
"Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim).
Selamat membaca..........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Acara pernikahan Reza dan Lira yang digelar secara mewah di hotel milik Martin itu langsung menjadi trending topik nomor satu di seluruh saluran televisi dan menjadi pencarian nomor satu di laman online. Sebagian dari kalangan masyarakat yang mengenal atau mengikuti kehidupan Reza, tentu merasa terkejut mendengar kabar pernikahannya yang selama ini ditutupi. Tapi mereka tetap mendoakan yang terbaik untuk kebahagian pernikahan mereka berdua.
Bahkan ada yang berpendapat bahwa Lira memang pantas untuk bersanding dengan Reza karena selain kecantikan alami yang dimiliki Lira, poin utama yang ada pada diri Lira ialah solehah. Banyak yang merasa kagum melihat penampilan Lira yang sederhana dan tetap bersahaja, meski telah bersuamikan seorang dokter sekaligus pengusaha terkenal seperti Reza.
Pagi ini, keluarga Reza beserta keluarga Doni serta Bela dan suaminya akan menghabiskan waktu bersama untuk menikmati destinasi wisata yang ada di Bandung. Lira sangat bahagia dan antusias karena bisa berlibur bersama keluarga dan sahabat baiknya. Reza juga ikut merasa bahagia saat melihat wajah istrinya selalu menebarkan senyum manisnya. Kabar pernikahan mereka telah menjadi trending topik dan mereka pun sudah mengetahui tentang berita itu, namun Lira dan Reza sama sekali tak merasa terganggu. Mereka justru sangat menikmati liburan bersama keluarga yang sangat jarang terjadi.
Selain mengunjungi destinasi wisata, mereka juga berburu kuliner yang terkenal di Bandung. Lira, Bela, dan Amel yang notabenenya sangat doyan makan, terlihat paling antusias daripada yang lainnya. Para suami hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istri mereka yang lebih mirip remaja daripada wanita yang sudah menikah serta memiliki anak. Terutama Lira, seperti lupa jika saat ini ia sedang mengandung. Beberapa kali Reza mengingatkan Lira ketika sedang berjalan cepat dan Lira hanya bisa menyengir.
Tak hanya para istri yang terlihat kompak dengan keceriaan mereka, tapi para suami juga tak mau kalah. Meski baru kenal sehari, suami Bela sudah bisa beradaptasi dengan Reza dan Doni. Mereka terlihat seperti orang yang sudah saling kenal dan akrab satu sama lain. Hanya saja, suami Bela lebih kalem dibanding Reza dan Doni yang senang berbicara atau mengajak lawan bicaranya agar ikut berbaur bersama mereka.
Saat ini mereka sedang berada di salah satu restoran yang sangat terkenal di Bandung untuk mengisi perut yang sudah berdemo ria, meminta agar segera diisi. Para istri lebih dahulu menyiapkan makanan untuk para suami yang sedang memangku anak mereka. Setelah itu, barulah mereka menyendok makanan ke piring masing-masing.
Mereka semua makan dengan tenang. Hanya anak-anak saja yang terdengar berceloteh ria sesama mereka. Inas yang duduk dipangkuan ayahnya menoleh ke arah Farel, anak Bela yang sedang mengajaknya berbicara. Entah apa yang sedang dibicarakan dari kedua bocah itu hingga mereka tertawa cekikikan dengan menggemaskan.
"Kakak, kalo makan gak boleh berisik ya sayang." Tegur Reza lembut pada putrinya.
"Iya. Maaf, papa." Sahut Inas. Bocah menggemaskan itu langsung terdiam dan kembali fokus pada makannya.
"Iya, sayang. Papa maafkan."
Lira, Bela, dan Amel saling melirik lalu tersenyum melihat didikan Reza yang begitu lembut pada putrinya. Sebagai istri, Lira tentu merasa bangga pada sikap suaminya yang begitu mengayomi keluarga kecilnya. Tak pernah sekalipun, Lira mendengar Reza menegur putrinya dengan suara tinggi. Jika Inas berbuat salah, Reza selalu mengingatkannya dengan lembut. Dengan begitu, Inas akan lebih mudah menerima dan mengakui kesalahannya lalu segera meminta maaf, tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Beruntung Inas termasuk anak yang pandai dan penurut, jadi Lira dan Reza tak terlalu susah mendidiknya.
Reza selalu mengajarkan hal-hal baik pada putrinya. Sebisa mungkin Reza mengikuti cara Rasulullah dalam mendidik putrinya Fatimah hingga tumbuh menjadi wanita solehah. Sebagai seorang ayah, tentu ia ingin putrinya tumbuh menjadi wanita solehah yang menjadi penyejuk hati orang tua dan mampu melindungi dirinya dari pergaulan yang tak baik. Reza juga ingin selalu menjadi cinta pertama putrinya dan selalu bisa diandalkan dalam segala hal.
"Siapa pun yang memiliki tiga anak perempuan dan sabar terhadap mereka, dan memberi mereka makan, memberi mereka minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi pelindungnya di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah)
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Keluarga Reza, Doni dan Bela sudah kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi, mereka akan menuju ke kampung halaman Lira dan Bela untuk mengantarkan ibu dan kedua adik Lira pulang ke kampung. Lira kembali antusias saat Reza menawarkan diri untuk mengantar mertuanya pulang karena dengan begitu, Lira juga bisa ikut pulang kampung. Lira sudah sangat merindukan kampung halamannya. Rencananya setibanya di kampung nanti, Lira dan Bela akan mengunjungi tempat yang menyimpan kenangan indah tentang persahabatan mereka berdua.
