
Selamat membaca......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Waktu terus berlalu. Tak terasa, satu bulan sudah Reza berada di kampung Lira. Tak jarang Reza harus pulang ke Jakarta untuk melihat kondisi ayahnya, serta mengontrol perusahaan milik ayahnya. Reza tetap semangat dalam merebut hati istri dan anaknya. Meski harus menelan pil pahit karena mendapat penolakan berkali-kali dari anaknya, namun Reza tak ingin menyerah begitu saja.
Hari ini giliran Reza harus pulang ke Jakarta karena ia sudah mulai aktif bekerja kembali. Selain bekerja di rumah sakit, Reza juga telah resmi menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO di MM Group. Jadi, ia tak bisa lagi dengan leluasa mengunjungi anak dan istrinya di kampung.
Sebelum Reza kembali ke Jakarta, ia telah menyediakan semua kebutuhan pokok untuk anak dan istrinya serta mertuanya. Agar mereka tak lagi kesulitan selama Reza berada di Jakarta. Reza juga telah meminta pada Lira untuk berhenti berjualan karena Reza tak ingin kejadian saat Lira dihina oleh tetangganya itu terulang lagi.
Berbicara mengenai wanita yang pernah dengan lantang menghina Lira langsung di depan Reza, kini ia telah menanggung akibatnya. Ia jatuh miskin. Jono telah berhasil membongkar kasus korupsi yang dilakukan oleh suaminya yang menjabat sebagai manager di salah satu bank swasta yang ada di daerah tempat Lira tinggal. Usai kasus itu terkuak, suami wanita paruh baya itu akhirnya dijibloskan ke penjara dan seluruh hartanya disita oleh pihak bank. Selain itu juga, wanita paruh baya itu berserta anak-anaknya yang selama ini dikenal sombong, kini telah dikucilkan oleh tetangganya yang pernah mereka hina.
Seluruh warga kampung juga sudah mengetahui status Lira yang sebenarnya telah menikah dengan Reza, yang tak lain adalah seorang dokter dan anak dari salah satu pengusaha kaya di Jakarta. Awalnya, mereka terkejut mengetahui fakta itu. Bagaimana bisa istri dari lelaki kaya bisa hidup menderita dan kenapa baru sekarang Reza muncul setelah satu tahun kelahiran anaknya? Pikir mereka. Meski begitu, para tetangga Lira tak ingin mencari tahu lebih jauh karena mereka takut akan mengalami nasib yang sama seperti tetangganya yang kini telah jatuh miskin karena telah berani menghina Lira.
Setelah berita mengenai tetangga mereka yang berakhir naas, karena ulah Reza tersebar di seluruh penjuru kampung, kini banyak tetangga Lira yang datang secara berbondong-bondong untuk meminta maaf langsung pada Lira. Mereka menyesal karena pernah menyebar fitnah tentang Lira. Indah dan Lira pun telah memaafkan mereka.
πΈπΈπΈπΈ
Saat Reza telah kembali ke Jakarta satu bulan yang lalu, pada waktu tengah malam di saat mereka sedang tertidur pulas, Lira terbangun karena ingin ke kamar mandi. Namun, Lira langsung terkejut saat memegang tubuh Inas yang begitu panas disertai kejang-kejang. Lira menjadi panik dan khawatir. Lira langsung memasukan jarinya ke dalam mulut anaknya. Lira mengorbankan jarinya kesakitan digigit oleh Inas agar balita itu tak terluka karena menggigit lidahnya sendiri.
Lira langsung membangunkan ibunya dengan cara berteriak memanggil ibunya.
"Ibu...ibu." Panggil Lira pada ibunya dengan sedikit kencang.
Indah langsung terkejut mendengar suara teriakan Lira. Indah langsung membuka pintu kamarnya dan langsung ikut panik melihat Lira menangis sambil menggendong tubuh Inas yang sudah kejang-kejang.
"Inas kenapa, neng?" Tanya Indah dengan wajah yang tak kalah panik.
"Bu, dedek Inas badannya panas tinggi. Neng harus gimana, bu?" Lira semakin terisak saat melihat anaknya semakin kejang-kejang dalam gendongannya.
"Kita bawa ke rumah sakit aja, neng." Ucap Indah. "Eh, tapi kita mau pergi pake apa? Rumah sakit kan jauh dari sini!" Lanjutnya lagi dengan wajah yang semakin panik.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Lira dan Indah saling menatap. Mereka tak ingin membuka pintu karena takut jika itu adalah orang jahat. Namun, ketukan pintu semakin kencang ditambah dengan suara seorang pria yang mengaku sebagai anak buah Reza yang sengaja ditugaskan untuk menjaga keluarga Lira.
Dengan perasaan panik bercampur takut, Indah memberanikan diri untuk membuka pintu rumahnya. Benar saja, ada dua orang pria yang sudah berdiri tegap di depan pintu.
"Be-benarkah kalian anak buah menantu saya?" Tanya Indah sedikit gemetar.
