Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 63


__ADS_3

Terima kasih kepada para readers yang sudah setia mengikuti alur cerita ini.


Selamat membaca.....🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸


Satu tahun kemudian......


Satu tahun sudah Reza berada di Jerman, menemani ayah dan ibunya. Selama satu tahun itu pula, Martin terus mengontrol kesehatannya karena terhitung sudah beberapa kali dalam jangka waktu yang berdekatan, jantungnya kembali sakit disebabkan stres. Martin selalu memikirkan kondisi menantu serta cucunya, hingga bedampak buruk pada kondisi kesehatannya.


Martin juga masih bersikap dingin pada Reza. Sementara, Reza telah berulang kali meminta maaf, bahkan sampai bersimpuh di hadapan ayahnya. Namun, tetap saja pria paruh baya itu tak peduli. Meski pun begitu, Reza tetap menaruh rasa hormat pada ayahnya. Ia tak mempermasalahkan sikap dingin ayahnya padanya, karena memang Reza sadar jika semua bermula dari kesalahannya yang begitu fatal dan sulit untuk dimaafkan.


Hari ini Martin telah dizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Namun, dokter tetap mengingatkan agar ia tetap menjaga pola hidupnya dan harus terhindar dari stres. Reza dan Irma selalu setia mendampingi Martin dalam menjalani perawatan.


Untuk mengurangi stres ayahnya, Reza bahkan terus berusaha meyakinkan ayahnya, bahwa sepulangnya mereka nanti, ia akan segera menjemput anak dan istrinya. Dengan begitu, Martin akan bisa bertemu dan bermain bersama cucunya. Tentu Martin tak bisa percaya begitu saja, sebelum Reza benar-benar membuktikan ucapannya dengan membawa Lira serta anaknya langsung ke hadapannya.


Reza, Martin, dan Irma telah tiba di kediaman milik mereka yang berada di pusat Kota Berlin. Rumah dengan gaya khas Eropa, berdiri kokoh di tengah kota. Tak terlalu mewah, namun tetap nyaman untuk ditinggali. Martin sengaja membangun rumah di pusat Kota Berlin agar lebih dekat dengan cabang perusahannya yang berada di kota itu. Selain itu juga, agar keluargnya merasa nyaman jika berlibur ke Jerman.


"Papa harus banyak istirahat. Ingat pesan dokter, papa gak boleh stres. Urusan perusahaan, udah Reza urus." Ucap Reza saat mereka memasuki kamar utama tempat di mana Martin dan Irma tidur.


Selama Martin menjalani perawatan di rumah sakit, Reza lah yang menggantikan posisinya dalam mengurus cabang perusahaannya yang ada di Kota Berlin. Setiap hari Reza harus membagi waktunya dengan mengurus perusahaan dan juga menemani ayah dan ibunya di rumah sakit.


"Kamu gak usah sok peduli sama papa. Apa kamu lupa, papa kayak gini itu karena siapa? Dan kenapa baru sekarang, pas papa udah jatuh sakit baru kamu mau gantiin papa ngurusin perusahaan?" Balas Martin sinis.

__ADS_1


"Iya pa, Reza ngaku salah. Reza minta maaf udah bikin papa kecewa." Reza menggenggam tangan ayahnya, namun dengan cepat tangannya ditepis oleh ayahnya.


"Kalo kamu sungguh-sungguh mau minta maaf, bawa menantu dan cucu papa sekarang. Bisa?" Tantang Martin.


"Kan Reza udah bilang, pa. Pulang dari sini, Reza akan jemput Lira dan anak Reza." Jawab Reza tetap tenang sambil menahan kesal.


"Cih, kemarin-kemarin kamu bahkan gak peduli sama istri kamu. Pas ditinggal, baru menyesal." Cibir Martin.


"Namanya juga khilaf, pa."


