
Selamat membaca.........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Ya Allah, apakah ini mimpi? Jika benar, tolong biarlah sementara seperti ini. Aku masih ingin menatap wajah lelaki yang sudah menorehkan luka di hatiku, namun sangat aku rindukan.
Lira masih berdiri terpaku di hadapan Reza. Ia merindukan lelaki yang sekarang sudah nyata berdiri di hadapannya. Namun, rasa sakit dan kecewanya begitu besar. Air mata Lira langsung mengalir begitu saja tanpa diminta. Padahal, Lira sudah berusaha keras menahan agar air matanya tak tumpah, karena ia tak ingin terlihat rapuh.
Sedangkan Indah memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia sengaja memberikan ruang dan kesempatan untuk Reza dan Lira menyelesaikan masalah rumah tangga yang tengah mereka hadapi. Indah percaya, Lira pasti bisa menyelesaikan masalahnya dengan bijak. Indah pun tak melarang jika seandainya Lira akan memilih kembali pada Reza.
Reza berjalan perlahan, mencoba untuk mendekati dan memeluk Lira. Namun, dengan cepat Lira mundur untuk menghindari tangan Reza yang ingin memeluknya. Bukan maksud untuk menolak, hanya saja Lira masih merasa trauma dengan apa yang pernah Reza ucapkan dulu padanya. Reza pernah mengatakan pada Lira untuk tidak mendekatinya, dengan alasan takut terkena virus penyakit yang ditularkan oleh Lira, si wanita miskin. Lira tak pernah lupa akan hal itu.
"Ja-jangan mendekat tuan. Sa-saya kotor dan bau, nanti tuan bisa sakit." Tolak Lira
Sumpah demi apa, Reza merasa sangat sakit pada hatinya. Kalimat itu yang pernah ia ucapkan pada istrinya, kini seolah berbalik padanya. Reza kembali teringat pada sikapnya dulu yang pernah mengatai Lira sebagai sumber penyakit hanya karena Lira miskin dan berasal dari kampung.
"Tolong jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf, Ra." Suara Reza terdengar serak.
"Saya sudah memaafkan tuan." Jawab Lira tanpa berani menatap wajah Reza yang sudah memerah, bukan karena menahan marah, melainkan saat ini Reza sedang berusaha menahan tangisnya.
Wajah Reza langsung terlihat bahagia karena Lira sudah memaafkannya. Itu berarti, Lira tidak menaruh dendam padanya. Pikir Reza.
"Kalo gitu, kamu mau kan ikut aku pulang? Mama sama papa juga udah nunggu kamu di rumah." Tanya Reza dengan sengaja menyeret nama orang tuanya. Reza tahu jika Lira sangat menghormati mertuanya yang sudah sangat baik dan sayang padanya.
"Maaf tuan, saya tidak bisa. Saya memang sudah memaafkan semua kesalahan tuan, tapi rasa sakit dan kecewa saya sangat besar. Dan tolong jangan buat saya menjadi istri yang durhaka karena sudah menolak ajakan tuan untuk pulang, karena saya butuh waktu untuk bisa memahami semua ini. Saya takut salah melangkah dan akan jatuh kembali ke jurang kekecewaan yang sama seperti dulu."
"Maaf, Ra. Aku sudah buat kamu menderita. Tapi aku janji, aku akan buat kamu dan anak kita bahagia." Mohon Reza dengan wajah sendu.
"Tolong jangan paksa saya, tuan. Saya benar-benar butuh waktu. Biarkan saya seperti ini, sampai tiba saatnya di mana hati saya sudah menemukan jawabannya."
Reza diam, tak tahu harus berkata apalagi. Memang benar apa yang Lira katakan, ia masih membutuhkan waktu. Namun, Reza tak mau menyerah begitu saja. Reza sudah jauh melangkah, jadi ia harus meneruskannya sampai ke tujuan. Ia tak ingin berhenti di jalan dan membuatnya kembali menyesal di kemudian hari.
__ADS_1
"Tapi aku boleh kan, jenguk anak kita kapan pun aku mau?" Tanya Reza penuh harap.
"Boleh, tuan. Saya tidak akan melarang tuan untuk bertemu dia." Lira masih merasa canggung untuk menyebutkan kata anak kita.
"Terima kasih, Ra. Terima kasih karena sudah bersedia memaafkan semua kesalahanku." Ucap Reza bahagia. Reza sangat bersyukur, setidaknya Lira tidak melarangnya untuk bertemu dengan anaknya.
