
"Sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat" (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya).
Selamat membaca.......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
"Bu Nur, Pak Adi. Akhirnya kalian datang juga." Ucap Reza senang melihat yang ditunggunya akhirnya datang ke rumahnya.
"Iya Den Reza. Maaf, kami baru bisa datang sekarang. Kami harus mengurus surat pindah sekolah anak-anak kami dulu ke sini." Jawab Nur.
Ya, setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya Nur dan suaminya datang ke Jakarta. Semua anak-anak Nur juga ikut pindah ke Jakarta atas permintaan Reza. Mereka akan dimasukan ke sekolah terbaik yang ada di Jakarta dan keluarga Reza lah yang akan membiayai sekolah mereka hingga lulus SMA.
"Ayo, silakan duduk. Kita makan sama-sama." Ajak Irma yang juga merasa senang akan kedatang keluarga Nur.
Kedatangan Nur beserta keluarganya membuat Lira cukup terkejut. Pasalnya, ia sudah lama menunggu kedatangan mereka. Setiap kali mereka akan keluar rumah, Reza dan Lira selalu berpesan pada asistennya agar mengabarinya jika Nur dan keluarganya telah tiba. Reza bahkan memberi foto keluarga Nur agar para asisten rumahnya dapat mengenali mereka.
Lira merasa lega saat melihat kondisi Adi yang sudah terlihat membaik dan jalannya juga sudah kembali normal.
"Lira seneng, akhirnya Pak Adi bisa jalan dengan normal lagi." Ucap Lira tulus.
"Iya, non. Semua berkat kemurahan hati keluarga Den Reza yang sudah bersedia membantu kami." Balas Adi dengan wajah terharu.
"Udah-udah, nanti lagi ngobrolnya. Sekarang kita makan dulu. Kasian anak-anak, pasti udah laper banget." Ajak Irma kembali mengingatkan.
"Iya ma, maaf." Timpal Lira.
Saat semua sedang menikmati makan siang. Mereka kembali dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang langsung dipersilakan masuk oleh Mirna yang sudah menunggunya di depan pintu masuk.
"Assalamu'alaikum."
Suara lembut itu berhasil mengalihkan Lira dari kegiatannya melayani suaminya di meja makan. Lira langsung terlihat bahagia saat melihat wajah yang selama ini ia rindukan sudah berdiri di depannya. Lira bangkit dari duduknya sambil berjalan cepat menuju ke arah orang yang sudah berdiri sambil tersenyum lembut ke arahnya. Mata Reza melotot melihat Lira berjalan cepat tanpa menghiraukan kandungannya. Reza ingin protes tapi ia merasa ini bukan waktu yang tepat karena melihat kebahagiaan istri dan ibu mertuanya.
"Ibu."
Lira memeluk erat tubuh ibunya dan menghirup dalam aroma khas yang menenangkan jiwanya. Indah membalas pelukan putri kesayangannya yang sangat ia rindukan. Air mata mengalir deras di wajah Lira hingga tubuhnya ikut bergetar. Lira tak menyangka akan mendapat kejutan yang mengharukan seperti ini.
Semua yang ada di meja makan pun ikut merasa terharu melihat pertemuan ibu dan anak itu. Meski baru beberapa bulan berpisah, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun.
Indah melepas pelukannya lalu menghapus air mata Lira dengan lembut. Lira adalah permata hati dan jiwa raganya. Satu-satunya harta dan kenangan berharga yang ditinggalkan oleh suaminya. Hati Indah ikut hancur ketika melihat putrinya terluka. Namun, kini Indah merasa lega saat melihat putri kecilnya bahagia. Reza sungguh menepati janjinya.
"Neng kangen banget sama ibu." Ucapnya manja di sela-sela tangisnya lalu kembali memeluk ibunya.
"Ibu juga kangen sama putri kecil ibu. Neng apa kabar, sayang? Ibu denger, neng lagi hamil ya?"
"Alhamdulillah, neng baik bu. Iya bu, neng lagi hamil dan neng pengen makan masakan ibu."