Sedangkan Irma hanya menggelengkan kepala tanpa mau ikut campur urusan di antara anak dan suaminya. Irma sudah hafal sifat suaminya jika sudah marah dan kecewa, maka ia akan diam dan tak mau diganggu.


🌸🌸🌸🌸


Saat Reza sedang memejamkan matanya, ia teringat pada anak dan istrinya. Reza meraih ponsel dari dalam tas kerjanya lalu membuka foto anak dan istrinya yang dikirimkan langsung oleh anak buahnya. Foto itu sengaja Reza sembunyikan untuk sementara dari ayahnya. Ia tak ingin ayahnya kembali sakit karena melihat foto Lira dan anaknya. Reza hanya memperlihatkan foto anak dan istrinya itu pada Irma, ibunya. Tentu Irma sangat bahagia melihat wajah cucunya yang begitu cantik dan menggemaskan.


Ya! Selama satu tahun berada di Jerman, Reza tak melupakan anak dan istrinya. Setiap hari, ia akan mendapat kiriman foto anak dan istrinya. Mulai dari anaknya ketika masih bayi, hingga sekarang anaknya berumur satu tahun. Reza tak ingin melewatkan momen tumbuh kembang anaknya.


Inas, balita berumur satu tahun itu kini telah tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan. Meski tubuhnya tak terlalu gemuk, namun ia tetap terlihat sehat seperti anak-anak seusianya. Hanya saja, pakaian yang dikenakan anaknya terlihat tak layak menurutnya. Hati Reza menjadi sakit melihat hal itu.


Begitu pun dengan Lira. Reza juga selalu memantau kegiatan istri kecilnya itu. Terkadang Reza merasa tak tega ketika melihat foto Lira dengan tubuh yang semakin kecil dari yang terakhir kali ia lihat sebelum Lira pergi.


Reza mengusap dan menyium foto anak dan istrinya di layar ponselnya sambil tersenyum. Rasa rindunya sudah sangat besar dan menggunung. Ia sudah tak sabar untuk segera kembali ke Indonesia agar bisa secepatnya menjemput Lira dan anaknya.

__ADS_1


"Hay, tuan putrinya papa. Apa kabar sayang? Tahu gak, papa kangen banget sama putri papa yang yang cantik. Kangen sama mama juga. Papa udah gak sabar pengen cepat-cepat jemput adek dan mama. Sabar ya dek, tunggu kakek sembuh total baru papa pulang. Gak lama kok, kakek tinggal sekali lagi kontrol habis itu udah deh. Doain kakek cepet sembuh ya, dek. Salam sayang dari papa untuk adek dan mama di sana, ya." Gumam Reza sambil terus memandangi foto anak dan istrinya.


🌸🌸🌸🌸


Satu Minggu kemudian, Martin kembali melalukan chek up nya yang terakhir kalinya di rumah sakit. Dokter Spesial Jantung yang menanganinya selama satu tahun ini, sudah mengizinkannya untuk pulang ke Indonesia karena kesehatannya sudah jauh lebih baik.


Martin tersenyum bahagia mendengar penjelasan dokter. Begitu juga dengan Irma dan Reza, mereka ikut bahagia mendengar berita baik itu. Namun, lagi-lagi dokter kembali mengingatkan padanya untuk tetap menjaga kesehatan.


Usai kembali dari rumah sakit, Reza langsung mengurus kepulangan mereka ke tanah air. Reza segera mengubungi sekretaris ayahnya agar menyiapkan pesawat pribadi untuk mengantarkan mereka pulang ke Indonesia.


Selama berada di dalam pesawat, Reza terus merasa gelisah. Pikirannya terus melayang jauh, memikirkan anak dan istrinya. Irma melihat Reza sedang gelisah, langsung memberikan semangat agar Reza tetap tenang.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......😊


Jangan lupa dukungannya ya


LIKE,


KOMEN,


VOTE, VOTE, VOTE seikhlasnya.

__ADS_1


terima kasih...😊😊😊😊


__ADS_2