendala kendaraan, akhirnya dengan terpaksa Lira harus melahirkan di rumahnya.


Lira meraih tangan mungil bayi Inas yang kini telah berada di sampingnya lalu mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Selamat datang di dunia, sayang. Jadilah wanita yang solehah yang selalu menjadi penyejuk hati ayah dan bunda, serta menjadi tiket untuk ayah dan bunda ke surga-Nya kelak." Ucap Lira penuh harap.


"Bu, terima kasih karena telah berjuang untuk melahirkan neng ke dunia. Sekarang neng tahu sakitnya waktu ibu melahirkan neng. Maafkan neng ya, belum bisa bahagiakan ibu." Ucap Lira pada Indah yang sedang menyuapinya. "Terima kasih juga karena ibu udah jadi pelindung di saat banyak orang yang mencemooh dan menghina anak neng." Lanjut Lira dengan deraian air mata yang mengalir deras di wajahnya.


Selama kehamilannya, banyak hak yang tak terduga datang menguji kesabaran Lira dan Indah. Mereka harus ekstra sabar ketika menghadapi banyaknya cacian dan hinaan yang datang menyerang Lira. Para tetangga yang tak suka pada Indah tentu memanfaatkan kehamilan Lira yang dituduh sebagai hasil dari hubungan gelap karena hamil tanpa suami. Fitnah itu tentu membuat Indah, sebagai ibu dari Lira merasa terhina. Indah yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang lembut, langsung berubah seperti singa bertaring tajam yang siap memangsa musuhnya. Ia tak terima anaknya dituduh sebagai pelaku maksiat. Dengan lantang, Indah langsung mendatangi orang-orang yang menyebarkan fitnah tentang anaknya.


"Neng gak usah berterima kasih, karena memang itu udah jadi kewajiban ibu. Neng juga gak perlu minta maaf, selama ini neng udah banyak berkorban untuk ibu. Terima kasih udah jadi anak yang solehah untuk ibu dan ayah." Balas Indah sambil mengelus wajah Lira dengan lembut. "Sekarang neng udah jadi seorang ibu, didiklah anak neng sesuai dengan apa yang nabi kita ajarkan. Agar kelak, dia bisa menjadi wanita yang bermanfaat bagi banyak orang, terutama bermanfaat bagi agama. dan bangsa." Lanjut Indah.


"Iya bu. Insya Allah, neng akan didik anak neng dengan bekal agama. Terima kasih ya bu, untuk nasihatnya. Tolong ajari neng dalam mengurus dedek Inas."


"Insya Allah, nanti ibu akan ajar. Ayo, makan lagi, biar ASI nya lancar." Ucap Indah sambil menyuapi Lira.

__ADS_1


Meski bukan makanan khusus seperti yang biasa dimakan oleh wanita dari kalangan berada ketika melahirkan, tapi Indah tetap menyiapkan makanan yang dapat memberikan nutrisi bagi kelancaran ASI Lira.


🌸🌸🌸🌸


Usai melaksanakan sholat subuh di masjid, Reza kembali tidur di kamar Lira. Cukup lama ia tertidur, lalu tersentak kaget saat bermimpi melihat Lira sedang menggendong bayi mungil, mengarah padanya dengan wajah sendu. Reza mencoba menyentuh wajah Lira, namun seketika itu juga wajah Lira langsung menghilang. Reza mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat dingin. Pandangannga langsung tertuju pada dompetnya yang berada di atas meja samping tempat tidurnya. Reza melihat foto USG anaknya lalu mengusapnya dengan lembut.


"Selamat pagi sayangnya papa. Semoga dedek selalu sehat dalam perut mama, ya. Kalian di mana? Papa kangen kalian, sayang. Maafkan papa karena gak sadar kehadiran dedek di perut mama, jadi papa gak bisa penuhin keinginan dedek." Ucap Reza penuh sesal sambil mengecup foto USG anaknya dengan sangat dalam seolah sedang menyalurkan rasa rindunya.


Reza belum mengetahui tentang kabar kelahiran sang anak, karena ia sendiri lupa kapan ia menanam benihnya di rahim Lira. Jadi ia tak bisa menebak-nebak kehamilan Lira sudah memasuki bulan ke berapa.


Sejak Reza menyadari perasaannya pada Lira, Ia jadi lebih sering menghabiskan waktunya untuk tidur di kamar Lira. Awalnya ia merasa tak nyaman, tubuhnya terasa sangat kaku saat ia tidur di atas tikar tipis yang biasa digunakan oleh Lira. Hawa panas dan pengap juga ia rasakan saat tidur di kamar itu. Namun semakin lama, ia menjadi semakin terbiasa. Reza sengaja tidur di kamar Lira, untuk melepas rindunya pada sang istri. Selain itu juga, ia ingin merasakan apa yang selama ini Lira rasakan saat tidur di kamarnya yang panas dan pengap tanpa adanya AC atau kipas angin.


Bayangan kekejaman yang sering ia lakukan pada Lira, selalu terlintas di benaknya. Hatinya terasa sakit saat mengingat wajah Lira yang bersimbah darah karena ulahnya. Ia bahkan dengan tega membiarkan Lira mengobati lukanya hanya menggunakan parutan kunyit. Air mata penyesalan mengalir deras di wajahnya. Reza memukul-mukul kepalanya sendiri merasa menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya dulu pada istrinya.


Selama kepergian Lira, Reza berubah menjadi pribadi yang tertutup pada siapa pun. Waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja, ibadah, dan mencari keberadaan Lira. Salahnya, Reza tak menanyakan alamat kampung Lira pada Jono, supir pribadi ayahnya yang dulu pernah ikut mengantarkan Indah pulang ke kampungnya. Akhirnya Reza menjadi kebingungan sendiri saat mencari alamat kampung istrinya. Menyesal? Tentu Reza sangat menyesal atas semua perbuatannya pada Lira. Namun, ia tetap bertekad untuk terus mencari keberadaan Lira.


Reza pernah menemui Doni untuk meminta bantuan, tapi dengan tegas Doni menolaknya dengan alasan sibuk mengurus perusahannya. Penolakan Doni tentu membuat Reza menjadi kesal pada sahabatnya itu. Doni memang sengaja menolak mentah-mentah permintaan Reza, karena ia ingin melihat sejauh mana usaha Reza dalam mencari keberadaan Lira.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2