Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 95


__ADS_3

Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Saat siang hari, Martin dan Irma datang ke rumah sakit untuk menjenguk menantu kesayangan mereka. Para dokter, perawat dan seluruh staf rumah sakit langsung dibuat heboh saat pemilik rumah sakit itu tiba-tiba datang berkunjung. Tak banyak yang tahu jika menantu mereka sedang dirawat di rumah sakit, karena memang Reza yang meminta agar kabar sakitnya Lira tak menyebar luas.


Semua pekerja yang ada di rumah sakit itu langsung menyapa Martin dan Irma dengan sopan dan dibalas senyum ramah pula oleh keduanya.


Setibanya di ruangan Lira, Irma menghambur memeluk Lira.


"Gimana perasaan kamu sekarang, nak?" Tanya Irma usai melepas pelukannya.


"Alhamdulillah, Lira udah baikan ma."Jawab Lira.


"Alhamdulillah, mama seneng dengernya."


"Hmmm,..ma, pa, si dedek mana? Kenapa gak ikut ke sini?"


"Dedek lagi di rumah sama Bi Mirna. Dia masih kecil, jadi gak baik kalo dia sampe ikut ke rumah sakit." Timpal Martin.


Lira langsung langsung cemberut. Ia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah sore nanti. Kondisi Lira memang sudah kembali normal, hanya tubuhnya masih sedikit lemas. Jadi, Lira meminta untuk dirawat saja di rumah.


"Sabar sayang, nanti juga kita pulang kok." Ucap Reza menenangkan.


"Udah, gak usah cemberut gitu. Itu mama udah bawain baju ganti buat kalian." Tunjuk Irma pada tas hitam yang berada di atas sofa yang berisi beberapa lembar pakaian ganti dan peralatan mandi.


"Makasih ya, ma. Lira jadi gak enak udah ngerepotin mama sama papa."


"Gak papa. Mama gak merasa direpotkan kok. kamu juga kan, anak mama. Jadi, gak usah merasa gak enak gitu." Timpal Irma lembut.


"Kamu udah ngabarin ibu kamu belum, Ra." Lanjut Irma.


"Belum, ma. Lira sengaja gak ngabarin ibu. Takut nanti ibu jadi kepikiran."


"Bener juga, sih."


Cukup lama Martin dan Irma datang menjenguk Lira. Satu jam kemudian mereka berpamitan pulang. Awalnya mereka masih ingin berlama-lama, tapi karena mengingat Inas yang mereka titipkan ke Mirna, nanti akan menangis jika tak melihat siapa pun di rumah.


"Ra, mama sama papa pulang dulu ya. Takut nanti si dedek nangis." Pamit Irma.


"Iya, ma. Titip dedek ya, ma." Balas Lira.


"Iya, sayang. Za, jagain istri kamu."


"Iya, ma."


"Syafakillah (Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu) Laa ba’-sa thahuurun insyaaallah (Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, insyaallah)" Ucap Martin sambil mengusap kepala Lira dengan lembut.


"Aamiin. Makasih, pa." Balas Lira dengan senyum lembut di wajahnya.


Lira merasa sangat beruntung bisa memiliki mertua sebaik Martin. Lewat Martin lah, Lira bisa merasakan kasih sayang yang tulus seorang ayah yang selama ini Lira rindukan sejak ayahnya meninggal dunia.


Sepeninggal Martin dan Irma, Reza langsung duduk di tepi ranjang. Reza melihat Lira sedang mengibas-kibaskan bajunya karena merasa gerah. Padahal AC di ruangannya cukup dingin.

__ADS_1


"Kenapa, sayang?"


"Mas, Lira gerah. Pengen mandi." Ucap Lira manja.


"Gak boleh mandi dulu, sayang. Dilap aja, ya."


"Ya udah deh."


"Sini mas bantu, sayang pegang botol infusnya."


Reza menggendong tubuh mungil Lira dan membawanya ke kamar mandi. Dengan telaten, Reza mulai melap beberapa bagian tubuh Lira menggunakan waslap dan air hangat. Setelah itu, Reza kembali membawa Lira ke ranjang. Reza juga membantu Lira menyisir rambutnya. Tiba-tiba air mata Reza mengalir dari sudut matanya. Rambut inilah yang pernah ia Jambak tanpa ampun dan belas kasihan, hingga Lira menjerit kesakitan. Dengan cepat Reza menghapus air matanya agar tak terlihat oleh Lira yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya sambil memerhatikan foto-foto putrinya.


Saat sedang menyisir rambut Lira, mata langsung melihat satu bekas luka yang cukup besar dan dalam berada di bagian kanan kepala Lira.


"Sayang, mas mau tanya boleh?"


"Boleh, mas mau tanya apa?" Lira menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.


"Ini bekas luka apa, sayang?" Tanya Reza hati-hati sambil menyentuh bekas luka di kepala Lira dengan lembut.


"Oh, itu. Dulu waktu masih SMP, Lira pernah bantuin ibu manjat pohon mangga untuk dijual ke pasar. Pas Lira turun dari pohon, gak tahu gimana ceritanya, tiba-tiba ada dahan pohon mangga yang udah mati dan cukup besar jatuh tepat di atas kepala Lira. Jadi kepala Lira langsung berdarah, deh." Jelas Lira santai.


"Terus, kenapa bisa berbekas kayak gini? Emang dulu gak dijahit?"


"Gak, mas. Boro-boro mau dibawa ke rumah sakit buat dijahit, buat makan aja susah." Jawab Lira sambil terkekeh mendengar pertanyaan suaminya.


"Terus, sayang diobatin pake apa?" Tanya Reza dengan rasa penasaran yang cukup besar.


