
Terima kasih banyak untuk para reader's yang selalu mendukung karya ini.
Selamat membaca......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Sejak kedatangan Indah di rumah Martin, Lira menjadi semakin menempel manja pada ibunya. Sudah satu Minggu Indah menginap di sana dan selama itu pula, Lira selalu minta dimasakan makanan kampung kesukaannya yang biasa ia makan ketika kecil dulu. Alhasil, berat badan Lira semakin bertambah.
Seperti di hari Minggu pagi ini, Lira meminta ibunya untuk dibuatkan sayur asem sebagai menu sarapan paginya dan dengan senang hati Indah membuatnya.
Sayur asem, tempe goreng dan sambal terasi telah tertata rapi di atas meja. Tanpa menunggu lama, Lira mulai menyendok nasi hangat ke piringnya lengkap dengan lauk pauknya dan ditambah sambal terasi kesukaannya sebagai pelengkap. Nafsu makan Lira selalu meningkat setiap memakan masakan dari tangan ibunya.
"Pelan-pelan atuh neng, makannya." Ucap Indah mengingatkan.
"Sayang, sambelnya jangan banyak-banyak dong. Ini masih pagi, kalo sakit perut gimana?" Protes Reza, ikut mengingatkan saat melihat Lira menambahkan banyak sambal ke dalam piringnya.
Lira hanya mengangguk sambil menguyah. Semua yang ada di meja makan langsung menggelengkan kepala melihat Reza yang begitu posesif pada Lira.
"Gak papa, Za. Yang penting dia makannya lahap. Daripada dia gak mau makan. Ayo, kamu mau yang mana?" Timpal Irma sewot.
"Tapi dari tadi dia udah banyak banget makan sambelnya, ma." Balas Reza tak mau kalah.
Mendengar Reza terus mengomel, Lira langsung menghentikan makannya lalu menatap tajam ke arah Reza dengan mulut yang masih terisi penuh oleh makanan. Bukannya takut, Reza malah tertawa nyaring melihat wajah Lira yang terlihat lucu dengan pipi mengembung. Martin, Irma dan Indah hanya menggelengkan kepala. Tak lama terdengar suara Inas memukul sendok ke piringnya hingga terdengar nyaring.
Reza menoleh ke arah Inas tanpa menghentikan tawanya.
"Kakak marah ya karena papa ngetawain bunda?" Tanya Reza gemas melihat wajah lucu Inas.
"Dadadada." Celotehnya dengan gemas.
Lira langsung menangis kencang karena Reza terus saja menertawakannya. Reza jadi gelagapan mendengar suara tangis Lira yang semakin kencang.
"Tuh kan, jadi nangis Lira nya. Udah tahu orang hamil tuh sensitif, malah digangguin. Tanggung jawab, Za." Omel Irma lalu kembali mengunyah nasi gorengnya.
"Sayang, maaf ya. Mas cuma becanda aja kok tadi." Bujuknya sambil mengusap kepala Lira.
"Hiks...hiks....Maas, ja-haat."
"Iya sayang, mas jahat. Udah ya, nangisnya." Reza menghapus air mata Lira dengan lembut.
"Lira pengen nambah sambel yang banyak, mas." Pinta Lira di sela tangisnya.
"Boleh, asal jangan banyak-banyak sayang."
Tangis Lira kembali pecah. Reza menghela nafasnya pelan lalu dengan terpaksa ia mengiyakan Lira menambahkan sambal ke makanannya, daripada harus mendengar Lira kembali menangis.
"Gak papa, Nak Reza. Sambelnya gak pedes kok." Ucap Indah.
Reza bernafas lega mendengar penjelasan mertuanya.
πΈπΈπΈπΈ
Lira menuju kamar ibunya dengan mata yang sudah terasa berat karena kekenyangan. Lira sengaja memilih tidur di kamar ibunya karena ia ingin tidur sambil dipeluk ibunya. Reza pun tak melarangnya.
Saat Reza, Martin dan Irma sedang asik bermain bersama Inas dan ketiga anak Nur di halaman rumah, terdengar suara klakson dari mobil mewah berwarna putih yang langsung masuk ke halaman karena pagar rumah memang sedang terbuka lebar.
__ADS_1
Seorang wanita cantik dengan gamis biru muda dipadukan dengan hijab pasmina berwarna merah biru tua turun dari mobil sambil menuntun tangan bocah laki-laki yang berumur sekitar 4 tahun. Kemudian disusul oleh lelaki berpostur tinggi dengan kulit putih. Tak lupa juga kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya hingga membuatnya semakin terlihat tampan.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar bude, pakde?" Sapanya dengan sopan sambil memeluk Irma.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah." Jawab Martin dan Irma serentak.