"Alhamdulillah, ibu seneng banget dengernya." Balas Indah penuh syukur. "Ibu udah bawain makanan kesukaan, neng. Ada ikan asin yang udah digoreng sama sambal terasi. Tapi kangkungnya sengaja belum ibu buatkan, biar nengnya makannya pas lagi anget. Jadi sekarang ibu mau buatin sayur kangkungnya dulu ya, sayang."
Lira mengangguk dengan mata berbinar saat mendengar masakan kesukaanya. Air liurnya ingin menetes karena merasa sudah tak sabar ingin segera menyantap semuanya sekarang juga.
__ADS_1
"Iya, bu. Neng bantu ya."
"Gak usah. Neng duduk aja dulu, gak lama kok."
Indah meminta izin pada sang pemilik rumah untuk membuatkan Lira kangkung tumis, dan dibalas anggukan oleh Irma. Irma sempat protes karena Indah masih merasa sungkan di rumahnya. Indah menuju dapur menyiapkan bumbu sederhana untuk menumis kangkung.
Melihat ibunya sibuk menyiapkan makanan kesukaanya, membuat Lira merasa sangat bahagia. Lira kembali duduk di sebelah Reza yang tersenyum lembut padanya. Tanpa rasa malu, Lira langsung memeluk Reza di depan semua orang. Air matanya kembali tumpah dipelukan suaminya.
"Terima kasih banyak, mas untuk kejutannya." Ucapnya tulus.
"Sama-sama, sayang."
Reza tersenyum sambil mengelus kepala Lira yang terbungkus jilbab instan berukuran cukup lebar. Reza merasa bahagia karena telah berhasil mewujudkan keinginan istri tercintanya.
πΈπΈπΈπΈ
Lima belas menit kemudian, makanan kesukaan Lira telah tertata rapi di depannya. Tanpa menunggu lama, Lira langsung menyantap semuanya dengan lahap hingga keringat mengalir di dahinya. Sementara Reza, mertua Lira, serta Nur beserta keluarganya tadi sempat menghentikan makan mereka untuk menunggu Lira agar bisa makan bersama, kini kembali menyantap makanan mereka yang sempat tertunda.
"Pelan-pelan makannya, sayang. Gak bakal ada yang rebuk, kok." Ucap Reza terkekeh geli sambil mengusap keringat Lira menggunakan tisu.
Reza merasa bersyukur karena akhirnya Lira bisa makan dengan lahap, meski hanya dengan menu sederhana dan ia harus mendatangkan dulu mertuanya dari kampung.
"Masakan ibu enak banget, mas." Balas Lira dengan mulut yang dipenuhi makanan. "Mas mau?" Lanjut Lira lalu menawarkan makanannya pada Reza dan dibalas gelengan kepala oleh Reza.
"Sayang aja yang makan. Mas seneng liat sayang makan dengan lahap kayak gini. Tapi sambalnya jangan banyak-banyak ya sayang, kasian baby."
"Iya, mas."
πΈπΈπΈπΈ
Usai makan siang bersama, Reza meminta pada Mirna untuk mengantar keluarga Nur beristirahat di rumah yang berada di belakang dan memang disiapkan khusus untuk asisten rumah yang sudah berkeluarga.
Sedangkan Indah berserta kedua besannya duduk di ruang keluarga sambil memangku Inas yang terlihat mulai mengantuk karena kekenyangan. Reza melihat Lira menggelayut manja di lengan ibunya hanya menggelengkan kepala.
"Gimana kabar jeng Indah dan anak-anak di rumah?" Tanya Irma sambil menepuk pelan lengan Inas yang tertidur dipangkuannya.
"Alhamdulillah, baik mbak. Mereka lagi sibuk belajar karena bentar lagi mau ulangan."
"Usaha toko kelontong ibu, gimana? Lancar?Penyuplai barang juga masih sering datang kan, bu?"
"Alhamdulillah, lancar Nak Reza. Mereka sering dateng kok, jadi ibu gak perlu repot-repot lagi berbelanja barang-barang yang sudah habis. Terima kasih banyak ya, Nak Reza."