Jawaban polos Lira langsung membungkam mulut Reza. Nyeri, itu yang Reza rasakan. Bagaimana bisa luka sebesar itu hanya diobati dengan menggunakan parutan kunyit saja? Sudah pasti sembuhnya akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara ia dulu ketika kecil, luka gores kecil saja sudah minta diobati ke dokter.


Perbedaan mereka sangat terlihat jauh. Jika di usia muda, Lira harus bisa menanggung beban hidup yang cukup berat serta harus memiliki tulang yang kokoh agar bisa tangguh untuk menjadi tulang punggung keluarga. Berbeda halnya dengan Reza, yang sejak muda sudah dimanjakan dengan tumpukan harta dari orang tuanya.


Hal itulah yang membuat Reza menjadi malu karena ia sering mengeluh dan sangat jarang bersyukur atas apa yang sudah ia miliki.


Dengan cepat, Reza mengakhiri menyisir rambut Lira. Reza segera mengalihkan pertanyaan agar ia tak larut dalam tangis diamnya.


"Sayang, mau makan buah gak?" Tanya Reza lembut.


"Boleh, mas. kebetulan mulut Lira lagi pait." Jawab Lira dengan mata berbinar. Lira merasa kegirangan saat melihat keranjang berisi buah segar yang tadi dibawakan oleh mertuanya.


"Sayang, mau makan buah apa?"


"Lira mau apel, mas."


"Siap ratuku."


Reza mengupas buah apel merah segar dengan telaten lalu memotongnya menjadi kecil-kecil. Reza menyuapi potongan buah apel ke mulut Lira dan langsung disambut girang olehnya.


"Terima kasih, mas." Ucap Lira sambil mengunyah apel itu.


"Sama-sama, sayang. Dihabisin, ya."


Lira mengangguk senang lalu membuka kembali mulutnya untuk menerima suapan berikutnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Kabar sakitnya Lira, telah sampai ke telinga Doni. Sebagai sahabat Reza dan juga orang yang pernah berjasa dalam hidup Lira, tentu kabar itu cukup mengagetkannya. Setelah mendapat kabar itu langsung dari Reza, Doni segera bersiap-siap menuju rumah sakit untuk melihat langsung kondisi Lira. Sebelum pergi, Doni telah lebih dulu menceritakan pada istrinya mengenai kabar Lira yang sedang dirawat di rumah sakit. Hal itu tentu saja membuat Amel terkejut. Meski mereka jarang bertemu, tapi Amel sudah sangat dekat dengan Lira. Bahkan mereka sudah seperti saudara.


"Sayang, mas ke rumah sakit dulu ya." Izin Doni pada istrinya yang sedang menyusui anaknya.


"Iya, mas. Salam buat Lira dan Mas Reza ya. Maaf gak bisa dateng jengukin, soalnya baby masih kecil banget."


"Iya, sayang. Insya Allah, nanti mas sampaikan. Oh iya, nanti pulang dari rumah sakit, sayang mau dibawain apa?"


"Gak usah, mas. Terima kasih." Tolak Amel dengan senyum manis di wajahnya.


"Ya udah kalo gitu, mas pergi dulu ya. Dek, jangan nakal ya sama mama. Papa mau pergi dulu. Assalamu'alaykum." Pamit Doni sambil mengecup kening Amel dan mengecup pipi putrinya yang masih menyusu dengan mata terpejam.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah. Hati-hati, mas."


"Iya, sayang."


Doni langsung menuju rumah sakit milik keluarga Reza dengan kecepatan sedang. Tak lupa Doni membawa buah segar untuk Lira. Setibanya di rumah sakit, Doni langsung menuju ruangan tempat Lira dirawat yang sebelumnya telah dikirimkan oleh Reza.


tok....tok...tok.....


"Assalamu'alaykum." Ucap Doni memberi salam.


Mendengar suara ketukan pintu, Lira segera memakai jilbab instannya dengan cepat. Setelah itu, Reza langsung membuka pintu karena ia sudah tahu pasti sahabatnya yang datang.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab Reza lalu mereka saling berpelukan khas laki-laki pada umumnya. "Silakan masuk, bro." Lanjut Reza mempersilakan Doni untuk masuk ke kamar inap Lira.


Doni masuk mengikuti Reza. Doni menyerahkan keranjang berisi buah segar pada Reza, kemudian ia menghampiri Lira yang sedang bersandar di tempat tidur.


"Gimana kabar kamu, Ra?" Tanya Doni.


"Alhamdulillah, udah baikan mas. Sebentar sore juga udah boleh pulang kok."


"Alhamdulillah. Oh iya, tadi Amel kirim salam buat kamu. Dia minta maaf karena gak bisa datang. Biasalah, baby masih kecil."


"Wa'alaykumussalam. Iya mas, gak papa."


Kemudian Doni dan Reza duduk di sofa untuk melanjutkan obrolan mereka mengenai kemajuan perusahaan mereka masing-masing. Doni juga menanyakan perihal pertemuan Reza yang batal dengan klien yang sudah dijadwalkan hari ini.


"Jadi gimana klien lo yang dari Jepang itu, Za?"


"Gue udah minta sekretaris gue yang tanganin. Katanya sih, dia udah buat jadwal ulang karena klien itu gak mau diwakilin, maunya gue yang temuin dia langsung. Gak mungkin gue ninggalin bini gue sendiri di rumah sakit."


"Iya juga, sih. Terus, mertua lo gimana? Udah tahu belum kalo Lira masuk rumah sakit?"


"Tadinya sih maunya gitu. Gue mau hubungi, tapi bini gue ngelarang. Dia gak mau mertua gue jadi kepikiran." Jawab Reza sambil berbisik agar tak terdengar oleh Lira yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Doni menjawabnya dengan mengangguk sambil bibirnya membulat seperti huruf o.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2