"Ya Allah, Ambar. Bude baik, sayang. Kamu kok lama gak ke sini?" Ucap Irma girang saat melihat keponakannya datang ke rumahnya.
"Maaf bude, Ambar sibuk banget di rumah sakit. Jadi baru bisa ke sini sekarang."
Reza menggendong Inas, meninggalkan ketiga anak Nur yang sedang bermain, untuk ikut bergabung bersama mereka yang sedang asik mengobrol saling melepas rindu.
"Hai, Za. Apa kabar?" Sapa Aris Haldi Putra, suami Ambar yang tidak lain adalah senior Reza ketika kuliah kedokteran.
"Hai bro. Alhamdulillah, gue baik." Jawab Reza.
Mereka langsung saling berpelukan ala pria dewada pada umumnya.
"Ini anak lo, Za?" Tanya Aris.
"Iya, ini anak gue."
"Masya Allah, cantik banget anak lo." Puji Aris sambil menyubit kecil pipi gembul Inas.
"Siapa dulu dong, papanya!" Ucapnya bangga.
Mendapat cubitan dari Aris, membuat Inas langsung menangis lalu memeluk erat leher Reza. Memang Inas tergolong anak yang susah dekat dengan orang baru. Reza langsung menenangkan Inas.
"Cup..cup..Gak papa, sayang. Itu om baik, kok."
"Sorry bro, anak gue emang susah deket sama orang lain. Apalagi sama orang yang baru dia liat, kayak lo." Jelas Reza.
"Iya, santai aja. Anak gue juga dulu gitu, kok."
Ambar meninggalkan Irma dan Martin lalu mendekati suaminya yang asik mengobrol bersama Reza. Ambar meminta tolong pada suaminya untuk menjaga putra mereka yang sedang bermain bola di taman bersama anak-anak Nur. Aris pun mengangguk karena ia sudah tahu alasan Ambar datang ke rumah Reza.
Ambar meminta izin pada Irma dan Martin untuk mengajak Reza mengobrol berdua di gazebo belakang rumah. Ambar masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya bersama Irma dan Martin di teras. Beruntung Aris sudah dekat dengan kedua orang tua Reza, Jadi ia tak lagi merasa canggung berada di tengah-tengah mereka.
Reza masuk ke dalam rumah sambil menggendong Inas yang sudah tertidur dipelukannya. Reza menuju kamar tamu yang ditempati oleh mertuanya, menitipkan Inas agar bisa tidur bersama Lira. Setelah itu, Reza menuju dapur, meminta tolong pada Mirna membuatkan teh serta cemilan untuk Ambar. Kemudian Reza menyusul Ambar yang sudah menunggunya di gazebo.
"Lo mau denger cerita gue dari mana?" Tanya Reza saat ia menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Semuanya, dari awal lo nikah sama Lira." Jawab Ambar tak sabar.
Reza mengangguk. Tapi sebelum bercerita, Reza lebih dulu menghela nafasnya dalam-dalam karena ia akan membuka kembali luka masa lalunya yang kejam.
Reza kembali menceritakan kisal awal mula ia menikah dengan Lira atas dasar perjodohan orang tuannya, hingga Lira pergi dari rumah karena kebodohannya. Reza harus menahan sesak di dadanya saat menceritakan itu semua tanpa ada yang dilewatkan.
Ambar mendengat cerita Reza dengan seksama. Awalnya Ambar merasa marah ketika tahu Reza pernah menelantarkan Lira bahkan sampai tega menyiksanya. Tapi, saat ia melihat wajah Reza yang begitu menyesali perbuatannya dan bahkan seperti tertekan, Ambar langsung merasa iba.
"Seperti itu ceritanya, Mbar. Gue tahu, lo pasti langsung benci kan sama gue? Tapi gue udah bener-bener menyesal."
"Bener banget apa yang lo bilang. Gue marah dan benci banget sama lo. Apalagi gue pernah jadi saksi saat Lira hamil anak, lo. Dia menderita banget, Za." Balas Ambar kesal.
"Lo tahu gak, waktu Lira meriksain kandungannya ke klinik gue?" Tanya Ambar.
__ADS_1
Reza menggeleng lemah disertai wajah sendunya.
"Dia dateng dengan pakaian yang udah usang banget, Za. Semua orang yang ada di klinik gue langsung liat dia dengan tatapan jijik dan gak ada satu pun yang mau deket sama dia. Akhirnya Lira cuma bisa berdiri di pojokan yang jauh dari orang-orang. Pas gue tanya suami dia kemana, dia bilang suami dia lagi jadi TKI di luar negeri. Gue gak tega liat badan dia dulu yang kurus banget."