"Iya, betul nyonya." Jawab dua orang pria itu serentak.
"Kalau begitu, tolong antar kami ke rumah sakit sekarang. Cucu saya sedang panas tinggi." Pinta Lira sambil menangis.
"Baik, nyonya."
Kedua pria itu langsung mengangkat Lira dan Indah ke rumah sakit daerah yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal Lira.
Saat tiba di rumah sakit, Inas langsung ditangani oleh dokter jaga. Setelah diperiksa dan di infus, Inas langsung dibawa ke rumah perawatan khusus anak.
__ADS_1
Hati ibu mana yang tak sakit saat melihat putri kecilnya menjerit kesakitan saat jarum infus ditancapkan ke tangan mungilnya? Lira semakin terisak saat melihat putri kecilnya masih kejang-kejang, meski tak separah sebelum dibawa ke rumah sakit, namun tetap saja hati Lira merasa hancur.
Lira tak berhenti berdoa sambil terus membaca ayat kursi di telinga putrinya.
"Sayang, ini bunda. Dedek cepet sembuh, ya. Bunda gak bisa liat dedek sakit kek gini." Ucap Lira sambil mengecup tangan mungil putri kecilnya yang sudah tertidur pulas. Sesekali tubuh Inas mengalami kejang-kejang kecil dengan durasi satu hingga menit.
Dokter yang menangani Inas mengatakan, kondisi Inas sudah lebih baik. Hanya saja harus selalu dikontrol. Lira belum bisa bernafas lega sebelum putri kecilnya dinyatakan sembuh.
Karena merasa lelah dan mengantuk, Indah dan Lira memutuskan untuk tidur di kursi yang berada di sebalah kanan dan kiri ranjang Inas.
πΈπΈπΈπΈ
Pagi-pagi sekali Reza langsung berangkat menuju rumah sakit di mana putrinya dirawat. Semalam, usai mengantar Lira dan Indah ke rumah sakit, salah satu anak buahnya langsung menghubungi Reza untuk mengabarkan kondisi anaknya yang mengalami panas tinggi disertai step. Usai mendapat berita itu, Reza langsung merasa khawatir hingga tak bisa tetidur dengan nyenyak.
Maka dari itu, usai melaksanakan sholat subuh, Reza langsung mengendarai mobilnya seorang diri menuju kampung halaman Lira untuk melihat kondisi putrinya. Reza sengaja tak memberitahukan kondisi putrinya kepada kedua orang tuanya karena Reza tak ingin mereka menjadi khawatir. Apalagi ayahnya memiliki riwayat sakit jantung, jadi Reza harus menutup rapat kabar ini.
Reza tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruangan anak tempat Inas dirawat. Reza melihat tubuh mungil putrinya terbaring lemah dengan infus ditangannya.
"Dek, ini papa sayang. Papa datang." Ayo bangun, nanti papa beliin adek mainan yang banyak, asal adek bangun." Reza mengusap lembut kepala Inas yang masih tertidur pulas.
Beruntung Inas sudah tak mengalami kejang-kejang. Hanya saja, tubuhnya masih panas, namun tak lagi sepanas seperti malam tadi saat pertama dibawa ke rumah sakit.
Pandangan Reza beralih ke Lira, yang masih tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepalanya berada di atas ranjang Inas dengan berbantal lengannya. Lira tertidur lebih lama karena kelelahan menjaga Inas hingga menjelang subuh. Beruntung Lira sedang tak sholat, jadi tak masalah ia bangun sedikit kesiangan.
Tak tega melihat posisi tidur istrinya. Reza langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dengan hati-hati untuk berbaring di sebelah anaknya. Lira sempat menggeliat, kemudian ia tertidur kembali. Reza merasa lucu melihat wajah istrinya yang menggeliat. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Reza melihat wajah polos istrinya ketika tidur. Reza mengecup kening istri dan anaknya secara bergantian dengan penuh kasih sayang.
Anita? Entah di mana sekarang wanita itu sekarang berada. Kabar terakhir yang Reza terima, Anita telah menikah dengan seorang pengusaha baik hati dan kini mereka telah hidup bahagia dengan dikaruniai anak perempuan.
Reza sempat merasa bersalah pada Anita, namun ia juga bersyukur karena Anita telah menemukan lelaki yang baik hati yang bisa membuatnya bahagia. Kini saatnya bagi Reza untuk membahagiakan istri dan anaknya yang dahulu pernah ia sia-siakan.
πΈπΈπΈπΈ
Setelah satu Minggu Inas dirawat secara intensif di ruang VVIP sesuai keinginan Reza, pagi ini Inas telah diperbolehkan pulang oleh dokter spesialis anak yang menanganinya. Selama Inas dirawat di rumah sakit, Reza tak tanggung-tanggung untuk mencarikan dokter anak terbaik untuk putri kecilnya. Lira tak berani membantah semua keinginan Reza karena ia sadar, apa yang dilakukan Reza semua untuk kebaikan putri kecil mereka.
