Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 42


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Lira mulai bekerja membereskan piring dan gelas bekas makan para pelanggan, setelah itu ia membersihkan meja dari sisa-sisa makanan. Kemudian ia menyapu lantai agar ketika pelanggan yang baru datang, melihat meja sudah kembali bersih. Lira bekerja dengan sangat baik dan penuh semangat. Hingga menjelang waktu dhuhur, Lira meminta izin untuk melaksanakan sholat di kamar tidur milik Yati dan Yanto yang berukuran kecil yang berada di dalam warteg.


Yati dan Yanto memang tinggal di dalam warteg, jadi mereka sengaja membuat kamar dengan ukuran kecil, agar mereka tak kesulitan mencari tempat tinggal. Warteg milik Yati dan Yanto memang tak besar, namun cukup untuk tempat tinggal sementara bagi mereka, selama merantau di Jakarta.


Usai sholat, Yati meminta Lira untuk makan siang lebih dahulu, baru kemudian melanjutkan pekerjaannya mencuci piring yang sudah mulai menumpuk karena banyaknya pelanggan yang datang untuk makan siang di warteg.


Di sela-sela kerjanya, Lira merasa kepalanya sangat pusing dan mual. Lira menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu memijit pelan pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya. Rasa mual kembali menyerang, Lira berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Namun, lagi-lagi hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya.


Ooweekkkk....ooowweeekkk.....ooowweekkk


Lira terkulai lemas sambil menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Cukup lama Lira berada di kamar mandi, kemudian ia berkumur-kumur membersihkan sisa cairan bening di mulutnya. Sementara di luar kamar mandi, Yati terlihat khawatir setelah mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.


Lira keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya. Yati membantu Lira berjalan dan membawanya masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuh Lira di ranjang yang berukuran kecil.


"Kamu kenapa, dek? Kok muka kamu bisa pucat kek gini sih?" Tanya Yati sambil membantu mengusap keringat di wajahnya Lira dengan lembut.


"Lira juga gak tahu, bu. Hanya memang, udah beberapa hari ini badan Lira rasanya lemes dan perut Lira juga sering mual." Jawab Lira dengan suara lemas.


Yati terkejut, pikirannya tiba-tiba mengarah ke hal yang negatif. Sebagai seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki anak, tentu Yati tahu gejala apa yang sedang dialami Lira saat ini. Tapi ia tak ingin gegabah dengan mengambil kesimpulan sebelum mengetahui faktanya lebih dahulu. Ia tak ingin menghakimi Lira sebelum mendengar penjelasannya. Karena menurutnya, Lira adalah gadis baik-baik, jadi sangat tidak mungkin jika Lira melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi ibu harus menanyakan ini. Apa Dek Lira sudah menikah?" Tanya Yati dengan hati-hati agar Lira tak merasa tersinggung.

__ADS_1


Lira mengerutkan keningnya, merasa bingung mendengar pertanyaan Yati. Apa hubungannya menikah dengan kondisinya saat ini?


"Iya bu, Lira sudah menikah. Memangnya ada apa ya, bu?"


Yati bernapas lega setelah mendengar jawaban jujur dari Lira, kemudian ia tersenyum sambil memegang lembut tangan Lira yang berada di atas perutnya.


"Menurut ibu, kamu sekarang sedang hamil. Tapi untuk lebih jelas, sebaiknya diperiksakan dulu ke dokter. Suami Dek Lira di mana?"


Lira terkejut lalu tersenyum haru. Ia mengusap lembut perutnya yang masih datar dengan penuh kasih sayang. Jika benar saat ini telah tumbuh benih di rahimnya, ia akan merasa sangat bersyukur karena telah diberi kepercayaan secepat ini. Meskipun hubungannya dengan Reza masih dikatakan sangat buruk dan belum ada perubahan, namun Lira berharap, semoga dengan hadirnya malaikat kecil dalam rahimnya, dapat sedikit membuka hati Reza agar bisa menerimanya.


Lira diam sesaat, memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Yati padanya. Namun, ia masih merasa bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Yati. Tak mungkin ia memberitahukan fakta mengenai suaminya yang merupakan seorang dokter dan juga seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Martin. Sedangkan Ia sendiri harus membanting tulang dengan bekerja sebagai pelayan dan tukang cuci piring di warteg kecil.


"Suami Lira sedang bekerja di luar negeri sebagai TKI, bu." Lira terpaksa berbohong.


"Lira tinggal sendiri, sedangkan orang tua Lira ada di kampung, bu."