Lira hanya membalasnya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Jujur, Lira masih merasa sakit hati, jika mengingat bagaimana dahulu Reza menolak dan menghina anaknya yang masih berada dalam kandungannya. Namun, Lira tak ingin terus menerus hidup dalam kekecewaan dan tenggelam dalam rasa sakit hati yang nantinya hanya akan menimbulkan rasa dendam dan benci di hatinya.
tok....tok....tok....
"Assalamu'alaykum." Sapa salah satu tetangga Lira.
Spontan saja, Lira dan Reza menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Wa'alaykumussalam". Jawab Lira sambil membuka pintu. "Eh ibu, ayo silakan masuk?" Ucap Lira pada tetangganya itu.
"Gak usah, Ibu gak lama kok. Ibu cuma bawain ini untuk anak kamu." Jawabnya sambil menyodorkan kantung plastik hitam pada Lira.
"Itu baju-baju bekas cucu saya yang udah gak kepake lagi. Tapi masih bagus kok, Ra." Balas ibu itu.
"Aduh, terima kasih banyak ya bu. Pasti Adek Inas seneng banget."
"Iya sama-sama. Ya udah, ibu pamit dulu ya. Assalamu'alaykum."
"Iya bu, wa'alaykumussalam."
Lira langsung menutup pintu rumahnya lalu membuka bungkusan kantung plastik itu. Dilihatnya ada beberapa potong baju bekas yang memang terlihat masih layak pakai. Bahkan, ada yang terlihat masih seperti baru.
Reza melihat hal itu tentu menjadi terluka. Selama ini ternyata anaknya memakai pakaian bekas yang diberikan oleh tetangga Lira. Meski baju itu terlihat masih layak, namun tetap saja merasa terhina saat mengetahui fakta tentang kehidupan anaknya.
"Selama ini Inas pake baju bekas, Ra?" Tanya Reza saat Lira akan menuju dapur.
__ADS_1
"Iya, tuan." Jawab Lira santai sambil meletakan baju pemberian tetangganya tadi ke dalam ember pakaina kotor untuk dicuci nanti.
Reza diam, tak mampu menjawab. Toh, memang semua terjadi karena kesalahannya yang sudah menelantarkan anak dan istrinya.
Reza langsung beralih ke anaknya yang sejak tadi hanya sibuk bermain dengan mainannya yang terbuat dari botol bekas. Inas terus memukul-mukul botol bekas itu ke lantai hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Mendengar bunyi itu, Inas justru semakin tertawa terbahak-bahak, hingga air liurnya juga ikut menetes ke lantai. Terkadang air liurnya jatuh menetes ke botol mainannya.
Ingin rasanya Reza menangis melihat anaknya yang begitu menderita, hidup dalam keterbatasan. Bahkan Inas tak punya mainan yang layak seperti anak perempuan seusianya.
Reza menghampiri Inas, mencoba membawa tubuh mungil balita itu masuk dalam dekapannya. Namun, belum sempat Reza menggendongnya, Inas langsung menjerit histeris dan menangis ketakutan hingga wajahnya memerah.
"Dek, ini papa sayang. Papa kangen sama dedek." Ucap Reza masih berusaha mendekati anaknya yang terus menghindarinya sambil menjerit ketakutan saat melihatnya.
Lira langsung menggendong tubuh mungil Inas dan memeluknya dengan sayang. Lira mencoba menenangkan Inas yang masih terus menangis ketakutan. Bahkan Inas tak mau melepaskan pelukannya dari Lira.
"Sstttt, cup..cup, sayangnya bunda, tenang ya. Jangan takut, ada bunda di sini." Ucap Lira sambil mengusap pelan punggung Inas yang masih menangis sesegukkan.
Reza pun ikut menangis saat melihat anaknya menangis ketakutan karena dirinya. Rasanya sangat sakit saat anaknya menolak berdekatan dengannya.
"Ya Allah, apakah ini balasan untukku karena pernah tak menginginkannya hadir di dunia? Tapi kenapa rasanya bisa sampe sesakit ini? Apakah seperti ini rasa sakit yang dulu Lira rasakan?" Batin Reza.
"Maaf tuan, bukan maksud saya untuk mengusir tuan, tapi tolong tuan pergi dari sini."
"Tapi aku masih ingin dekat dengan anak kita, Ra." Ucap Reza dengan wajah sendu, tak jauh dari anaknya.
"Iya tuan, saya paham. Tuan masih bisa ketemu sama Inas, tapi bukan sekarang."
"Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Tapi besok aku akan datang lagi ke sini."
Reza pergi dari rumah Lira dengan membawa kekecewaan yang sangat besar karena tak bisa berdekatan dan bermain dengan anaknya yang selama ini ia rindukan.
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung.....π