"Capek ya, sayang."
Tanpa menunggu aba-aba, Reza langsung mengangkat betis Lira dan menaruh di atas pahanya lalu memijatnya dengan pelan.
"Capek banget mas, tapi Lira bahagia banget. Udah lama Lira pengen kayak gini. Bisa jalan bareng sama Bela dan keluarga kita. Terima kasih ya, mas. Udah mau wujudin impian Lira."
"Sama-sama, sayang. Kalo sayang pengen sesuatu, langsung bilang ke mas ya. Insya Allah akan mas kabulin semua."
"Alhamdulillah, semua yang Lira pengen udah mas kabulin kok. Lira udah gak pengen apa-apa lagi."
Reza tersenyum mendengar jawaban istrinya polosnya itu. Padahal Reza sudah tahu, masih banyak impian sederhana Lira yang belum tercapai.
"Perut sayang gak kenapa-napa kan? Tadi sayang jalannya asik banget sampe lupa kalo lagi hamil. Lain kali gak boleh gitu ya, sayang."
"Iya mas, maaf."
"Sekarang kita tidur, ya. Kan besok pagi, kita mau mau nganterin ibu ke kampung."
"Iya, mas."
Lira langsung merebahkan tubuh lelahnya di sebelah putrinya yang sudah lebih dahulu tertidur karena kelelahan di kasur empuk. Tanpa menunggu lama, Lira langsung tertidur. Reza menyelimuti tubuh mungil kedua belahan jiwanya lalu mengecup kening anak dan istrinya secara bergantian.
"Selamat tidur kesayangan papa." Ucapnya sambil mengusap lembut pipi putrinya.
"Selamat tidur, bidadariku. I love you." Reza mengecup perut buncit Lira lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
🌸🌸🌸🌸
Pagi menjelang. Usai sarapan pagi bersama di restauran hotel, keluarga Reza dan Bela telah bersiap-siap untuk berangkat mengantar ibu mertuanya pulang kampung. Sementara Doni beserta keluarganya telah lebih dahulu kembali ke Jakarta. Amel yang tak memiliki kampung halaman, sangat ingin melihat kampung Lira. Sayangnya, Doni sedang ada pekerjaan penting yang tak bisa ditinggakan. Tapi Doni berjanji, suatu saat ia akan mengajak istri dan anaknya untuk mengujungi kampung halaman Lira.
Keluarga Reza berangkat menggunakan dua mobil sekaligus karena mobil Reza tak cukup untuk memuat mereka sekaligus. Jadi, adik-adik Lira harus ikut bersama Bela dan suaminya. Sepanjang jalan, Inas terus mengoceh karena kegirangan. Bocah menggemaskan itu selalu saja antusias jika diajak jalan-jalan. Alhasil, Inas akan mengoceh sepanjang jalan tanpa henti. Inas akan berhenti mengoceh bila ia sudah tertidur karena kelelahan. Jika matanya masih terbuka lebar, Inas akan terus bertanya tentang sesuatu yang baru dilihatnya dan sebagai orang tua, Lira akan menjawabnya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh anak seusia Inas.
__ADS_1
"Pantesan anteng banget, udah tidur ternyata." Ucap Irma sambil terkekeh geli melihat wajah lucu Inas yang tertidur di pangkuan ayahnya.
"Iya, ma. Kayak dia kecapean, dari tadi ngoceh mulu." Reza mengusap lembut kepala putrinya.
Mereka semua langsung tertawa bersama. Sementara Inas sedikit pun tak merasa terusik dengan suara tawa yang cukup kencang itu. Inas masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Mobil Reza telah memasuki kawasan perkampungan yang terlihat asri. Jono memarkirkan mobil di tempat biasa yaitu tepat di seberang masjid. Disusul mobil yang memuat kedua adik Lira. Sedangkan Bela telah tiba di rumahnya dan langsung istirahat.
Saat turun dari mobil, para tetangga langsung menyapa mereka dengan ramah. Tanpa menunggu lama, mereka langsung memasuki rumah, Lira langsung menuju kamarnya. Pinggangnya terasa kaku karena terlalu lama duduk. Lira ingin segera baring di kasur empuk miliknya. Reza dengan menggandeng tangan Lira sambil menggendong Inas yang masih tertidur.
"Ah, capek banget. Pengen langsung tidur."
Lira langsung merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Rasanya begitu nyaman hingga Lira enggan untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
"Sayang, bersih-bersih dulu, biar nyaman pas tidur."
"Tapi Lira udah ngantuk banget, mas."
"Nanti mas bantuin. Jadi, sayang nurut ya."
"Iya deh."
Reza mulai membantu Lira membuka jilbabnya lalu mengganti pakaiannya dengan baju santai. Dengan bantuan Reza juga, yang merangkul bahunya, Lira menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu, baru Lira diperbolehkan tidur.
"Nanti mas bangunin kalo udah mau dhuhur ya, sayang."
Lira hanya mengangguk lemah karena matanya sudah terasa berat.
Reza tersenyum lalu mengecup kening Lira. Setelah itu, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.....😊
__ADS_1