"Ya udah, gak papa. Kamu gak usah sedih, kan ada ibu sama bapak. Sekarang kamu istirahat aja dulu. Biar ibu yang lanjut nyuci piringnya."


"Eh! Jangan bu, biar Lira aja yang nyuci piringnya." Lira merasa tak enak hati, di hari pertama bekerja, ia harus merepotkan Yati selaku pemilik warteg.


"Gak papa, gak usah sungkan. Kamu istirahat aja, karena kalo lagi hamil muda itu masih rentan keguguran..Jadi gak boleh terlalu capek." Ucap Yati penuh perhatian.


"Terima kasih bu. Maaf, Lira sudah merepotkan ibu." Lira merasa terharu dengan kebaikan dan perhatian yang diberikan Yati padanya.


"Iya, sama-sama. Ya udah, ibu bikinin teh hangat dulu terus lanjut ke belakang."

__ADS_1


Lira mengangguk sambil tersenyum haru. Ia sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang baik seperti Yati dan Yanto, di tengah kerasnya hidup di ibu kota.


Yati membawakan teh hangat dan beberapa makanan ringan untuk mengisi perut Lira, setelah itu ia kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaan lira yang sempat tertunda. Yati tak merasa keberatan mengerjakan pekerjaan yang seharusnya Lira kerjakan, karena memang ia sudah terbiasa mengerjakannya sebelum adanya Lira. Selain itu juga, ia merasa kasihan melihat Lira yang masih sangat muda tetapi sudah harus memikul beban berat dalam hidupnya.


🌸🌸🌸🌸


Tepat pukul empat sore, Lira telah selesai bekerja dan bergegas pulang. Namun, sebelum itu Lira mampir ke apotek untuk membeli tespek menggunakan uang dari upahnya bekerja. Walaupun saat di warteg ia lebih banyak istirahat daripada bekerja, tetapi Yati berbaik hati tetap memberikan upah hariannya secara utuh serta memberinya nasi dan lauk untuk makan malamnya nanti.


Lira sengaja membeli tespek dengan harga yang paling murah, agar sisa uangnya bisa ia belikan keperluannya yang lain. Toh, meskipun murah, hasilnya akan tetap sama.


Sepulangnya dari membeli tespek, Lira mampir ke warung untuk membeli coklat. Entah mengapa, setelah melihat bocah laki-laki yang sedang memakan coklat dengan sangat lahap sambil duduk manis di bangku yang berada di dalam apotek ketika sedang menemani ibunya membeli obat, Lira menjadi ingin ikut memakan coklat itu.


Coklat yang Lira beli memang bukanlah coklat mahal seperti yang dimakan oleh bocah kecil yang berada di apotek tadi, namun itu sudah cukup bagi Lira. Dengan langkah gontai, Lira mulai menyusuri jalanan sambil menenteng kantung plastik yang berisi nasi bungkus dan beberapa bungkus coklat yang ia beli di warung.


Saat tiba di rumah, Lira tak melihat Reza yang biasa menghabiskan waktunya di ruang tengah sambil membaca koran yang tak sempat dibacanya di pagi hari. Lira langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri, kemudian berwudhu untuk melaksanakan sholat ashar nya yang tak sempat ia kerjakan di warteg, karena sibuk melayani pelanggan yang masih terus berdatangan hanya untuk sekedar nongkrong bersama teman-teman mereka, sambil meminum kopi atau teh panas.


Nasi bungkus dan beberapa coklat yang tadi ia bawa, diletakan di atas meja di kamarnya. Lira mulai membersihkan rumah, meskipun keadaan rumah masih terlihat bersih seperti saat ia meninggalkannya tadi pagi, namun Lira harus tetap membersihkannya kembali, karena ia tak ingin mendengar teriakan marah Reza padanya.


Usai membersihkan rumah, Lira kembali ke kamarnya untuk beristirahat sambil menunggu waktu sholat maghrib tiba. Lira mengambil tespek yang tadi ia beli, lalu membaca cara pemakaiannya dengan sangat teliti. Ini pengalaman pertama baginya menggunakan tespek, jadi ia harus lebih teliti agar hasilnya tetap akurat.


Sebelumnya, ketika Lira membeli tespek, petugas apotek telah menyarankan padanya untuk membeli tespek dengan harga yang lebih mahal dengan alasan, agar hasilnya lebih akurat dibandingkan tespek yang harganya lebih murah. Namun, Lira menolaknya dengan halus karena ia tak memiliki cukup uang untuk membelinya. Meskipun menggunakan tespek yang dibeli dengan harga murah, Lira tetal berharap hasilnya tetap akurat.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung...............

__ADS_1


__ADS_2