Sesuai kesepakatan, Lira akhirnya setuju untuk ikut Reza pulang ke Jakarta. Kepulangan Reza bersama Lira dan anaknya serta mertuanya, tentu disambut hangat oleh kedua orang tua Reza. Mereka bahkan langsung meminta pada para asistennya untuk menyiapkan makanan yang lezat untuk menyambut kedatangan besan beserta menantu dan cucu perempuannya.
Irma juga sudah menyiapkan kamar mewah untuk cucu kesayanganya yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Kamar mewah itu diisi dengan berbagai macam boneka dan mainan khas anak perempuan.
Irma dan Martin sudah tak sabar untuk bertemu dan memeluk cucunya itu. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Irma dan Martin dengan segera langsung membuka pintu untuk menyambut Lira.
Betapa bahagianya Irma saat melihat menantunya kembali ke rumahnya.
Lira langsung berjalan mendekati mertuanya yang sudah tersenyum menyambutnya.
"Assalamu'alaykum. Mama sama papa apa kabar?" Tanya Lira sambil menyium punggung tangan kedua mertuanya.
"Wa'alaykumussalam." Jawab Irma dan Martin bersamaan.
__ADS_1
"Mama sama papa baik, sayang. Ya Allah, sayang akhirnya kamu kembali nak. Mama kangen banget sama kamu." Jawab Irma sambil memeluk tubuh mungil menantunya dengan penuh kerinduan.
Irma melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk tubuh besannya yang berdiri tepat di sebelah Lira.
"Apa kabar besan?" Tanya Irma di sela-sela pelukannya.
"Alhamdulillah, baik. Nyonya sendiri apa kabar?" Indah balik bertanya.
"Kok panggil nyonya sih! Panggil mbak, dong." Protes Irma dengan wajah cemberut.
"Baiklah, mba." Balas Indah sambil tersenyum pada kedua besannya itu.
Irma langsung mengambil Inas dari gendongan Reza. Balita cantik dan menggemaskan itu sedang tertidur pulas digendongan hangat sang ayah. Reza mengerti dengan perasaan ibunya yang begitu merindukan cucunya, langsung menyerahkan putri kecilnya pada ibunya.
Wajah Irma langsung berbinar, ia sangat bahagia akhirnya setelah menunggu cukup lama, kini ia bisa merasakan menggendong cucunya. Dikecupnya dengan gemas pipi gembul cucunya. Inas sama sekali tak merasa terganggu saat neneknya terus menghujani wajahnya dengan ciuman gemas.
Semua yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sebelum nantinya mereka sholat dan dilanjutkan makan siang bersama.
πΈπΈπΈπΈ
Irma memaksa membawa Itu Inas untuk tidur di dalam kamarnya dengan alasan masih rindu dengan cucunya itu. Akhirnya Reza dan Lira mengizinkan Inas tidur di kamar nenek dan kakeknya.
Indah memilih masuk ke dalam kamar tamu yang pernah ia tempati dahulu saat menginap di rumah besannya itu.
Sementara itu, Reza membawa Lira ke dalam kamarnya. Awalnya Lira menolak untuk masuk ke dalam kamar Reza karena masih trauma dengan kejadian dahulu saat Reza mendorongnya hingga kepalanya berdarah karena terkena ujung tempat tidur. Namun, Indah meyakinkannya, bahwa semua akan baik-baik saja.
Lira mengikuti langkah Reza masuk masuk ke dalam kamarnya. Saat sudah berada di dalam kamar, tubuh Lira mendadak gemetar ketakutan dan keringat dingin.
Reza yang menyadari perubahan pada tubuh Lira, langsung memeluk erat tubuh Lira yang terus gemetar hebat. Reza mengerti bagaimana perasaan Lira saat ini. Tentu tak mudah bagi Lira untuk bisa melupakan kejadian pahit yang pernah ia alami di kamar itu.
Reza masih terus memeluk erat tubuh Lira sambil mengelus pelan kepala Lira yang masih terbungkus jilbab.
"Maaf." Ucap Reza pelan.
Bukan hanya Lira yang merasa sakit mengingat kejadian kelam itu, tapi Reza juga merasakan hal yang sama. Meski ia sendiri sebagai pelakunya, namun ia juga merasakan sakit jika mengingat kejadian itu. Ia tak menyangka, dirinya bisa melakukan hak kejam seperti dulu.
"Nanti habis ini, kita pindah kamar aja, ya?" Tanya Reza saat Lira sudah terlihat lebih tenang.
Lira hanya mengangguk setuju sebagai jawaban.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung......
Plis jangan hujat jika tak sesuai keinginan kalian. Tetap dukung author ya, dengan cara terus memberi like dan komen positif serta tidak menjatuhkan, agar author tetap semangat dalam berkarya.
juga VOTE, VOTE, VOTE seikhlasnya.
__ADS_1
terima kasih.....πβ₯οΈ