"Ibu gak perlu terima kasih ke Reza, karena udah kewajiban Reza untuk membahagiakan ibu."
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang melepas rindu, mereka menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Lira mengantar ibunya menuju kamar tamu yang biasa ditempati oleh ibunya.
Usai mengangar ibunya, Lira kembali ke ruang keluarga untuk menghampiri Reza sedang menggendong Inas yang sudah tertidur lebih dulu. Reza menggandeng tangan Lira berjalan menuju pintu lift yang dibuat khusus untuk Lira agar tak perlu lagi repot naik tangga.
Tiba di kamar, Reza langsung membaringkan Inas di tempat tidur. Lira langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju santai yang lebih nyaman.
__ADS_1
Sementara Reza kembali turun ke dapur karena ia lupa membuatkan susu untuk Lira. Reza kembali ke dalam kamar dengan nampan berisi susu hangat rasa strawbery.
Reza melihat Lira sudah baring di tempat tidur langsung mencegahnya.
"Sayang, minum dulu susunya."
Lira mendesah pelan saat melihat Reza menyodorkannya segelas susu. "Susu lagi, susu lagi." Ucapnya sambil cemberut.
"Gak boleh gitu, sayang. Semua ini untuk kebaikan sayang dan baby."
"Iya, mas. Maaf."
Lira mengambil gelas susu itu lalu menjepit hidung meminum susu itu hingga tandas. Reza tersenyum melihat Lira berhasil menghabiskan susunya, meski terpaksa.
"Sayang, mas bilang sesuatu."
"Apa mas?"
"Lain kali, sayang kalo jalan gak boleh cepet-cepet kayak tadi, ya. Sayang harus ingat kalo sekarang di perut sayang lagi ada baby." Ucap Reza lembut.
"Iya, mas. Maaf ya. Tadi Lira kelewat seneng sampe lupa kalo Lira lagi hamil." Balas Lira merasa bersalah.
"Iya sayang, gak papa. Yang penting sayang jangan ulangi lagi, ya."
"Iya, mas."
"Sekarang sayang tidur, ya. Mas mau ke ruang kerja dulu, mau ngecek Email masuk dari Ferdi."
"Mas gak istirahat?"
"Bentar aja kok, sayang. Habis itu, mas langsung istirahat."
"Tapi Lira pengen tidur sambil dipeluk, mas."
"Ya udah. Sini, mas peluk."
Lira mulai memeluk tubuh Reza dengan manja sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Reza. Hari ini Lira merasa sangat bahagia karena Reza telah memberikan kejutan yang sangat berharga untuknya.
Setelah melihat Lira telah tertidur lelap, dengan perlahan Reza melepaskan pelukannya. Reza mengecup kening Lira dan Inas secera bergantian lalu menyium perut Lira sambil mengusapnya dengan lembut. Kemudian Reza menuju sofa untuk mengecek Email yang sudah dikirimkan oleh asistennya. Reza sengaja tak pergi ke ruang kerjanya dan memilih duduk di sofa karena ia takut jika nanti anak atau istrinya terbangun, ia bisa segera membantu mereka jika sedang menginginkan sesuatu.
πΈπΈπΈπΈ
Sebesar apapun kita. Setinggi apapun jabatan yang kita miliki, kita akan tetap terlihat kecil di mata ibu. Sebesar apapun kesalahan yang kita perbuat, ibu akan selalu memaafkan dan mendoakan untuk kesuksesan kita.
Kasih sayang ibu memang tiada tandingan dan akan terus mengalir sampai kapan pun.
Maka berbaktilah selagi ia masih hidup. Rawatlah mereka sebagaimana ia merawat kita ketika kecil dulu.
Bersedekah lah atas namanya jika ia telah tiada. Doakan lah ia agar ditempatkan bersama orang-orang Soleh di sisi Allah.
__ADS_1
Peluk hangat untuk semua ibu di seluruh dunia.β₯οΈ
Bersambung......π