Terus waktu dia dateng lagi kedua kalinya, ternyata Lira jalan kaki, Za jalan kaki. Lo bayangin aja, gimana jauhnya klinik gue dari rumah lo dan dia harus jalan kaki hanya untuk bisa liat perkembangan anak lo di rahimnya. Pas gue periksa, ternyata dia kekurangan nutrisi, Za. Karena dia gak ada uang untuk beli makan dan beli susu, gue nyaranin dia buat kerja di toko bunga tempat Bude Cempaka. Tapi baru beberapa hari Lora kerja, dia langsung pamit mau pulang kampung. Gue gak bisa bayangin gimana kalo gue ada di posisi Lira. Gue yakin gak bakal sanggup." Jelas Ambar menggebu-gebu dengan nafas yang sudah naik turun menahan tangisnya mengenang kisah pilu Lira.
Ambar tidak bermaksud untuk membuat Reza menjadi terluka kembali dengan mengingatkannya masa kisah kelamnya. Namun, ia hanya ingin membuat Reza untuk selalu menyayangi dan membahagiakan Lira juga Inas.
Reza langsung menangis tersedu-sedu mendengar cerita Ambar tentang Lira yang begitu menyayat hatinya.
"Gue harap, lo bisa menebus semua kesalahan lo dengan membahagiakan Lira selamanya." Lanjut Ambar tulus.
πΈπΈπΈπΈ
Setelah satu jam, Ambar dan suaminya langsung berpamitan pulang karena mereka harus berkunjung ke rumah orang tua Aris.
Sepeninggal Ambar, Reza masih duduk termenung di gazebo. Air matanya yang tadi mengalir deras, kini sudah mengering dan hanya meninggalkan jejak di wajahnya. Reza melihat ke arah dua tangannya yang gemetar. Tangan itu yang dulu pernah ia pakai untuk menjambak rambut Lira dan memukul tubuh mungil Lira hingga menjerit kesakitan. Reza tanpa ampun menyiksa Lira meski ia sudah mendengar jeritan meminta ampun darinya.
Lira melihat Reza duduk gazebo, langsung ikut duduk tepat di sebelahnya. Lira memerhatikan Reza yang masih diam dan belum menyadari akan kehadirannya.
"Mas, ngapain duduk di sini sendirian?" Tanya Lira lembut hingga membuat Reza tersentak kaget.
"Sayang, sejak kapan di sini?"
Bukannya menjawab, Reza justru bertanya balik hingga membuat Lira menjadi kesal.
"Ck, orang tanya bukannya dijawab malah ditanya balik."
"Maaf, tadi sayang nanya apa?"
Reza menggenggam tangan Lira lalu mengelusnya dengan lembut. Saat melihat wajah Lira, Reza menjadi teringat kembali dengan cerita Ambar, hingga membuat hati Reza menjadi sakit. Lira rela melepas cita-citanya hanya untuk menikah dengannya.
"Mas, kenapa liatin Lira kayak gitu?"
"Gak papa, suka aja." Jawabnya asal sambil tersenyum mengelus kepala Lira.
"Hmm, sayang. Nanti kalo baby udah lahir, sayang mau gak kuliah?" Tanya Reza hati-hati.
"Gak usah, mas. Lira di rumah aja, ngurus mas dan anak-anak."
"Tapi mas mau, sayang kuliah biar bisa wujudin cita-cita sayang yang tertunda. Mas gak mau, karena nikah sama mas, sayang jadi lupain impian untuk jadi guru."
"Mas, impian Lira sekarang bukan jadi guru, tapi jadi istri dan ibu yang baik untuk mas juga anak-anak kita. Meski Lira cuma lulusan SMA, tapi Insya Allah, Lira masih bisa didik anak-anal kita dengan ilmu agama yang Lira punya. Kita sama-sama didik anak-anak kita agar selalu taat pada Allah dan rasul-Nya. Didik mereka agar berakhlak mulia serta beradab pada kedua orang tua dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Selain itu juga, Lira gak mau kuliah karena Lira gak mau waktu Lira bersama keluarga jadi berkurang. Jadi Lira minta, mas tolong hargai keputusan Lira."
Reza menjadi terharu mendengar jawaban bijak Lira. Meski usianya masih sangat muda, tapi jalan pikiran Lira sangat dewasa. Reza memeluk Lira sambil mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, sayang." Ucap Reza tulus.
"Sama-sama, mas. Udah yuk, kita masuk. Bentar lagi sholat dhuhur."
"Iya sayang, ayuk."
Mereka masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan dan bercanda ria. Setidaknya, mendengar tawa Lira bisa sedikit mengurangi beban di hati Reza.
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung......π